
Arion dan Alza kini sudah berdiri di depan pintu ruang kerja Johan. Alza menatap Arion dengan tatapan penuh kecemasan.
"Jangan takut! Ada aku disini, Alza!" Sekali lagi Arion meyakinkan Alza.
"Tapi... kakekmu..."
"Sssttt! Tenanglah! Kamu cukup diam dan biarkan aku yang bicara. Oke?"
Alza menganguk pasrah. Tangannya kembali di raih oleh Arion.
Arion mengetuk pintu dan terdengar sahutan dari dalam. Terlihat Johan sedang duduk di kursi kebesarannya sambil membawa beberapa foto di tangannya.
Johan melempar foto itu di depan Arion dan Alza. Bahkan ada yang mengenai wajah Alza.
"Apa maksudnya semua ini, Arion? Wanita ini sudah menikah dan memiliki suami! Bagaimana bisa kau membawanya ke rumah ini? Apa kalian berselingkuh? Kau benar-benar sudah keterlaluan, Arion! Kau mencoreng nama keluarga Nusantara!"
Johan mengatur napasnya usai mengucap sumpah serapah untuk Alzarin. Sementara wanita hamil itu hanya mampu menunduk dan tak berani menatap Johan.
Bahkan Arion masih terlihat diam tanpa melakukan perlawanan. Begitulah Arion. Dia tidak akan menyerang sebelum musuh berhenti menyerang. Entahlah, Arion memang begitu.
Dengan wajah yang tetap tenang, Arion makin mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Alzarin.
"Apa kakek sudah selesai bicara? Kalau begitu sekarang giliranku!"
Johan menatap pria muda yang sangat mirip sifatnya dengan dirinya.
"Pertama, kami tidak berselingkuh. Kedua, Alza bukan lagi istri Dennis. Ketiga, Alza tidak menggodaku, tapi aku yang menggodanya lebih dulu."
Johan terlihat mengerutkan keningnya. Namun ia sama sekali tidak menyela kata-kata Arion.
"Aku minta maaf karena sudah membuat keributan di rumah ini. Untuk itu, agar semua rumor cepat berlalu, maka... Aku akan menikahi Alza secepatnya."
"Orang-orang tahu jika dia adalah istri dari Dennis Pratama. Bagaimana kau akan menghadapi itu?"
"Orang-orang cenderung sengaja menghebohkan sesuatu yang sebenarnya bukan urusan mereka. Tapi... Mereka juga akan dengan mudah melupakan rumor. Jadi, kakek tidak perlu khawatir."
Johan tampak terdiam. Jika sudah begitu, itu artinya dia sependapat dengan Arion.
"Kalian boleh pergi!"
Bukan bermaksud mengusir tapi memang begitulah Johan. Selalu praktis dan sistematis.
Arnis yang melihat Arion dan Alza keluar dari ruang kerja mertuanya, segera menghampiri mereka.
"Arion, Alza. Kalian baik-baik saja?" Arnis terlihat cemas.
"Mama tenang saja! Aku selalu bisa meyakinkan kakek."
"Jadi... Maksudmu kakekmu setuju dengan hubungan kalian?"
Arion mengecup tangan Alza yang masih setia ia genggam.
"Tentu, Ma. Kakek menyerahkan semuanya padaku."
Arnis tersenyum lega. "Alza, kamu terlihat sangat tegang. Ayo ikut Mama, kita lakukan hal yang menyenangkan. Boleh kan Arion?"
Arion mengangguk. "Boleh, Ma."
"Ayo!" Arnis meyakinkan Alza jika apa yang akan mereka lakukan adalah hal yang membahagiakan untuk para wanita.
__ADS_1
...***...
Hari ini, Arion mempersiapkan diri untuk melakukan konferensi pers mengenai pernikahannya dengan Alza. Seperti biasa Arion akan melakukannya dengan singkat saja.
Tanpa melibatkan Alza, Arion akan mengurus semuanya sendiri. Arion duduk tenang di depan semua wartawan.
Beberapa orang mulai berbisik-bisik mengenai siapa calon istri Arion Nusantara.
"Katanya mau mengumumkan soal pernikahannya, tapi nyatanya dia hanya duduk sendiri bersama dengan asistennya."
"Iya, benar. Sebenarnya siapa wanita itu? Pasti dari kalangan atas juga seperti dia."
"Hmm, mungkin saja. Sekelas Arzetta Pratama saja dihempas, harusnya sekarang dia mengumumkan jika dirinya bersama dengan model cantik Jesly Chung."
"Apa?! Siapa itu Jesly Chung?"
"Hei, kau tidak tahu? Kudengar dari sumber yang akurat, dia adalah mantan pacar Arion Nusantara. Mereka menjalin hubungan saat Arion tinggal di luar negeri."
"Hmm, jadi apakah mereka balikan lagi?"
"Entahlah, mungkin saja iya, mungkin saja tidak."
"Selamat siang semuanya!" Suara Arion mulai menggema.
Meski tidak menyebutkan siapa calon istrinya, Arion tetap menunjukkan wajah tenang ketika mendapat cecaran pertanyaan dari awak media.
