
"Anda bisa lihat sendiri kan, bagaimana mereka berdua ini? Jadi tolong maklumi gerakan spontan mereka berdua tadi yang berbuat diluar kontrol mereka karena pengaruh alkohol." Ucap Darwis.
"Tidak ada urusan, pokoknya saya akan menuntut mereka berdua ke polisi supaya mereka di jebloskan kedalam penjara." Teriak Amel yang masih emosi, dasarnya dia tidak suka dengan Andin dan Sindi oleh karena itu dia bersikeras untuk melaporkan mereka berdua.
"Sayang, damai sajalah. Untuk apa di perpanjang lagi," bujuk Samuel.
"Apa kamu bilang? Damai? Enak saja! Oh, apa mentang-mentang dia mantan istri kamu , jadi kamu masih membelanya?" kali ini gantian Amel marah kepada Samuel.
"Bukan sayang, bukan begitu maksd ku. Aku hanya tidak mau kalaian memperpanjang masalah ini," jelas Samuel.
"Kalau Bu Amel, memaksa pergi kekantor polisi. Ayo saja! Biar sama-sama masuk jeruji," Seru Darwis.
"Saya ini korban, enak saja saya juga harus masuk penjara." Ucap Amel menatap sinis Darwis.
"Saya juga akan membuat tuntutan, kalau Anda sudah mencakar saya dan menjambak saya sewaktu saya melerai kalian." Ancam Darwis.
"Anda mau memfitnah saya?" Ucap Amel, Dia masih merasa kalau dia tidak salah.
"Saya ada saksinya, Kok?"jawab Darwis tidak gentar.
"Saya saksinya, tadi saya melihatnya!" Sahut Angga tiba-tiba.
"Wah, jelas saja kamu di pihaknya. Kalian semua bersekongkol untuk memojokkan aku!" Ketus Amel.
"Sebaiknya berdamai saja, kalau di teruskan ke kantor polisi urusannya akan lebih panjang." Ucap manager tempat hiburan malam tersebut.
Saat mereka serius begitu, tiba-tiba Andin merasakan mual lagi.
Hoek!
Semua mata langsung tertuju kepadanya termasuk Amel. Dia merasa kesal karena perhatian teralih darinya, dia sedang bersemangat untuk menuntut Andin dan Sindi, tetapi semua orang malah menunjukkan perhatiannya kepada Andin.
"Andin!" Seru para laki-laki itu bersamaaan.
Pak Rendra langsung mendekat, begitu pula Darwis dan Samuel.
"Andin, kamu mau muntah lagi?" Tanya Angga.
"Perutku mual dan sakit, aku ingin ketoilet." Ucap Andin memegangi kepalanya.
"Ayo aku Antar," tawar Darwis yang sudah siap meraih tangan Andin.
"Tidak usah, biar aku saja." Jawab Angga, dia kemudian berdiri dan membantu Andin berdiri.
__ADS_1
"Sebelah sini," Ucap manager tempT hiburan malam itu sambil menunjuk arah menuju toilet yang ada di dalam ruangannya.
Pak Rendra, Darwis dan juga Samuel hanya bisa saling pandang. Sementara Amel menatap tajam kearah Samuel, Samuel menyadari kalau Amel tengah menatap kearahnya, lalu Samuel bergegas menghampirinya. Darwis juga kembali duduk di samoing Amel, yang saat ini keduanya berhadpan dengan manager tempat hiburan malam.
"Jadi bagaimana, Bu Amel? Apa Bu Amel tetap tidak mau berdamai dengannya?" Tanya manager itu.
"Sudah ku bilanh, aku akan menuntut mereka semua!" Seru Amel yang kukuh pada pendiriannya.
"Tolong pertimbangkan kembali, Bu Amel. Apalagi ibu bisa melihat sendiri jika mereka berdua dalam keadaan mabuk begitu. Tempat ini juga bisa di cabut izin perakteknya karena sering terjadi perkelahian di sini, mohon pengertiannya, ya?" Bujuk Manager itu lagi.
"Biarkan saja kalau dia mau terus maju dan menuntut kami semua, Pak. Kami juga punya banyak saksi, dan bapak juga bisa lihat bekas cakaran di tangan saya ini. Keluar dari sini saya akan langsung visum kerumah sakit, dan menuntut dia juga." Ancam Darwis dengan santainya. Mentang-mentang dia seorang pengacara, nada bicaranya yang santai itu terdengar sepeeri mengintimidasi.
Amel melotot kearah Darwis, sementara Darwis cuek saja.
"Terus Anda kira di jambak itu tidak sakit?" Pekik Amel, dia dari tadi merapikan rambutnya yang kusut akibat di jambak tadi.
"Loh, saya juga dijambak! Lagian Anda juga membalas menjambaknya, kedua belah pihak sama-sama sakit. Kecuali Anda tidak membalasnya, mereka berdua bisa kena pasal" jelas Darwis.
