KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN

KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN
Bab 36. kegaduhan Duta Jambak


__ADS_3

Iya, aku datang untuk menjemput kamu. Ayo kita pulang sekarang," Seru Angga.


"Ndin, kamu beneran tinggal sama dia?" Tanya Darwis masih tidak percaya.


Andin mengangguk dan terus menganggukkan kepalanya. Angga sampai memegang kepalanya, baru kemudian Andin berhenti.


"Sekarang kalian sudah percaya kan, kalau dia tinggal bersamaku?" Ucap Angga memandang Darwis dan Pak Rendra secara bergantian.


"Baiklah, aku percaya kepadamu mengenai Andin tinggal bersamamu. Tetapi aku tetap tidak percaya kalau kamu Pacarnya," tutur Darwis.


"Mengenai itu, aku tidak bisa menelaskan detailnya. Kalian boleh menanyakan itu nanti kepada Andin langsung. Yang penting sekarang adalah aku akan membawa Andin pulang, apa diantara kalian ada yang mau membantuku untuk membantu temannya Andin? Biar mereka berdua pulang ketempatku saja." Seru Angga.


Darwis dan Pak Rendra tidak bergeming dari tempatnya.


"Oke, oke! Kalian berdua boleh ikut kerumah ku sekalian!" Ucap Angga pada akhirnya.


"Baiklah kalau begitu, kalian semua turun saja duluan. Saya akan menyelesaikan pembayaran tagihan minuman mereka," tutur Pak Rendra.


Angga segera memapah Andin untuk berdiri dari duduknya.


"Ayo kita pulang!"


"Aku belum mau pulang, aku masih mau di sini bersenang-senang." Jawab Andin.


"Kita kan sudah janji disini sampai pagi," sahut Sindi.


"Musik itu memanggilku. Ayo, Ndin kita joget lagi. Aseek!" Ucap Sindi lagi, dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk berjoget. Dengan sigap Darwis meraih tangan Sindi dan memeganginya.


"Kalian sudah mabuk, sebaiknya pulang sekarang." Seru Darwis, Sindi menatap tangannya yang di pegang oleh seseorang, lalu beralih menatap ke arah wajah Darwis.


"Kamu siapa?"


"Darwis!"


"Darwis mantannya Andin?" Tanya Sindi lagi. Darwis diam saja, dia tidak menjawab pertanyaan sindi yang masih dalam pengaruh alkohol.


"Sin, dia itu pengacarku. Dia yang mau aku kenalin ke kamu," tiba-tiba Andin menyahut.


"Oh, dia pengacara." Sindi kembali memandangi wajah Darwis.


"Sudah, nanti dirumah saja lanjut ngobrolnya. Sekarang kita pulang dulu. Kamu bisa jalan nggak? Atau mau aku gendong?" Tawar Angga kepada Andin.

__ADS_1


"Aku bisa jalan sendiri."


Andin kemudian berdiri dari duduknya, dia mencoba melangkah meskipun terhuyung-huyung karen tubuhnya tidak seimbang. Dia berjalan Secara zig zag dan hampir saja terjatuh.


"Kenapa lantainya menjauh ketika akan ku pijak, sih!" Gerutu Andin.


Angga memegangi bahu Andin, dan menuntunnya berjalan agar jalannya lurus. Saat berjalan terhuyung-huyung, tanpa sengaja Andin menabrak seseorang.


"Maaf, teman saya mabuk. Dia tidak sengaja menabrak Anda," Ucap Angga.


Wanita yang di tabrak Andin tadi langsung berhenti dan membalik badan.


"Kalau jalan pakai mata, dong! Di pakai matanya, jangan cuma jadi pajangan saja!" Bentak wanita itu.


"Maafkan teman saya!" Ucap Angga lagi.


"Loh, Mbak Amel! Anda berada di sini juga?" Tanya Darwis yang berada tepat di belakang Andin.


"Amel?" Seru Andin, Saat mendengar nama itu di panggil oleh Darwis.


Tiba-tiba dari belakang Sindi menerobos kedepan, tanpa aba-aba atau lampu sinyal dia menjambak rambut Amel dengan kuat.


"Dasar nenek lampir, sialan!" Teriaknya.


"Argh,..!" Teriak Amel seketika. Dia kaget ada yang menjambak rambutnya.


"Andin, lihat siapa yang aku dapatkan? Si perempuan pelakor itu ada di sini. Lihatlah aku sudah berhasil menangkap nenek lampir itu hahaha,..."Sindi berteriak senang, dia merasa berhasil menangkap Amel.


