KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN

KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN
Bab 31. Ketok Palu


__ADS_3

Apa perlu bantuan, Pak?" Tawar Andin.


Pak Rendra menghentikan aktivitasnya lalu tersenyum manis kepada Andin.


"Astaga Pak, jangan tersenyum. Hatiku meleleh, seketika aku terkena diabetes." Batin Andin.


"Tidak. Tetapi maukah kamu menemaniku makan?"


Deg!


Andin terkejut saat Pak Rendra menawari dirinya agar mau menemaninya makan. Dengan halus Andin menolak ajakannya, bukannya apa, dia merasa canggung saja makan berdua dengan orang yang menjadi majikannya itu. Apalagi dia baru hari ini bertemu dan mengenalnya.


"Sebelumnya terima kasih atas tawarannya, Pak. Kebetulan pekerjaan saya sudah selesai disini, dan saya ada keperluan lain." Jawab Andin memberi alasan.


"Tidak butuh waktu lama, kok. Tolong jadi tester masakan yang aku masak, bisa kan?"


Tanya Pak Rendra, sambil menatap Andin menunggu jawaban.


"Duh! Tatapannya itu loh bikin aku meleyot, aku bisa salting kalau lama-lama berduaan dengannya." Batin Andin.


"Andin,... gimana? Bisa, kan?" Bujuk Pak Rendra.


Sebenarnya Andin tidak ingin melewatkan kesempatan ini, namun dia tahu diri. Takut kalau Pak Rendra tahu statusnya nanti dikira Andin janda gatal, walaupun ketok palu tetap saja sebentar lagi Andin akan menyandang gelar itu dengan segala stigma negatifnya. Dicap sebagai janda genit tentu bukan sesuatu yang membanggakan.


"Ehm, gimana ya?" Jawab Andin terlihat bimbang. Dia merasa tidak enak hati karena Pak Rendra masih menanti jawabannya.


"Kamu suka pasta?"


"Su-suka, Pak!"


"Kalau Beef Steak?"


"Suka juga," Jawab Andin lagi.


"Nah, kebetulan kalau begitu. Tolong cicipi masakanku, duduklah di situ!" Perintah Pam Rendra.


"Ta-tapi, Pak?"


Pak Rendra balik mengaduk pasta yang masih ada di atas kompor, sementara Beef steaknya tinggal di plating di atas piring lalu di hias lengkap dengan garnishnya. Andin benar-benar merasa tidak enak hati.


"Ini sebenarnya yang majikan siapa, yang ART siapa, sih?" Gumamnya dalam hati.


Dengan terampil Pak Rendra melanjutkan memasak. Wangi oregano mulai tercium di hidung Andin, dia memegangi perutnya.


"Wahai perut ku yang mulia, dan para pengemis yang menghuni perutku. Tolong di kondisikan jangan malu-maluin, ya?" Ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Kini semua makanan sudah tersaji di meja makan.


"Sepertinya lezat? Apa Bapak seorang chef?" Tanya Andin penasaran begitu melihat sajian diatas meja yang mirip seperti yang di hidangkan di restoran mahal.


"Tidak, memasak adalah hobby ku di waktu senggang." Jawab Pak Rendra.


"Wow, Perfec sekali! Sudah ganteng, kaya, pintar masak. Coba kita di pertemukan lebih awal ya, Pak? Astaga, apa yang aku pikirkan, aku sudah mulai melantur." Pikiran Andin mulai kacau, dia sudah berpikir kemana-mana.


"Jangan sungkan, cepat di makan." Ucap Pak Rendra lagi.


"Baik, Pak."


Andin kemudian mulai mengambil pasta yang ada di piringnya, dia menikmati setiap gigitannya.


"Enak banget, Pak." Puji Andin sambil memberikan dua jempolnya. Pak Rendra hanya tersenyum tipis di puji seperti itu.


Hanya beberapa menit saja, Pasta di piring Andin sudah habis. Kini dia mencicipi Beef steak yang rasanya tidak kalah enaknya.


"Ya ampun pak, ini juga enak sekali."


Andin sibuk mengunyah makanan yang ada dihadapannya, kini piring itu juga sudah bersih. Sejak kapan dia menjadi rakus begini? Sepering pasta dan Beef steak masuk kedalam perutnya di waktu yang bersamaan.


"Aduh, Pak. Maafkan saya," ucap Andin.


"Minta maaf untuk apa?" Tanya Pak Rendra yang tidak paham maksud Andin.


"Kenapa harus minta maaf, bukan kah aku tadi yang meminta kamu untuk menjadi tester masakanku?"


"Iya, tapi saya rakus begini, jadi malu saya, Pak!"


"Nanti sepulang dari Bali. Mau mencicipi masakanku lagi?" Tawar Pak Rendra.


"Hah, lagi?" Ucap Andin tidak sadar.


