KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN

KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN
Bab 50. Ciuman Dadakan


__ADS_3

Setelah Hana tertidur, Pak Rendra dan juga Andin terdiam. Jari-jemarinya masih bersentuhan, bagai terkena sihir mereka berdua saling memandang untuk beberapa saat.


Dada Andin berdebar kencang kembali ketika kedua mata mereka beradu tatap, dia merasa frustasi. Karena setiap kali dia berdekatan dengan Pak Rendra, detak jantungnya selalu begini terus.


"Apa aku jujur saja pada Pak Rendra, ya?" Batin Andin.


Dadanya berdesir hebat, sentruman-sentruman kecil selalu Andin rasakan saat dia berada di dekat Pak Rendra.


Andin buru-buru menarik tangannya, namun Pak Rendra menggenggam erat tangan Andin.


"Lepaskan tangan saya, Pak!" Pinta Andin lirih sambil menatap tangannya yang di genggam oleh Pak Rendra.


"Wait, saya ingin memastikan sesuatu." Ucap Pak Rendra.


"Memastikan apa, Pak?" Tanya Andin. Dia memberanikan diri menatap kedua netra Pak Rendra yang sekarang sedang menatapnya dengan tajam.


Tiba-tiba Pak Rendra meletakkan telapak tangan Andin di dadanya. Tentu saja Andin terkejut dengan sikap Pak Rendra yang tiba-tiba itu.


Degdeg! Degdeg!


Irama detak jantung Pak Rendra juga tidak beraturan, sama persis apa yang Andin rasakan.


"Ternyata Pak Rendra juga merasakan hal yang sama denganku, apa itu artinya dia,.. ah tidak!" Andin menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tidak mau menduga-duga dan menyimpulkan sendiri.


"Apa kamu bisa merasakannya? Jantungku berdetak tidak normal. Ini terjadi di saat moment-moment tertentu, ketika kamu berada di dekatku." Ucap Pak Rendra yang masih menatap Andin tidak berkedip.


"Hah?" Hanya itu yang keluar dari mukut Andin. Dia bingung bagaimana harus merespon atas perkataan pak Rendra.


"Apa aku harus mengakuinya juga? Kalau saat ini aku merasakan hal yang sama dengannya? Yakin nih. Aku mau mengaku? Gengsi nggak, ya?" Ucapnya dalam hati.


"Ndin, apa kamu meraskan hal yang sama denganku? Atau hanya saya saja yang merasakannya?" Tanya Pak Rendra lagi.


"Itu,... anu, Pak!"

__ADS_1


Andin masih merasa gengsi mengakui bahwa dia juga merasakan hal yang sama dengan Pak Rendra, kalah saat ini jantungnya juga hampir mau meledak.


"Ndin, apa kamu bisa memberitahuku perasaan apa ini? Apa menurut mu saya jatuh cinta kepadamu?" Tanya Pak Rendra lagi, Andin tidak fokus pada pertanyaan Pak Rendra tadi, dia fokus pada gerakan bibir Pak Rendra.


"Pak, otak saya mendadak ngeblanksaat ini. Saya tidak bisa berpikir apa-apa, apa maksudh bapak tadi saya tidak paham." Jelas Andin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lagi.


Dadanya semakin bergemuruh hebat, karena Pak Rendra masih memegang tangannya erat.


"Ndin, bagaimana ini? Sepertinya saya menyukai kamu."


"Hah?" Lagi-lagi hanya itu yang keluar dari mulut Andin. Lidahnya menjadi kelu, kata yang ingin dia ucapkan tertahan di tenggorokan. Pak Rendra dapat melihat wajah merah bersemu Andin, lalu tiba-tiba dia merengkuh pinggang Andin hingga kini tubuh mereka tidak berjarak. Hal itu tentu saja membuat Andin kaget setengah mati.


"Andin, apa aku boleh menciummu? Aku ingin membuktikan , apa benar aku jatuh cinta kepadamu?"


Deg!


Dunia Andin berhenti sementara.


"Hei, Andin! Bukankah ini yang kamu nantikan? Bukannya kamu menyukai Rendra Dirgantara? Sekarang dia sedang mengakui perasaannya kepadamu. Cepat jawab, iya! Katakan kamu juga menyukainya. Jangan bengong seperti orang bego begitu!"


