KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN

KARMA AKIBAT PERSELINGKUHAN
Bab 59. Penjelasan


__ADS_3

Bukan begitu, Ga. Aku tadi cuma cuci muka saja, belum sikat gigi. Malu dong, kalau sampai bau jigongku beterbangan kemana-mana," jawab Sindi.


Angg mau tidak mau tertawa mendengar ucapan sindi itu. Angga pernah membaca buku, jika seorang perempuan ada perasaan malu di hadapan laki-laki, berarti dia menganggap bahwa laki-laki tersebut adalah lelaki sungguhan. Maksudnya adalah ada harapan kalau laki-laki tersebut bisa membuat perempuan tersebut tertarik akan dirinya. Tetapi jika sudah cuek dan tidak di pandang sebagai seorang laki-laki, berarti wanita itu tidak ada ketertarikan sama sekali padanya.


"Kita harus bahas masalah tentang kita berdua," ucap Angga menatap tajam Sindi.


"Kenapa pagi-pagi begini bawaannya sudah serius aja, sih!"


"Ya karena seserius itu yang kini aku rasakan. Semalam aku tidak bisa tidur, tidak itu tergambar dengan jelas di wajahku? Lihat kantong mataku hitam seperti panda," Seru Angga.


"Iya, kamu seperti panda!" Jawab Sindi.


"Apa kamu akan tetap seperti ini? Menganggap kejadian semalam tidak pernah terjadi? Jika iya, aku akan pergi dari sini." Teriak Angga.


Sindi langsung membekap mulut Angga.


"Hei, pelankan suara kamu! Apa kamu ingin semua orang tahu apa yang semalam terjadi di antara kita" kata Sindi.


Angga meraih punggung tangan Sindi lalu melepaskan bekapan tangannya.


"Lepaskan tanganmu, aku bisa mati tidak bisa bernapas!" Seru Angga. Sindi yang menyadari itu langsung melepaskan bekapan tangannya.


"Maaf ya,"


"Apa semalam tidurmu nyenyak?" Tanya Angga. Sindi menganggukkan kepalanya.


"Ga,.. apa sebaiknya kita menganggap yang semalam itu sebagai sebuah ke khilafan?" Ucap Sindi.


"Khilaf? Kenapa menjadi sebuah ke khilafan padahal kita berdua saling menikmatinya?"


"Angga!" Seru Sindi. Dia menoleh kekanan dan kekiri. Berharap tidak ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka tadi. Bagaimana kalau orang lain salah mengartikan? Bisa berabe!


"Kenapa? Aku memang tidak menganggap itu sebagai kekhilafan? Aku melakukannya secara sadar."


"Kamu kan tahu, semalam itu aku dalam pengaruh obat. Mungkin saja itu bukan aku yang menginginkannya, tetapi karena ada dorongan pengaruh obat." Jawab Sindi. Di berusah menyalahkan pada obat yang dia konsumsi secara tidak sengaja malam itu.


"Tapi jantung kamu juga berdebar, tuh?"


"Sudah ku bilang itu pengaruh obat!" Jawab Sindi lagi.


"Oh, jadi yang semalam itu benaran pengaruh obat, ya?"


"Iya!" Jawab Sindi tegas.


Angga beranjak dari duduknya. Dia kemudian berdiri tepat di hadapan Sindi.


"Apa sekarang pengaruh obat itu sudah hilang?"

__ADS_1


"Sekarang? Aku yakin pengaruh obat itu kini sudah hilang sepenuhnya dariku," sahut Sindi. Dia merasa yakin kalau sekarang ini dia sudah terbebas dari pengaruh obat terkutut itu.


Angga meraih wajah Sindi lalu mengcupnya sesaat. Sindi terkejut bukan kepalang, dia tidak menyangka Angga akan melakukan ini di taman terbuka seperti ini. Setelah itu Angga melepaskan bibirnya.


"Sekarang, nilai sendiri apa yang baru saja aku lakukan!"


Setelah itu Angga pergi meninggalkan Sindi yang masih duduk termenung di kursi taman. Sesaat kemudian dia tersadar lalu berteriak.


"Hei, Pak Duda! Kembalikan jigongku!"


Tidak jauh dari keberadaan mereka mengobrol tadi ada seseorang yang berusaha setengah mati menahan tawa, dia bahkan sampai membekap mulutnya sendiri. Lalu dia pergi dari saja kemudian melanjutkan joggingnya.


Sindi juga beranjak dari duduknya. Dia kemudian berlari cepat secepat-cepatnya. Dia bahkan bisa menyusul Andin yang jauh di depannya.


"Sin, tungguin!" Teriak Andin. Saat Sindi berhasil melampaui nya, namun Sindi terus berlari sekencang-kencangnya.


"Sia benar-benar sinting!" Ucap Andin. Akhirnya Andin memilih kembali lebih dulu, dia menunggu Sindi di depan pintu masuk taman sambil memainkan ponselnya. Dia berniat mengirim pesan pada Pak Rendra.


[ Terima kasih atas sarapannya, ya? ]


Selang bebepa saat kemudian, Pak Rendra membalas pesannya.


