
Keesokkan harinya.
Andin dan Sindi tidak ada habisnya bercerita. Sindi belum menceritakan kepada Andin terkait jabatan baru yang di peroleh Samuel saat ini, dan juga bagaimana desas desus yang beredar dibelakang terkait jabatannya itu.
"Samuel si brengsek itu sepertinya sudah kebal telinganya! Orang-orang berkasak kusuk, kalau dia mendapatkan jabatan itu karena ada campur tangan Amel. Tetapi dia malah dengan bangga menunjukkan ke orang-orang seolah dia bekerja keras untuk mendapatkan jabatan," seru Sindi.
"Biarkan saja, dia memang sudah lama mengincar jabatan itu sejak lama. Mungkin baru sekarang ada kesempatan itu, jadi biarkan saja dia menikmati itu." Jawab Andin tanpa Ekspresi.
Tiba-tiba Ponsel Andin berdering.
"Sebentar ya, aku liat dulu siapa yang menelpon."
Andin melihat sebuah nama muncul di layar monitornya.
"Mama Arum menelpon? Ada perlu apa lagi?" Gumamnya.
Andin sesaat ragu, apakah akan menerima panggilan tersebut atau tidak. Dia merasakan semua telah usai diantara mereka, hubungan mertua dan menantu itu kini sudah berakhir seiring dengan ketok palu hakim kemarin. Mereka tinggal menunggu untuk menerima akta cerai saja yang mana masih di proses.
"Angkat enggak ya?" Ucapnya. Jika mengingat semua perbuatannya di masa lalu terhadap dirinya, Andin merasa berat untuk mengangkat telpon dari mantan Mertuanya itu. Namun, dia juga merasa tidak hati. Walau bagaimana pun Mama Arum lernah menjadi orang tuanya, terlepas dia selalu memperlakukan Andin tidak sebagaimana mestinya.
"Halo, Ma!" Sapa Andin. Akhirnya dia menjawab panggilan telpon itu juga.
"Ndin, Mama muntah-muntah terus dari tadi. Sekarang rasanya tubuh mama lemas dan gemeteran, tolongin Mama, Ndin" rengek Mama Arum di sana.
"Ma, kenapa enggak coba telpon Mas Samuel saja. Mama lupa aku ini cuma mantan menantu Mama, kita sudah tidak da hubungan apa-apa lagi, Ma!" Seru Andin.
"Ndin, kamu tega biarin Mama sakit begini? Samuel tidak mengangkat telpon mama. Mama sendirian dirumah dari tadi pagi belum ada sarapan, kamu mau mama mati disini sendirian?"
Andin mengusap wajahnya dengan kasar, baru juga kemarin ketok palu dan mengesahkan mereka bercerai. Mama Arum malah bersikap seperti ini.
"Maaf, Ma. Bukannya aku tidak mau, tetapi aku dan Mas Samuel sudah resmi bercerai kemarin. Aku sudah tidak punya kewajiban apapun untuk merawat mama lagi!" Seru Andin.
Terdengar suara isak tangis di sana.
"Ka-kamu benar-benar sudah tidak punya hati lagi, Ndin!" Ucap Mama Arum terbata-bata sambil terisak.
Andin rasanya ingin berteriak, mengapa disini dia merasa seolah penjahatnya? Perkara Mama Arum sakit, itu sebenarnya bukan lagi urusannya. Tapi kenapa hati nuraninya terusik begini?
"Sekarang juga aku pesankan bubur melalui aplikasi online, nanti Mama tinggal buka pintu saja kalau orangnya sudah datang." Tutur Andin.
"Mama lemes, Ndin. Enggak bisa jalan!" Rintih mama Arum lagi.
Ingin rasanya Andin mengatakan jika itu bukan urusannya. Tapi yang dia lakukan justru sebaliknya.
"Baiklah, Ma. Tunggu nanti aku kesana, " ucapnya seraya mematikan panggilan seluler itu.