"Andin, kamu jangan gegabah. Kamu batu saja bercerai, laki-laki itu pada dasarnya semua sama saja! Awalnya saja manis, nanti lama kelamaan busukny mulai kelihatan. Pokoknya tidak boleh gegabah, pikirkan hatimu. Apakah hatimu sudah sembuh atau masih terluka? Bagaimana nanti jika kejadian sebelumnya terulang lagi?" Seru sisi baik Andin.


Kini, sisi nakal itu pun kembali menimpali.


"Sosor aja, Ndin. Kapan lagi kamu bisa mencicipi bibir Pak Rendra? Lihatlah bibir sexy menggoda iman itu. Ini kesempatanmu, lagian kamu juga sudah lama tidak berciuman. Lihatlah dia, dia seorang Duda tampan, kaya raya, kamu mau nunggu apa lagi? Aku ingin segera merasakan sengatan-sengatan kecil yang menjalar di tubuhku, kamu hanya perlu menciumnya lalu sisanya serahkan semuanya kepadaku, aku akan mengambil alih semuanya." Ucap Sisi Nakal Andin senang.


Sisi baik Andin langsung menendang sel nakal ke langit ke 7 hingga tidak terlihat lagi.


"Huh, dasar mesum!" Teriak Sisi baik Andin.


Andin kini kembali ke akal sehatnya. Pak Rendra kini sudah merengkuh wajahnya dengan kedua tangannya, Andin lagi-lagi seperti tersihir. Dia malah memejamkan matanya.


"Eh, gila! Kenapa aku malah memejamkan mata? Bukankah itu sama saja aku mengharapkan ciuman itu? Sadar ndin, sadar!" Batinya meronta.

__ADS_1


Hampir saja bibir Pak Rendra menyentuh bibirnya. Kalau saja Andin tidak mendorong Pak Rendra ke belakang. Pak Rendra yang tidak menyangka kalau Andin akan mendorongnya, tubuhnya langsung oleng kebelakang.


"Aduh!" Teriaknya.


Tubah Pak Rendra jatuh di sofa.


"Duh, maaf Pak. Saya tidak sengaja! Saya tadi mendorongnya terlalu kuat, ya?" Tanya Andin.


"Pakai nanya lagi!" Ucap Pak Rendra cemberut.


Ambyar! PAk Rendra pikir suasanya akan romantis. Namun yang terjadi malah komedi begini.


Andin kemudian menjulurkan tangannya, bermaksud membantunya berdiri.


"Mari, saya bantu Pak!"


Ketika tangan Pak Rendra mulai menarik tangan Andin, yang terjadi selanjutnya malah kebalikannya. Itu karena tenaganya yang tidak cukup kuat, sehingga malah Andin yang menimpa tubuh Pak Rendra.


"Aaaaa,..."serunya.


Andin jatuh tepat di atas tubuh Pak Rendra, bibir Andin tidak sengaja mengenai sudut bibir Pak Rendra.


Kedua jantung mereka sama-sama berdetak cepat. Mereka berdua sama-sama dapat merasakan jantung satu sama lainnya.


Kini tubuh mereka benar-benar tanpa jarak. Pak Rendra dapat merasakan detak jantung Andin, dia malah tersenyum. Lalu tanpa basa basi lagi, Pak Renda mencium bibir Andin. Mencari kesempatan dalam kesempitan itulah saat ini yang sedang Pak Rendra lakukan.


Kali ini Andin benar-benar memejamkan matanya, dia menikmati sapuan lembut bibir Pak Rendra.


Sekarang giliran Pak Rendra yang merasakan dadanya mau meledak.


"Gila! Aku benar-benar menciumnya. Bertahun-tahun aku tidak pernah mencium perempuan. Ku pikir perutku akan mual dan aku akan pergi berlari meninggalkan wanita ini, tapi perempuan ini justru membuatku semakin ingin menciumnya lagi.


Sedangkan Andin, dia sudah tidak tahu lagi bagaimana mendiskripsikan apa yang dia rasakan saat ini. Dia seperti dibawa melayang di awang-awang.

__ADS_1


"Apa aku tidak apa-apa melakukan ini? Jujur saja, aku memang pernah membayangkan seperti ini. Tetapi aku tidak berekspetasi kalau akan terjadi secepat ini. Pak Rendra menciumku, dan aku diam saja seperti ini. Apa aku terlihat murahan? Bagaimana jika dia berpikir seperti itu?" Pikiran Andin berkecamuk sendiri.


bersambung!


__ADS_2