[ Iya, cintaku! Ah, yang tadi itu. Hampir saja kita ketahuan sama teman kamu, aku tidak tahu jika dia menginap di tempat kamu. Aku tadi memang keceplosan memanggil mu Cintaku, kekasihku, pujaan hatiku. ]


[ Iya, kita harus lebih waspada dan hati-hati. Sindi memang tajam pendemgarannya, dia mencurigai kita. ]


[ Mulai deh! ]


[ Nanti aku tagih banyak-banyak, ya? ]


[ Hm,.. aku lagi di depan pintu taman. Sebentar lagi mau naik ke atas. ]


[ Ya sudah. Nanti cepat kesini, ya? Hana merindukan kamu. ]


[ Hana atau kamu? Ayo, ngaku! ]


Pak Rendra senyum-senyum sendiri membaca pesan Andin.


Saat Andin sedang asyik membalas pesan Pak Rendra, Samuel keluar dari komplek rumahnya. Pagi-pagi sekali di sudah terlihat rapi, bisa di pastikan dia bersiap untuk kerja dan menjemput Istrinya Amel. Rupanya tadi malam Samuel tidur di Rumah Mama Arum karena sang Mama merengek-rengek memintanya untung datang. Samuel melihat Andin yang tengah yang tengah duduk di depan pintu masuk taman, Samuel menatap Andin yang semakin hari semakin terlihat cantik di mata Samuel. Dia kemudian turun dari mobil dan menghampiri Andin yang terlihat begitu sexy dan menarik dengan menggunakan baju stelan olahraga.


"Andin!" Sapanya.


Andin yang sibuk dengan ponselnya, mendongakkan kepalanya. Begitu tahu siapa yang memanggilnya.


"Ada apa?" Tanya Andin.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya senang saja tidak sengaja berpapasan denganmu." Ucap Samuel.

__ADS_1


"Kalau aku kebalikkannya. Kalau bisa tidak usah bertemu lagi denganmu walaupun tidak sengaja." Ketus Andin.


"Kamu begitu membenciku ya, Ndin?"


"Menurut lo?" Seru Andin.


Samuel merasakan hatinya seperti di tusuk pisau, perih sekali. Dia terdiam untuk sesaat, kedua matanya tidak berhenti menatap wajah Andin.


Samuel merasakan hatinya seperti di tusuk pisau, perih sekali. Dia terdiam untuk sesaat, kedua matanya tidak berhenti menatap wajah Andin.


Tidak lama kemudian Sindi datang, dengan keringat yang bercucuran di mana-mana. Dia melihat Samuel sedang mengajak Andin berbicara. Sindi langsung saja menghampiri mereka berdua.


"Eh, ada penghianat!" Ucap Sindi.


Andin dan Samuel langsung menoleh kearah Sindi begitu mendengar sapaan pedas tersebut.


"Ngpain kamu di sini?" Tanya Sindi kepada Samuel.


"Aku tidak sengaja saja berpapasan dengan Andin di sini."


"Ngapain buang-buang waktu, wahai Bapak manger keuangan? Buruan jemput Nyonya, sebelum dia murka. Bilang juga padanya kalau aku resign per hari ini. Biar tahu rasa dia, tidak ada lagi yang menghandle kerjaannya!"


Sindi terlihat sangat emosi sekali. Melihat wajah Samuel si penghianat itu membuat Sindi murka, ditambah lagi bahwa Samuel berselingkuh dengan Amel. Rasanya tanduk yang tercap di kepalanya ingin segera keluar.


"Sin, Amel tidak mungkin seperti itu." Jawab Samuel.


Sindi menatap sengit kearah Samuel.


"Pastilah kamu akan membela Nyonya kamu itu. Tanpa dia, kamu tidak akan mungkin secepat itu di promosikan dan langsung naik jabatan!" Ucap Sindi kesal. Dia seperti orang yang baru saja makan cabe setan, pedas dan mematikan sekali kata-katanya. Andin sampai menyenggol lengan Sindi agar berhenti berbicara.


"Sudah ah. Yuk, kita naik!" Ajak Andin sambil menarik tangan Sindi. Mereka berdua kemudian meninggalkan Samuel yang masih terdiam di tempatnya.


Samuel hanya bisa menatap punggung mantan istri dan juga mantan temannya itu. Mantan teman yang dulu pernah menjadi orang yang paling mendukung ketika Andin dan Samuel berpacaran. Kini dia harus kehilangan keduanya secara bersamaan.


"Kamu ngapain sih, masih mau ngobrol sama dia!" Seru Sindi dengan wajah sebal.


"Oh, tadi itu tidak sengaja kok!"


"Lain kali abaikan saja!"


Andin melirik ke arah Sindi. Dia tersenyum melihat sahabatnya itu. Andin mulai tergelitik untuk menggoda Sindi yang tadi diam-diam dia dengarkan pembicaraannya dengan Angga. Awalnya Andin ingin cuek saja namun, dia penasaran karena keduanya sangat serius. Andin senyum-senyum sambil menatap Sindi.


"Heh, Lo gila ya! Ngapain senyum-senyum kek orang gila gitu?"


Bersambung!


Like dan Komen ya teman-teman itu sangat membantu Otor untuk tetap semangat.

__ADS_1


__ADS_2