Kehidupan Palsu Akira

Kehidupan Palsu Akira
penerobos


__ADS_3

***TAP TAP TAP


Suara langkah kaki berlarian kemana-mana mereka berpencar menyusuri setiap ruangan yang berada di dalam villa baki. Orang-orang ber jas hitam lengkap dengan senjata di tangan mereka menerobos masuk gerbang penjaga melukai banyak penjaga.


Siulan beriringan melambangkan bahwa tempat itu aman, mendorong salah satu pintu pelan melihat kamar bernuansa abu kelima orang itu masuk beriringan.


Menarik gordeng kasar gadis itu terlonjak kaget melihat para penerobos“ Kalian?” ucap nya penuh tanda tanya menyampingkan lehernya ke samping beberapa derajat.


“ Mata itu!!" Seorang agen agak tua mundur beberapa langkah, gugup dan ketakutan melihat ke arah akira yang penuh tanda tanya.


“ Apa yang kalian lakukan? Cepat tangkap gadis itu!"


Printah ketua yang baru saja masuk menunjuk ke akira. Tak beberapa lama akira sudah dapat di ringkus lututnya di tendang kasar membuat tubuh akira berjongkok terduduk.


Lengan nya di ikat tali di belakang, gerakan kasar menarik rambut akira membuat wajah nya menegandah ke atas para agen ketakutan saat melihat sosok banyak orang menerjang jendelang.


“ PLANG "


Pecahan kaca berhamburan kemana-mana.


Akira merasa tali nya mengendor, tubuhnya di y


tarik kasar kebelakang, akira mengerakan tangan nya sakit.


Bodyguard baki mengitari para penerobos barusan akira cukup penasaran dengan mereka


Melangkah berjalan ke arah seorang pria yang ketakutan melihatnya ia menunjuk bola matanya“ kenapa paman takut pada mataku dari awal?" Tatapan mengitimidasi akira membuat sosok itu menelan ludah nya takut.


GLukk...

__ADS_1


Sudut bibirnya terangkat seakan ingin berbicara jujur pada akira . . Namun kalah cepat dengan peluru yang melesat menembus sarat otak nya


Darah menyiprat para wajah akira.


DOR


SPRASS


Baki langsung menutup mata akira“ Jangan lihat!” wajahnya memberi isarat pada bawahannya.


Selama ini memang sudah banyak para penjaga di sekitar villa namun mereka sedikit lengah hingga terjadi penyerangan seperti tadi.


Namun tak menyangka bahwa para SOL sangat tergangu dengan kabar burung. Kini para agen SOL meratapi nasibnya di bawah pukulan besi panas dengan cambukan yang mengenai tubuhnya. Mencetak luka bakar yang mengerikan ferri ( wakil ketua ) yang bertugas membersihkan kekacauan tadi, matanya menatap tajam ke arah tahanan kakinya bersilang di kursi berdebu kebesaran nya


Hal yang paling mengagumkan saat melihat maha karya pada tubuh orang lain. Menyiksa tahanan adalah hobynya sejak dulu.


Merasa bosan ferri beranjak dari kursi, memegang dagu salah satu tahanan“ Mengakulah” ujarnya penuh ancaman namun orang itu hanya diam. Habis sudah kesabaran ferri ia meminta para bawahannya untuk melanjutkan adegan penyiksaan yang beberapa saat tertunda jeritan memelas membuat ferri tertawa bahagia.“ Satu, dua, tiga ” hitungan menandakan aba-aba untuk agen yang bertugas menyiksa nya.


Dilihatnya jam sudah menunjukkan pujul 12 malaM dengan santai meningalkan ruangan kumuh.


Mata tajam nya waspada saat terdengar suara pijakan patah, ferri merogoh pistol dan mengarahkan nya pada bayangan hitam yang tersembunyi di balik tembok. Matanya perlahan kembali normal saat bayangan tadi muncul seutuhnya di adalah akira yang baru saja kembali dari ruangan komputer.


“ Ada apa dengan mu nona?” tanya ferri saat akira terjatuh ke lantai matanya mendadak berdenyut sakit. tak tega melihat akira kesakitan ferri merangkul akira menuju ke arah sofa yang berada di ruangan penyiksaan.


Bau amis serta bau menyengat tercium membuat perut akira rasanya terkoyak. Mual ntah kenapa la tak terlalu suka aroma darah yang membuatnya merasa familiar. Akira muntah di sana membuat ferri membelatkan matanya “ Iuuuuh jijiknya . . .” ujarnya pelan.


“ Hoek . . Hoek . .”


Semua makanan dan cairan lambung keluar dari perut nya, ferri merasa jijik sekaligus khawatir ia berinisiatif memijit tengkuk leher akira namun di hentikan oleh gadis itu“ Kumohon bawa aku pergi” pinta akira memelas membuat ferri menganguk setuju, setelah meminta bawahanya membersihkan kekacauan barusan mereka langsung pergi tanpa menyia-nyiakan waktu lagi.

__ADS_1


" Hoek . . Hoek . .hoek . ."


Ferri merasa cemas saat akira terus saja muntah. Wajahnya pucat dan sedu di kamar besar itu akira lemas di bawah wastafel untuk apa ia keruang bawah tanah jika tahu nantinya akan seperti ini.


“ Akira!!"


Triak baki mendobrak pintu kamar mandi


Ferri dan baki menunggu cemas di ambang pintu.


” Aku . .


Aku dengar kau sakit kita harus ke rumah sakit..." Baki mendekatinya.


" Tidak!


Tidak mau! ”


Ferri masuk ke dalam kamar mandi“ Nona menurutlah! Jika nona sakit siapa yang akan mengurus para ikan kecil itu" ferri mengikuti baki membujuknya namun akira tetap kukuh pada pendiriannya.


Baki mengangkat tangan akira namun dengan kasar akira mendorong nya hingga terjatuh, ferri berkeringat dingin“ BOS" ucapnya khawatir baki mengeleng pelan.


“ Aku tidak suka rumah sakit!


. . . Di sana aku merasa banyak hal menyakitkan terjadi namun kenapa aku tak bisa ingat apapun" kalimat sedu akira memegang kepalanya kuat. Baki memberikan kode pada ferri untuk membius akira namun akira menjadi agresif melesatkan jepitan ke arah tangan ferri yang langsung terluka berdarah.


" Nona tenanglah . . ."


" Tidak tidak mau! Kalian keluar aku ingin sendiri" ancam akira meletakan jepitan di lehernya baki dan ferri berkeringat dingin itulah sebabnya mereka tak suka perempuan yang menurutnya ribet namun bagai obat.

__ADS_1


" Kami akan pergi " akira menganguk***.


__ADS_2