
" Akira ! Tiga hari kedepan akan ada tour apa kamu mau ikut?" Ujar momo dan memberikan coklat ke arah akira yang memandang nya tanpa minat.
Matanya perlahan menyedu ia mengigat beberapa kenangan tak menyenangkan lalu menunduk" bibi, tak mengijinkan aku ! Lagian aku harus fokus belajar untuk bisa mempertahankan beasiswa ini . . ." Akira mengendurkan tali tas nha dan menoleh ke arah momo yang berdiri tak jauh darinya.
Momo mencengkeram kuat lengan akira lalu menatap matanya akira yang menuedi tanpa emosi ataupun kesedihan di setiap pandangan nya.
Momo memegang erat lngtan akira“Apa kau yakin? Ini study terakhir. Kamu selalu tak mengikuti kegiatan ini
. . Apa ini karna bibimu? Akira sadarlah ini dunia mu, hidupmj kenapa kau mengabaikan masa indah hanya untuk seseorang yang selalu menyiksa mu akira!!" Momo memegang bahu akira yang bergetar.
Akira tersenyum kosong kearah momo" memangnya kenapa aku harus patuh padamu?" Akira pergi dari sana. Ia menuju stasiun kereta api.
Jarak antara Nagoya cukup jauh, sudah beberapa jam akira berada di gerbong kereta api wajahnha menatap keluar jendela ia harus bisa mendapatkan imajinasi untuk gambar baru agar ibunya senang.
Tanpa istirahat yangcukup akira mulai merasa matanya berat. Tanpa sadar ia sudah terlelap dalam tidurnya, rengang waktu yang akira tempuh kini telah lewat stsiun arah timur Nagoya sudah terlewati. Kini Akira menjadi penumpang satu-satunya.
Tok - tok . . .
__ADS_1
Suara ketukan pintu!
" Tidak di kunci !" Ucap dari dalam.
Plakk
Lemparan kotak persegi berwarna putih, akira menyilabkan selimutnya nana mendudukkan bokong nya oada kasur king size akira
Nana memperlihatkan sebuah kertas pada akira yang menatap nya tak percaya. Lengannya beralih membuka dus putih di sampingnya.
Nana fokus mewarnai kukunha sesekali berdecih sebal tanpa alasan" itu, gunakan iti untuk menghubungi ki sewaktu-waktu. Tapi ingat akira ini adalah hutang yang perlu kau bayar!" Pandangan horor Nana membuat Akira bungkam.
Anak itu memperhatikan kegiatan Nana ada perasaan senang dan juga takut.
Terlintas sebuah hal uang membuat akira selali merasa tergangu namum ntah kenapa bibirnya sulit melontarkan kalimat itu.
Jika bukan sekarang? Kapan lagi
__ADS_1
Aku harus tau semuanya.
" MA-MA ...!"
"........"
" Ma- ma apa- apa marga namaku?"Nana terlonjak kaget tak ada respon darinya membuat akira takut mungkinkah ia anak panti asuhan atau anak haram pengolakan batin akira menjadi-jadi . . .
Nana melemparkan artikel yang ia baca lalu beranjak dari sana" Akira sejal kau lahir kau tak lebih dari sebuah alat," ia terhenti dan mengucapkan kalimat itu dan menghilang dari pandangan akira.
" Baik..."
" Ntah kenapa semakin lama dia selalu berusaha mendekati orang itu membuat hati ku tak tenang saja . . apa ini yang dinanamakan geng antara orang tua begitu lucu " guman nana pelan dan bergeeas masuk ke dalam kamarnya.
kamar bernuansa hijau dengan kristal yang bergantungan menjadi ciri khas Nana wanita itu menyandarkan punggungnya pada Sandaran ranjang dan memikirkan semua hal dengan jeli dan teliti.
waktu semakin lama semakin berlanjut kecemasan nana semakin menjadi apa yang harus ia lakukan apa mungkin ia harus mengurus akira atau mengurung akira dalam gelap nya ruangan?
__ADS_1