
Sindi mengintip di balik tembok pembatas, disana memang terlihat Samuel dan Amel.
"Kita harus bagaimana, nih?" Tanya Sindi mulai panik begitu sadar perbuataanya beberapa saat lalu.
"Apa kita pura-pura gila saja?" Usul Andin.
Angga sampai tertawa mendengarnya dan baru berhenti setelah Andin mencubitnya.
"Sampai kapan kalian akan bergosip didepan toilet seperti ini? Ayo kita kesana dan selesaikan semuanya," ucap Angga.
"Ga, tunggu dulu, Ga!" Ucap Andin sambil memegangi tangga Angga.
"Bagaimana ini, alkohol sialan itu mengambil kewarasanku." Ucap Andin lagi.
"Kalau sudah tau begitu, kenapa kamu minum minuman beralkohol?" Seru Angga.
"Semua gara-gara Sindi, tuh!"
"Aduh, besti! Terus kita harus bagaimana?" Rengek Sindi.
"Ya mau bagaimana lagi, kita hadapi sajalah. Kalau nanti kita di penjara kita harus satu sel, ya?" Seru Andin.
Angga bisa gila lama-lama mendengar ocehan mereka berdua. Angga kemudian berjalan ke arah sofa di ikuti oleh Andin dan Sindi dengan menenteng Heels mereka masing-masing. Mereka berjalan berpegangan tangan, berjalan sambil terhuyung karena kepala mereka terasa berat. Andin semakin menundukkan kepalanya ketika melihat Pak Rendra yang sedang menatap kearahnya.
"Mati aku! Bagaimana bisa Pak Rendra juga ada di sini?" Batin Andin.
"Apa kalian berdua sudah sadar?" Tanya Darwis. Andin dan Sindi kompak pura-pura tidak mendengar. Mereka merebahkan tubuhnya di sofa, Amel dan Samuel juga ikut memandang ke arah Andin dan Sindi.
"Mereka berpura-pura belum sadar kan?" Bisik Pak Rendra pada Angga.
"Iya, mereka berpura-pura!" Jawab Angga. Padahal Andin sudah menginjak kaki Angga agar dia diam saja.
Di sana Amel dan Darwis masih saling nego soal kesepakatan damai. Amel yang masih susah untuk diajak damai, dia mengajukan beberapa syarat tanbahan yang menurut Darwis itu tidak masuk akal karena Amel terlalu fokus memberi syarat berlebih khusus kepada Andin. Padahal Darwis sudah menjelaskan kalau yang menjambak duluan adalah Sindi.
"Kalau Anda ngotot seperti itu, saya juga akan menambah point tentang Anda menjambak dan mencakar saya!" Tutur Darwis.
"Anda tidak boleh begitu dong, Pak Darwis! Antara kita berduakan sudah sepakat." Protes Amel.
"Tidak, karena Anda terus berubah-rubah. Kalau Anda seperti ini terus, saya juga akan meneruskan ini kekantor polisi."
__ADS_1
Darwis terus menerus memojokkan Amel, dia tahu betul bagaimana cara membuat Amel tidak berkutik. Senyum kepuasan tersungging di bibir Darwis, melihat lawannya terdiam.
"Ok, 100x permohonan maaf di tulis tangan," ucap Amel. Darwis melotot dan menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, 50 kali." Amel menghela nafasnya saat melihat Darwis masih menggelengkan kepalanya.
"Oke, Fine 10 kali!" Ucap Amel, Akhirnya dia menyerah.
"Ok, Deal! Masing-masing menulis surat permohonan maaf yang di tulis tangan. Jangan coba di ingkari, ya? Karena saya merekam semua pembicaraan kita tadi," jelas Darwis yabg tidak perduli dengan kekesalan yabg tergambar di wajah Amel.
"Sekarang kita bisa pulang, urusan kita sudah selesai." Ucap Darwis lagi. Dia mendatangi Andin dan Sindi yabg terbaring meringkuk di atas Sofa.
"Kalian berdua sekarang pasti malu dengan perbuatan kalian tadi, makanya kalau mau berbuat di pikir dulu. Aku tunggu surat permohonan maaf kalian berdua!" Ucap Amel yang kemudian menarik tangan Samuel untuk ikut pergi bersamanya meninggalkan ruangan itu.
"Ndin, Mak lampir sudah pergi?" Bisik Sindi. Andin masih berpura-pura memejamkan matanya, Sindi yang kesal kemudian bangun dan mengguncang bahu Andin bermaksyd membangunkannya.
"Ndin, mereka sudah pergi. Apa kita mau menginap di sini?" Ucap Sindi lagi.
Perlahan Andin membuka matanya, saat itulah Angga, Darwis dan Pak Rendra menatap dan tersenyum kearahnya.
Andin perlahan duduk dengan wajah menunduk, dia sesekali menatap ke tiga Laki-laki yang berdiri di hadapannya.
Pertanyaan itu sebenarnya dia tujukan kepada Darwis, dan yang paling khusus adalah untuk Pak Rendra. Karena Andin merasa tidak mengundang mereka berdua.
"Bukan kah tadi aku sudah menelpon kamu kalau aku mau kesini," ucap Darwis berusaha mengingatkan Andin.
