
5 Tahun berlalu.
Suara hewan pagi mulai bersautan menandakan hari mulai pagi.sang sutya kini sudah menampakkan dirinya di iringi gerakan kecil dari awan yang bergerak menyambut pagi.
Gerakan kecil tangan nya menandakan bahwa sang empu mulai tersadar dari mimpinya.
" Sudah pagi lagi . . ." Guman nya kesal.
Akira menyilabkan selimutnya. Serentak mengerakan tumbuhnya melenturkan otot yang kaku, ia kemudian bergegas ke kamar mandi sebelum itu ia menarik gordeng membiarkan cahaya mentari masuk ke dalam jendela nya.
" CKLEK"
Suara gerakan kecil kunci yang di buka. Gadis itu beranjak keluar dari villa nya, wajahnha terlihat datar berjalan di jalanan yang kini mulai di padati oleh penduduk.
Semerdak angin pagi menerpa dedaunan membuat negara yang di juluki" bunga sakura" kini di hiasi oleh pemandangan musim gugur yang indah. Tatapan matanya mendelik ke arah parkiran yang mulai di padati oleh kendaraan wajah nya kesal selalu saja berisik batinya.
Tepat pada arah jam 2 muncul sosok jangkung dengan stelan kemeja dan jas putih khas seorang dokter melambaikan tangannya dngan antusias ke arah akira yang tersenyum.
" Aki Bagaimana keadaan mu?" Ujar oemuda itu cemas. Memutar-mutar tubuh akira membuat nya resah.
__ADS_1
" Haru kenapa kamu ada di sini?"
Apakah pasien di rumah sakit berkurang?" Ucapan akira membuat haru merasa tak di Inginkan keberadaan nya.
Tangan nya ia silangkan di dada menatap mengitimidasi haru.
" Jam 5 aku mulai kerja lagi !!!
" Begitukah . . . Maaf kak haru aku harus bekerja!!' akira melambaikan tangan berlari dengan kencang menghiraukan triakan haru yang memanggilnya.
" Gadis itu begitu bebas bagaikan petir di langit namun suatu saat bisa menyakiti tanpa ragu" guman haru pelan.
Suara bariton membuat haru menoleh
Suara dingin itu teryata milik seorang pemuda yang baru saja datang tanpa segaja melihat haru sendiri membuat nya berinisiatif menyapa nya.
" Senior apa yang kau lakukan di sini?' tanya balik haru.
Alis nya menaut heran" Apa kau gugup? Bertanya tanpa menjawab pertanyaan ku?" Delikan tajam membuat perasaan deja vu tak asing bagi haki yang cengegesan tanpa dosa membuat para orang-orang melihat ke arah mereka.
__ADS_1
Pukul 10. 00...
" Aku tak mau jadi bintang film itu, itu terlalu seronok!" Rin mengeleng kuat.
" Hei . . Ayolah . . Bayaran besar, sampai ratusan juta!" Pak shihan menanggapi sesekali memaksa.
" Aku tak mau!"
" Rin! Cobalah ini kesempatan bagus untukmu," Bujuk Al lembut, rin mengeleng.
" Hqh . . Munafik kamu rin, pura-pura gak mau uang, sok suci ,takut dosa dasar anak tak *** di untung!" Shihan membentaknya. Tanganya terulur akan menampar nya, cengkraman kasar membuat shihan menoleh ia mendapati seorang gadis menatap nya kejam.
" Kafe ini terlalu rusuh aku tak bisa fokud..." Ucapnha tajam, matanya menyiratkan sebuah ancaman.
" Nona siapa anda?" Tanya shihan menunjuk kearah rin yang terbaring di lantai ketakutan.
" Aku seorang komikus jadu bisakah kalian tenang, lagian anjing-anjing di sini begitu berisik tak tau sopan santun!!" Akira berlalu dari sana dengan Mood yang lumayan buruk untuk sekedar melanjutkan pekerjaannya lagi.
Ketiga orang itu pun menghentikan perdebatan nya dan berlalu dari dalam kafe.
__ADS_1
Di kejauhan terlihat seorang tengah berusaha menutupi wajahnya dengan topi, senyuman terukir di bibirnya senguh ouas melihat adegan tadi... Sebuah adegan yang telah di skenario begitu mulus.