
Beberapa tahun kemudian.
sosok wanita berpakaian minim memegang kain putih kasar di tangan nya. Ia melangkah pergi dari sana rasanya ingim sekali membunuh orang sejak akira lahir anak itu tak lain hanyalah sebagai alat untuknya. Akira yang mulai tumbuh semakin cantik dan mirif dengannya namun bagi nana akira tidak boleh sampai di ketahui keberadaan nya oleh orang itu . . Tidak . . Tidak boleh walaupun harus memotong darah daging akira hanyalah alat untuknya mendapatkan uang bukan anaknya.
" Terus Berharap lah akira!
Karna itu percuma!!" Senyum sinis nana tercetak jelas.
Dari arah berlawanan muncul sosok jangkung dengan stelan jas hitam menghentikan langkah nana. Ia menangkap pengelangan tangan Nana.
" Anak itu anakmu?" Ujar sosok itu mnunjuk akira.
" Kau Seorang oengacara?
Menurut mu siapa dia?" Tanyabalik nana tanpa menghiraukan pertanyaan nya.
" Berhentilah menjadi wanita Ja *ang"
__ADS_1
" Apa maksudmu bicara sekali lagi?," Nana memegang kerah baju sosok itu tatapan kemarajan tersirat di kedua matanya, nana mencibir dan melontarkan kata kasar namun sosok itu hanya diam.
" Ingatlah kau adalah ibu paling hina di dunia!!" Balas sosok itu dan pergi dari sana.
Akira merasa ada yang memperhatikan nya namun saat ia mengecek sekitarnya tak ada orang sama sekali. Ia mengambil kain putih yang tergeletak wajnya heran dan penuh tanda tanya?
Nana yang saat itu berdiri tak jauh dari akira memandang benci sosok itu.
Terpuan angin malam membuat Nana meningalkan taman masa bodo dengan akira karma hidup dan matinya bukan urusan nya.
" Setan kecil!!"
****
* BYURR*
Akira terlonjak kaget saat air dingin mengyutur tubuhnya, dingin itu yang ia rasakan baru setengah jam lamanya ia menutup matanya
__ADS_1
Semalaman bergadang untuk membuat naskah namun kenapa baru saja ia bisa tidur ibunya sudah mengguyur nya.
Nana berkaca pingang lalu menjewer telinga akira kuat ia merintih sekujur tubuhnya deman namun nana hanya bisa menatap dengan pandangan ketidak pedulian nya saja.
" Akira! Cepat pergi ke sekolah dan ingat jangan katakan bahwa aku adalah ibumu !!!" Ucap nana dengan penekanan oada kata ibumu yang membuat meringis hati akira segitu bencinyakah dia pada dirinya lalu kenapa Nana bersedia melahirkan nya?
" Baik bibi!!" Nana tersentuym puas mendegar pangilan baru yang terlontar dari Akira, Nana membalik badanya dan merengangkan tangannya menguap beberapa kali tanpa sadar Akira sedari tadi sudaj diam dengan tatapan geram.
Pagi ini dimana mentari belum menampakan dirinya, akira sudah siap dengan tas berserta buku gambarnya ia melangkah dan menunu garasi mengambil sepeda yang sudah bersih dari arah garasi oergi mengayuh di jalnan di jalanan yang belum di padati penduduk.
Cukup lama di perjalanan matanya menatap sekitaran sekolah yang masig belum buka, bahkan gerbang nya masih di kunci melihat hal itu akira memutuskan jalan-jalan di sekitaran wilayah itu.
Cahaya mentei kini menyinari bumi hampir satu jam anak itu berjalan-jalan. Akira terlonjak kafet sesaat ada irang yang menerjang dan merangkulnya dirinya dari belakang ia menoleh ke samping.
" Momi!!" Pangilnya pelan dan membalas pelukan hangat dari sahabatnya.
Momo cengegesan ia mengaruk kepala nya lalu berputar-putar di hadapan akira yang menatap nya penuh akan tanda tanya, akira sedikit penasaran dengan sikap aneh momo yang sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
__ADS_1