"Benarkah? Maaf aku tidak ingat. Seingatku kita memang janjian untuk makan malam, tapi Mas Darwis bilang enggak bisa karena masih ada urusan." Sahut Andin, karena pengaruh Alkohol dia sampai lupa kalau Darwis sudah menelponnya.
Andin kemudian menatap ke arah Pak Rendra.
"Kalau Bapak bagaimana bisa sampai di sini? Apa saya secara tidak sengaja menelpon bapak?" Tanya Andin.
"Tidak, hanya kebetulan saja. Saya berada di sini karena ada urusan dengan rekan bisnisku. Tadi kulihat kalian berdua heboh berjoget di sana, dan juga kalian terlihat mabuk. Saya iseng mendekati kalian untuk memastikan bahwa itu bukan kamu, tetapi ternyata itu memang kamu yang sedang mabuk. Saya coba menyadarkan kamu dan mengajak pulang, sampai akhirnya mereka datang. Apalagi dia menuduhku macam-macam" jelas Pak Rendra sambil melirik ke arah Angga.
"Begitu ya, Pak. Syukurlah kalau begitu."
Andin merasa lega, berarti dia tidak membuat kesalahan lainsaat mabuk tadi. Misalnya dengan menelpon Pak Rendra dan merengek-merengek memintanya supaya datang. Andai itu benar tentu Andin akan merasa malu sekali.
Darwis mendekat kearah Andin.
__ADS_1
"Ndin, apa benar dia pacar kamu?" Tanya Darwis, sambil menunjuk kearah Angga. Dari tadi dia sangat ingin memastikan hal ini, dia belum puas jika belum mendapatkan jawaban dari Andin.
"Hah?" Andin kaget, dia lantas langsung menatap kearah Angga. Keduanya seperti bertukar kode melalui mata mereka berdua.
"Apa kamu menceritakan sesuatu kepada mereka?" Andin mencoba telepati kepada Angga. Tentu saja Angga tidak paham apa yang coba Andin sampaikan, dia bukanlah paranormal yang tahu apa yang Andin pikirkan. Angga hanya mengangkat bahunya, Sindi dan juga Pak Rendra menatap Andin seolah meminta penjelasan darinya.
"I-itu bukan seperti yang kalian pikirkan," jawab Andin terbata.
"Serius kamu, Ndin? Dia pacar kamu? Gimana ceritanya? Kok, kamu enggak kasih tau aku!" Cecar Sindi, dia sangat terkejut karena baru mendengar itu sekarang.
"Bukan begitu, Sin,..."
"Jadi beneran, dia cuma ngaku-ngaku sebagai pacar kamu saja. Terus soal tinggal di rumah dia apa itu benar, Ndin?" Tanya Darwis lagi, dia seperti tengah mengintrogasi. Darwis mencecar terus sampai mendapat jawaban yang pasti dari mulut Andin sendiri.
"Aku tidak beerbohong, ya! Andin memang benar tinggal di rumahku!" Sergah Angga.
Andin menghela napas panjang.
"Saat ini aku memang tinggal dengan dia untuk sementara waktu, aku akan segera pindah begitu aku mendapatkannya." Andin mencoba menjelaskan keadaannya.
"Kenapa kamu tidak bilang kepadaku? Apartmentku kosong, kamu bisa tinggal di sana. Aku saat ini tinggal di rumah orang tuaku karena mama ku sedang sakit," tawar Darwis.
"Kenapa dia jauh-jauh harus pindah ke Apartment kamu, aku juga saat ini tinggal di Apartment. Dia aman dirumahku," jelas Angga tidak mau kalah.
"Kenapa kalian berdua ribut tentang tempat tinggalnya? Andin, mulai besok kamu full tike jadi Sekretarisku! Aku akan berikan kamu fasilitas gratis tempat tinggal di tempatku," sahut Pak Rendra, dia juga tidak mau kalah saing.
Semua orang menatap Pak Rendra, Sindu bahkan sampai bengong. Dia mentap Pak Rendra dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Siapa sih orang ini? Apa dia gebetan baru Andin? Atau laki-laki yang ngejar Andin?" Batin Sindi.
Andin menjadi ousing sendiri, semua orang malah meributkan tempat tinggalnya.
"Stop! Kenapa kalian meributkan tempat tinggalku? Aku pulang kekampung halamanku saja." Ucapnya Asal.
"Ndin,.. kamu mau pulang kampung? Emang kamu punya kampung halaman? Halaman berapa?" Tanya Sindi setengah berbisik. Otaknya mulai gesrek, seingatnya Andin tidak punya kampung halaman. Andin memelototi Sindi yang tidak peka terhadap situasi yang dia hadapi.
Lalu Andin bergegas beranjak pergi dari sana.
Note! Tolong tinggalkan Jempol kalian. Please!!
__ADS_1
Saya sebagai Author yang masih miskin dari Novel "Karma Akibat Perselingkuhan". Memohon kepada kalian para readers Sultan untuk memberikan, Like, Komen, Hadiah dan Vote beserta Follow😁😓. Dengan Kalian memberikan Like dan komen saya juga sudah senang banget guys! Tapi jika kalian mau memberikan hadiah dan Vote seikhlas nya juga Alhamdullilah. Masya allah