
*Akira bercerita ke pada haru. alasan mengapa dirinya tak pulang, haru menyimak baik-baik tanpa ada yang terlewat sama sekali masih penuh keraguan karna akira adalah tipe gadis yang suka sekali akting dan pintar berbohong.
Haru mengangukan kepala nya saat akira bilang dirinya menginap di salah satu penggemar dari komik yang baru saja ia liris mata haru menyelidik memang apa yang akira bilang cukup masuk akal juga.
“ Yak sudah akira aku harus pergi kerja kau tetap di rumah!!” ucap haru menatap ke arah jam tangan nya.
“ Sampai jumpa!!" Akira melambaikan tangan nya mengatarkan haru sampai depan jendela.
Wajah akira berubah epresi saat haru sudah tak ada di rumah nya, wajah akira menjadi lebih garang dari sebelumnya ia tersenyum bangga tak sia-sia aktingnya yang selama ini ia pelajari.
Maaf kak haru ini demi kebaikan mu juga.
Akira beranjak menuju ke kamarnya.
Tak ingin membuang waktu akira langsung masuk kedalam kamar mandi, melakukan ritual mandinya di bawah guyuran air shower yang dingin. Membuka lemari pakaian nya memilih pakaian dengan warna gelap karna kebanyakan pakaian milik nya berwarna gelap hitam.
Melangkah menuju ke kasur king size akira membaringkan tubuhnya kasar.
“ Aku lupa komiknya belum selesai!!"
Seperti biasa akira mengambil buku gambarnya berkutat dengan pensil dan kertas itu kerjaan nya setiap waktu. Seolah tidak mau membuang waktu karna bagi akira semakin ia cepat maka semakin banyak uang yang akan masuk kedalam ATM nya untuk biaya kehidupan termasuk membiayai sebuah panti asuhan.
Tangan nya dengan cekatan mengambar komik yang keren karna menurut akira setiap insipirasi akan datang dan bertambah setiap jamnya dan akan menghilangkan setiap menitnya.
Perumpamaan itu sulit untuk di jelaskan namun itulah kenyataannya nya menjadi seorang komikus bukanlah hal yang mudah.
“ Akhirnya selesai juga," akira mengangkat hasil gambarnya ke atas senang.
Sebelah alis akira menaut, gerakan pensilnya terhenti saat melihat sebuah gambar terselip diantara yang lainnya, jemari lentik panjang nya saling bertaut lalu bertopang dagu.
“ wanita ini mirip sekali dengan orang yang selalu menjemput anak itu!!"
“ Ntahlah aku tak mengigat apapun...!!"
“ wanita itu sangat asing bagiku!!" Terkekeh pelan akira menarik selimutnya sampai menutupi dadanya.
Di dalam kantor perusahaan Fan.
Pria tampan berambut pirang itu bersandar pada sofa besar, bayangan dirinya berada dalam kursi direktur membuat pria itu tersenyum licik dan penuh kesinisan.
' Tunggulah semua nya akan menjadi miliku termasuk putrimu akan berada dalam genggaman ku' ujar batinya menerawang menatap langit-langit.
Epresi wajahnya kembali semula saat eashon muncul di barengi dengan Nino mereka duduk di sofa saling menatap satu sama lainya.
__ADS_1
Lelaki berambut biru itu sedang menopang dagu dengan salah satu tangan dengan tangan lain memegang laporan map. Menekan pulpen membuat coretan aneh di atas kertas putih dengan senyuman khas horor membuat Nino bergidik ngeri.
“ Selesai," mengeser laporan ke arah kakanya.
“ Ok!!"
Shine tersenyum puas ketika map biru berada dalam genggaman tangannya, sudah sepuluh tahun ia bermimpi memegang saham keluarga fan dan akhirnya ia bisa mendapatkan nya dengan modal tipis.
Nino mengeser tempat duduknya, mempersilahkan seorang tamu yang datang bersama nya membuat shine terdiam cangung.
Dia adalah Yuma salah seorang direktur muda dari perusahaan YUE COPT, direktur muda yang bisa mempertahankan perusahaan yang hampir saja bangkrut tiga tahun lalu menjadi perusahaan paling terkemuka ke lima di negara ini.
" Kau kau kenapa di sini?" Desis dengan suara yang amat dingin dan gugup.