"Kenapa? Kamu tidak mau?"


"Bukan tidak mau, Pak. Saya hanya merasa tidak enak hati saja." Jawab Andin sekenanya.


"Tidak usah malu, santai saja. Aku senang akhirnya masakanku ada yang mau memakannya. ART yang sebelumnya tidak bisa memakan yang beginian," Jelas Pak Rendra.


Andin hanya mengangguk, terus terang saja dia benar-benar tidak enak hati tetapi dia juga tidak bisa menolak permintaan bosnya. Apalagi masakannya enak dan orangnya ganteng. Batinnya.


Setelah selesai makan Andin membereskan piring-piring dan peralatan makanan lainnya yang kotor lalu mencucinya.


"Sudah beres semua, saya pamit ya, Pak. Terima kasih atas makanannya," ucap Andin.

__ADS_1


Pak Rendra sudah tidak punya alasan lagi untuk menahan Andin, dia pun memperbolehkan Andin pulang. Dengan riang Andin keluar dari Penthouse milik Pak Rendra lalu dia turun menggunakan lift menuju lantai dasar, dia akan langsung pulang kerumah. Perutnya sudah kenyang, dia akan langsung istirahat dan tidur karena hari sudah menunjukkan pukul 8 malam. Besok pagi adalah sidang putusan percerainnya dengan Samuel.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini adalah hari pembacaan sidang putusan. Sebelum sidang di mulai kedua belah pihak menandatangani surat perjanjian itu, masing-masing pihak di dampingi oleh pengacaranya.


Darwis kemudian memberikan surat perjanjian bersama tersebut kepada hakim, agar apapun nanti keputusan yang akan mereka ambil nanti bisa adil baik bagi kedua pihak.


Saat ini mereka sudah berada di ruang sidang, Majelis hakim juga sudah berada di sana.


"Pihak tergugat dan penggugat apakah hadir semua?" Tanya Hakim.


"Hadir, yang mulia." Jawab Andin dan Samuel serentak.


"Baiklah, sebelum pembacaan putusan, apakah ada yang ingin disampaikan baik itu dari pihak tergugat maupun penggugat?"


"Tidak ada yang, Mulia. Kedua belah pihak sudah sepakat untuk bercerai," jawab Darwis selaku perwakilan pihak penggugat.


"Pihak tergugat, sebelumnya Anda menyatakan keberatan untuk bercerai, apa sekarang sudah membuat keputusan yang mantap untuk bercerai?" Tanya Majelis hakim.


"Kami sudah sepakat bercerai yang, Mulia." Jawab pengacara Samuel.


"Baiklah karena kedua belah pihak sepakat bercerai, dan menimbang segala bukti yang penggugat ajukan terkait perselingkuhan saudara Samuel Hartanto selaku pihak tergugat. Makan dengan ini kami putuskan bahwa Pengadilan Agama memutuskan mengabulkan segala tuntunan pihak penggugat yaitu saudara Andin Manopo. Mereka di putuskan bercerai. Salinan surat menyurat nanti akan diurus oleh Panitera!"


Tok tok tok!


Hakim mengetuk palu.


Andin dan Samuel resmi bercerai, terlihat kelegaan di wajah Andin. Akhirnya statusnya kini sudah jelas, dia telah resmi menyandang gelar Janda.


Sementara itu Raut wajah Samuel terlihat masam, sejatinya dia memang belum rela melepas dan bercerai dengan Andin.


"Tidak apa-apa kita berpisah sekarang, Ndin. Kelak aku pasti akan mendapatkan kamu kembali," ucap Samuel di dalam hati.


Andin merasa bersyukur sekaligus merasa bahagia.


"Terima kasih ya, Mas Darwis. Sudah membantu ku dengan baik sampai ke tahap ini, akhirnya hal yang aku tunggu terjadi juga. Semua itu berkat bantuan kamu, Mas. Sekali lagi, terima kasih ya, Mas!" Tutur Andin.


"Tidak usah berterima kasih seperti itu, Ndin. Aku senang membantumu, aku hanya ingin melihatmu bahagia." Ungkap Darwis.


Samuel datang menghampiri Andin, mereka berdua kini saling bertatap muka. Samuel menatap wajah Andin dalam-dalam.


Jempol mana jempol! jempol dong Bestie!! Kalau jempolnya banyak Up 2x sehari.


Note! Tolong tinggalkan Jempol kalian. Please!!

__ADS_1


Saya sebagai Author yang masih miskin dari Novel "Karma Akibat Perselingkuhan". Memohon kepada kalian para readers Sultan untuk memberikan, Like, Komen, Hadiah dan Vote beserta Follow😁😓. Dengan Kalian memberikan Like dan komen saya juga sudah senang banget guys! Tapi jika kalian mau memberikan hadiah dan Vote seikhlas nya juga Alhamdullilah. Masya allah!


__ADS_2