__ADS_1
Andin berjalan menuju kulkas dia mengambil sebotol air mineral dan menenggaknya sampai habis, kemudian dia jug mengambil es batu lalu mengunyahnya.
"Kamu kenapa, kok kayak orang kesurupan gitu?" Tegur Sindi.
"Kamu tau, Sin. Mantan mertua aku telpon barusan dan ngabarin kalau saat ini dia sedang sakit, anak laki-laki kesayangannya itu tidak mau mengangkat telpon Mamanya. Menurut kamu apa yang harus aku lakuin? Aku sudah menolaknya, dan mengatakan bahwa aku sudah tidak ada hubungan apapun lagi dengan mereka. Dia merengek memintaku datang."
"Terus kamu bilag apa?" Tanya Sindi.
"Aku lemah, Sin. Aku terlalu bodoh. Aku mggak tega saat mendengar dia menangis, apalagi dia gemeteran karena kelaparan." Seru Andin sambil mengunyah Es batu.
"Kamu mau datang kesana?"
Andin mengangguk pelan.
"Aku bilang akan kesana dan memesankan bubur untuknya."
"Aku tau kamu orangnya seperti ini. Kamu tuh terlalu baik makanya di injek terus sama mertua kamu itu. Mertua kamu yang durhaka , tapi kamu yang sengsara. Gedek gue!" Sindi ngomel-ngomel sendiri, itu karena dia tahu bagaimana Andin.
Andin sudah memesankan bubur melalui aplikasi online, dia benar-benar tidak tega jika mendengar ada orang yang sakit. Andin jadi membayangkan seandainya dirinya yang sakit tetapi tidak ada yang menolongnya, tentu rasanya akan menyakitkan. Dia tidak ingin itu terjadi.
"Anggap saja aku melakukan ini, demi rasa kemanusiaan, Sin. Jujur saja aku sebenarnya juga sudah tidak mau berhubungan Lagi dengan mereka, biarlah aku kesampingkan dulu egoku." Tutur Andin.
"Emang bego Samuel dan mamanya itu. Orang sebaik kamu di sia-siain. Lihat sekarang, siapa orang yang dihubungi saat sakit, kamu juga ujung-ujungnya!" Umpat Sindi, dia menjadi emosi sendiri segala kebaikan Andin tidak pernah ada artinya dihadapan mereka berdua.
"Sudahlah, itu sudah menjadi bagian masa laluku. Kali ini niatku untuk menolong saja, demi rasa kemanusian." Jawab Andin.
Sindi benar-benar emosi jiwa setiap kali menyerempet nama Amel. Padahal dia sendiri yang menyebutnya.
"Dasar si bodoh satu ini, sudah di kecewakan sedimikian rupa oleh mertuanya. Masih saja mau mengurusinya, kalau itu aku mungkim sudah ku pesankan kopi sianida!" Gerutu Sindi.
Setelah beberapa menit bersiap-siap dan Bubur pesanannya juga sudah sampai, Andin segera datang menemui Mama Arum yang kini ada di rumah yang dulu pernahAndin tempati.
"Ma,.. ini buburnya sudah datang." Teriak Andin, dia celingukkan mencari keberadaan Mama Arum. Namun, karena tidak ada jawaban Andin berteriak lagi.
"Ma,.. Mama Arum!" Panggil Andin lagi. Tetapi masih tidak ada sahutan juga, Andin mencarinya kekamar, tetapi tidak ada. Dia mencari kekamar satunya lagi juga tidak ada, di sofa ruang tamu, diluar keluarga depan televisi, kamar mandi juga tidak ada. Andin melangkahkan kaki ke arah dapur, dia sangat terkejut mendapati tubuh Mama Arum ambruk di depan kulkas. Tubuhnya terhalang meja makan jadi dari tadi tidak kelihatan.
"Astaga, Mama!" Teriak Andin. Dia bergegas menghampiri tubuh Mama Arum yang sudah tidak sadarkan diri di lantai, di sampingnya terdapat botol air minum yang belum sempat dia buka.