"Oh, ternyata kalian berdua! Heh, lepaskan tanganmu dari rambutku!" Pekik Amel begitu mengetahui yang menjambak rambutnya adalah Sindi, dia berusah melepaskan tangan Sindi dari rambutnya.


"Ssst, tutup mulut busukmu itu! Kamu harus di beri pelajaran, dasar pelakor murahan!" Seru Sindi.


Sindi semakin tidak terkontrol, dia menjambak rambut Amel lagi. Namun, kali ini Amel tidak tinggal diam, dia membalas menjambak rambut Sindi.


"Berani sekali kamu menjambak rambutku, Sialan!" Teriak Amel.


Kedua orang itu akhirnya jambak-jambakan, Darwis bingung bagaimana cara memisahkan mereka berdua.


"Hei,.. kalian berdua hentikan! Jangan membuat keributan di sini!" Teriak Darwis. Dia mencoba memisahkan keduanya, namun dia malah mendapatkan sebuah cakaran di tangannya.


"Kenapa kalian malah mencakarku!" Teriak Darwis.

__ADS_1


Amel dan Sindi mengabaikan Darwis, mereka melanjutkan aksi saling jambak yang tadi sempat terjeda karena Darwis.


Darwis yang melihat mereka kembali saling menjambak kemudian memisahkan mereka lagi, kali ini bukan cakaran yang dia dapatkan melainkan sebuah jambakan dari keduanya.


"Aaaakkkh, apa yang kalian lakukan! Kenapa aku juga di jambak! Kalian mengeroyokku!" Pekik Darwis, namun keduanya tidak perduli. Mereka masih menarik-narik kepala Darwis.


Sementara Andin yang melihat kalau ada yang menjambak Sindi, dia pun tidak terima.


"Siapa yang berani menyakiti sahabatku? Hei, kamu! Dasar ******!" Teriak Andin saat melihat tangan Amel menjambak Sindi.


Kali ini Andin juga ikut menjambak rambut Amel, Angga kaget melihat mereka bertiga menjadi jambak-jambakan seperti itu, dan yang lebih parahnya lagi Darwis di keroyok oleh mereka. Mendadak mereka berempat menjadi pusat perhatian di club malam tersebut, karena menciptakan keributan.


"Bro, are you ok? Keluar dari sana!" Teriak Angga pada Darwis.


Dengan bersusah payah Darwis melepaskan diri dari jambakan dan cakaran dari mereka. Akhirnya dia berhasil keluar dari situasi tersebut kemudian mendekat ke arah Angga.


"Gila! Malah gue yang kena batunya! Niat mau misahin eh malah jadi di aniaya." Tutur Darwis.


"Kenapa mereka malah bertengkar begini?" Tanya Angga pada Darwis.


"Kamu lihat sendiri tadi, gue udah maju buat misahin mereka. Tapi malah aku yang di keroyoknya," Jawab Darwis bergidik.


Andin, Amel, dan Sindi masih gencar melakukan aksi jambak menjambak.


"Oh, kalian berdua bersekongkol untuk melawanku? Kalian sengaja melakukan melakukan ini?" Teriak Amel.


Pak Rendra yang baru saja kembali setelah membayar tagihan minuman Andin dan Sindi, terkejut melihat para perempuan itu sedang berkelahi.


"Astaga, kenapa jadi seperti ini. Kenapa kalian tidak berusaha memisahkan mereka?" Tanya Pak Rendra, dia memandang Angga dan Darwis bergantian.


"Apa Anda tidak melihat keadaan saya yang sekarang?" Tunjuk Darwis pada dirinya sendiri.


"Kenapa Anda jadi awut-awutan begitu? Dan juga ada banyak luka seperti bekas cakaran di wajahmu." Ucap Pak Rendra setelah dia meneliti wajah Darwis.


"Itu ulah mereka, saya korban dari memisahkan mereka. Jika Anda ingin mencobanya silahkan saja," jawab Darwis.


Pak Rendra bergidik mendengar perkataan Darwis.


Beberapa saat kemudian datanglah Samuel yang mencari keberadaan Amel, karena tidak kunjung kembali dari toilet. samuel menghampiri mereka bertiga, dia belum menyadari jika yang tengah berkelahi saat ini adalah Amel, Andin dan juga Sindi.


Bersambung.

__ADS_1


Jempol, komen, vote+hadiah nya gais


semangatin aku ya~


__ADS_2