"Apa benar Anda menikahi model terkenal Jesly Chung?"
Satu lontaran pertanyaan dari salah satu stasiun TV membuat Arion membulatkan mata.
"Jesly Chung?"
Setelah Arion kembali ke tanah air, rumor tentang mereka pun pudar. Dan kini semua orang mengira jika Jesly adalah mantan kekasih Arion.
"Maaf, saya tidak menjawab pertanyaan yang tidak berhubungan dengan pernikahan saya." Arion menjawab tegas.
"Tapi, ini tentu saja berhubungan, Tuan. Karena Anda belum menyebutkan siapa calon istri Anda."
Arion ingin marah, tapi Anand menghalangi dan menggeleng. "Tuan, Anda harus tetap tenang. Jangan terpancing. Mereka hanya ingin menjebak Tuan saja."
"Nanti juga kalian tahu siapa calon istriku. Untuk saat ini, hanya ini saja yang bisa saya sampaikan. Terima kasih."
Arion segera beranjak dari duduknya. Arion meminta para pihak keamanan segera membubarkan kerumunan awak media karena konferensi pers sudah berakhir.
...***...
Pulang ke rumah, Arion tak mendapati Alza ada di kamarnya. Tentu saja Arion panik. Ia takut jika Alza akan kabur lagi darinya.
"Nona Alza ada di taman, Tuan. Bersama Nyonya Arnis." Mbok Sum memberitahu Arion.
"Oke, Mbok. Terima kasih."
"Sama-sama, Tuan."
Arion segera mencari sosok yang sudah amat dirindunya itu. Arion melihat Alza sedang duduk membelakanginya bersama Arnis.
Arion memberikan kejutan dengan memeluk tubuh Alza dari belakang.
"Aku cari kemana-mana tahunya malah disini sama Mama." Arion mengecup puncak kepala Alza.
__ADS_1
"Ah, kamu sudah pulang?" tanya Alza gugup karena bermesraan di depan Arnis.
"Aku sangat merindukanmu."
"Sayang, sebaiknya kamu ajak Alza masuk. Angin malam kurang baik untuk ibu hamil." Arnis memberi usulan.
"Baik, Ma. Ayo sayang!" Arion memeluk pinggang Alza posesif. Arnis hanya menggeleng pelan melihat tingkah Arion.
Tiba di dalam kamar Alzarin, wanita itu langsung duduk di tepi ranjang.
"Siapa Jesly?"
Pertanyaan Alza membuat Arion mengernyit bingung. Alza pasti tahu karena melihat berita tadi, pikir Arion.
"Bukan siapa-siapa!" jawab Arion cuek.
"Kalau bukan siapa-siapa kenapa orang-orang sibuk membicarakan kalian? Kalian pernah pacaran?"
Arion tersenyum penuh kemenangan. "Kamu cemburu?" goda Arion.
"Ti-tidak!" Alza memalingkan wajah.
"Cemburu juga boleh. Ayo ikut aku!" Arion membawa Alza masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa kesini?"
"Mau menghitung bintang!" Arion menunjuk balkon kamarnya yang terdapat sebuah teleskop besar disana.
Arion mengajak Alza untuk menghitung bintang. Kegiatan yang sama seperti dulu saat mereka kecil.
"Ayo sini!" Arion meminta Alza untuk melihat kerlipan bintang melalui teleskop.
"Wow, indah sekali."
"Sama seperti kamu, Alza..."
"Eh?" Alza menoleh dan memergoki Arion yang sedang menatapnya.
"A-ada apa? Memang ada yang salah dengan wajahku?"
Arion menggeleng. Ia malah gemas melihat wajah Alza yang memerah. Tanpa aba-aba, Arion menaikkan dagu Alza dan mengecup lembut bibir mungil itu.
Alza mengerjap-ngerjapkan matanya karena terkejut dengan ciuman Arion yang tiba-tiba. Sedang Arion hanya bergerak pelan sengaja memastikan apakah Alza menerimanya atau tidak.
Hingga akhirnya mata Alza ikut terpejam seiring pergerakan Arion yang meningkat. Ia bahkan sudah menahan tengkuk Alza agar tidak bisa kemana-mana.
Masih dalam mode gerakan slow but sure, Arion ingin memastikan Alza nyaman dengan sentuhannya. Jadi, ia tidak akan terburu-buru.
Alza yang mulai terbuai, tetap diam dan tidak membalas sapuan bibir Arion. Baginya, ini seperti ciuman pertama mereka. Meski sebenarnya mereka sudah melakukan hal yang lebih dari sekedar berciuman.
Pelan, Alza mendorong tubuh Arion agar melepaskannya.
"Arion..."
Alza menatap manik hitam milik Arion.
"Aku mencintaimu, Alzarin."
Pernyataan cinta Arion membuat Alza selaksa terbang ke angkasa. Tak pernah menyangka jika ia akan dipertemukan lagi dengan sahabat masa kecilnya, dan kini mereka akan menikah.
__ADS_1