
Mama Arum menelpon Samuel berulang kali. Tetapi panggilan telpon itu tidak juga Samuel angkat, sehingga Amel yang berada di sampingnya merasa kesal.
"Coba dijawab dulu telponnya, Ujar Amel.
"Paling mama meminta aku untuk datang, bukankah kamu tidak mengizinkannya?" Jawab Samuel.
Amel tiba-tiba mengambil ponsel Samuel dan menyalakan speakernya sehingg mereka berdua bisa mendengar apa yang Mama Arum bicarakan.
" Sam,.. Samuel! Andin telah pergi. Dia sudah pergi membawa koper, Mama enggak tahu dia pergi kemana? Semua barang-barang miliknya sudah di kemas," Ucap Mama Arum sedih.
"Loh, bukannya itu yang Mama mau? Andin sudah pergi kan? Harusnya Mama senang, kenapa jadi sedih begitu?"
"Mama tidak mau sendirian, Pulang Nak! Temanin Mama." Isak Mama Arum.
Kali ini Samuel jadi serbasalah, Mama Arum menangis dirumahnya dan tadi Amel mengancamnya agar tidak kesana, tetapi mendengar Mama nya menangis Samuel jadi tidak tega juga.
"Mama kan bisa nonton TV?" Saran Samuel atau pergi bersama teman-teman, Mama." Saran Samuel.
"Mama maunya kamu yang nemenin," Rengek Mama Arum.
Amel langsung mematikan panggilan telpon itu.
"Kalau kamu mematikannya tiba-tiba begitu, kenapa tadi kamu angkat? Aku tidak tega mendengar Mama menangis seperti itu, sayang!" Samuel mencoba bersikap lembut pada Amel.
"Izinkan aku pergi kesana, ya? Kamu dengar sendiri kan kalau Andin sudah pergi. Mama satu-satunya keluarga ku yang tersisa, aku tidak bisa mengabaikan nya. Kalau kamubtidak percaya ayo kita sama-sama pergi kesana," tutur Samuel lagi.
Amel masih diam, dia tidak menjawab perkataan Samuel.
"Aku kan sudah berjanji untuk tidak ngapa-ngpain lagi ataupun menemui Andin lagi, boleh ya?" mohon Samuel.
"Kamu bisa dipercaya kan?" Cetus Amel.
__ADS_1
Samuel meraih bahu Amel dia menatap netranya dalam-dalam.
"Percayalah padaku!"
Samuel kemudian mencium kening Amel lalu beranjak dari tempat tidur, dia kemudian memakai bajunya lalu pergi ke rumahnya.
Sepanjang perjalanan Samuel mengerutu tidak ada habisnya.
"Sialan! Bahkan sekarang mau menemui Mamaku sendiri saja aku harus memohon-mohon seperti ini. Kebebasan ku benar-benar terenggut! Sialan!" Umpat Samuel memukul stir mobil.
Belum apa-apa dia sudah merasakan kekangan dari Amel.
"Tunggu saja nanti, setelah aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Akan kubuat keadaannya terbalik, kamu tidak boleh memperlakukan aku seperti ini, Amel!"
Entah apa yang sedang Samuel pikirkan, yang jelas dia berniat untuk membalas perlakuan Amel. Setelah itu dia tertawa lalu menginjak pedal gas dalam-dalam, Samuel menaikkan kecepatan agar cepat sampai di rumahnya.
Sesampainya dirumah Samuel mekihat Mamanya tempak meringkuk sambil memeluk bantal sofa.
"Andin pergi, dia membawa barang-barangnya," tutur Mama Arum.
"Iya, Ma. Aku tahu! Mama sudah bilang begitu kan tadi, bukan kah itu yang Mama mau? Andin pergi meninggalkan kita?"
Mama Arum terdiam mendengar ucapan Samuel, memang benar selama ini Mama Arum menginginkan Andin pergi dari hidupnya dan juga anaknya. Tetapi entah kenapa melihat kepergian Andin membuat Mama Arum merasa kehilangan sesuatu yang berharga dari hidupnya.
"Mama enggak tahu sekarang sedang sedih atau apa, tapi rasanya ada yang kosong saat Andin pergi." Ucapa Mama Arum Lirih.
