
*Eashon mengendarkan pandangan nya andai saja ia memiliki seorang putri dari kedua bahkan salah satu istrinya mungkin dirinya akan amat bahagia, ntah kenapa rasa penyesalan mengerogoti hatinya mengigat seorang wanita yang pernah dirinya temui namun itu hanya lah sebuah masa lalu masa depan masih menunggu nya. Seorang putri kecil yang bisa ia ajak bermain, mengenal kan seluruh dunia padanya, berjalan di bawah sinar matahari yang hangat bersama andai waktu itu bisa ia miliki tapi kapan
Hanya ada sebuah konflik dan perebutan tahta dan kekuasaan dalam hidupnya mimpi tadi hanyalah angan belaka.
Ichika memadang kepergian eashon, wajah nya geram memang benar dirinya hanyalah alat bagi keluarga nya untuk keuntungan abadi. . Keberadaan nya sekarang tak lain hanyalah sebagai penopang bagi esson untuk berkembang tak ada cinta untuk dirinya melainkan sebuah dilema dan ketakutan jika semua yang ia lakukan tak akan terbalas bagi esson ataupun dirinya sendiri.
Kini di jalanan raya mobil Lamborghini Aventador berjalan dengan ugal-ugalan, Nino beberapa kali menghempas setir nya marah mengendarai mobil balap mahal tak membuat kekesalan nya hilang.
Langit yang hitam karna hari sudah malam, di jalanan itu matanya tak segaja menangkap seorang anak kecil membuat nino membanting setir mobilnya ke samping.
" CHIIT "
Suara rem mendadak.
Dada nya kembang-kempis sunguh hampir saja ia membunuh seorang anak, tak tinggal diam ia melanjutkan acara kejar-kejaran dengan polisi
Hampir setengah kota mereka mengejar Nino namun akhirnya mobil biru itu menghilang dalam belokan hutan rimbun.
Langkah kaki berjalan tersendat-sendat Nino menatap sekeliling hutan yang baru saja ia masuki.
__ADS_1
" Ini dimana?" Nino menyusuri sekitar hutan yang di penuhi bunga lily dan tulip.
" Sudahlah. . . Aku butuh tempat damai," Nino mendudukkan dirinya kasar pada rumput, menelungkup kan wajahnya pada kedua pahanya, tak terasa air mata nya menetes kembali mengigat kejadian tadi.
" Hiks kenapa aku tak bisa memiliki anak?" Nino menangis, Dirinya bukanlah wanita beruntung seperti ichika.
" Aku sunguh iri kyaaa..."
TAP
Triakan frustasi membuat langkah kaki nya berhenti, gadis itu mendongkrak ke arah langit suara yang begitu pilu batinya berkata.
Tangan nino mencengkeram erat kepala nya hingga Helaian rambutnya acak-acakan menangis sesegukan sendirian di tempat itu.
Dirinya perlahan membuka matanya menampakan iris biru yang sudah sembab terlihat seorang gadis menatap ya bingung.
" Sudah malam, ini dingin . . . Pulanglah” ucapnya ramah pada Nino.
" Siapa kamu?
__ADS_1
" Namaku?
Pangil saja Aki . . Aku akan pulang!
Apa tante mau ikut? Ini danau bahaya akan ada binatang bueas loh!!' akira menjentikkan jari telunjuk nya.
" Hei apa kamu mendengar ku?" Ia mengerakan tangan nya di depan wajah nino.
23.00 rumah akira. . .
Akira menuruni anak tangga berjalan ke arah kulkas, dapur yang terlihat sederhana dengan perabotan yang lumayan lengkap, tangan nya membuka pintu kulkas terlihat banyak camilan dan mie instan Nino mendegus tak percaya apa anak ini hidup sendiri, apa ia selalu memakan makanan tak sehat?
" Aki!
Apa kau selalu memakan makanan ini?" Tanya nino menunjukkan mie instan di depan nya.
" Aki tak bisa masak....”
" Dimana orang tuamu?” Tanya nino mulai penasaran, akira memegang kepala nya sakit ia menatap sedu nino.
__ADS_1
" Aku tak mengigat nya, karna sejak 5 tahun ini aku hidup sendiri aku tak ingat apapun namun hanya satu hal yang aku ingat bahwa aku tak punya marga ini lucukan?" Tunjuk akira pada dirinya di selingi tawa meremehkan.
" Biar aku yang masak!” nino beranjak dari sana, membuka pintu kulkas mengeluarkan semua bahan makanan yang ada cukup lama ia menimbang-nimbang untuk memasak apa sampai akhirnya ia memutuskan membuat hotpot dan nasi omlete*.