“ Nyonya fan mengundang ku untuk membuat kerja sama ini!!" Yuma berbicara setenang mungkin membuat shine mendelik tajam nino yang tersenyum.
Nino melangkah maju, tangan nya terulur yang dengan kasar di tepis yuma membuat nino menatapnya heran.
“ Kenapa tuan muda?" Tanya nino lembut namun bagi yuma begitu tajam dan menakutkan.
“ maaf nyoya dimana kontrak nya, setelah ini aku harus menemui seorang kolega" ujar yuma membuat nino menganguk.
Menyerahkan map putih padanya, dengan cepat yuma mengambilnya membuat coretan tanda tangan namanya di dalam dokumen yang memiliki hukum setidaknya akan mengikat dirinya selama lima tahun kedepan.
Beranjak dari sana karna semua urusan telah beres nino megantarkan yuma ke depan pintu perusahan nya menatap aneh yuma yang cepat sekali melajukan mobilnya pergi dari sana.
Next time.
Siang ini akira meranjuk pada haru untuk menemaninya ke super market membeli kebutuhan sehari-hari yang sudah menipis.
Jam menunjukkan pukul 1 siang tak ada tanda-tanda bahwa haru akan menjemput, membuat kesal saja runtuk akira merogoh henfoun dari tas selempang yang di pakainya memecet sebuah no.
Drettt . . . Drettt . . . drett . . .
Suara telpon mengangu haru, ia meminta ijin pada bos nya untuk mengangkat setelah mendapat anggukan haru keluar ruangan dan duduk di kursi panjangnya rumah sakit.
“ apa lagi aki?" Tanya haru geram adiknya begitu tak sabaran jika sudah menyangkut keluar rumah membuat kepala pusing.
[ Haru apa jadi]
Tanya suara dari sebrang sana dengan nada yang berharap.
“ Aki aku masih bekerja!
__ADS_1
Lain kali saja aku menemanimu Bagaimana?" Ucap haru membujuk adiknya membuat akira yang ada di sana marah menutup sambungan telpon secara sepihak.
Tutt . . Tutt . . Tutt . .
“ Dia marah!!" Haru menghembuskan nafas nya pelan menatap layar panjang henfoun nya.
Baki yang tak jauh dari tempat haru berada sempat menguping sebentar, tanda tanya membuat baki mendekati haru yang tengah frustasi di ambang pintu.
“ Siapa dia yang menelfon mu ?" Tanya baki penasaran.
“ Adikku . .!" Jawabnya singkat.
“ bukankah kau tak memiliki adik? Setahuku kau hidup sendiri?" Tanya balik baki mengorek informasi dari haru.
“ Bukan adik kandung . . Aku menemukan nya dulu di ..." Haru menghentikan ucapan nya membuat baki menatap tanda tanya haru mengeleng pelan tanda bahwa ia tak bisa memberitahu yang sebenarnya.
“ Aku ingin melihat fotonya?"
" Apa kamu yakin?" Tanya haru penasaran ketika baki bersih kekeh meminta nya menunjukkan Poto akira, baki menganguk mantap membuat haru memgambil dompet nya, menarik poto kecil yang berada di dalamnya*.
*Mata baki membulat ketika melihat foto itu
Rahasia apa antara haru dan gadis di foto itu
Kenapa terlalu banyak hal yang tak ia mengerti
Mengapa ayah nya membawa akira ke sisinya untuk alasan apa akira di kirim padanya
Siapa akira sebenarnya?
“ IBU KALIAN MEMILIKI MATA YANG BULAT DAN BESAR...!"
Akira melontarkan kalimat tiruan, tangan nya masih asik membolak-balik isi halaman buku. Matanya menganalisis makna satu persatu kata.
Terlintas kalimat akira waktu itu membuat dirinya mulai sedikit paham apa yang di maksud akira.
Haru mengerakan tangan nya di wajah baki bingung itu yang baki rasakan “ Ada apa? Dokter mengenalnya?" Tanya haru ke arah baki yang masih begong.
“ Tidak ! Tapi dia sangat cantik . . Usia berapa ini?" Tanya baki mengasongkan Poto ke arah haru yang tersenyum lembut.
“ Sekitar 16 tahun kalo tidak salah...!!"
__ADS_1
“ Oh"
Haru meminta ijin pergi dari sana baki menganguk, meminta salah satu asisten pribadinya untuk menghubungi shu ayahnya*.