"Kita harus belajar menerima ini, Ma! Mulai sekarang kita harus melupakan Andin. Sekarang Mam pindah kekamar jangan tidur di depan Televisi terus!" Perintah Samuel.
"Enggak mau! Mama maunya tidur di sini saja!"
"Baiklah, Ma."
__ADS_1
Samuel kemudian mematikan lampu dan nenggantinya dengan cahaya yang remang, dia sendiri berjalan kearah kamar yang beberapa hari ini Andin gunakan untuk tidur. Samuel berbaring di sana, mendekap guling yang biasa Andin pakai. Samuel mendekap nya dengan erat, membayangkan Andin masih ada di sampingnya. Dia kembali teringat hari-hari bahagianya bersama Andin, dan mencari letak kesalahannya hingga semua harus berakhir seperti ini. Andin yang sebelumnya merupakan cinta terbesarnya kini harus meninggalkan nya, rasanya Samuel belum puas menjalani rumah tangga bersama Andin.
"Andin, Maafkan aku!" Sebutnya lirih dalam kesunyian malam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Andin saat ini sedang berada di rumah Angga, dia telah selesai memindahkan semua barang-barang milik nya kesana.
Saat ini Andin berada di tempat orang lain, tapi entah mengapa rasanya lebih nyaman dari pada di tempatnya sendiri. Karena kelelahan Andin tertidur saat menonton Televisi, dia tertidur sangat nyenyak banmhkan terbangun hari sudah menjelang subuh.
"Astaga, aku ketiduran di sini!"
Andin bergegas mematikan televisi yang menemani nya semalaman, dia bahkan sampai lupa untuk mengisi daya ponsel nya yang kehabisan baterai. Setelah mengambil charger dia menghubungkan pada ponselnya, dia melihat ada pesan masuk. Samuel mengiriminya pesan.
[ Apa kamu serius pergi dari rumah? Kamu sekarang tinggal di mana? ]
Rupanya Samuel mengiriminya pesan tadi malam.
"Apa peduli mu aku mau tinggal di mana?" Ucapnya.
Andin mengabaikan isi pesan itu, dia tidak menjawabnya. Dia kemudian melanjutkan tidur karena tidak tahu harus berbuat apa jam segini, walau pada akhirnya dia tidak bisa tertidur.
Bayangan Darwis malah terus menempel di kepalanya, dahulu dia dan Darwis mempunyai hubungan 2 tahun lamanya. Zaman waktu masih sekolah SMA adalah masa-masa yang paling indah, sayang sekali Darwis harus pergi keluar negeri untuk melanjutkan kuliahnya di sana. Hubungan mereka mengambang begitu saja hingga akhirnya tidak ada kabar sama sekali, Andin berusaha untuk Move on tidak mungkin dia menunggu sesuatu yang tidak pasti.
Dahulu saat bertemu Samuel adalah saat mendebarkan bagi Andin, entah bagaimana dia bisa jatuh cinta padanya dan terlihat seperti orang bodoh. Andin tidak bisa menggunakan otak nya dengan baik, apalagi dia terlihat bucin akut Kepada Samuel. Saat seseorang tengah jatuh cinta memang seolah dunia hanya berpusat padanya, tidak perduli orang di sekelilingnya kadang memberitahu sebuah kebenaran. Dan inilah buah dari kebucinan dan kebodohannya itu, sebuah perselingkuhan yang memaksanya untuk mengakhiri semuanya.
Cinta itu seketika sirna, kepercayaan itu seketika hilang, berganti dengan bibit-bibit kebencian.
Note! Tolong tinggalkan Jempol kalian. Please!!
Saya sebagai Author yang masih miskin dari Novel "Karma Akibat Perselingkuhan". Memohon kepada kalian para readers Sultan untuk memberikan, Like, Komen, Hadiah dan Vote beserta Follow😁😓. Dengan Kalian memberikan Like dan komen saya juga sudah senang banget guys! Tapi jika kalian mau memberikan hadiah dan Vote seikhlas nya juga Alhamdullilah. Masya allah!
__ADS_1