"Ma,.. bangun Ma!"
Andin berusaha mengguncang tubuh Mama Arum, lalu memeriksa tanda vitalnya. Denyut nadinya lemah, napasnya juga terlihat lemah.
"Syukurlah dia masih hidup," ucap Andin lega.
"Bagaimana ini? Haruskah aku membawanya ke rumah sakit?"
__ADS_1
Andin segera menelpon Sindi.
"Halo, Ndin!"
"Sin, tolong aku! Cepat kerumah lamaku. Mama Arum pingsan, tolong aku, Sin!" Pekik Andin.
"I-iya, aku kesana sekarang!"
Sindi bergegas keluar dari rumah Angga, dia menyusul ke rumah lama Andin. Sesampai disana dia melihat wajah Mama Arum pucat dan terlihat lemah. Andin dan Sindi kemudian memindahkan Mama Arum dan membaringkannya di sofa.
"Apa kita telpon Ambulan saja ya, Sin? Kita bawa kerumah sakit," ucap Andin yang khawatir.
"Wait, kita coba pancing dulu."
"Di pancing pancing pakai apa, Sin?"
"Pakai bau-bauan lah! Kamu kira ikan yang di pancing pakai kail," Seru Sindi.
"Ya, bukan gitu juga maksudku!" Ucap Andin sambil menyengir kuda. Dia kemudian mencari keberadaan minyak kayu putih yang ada di kotak obat, dan mengolesi di deoan hidung Mama Arum.
"Ayo, Sadar Ma. Itu buburnya sudah aku pesanin, Mama pingsan karena kelaparan kan? Biasanya juga Mama langsung order makanan sendiri, kenapa sekarang menunggu samlai gemeteran dulu dan pingsan begini?" Seru Andin.
Sindi membantu menggosok kaki dan juga memencet jari-jari kaki Mama Arum, dia berusaha menemukan titik-titik yang bisa membuat orang tersadar dari pingsannya.
"Coba beri dia sedikit minum, Ndin!" Seru Sindi. Andin langsung berlari kedapur dan mengambil air minum, pelan-pelan dia membantu meminumkannya kepada Mama Arum.
Tidak berselang lama Mama Arum tersadar dari pingsannya, dia langsung memegangi kepalanya.
"Aduh, kepalaku sakit!" Lirihnya.
"Syukurlah, Mama sudah sadar." Ucap Andin.
"Mama bermimpi ada yang mencubit dan menarik kaki Mama dengan kuat," ujar Mama Arum.
Sindi menahan tawa, rupanya cubitan kerasnyalah yang membangunkan Mama Arum. Andin melirik Sindi yang tawa, dia tahu keisengan Sindi itulah yang membuat Mama Arum sadar dari pingsannya.
"Yang penting Mama sudah sadar, apa masih ada yang sakit?" Tanya Andin. Mama Arum mengangguk.
"Kepala Mama sakit, tadi terbentur kulkas. Untung saja tidak benjol," tutur Mama Arum mengusap dahinya.
"Apa perlu di bawa kerumah sakit?"
"Tidak usah, Ndin. Ada kamu yang nemenin dan merawat Mama, pasti akan seger sembuh." Ujar Mama Arum dengan raut wajah senang.
Andin dan Sindi saling bertatapan, kenapa jadi begini? Andin di suruh merawat Mama Arum? Dasar tidak tahu malu! Apa urat malunya sudah putus. Gila!
__ADS_1
Note! Tolong tinggalkan Jempol kalian. Please!!
Saya sebagai Author yang masih miskin dari Novel "Karma Akibat Perselingkuhan". Memohon kepada kalian para readers Sultan untuk memberikan, Like, Komen, Hadiah dan Vote beserta Follow😁😓. Dengan Kalian memberikan Like dan komen saya juga sudah senang banget guys! Tapi jika kalian mau memberikan hadiah dan Vote seikhlas nya juga Alhamdullilah. Masya allah