Amel terdiam, sebenarnya dia pernah mengalami masalah seperti ini, dahulu dia pernah mabuk lalu muntah mengenai orang lain dan terjadi perkelahian. Saat dikantor polisi keduanya sama-sama lapor, urusan menjadi panjang dan keduanya sama-sama di proses. Buang Uang, buang tenaga, dan buang-buang waktu. Beda dengan ini permasalahn kali ini adalah masalah gengsi, dia tidak mau mengalah kepada Andin. Pokoknya dia ingin Andin masuk penjara.
"Damai saja ya, Bu" bujuk manager itu lagi, dia melihat ada keraguan pada Amel.
Sementara itu di toilet Andin memuntah semua isi perutnya, dia kemudian mencuci wajahnya perlaham kesadarannya mulai kembali.
"Andin, Are you ok?"
Sesaat terdengar bunyi gemericik air, Andin memblushing muntahannya tersebut. Dia kini merasa lega dengan muntahan terakhirnya ini. Tidak lama kemudian dia keluar dari toilet, diluar Sindi sudah menunggunya untuk mengantri. Dia sudah tidak sabar untuk buang air kecil.
Andin dan Angga kemudian menunggu Sindi keluar dari toilet.
"Kulit kepalaku sakit sekali, Ga?" Tanya Andin, kesadarannya mulai kembali.
"Kamu sudah mulai bisa mengingat semuanya?"
"Sedikit" jawab Andin lemah.
Andin melepas Heels yang dia kenakan lalu menentengnya, gaun maroon yang cantik itu nampak lusuh akibat berkelahi tadi.
"Kamu ingat tadi berkelahi dengan siapa?" Tanya Angga, Andin menggeleng.
"Amel!"
Kedua netra Andin langsung terbelalak, dia sangat terkejut.
__ADS_1
"Jangan bercanda kamu, Ga! Ada Amel di sini?" Tanya Andin tidak percaya.
"Iya, ada mantan suami kamu juga, si Samuel. Sepertinya Amel bersikeras menuntut kalian berdua kekantor polisi," jelas Angga.
"What? Bagaimana mungkin ada Amel di sini? Bagaimana juga mungkin kami bisa berkelahi dengannya?" Tanya Andin yang masih kebingungan.
"Awalnya teman kamu yang menjambak rambut Amel, lalu kamu juga ikut-ikutan!"
"Astaga, kenapa kamu membiarkan aku begitu, Ga? Amel pasti tidak akan melepaskan aku," sesal Andin.
"Kami sudah berusa melerai kalian, tapi pengacara kamu saja kena jambak dan cakar juga."
"Hah, Mas Darwis juga ada di sini?" Andin mengacak-acak rambutnya.
"Bukan dia saja, bos gantengku juga ada di sini." Sindir Angga. Ada nada cemburu di sana.
"Apa maksud kamu? Pak Rendra ada di sini? Bagaimana mungkin? Apa sewaktu aku mabuk, aku menelponnya? Mampus aku!" Andin begitu panik ketika Angga menbahas Pak Rendra.
"Kamu menyukai dia?" Tanya Angga penuh selidik.
"Heh, sembarangan kamu!" Elak Andin. Dia memegangi kepalanya lagi, mengacak-acak rambutnya dan mulutnya komat kamit seperti baca mantra.
Sindi keluar dari toilet, dia merasa sedikit lega lalu dia mencuci wajahnya dan mengeluarkan isi perutnya.
"Sin, kamu sudah sadar? Kita sudah melakukan kesalahan besar!" Ucap Andin.
"Kesalahan apaan sih?" Tatap Sindi serius.
"Kita dalam masalah besar, Amel ingin melaporkan kita ke kantor polisi," ungkap Andin.
"Kamu bercanda ya? Yang ada harusnya kamu yang nuntut dia karena sudah merebut suami kamu. Kenapa jadi dia yang menuntut kita?" Sindi kemudian tertawa.
"Kita barusan ngeroyok dia, ngejambak rambut dia!" Seru Andin.
"Maksud lo?"
"Saat kita mabuk tadi, kita ngeroyok dia! Dan dia tidak terima."
"Seriusan kamu, Ndin? Astaga! Terus kita harus gimana?" Jawab Sindi.
Jempolnya sepi gais, author sedih banget😓
Note! Tolong tinggalkan Jempol kalian. Please!!
__ADS_1
Saya sebagai Author yang masih miskin dari Novel "Karma Akibat Perselingkuhan". Memohon kepada kalian para readers Sultan untuk memberikan, Like, Komen, Hadiah dan Vote beserta Follow😁😓. Dengan Kalian memberikan Like dan komen saya juga sudah senang banget guys! Tapi jika kalian mau memberikan hadiah dan Vote seikhlas nya juga Alhamdullilah. Masya allah!