
Kembali ke masa 22 tahun yang lalu, Beni yang baru saja kembali dari kota A, kini menemui Johan. Niatnya ingin melaporkan jika bayi Arnis dan Sultan sudah ia bawa ke Kota A, malah kacau karena ia mengatakan yang sebenarnya.
"Jadi... Kau membawanya ke panti asuhan?" tanya Johan menyelidik.
"Benar, Tuan. Adik saya tidak bisa merawat bayi itu."
"Aku tidak menyuruhmu untuk menyerahkannya pada adikmu. Lalu, apa ada yang tahu tentang asal usul bayi itu?"
"Tidak ada, Tuan. Bahkan saya hanya meletakkannya di depan gerbang panti."
"Hmm, bagus!" Johan mengusap dagunya sambil tersenyum.
"Nama panti asuhannya Kasih Bunda, Tuan. Dan saya juga memberikan nama untuk bayi itu. Namanya adalah..."
"Cukup! Aku tidak ingin mendengar apapun darimu. Sekarang kau pergilah dari sini dan jangan pernah kembali. Aku takut kau membocorkan rahasia ini pada Sultan dan Arnis. Ini uang untuk biaya hidupmu selama kau pergi. Dan selanjutnya aku akan mengirim uang ke rekeningmu."
Beni memandangi amplop coklat yang ada di depannya. Inikah bayaran untuk dosa yang sudah dia lakukan? Pikirannya kacau. Ia ingin memberitahu yang sebenarnya pada Sultan dan Arnis. Tapi Beni bukanlah orang berkuasa. Ia tidak akan bisa lari dari Johan.
"Baiklah, Tuan. Terima kasih." Beni membungkuk lalu keluar dari ruang kerja Johan.
Ketika kakinya menapaki halaman rumah besar itu, Beni melihat Arnis yang sedang duduk termenung meratapi kepergian putrinya. Ada rasa tak tega ketika melihat kesedihan Arnis. Beni tahu seperti apa rasanya kehilangan orang yang kita sayangi.
"Maafkan saya, Nyonya Arnis. Semoga setelah ini Anda dan Tuan Sultan bisa memberikan keturunan untuk keluarga ini."
Dan setelah hari itu, Beni menghilang bak ditelan bumi. Beni tidak pernah menampakkan batang hidungnya selama dua puluh tahun lebih.
...***...
Hari ini Zetta akan bertolak ke negeri sakura, Jepang untuk menimba ilmu yang sempat pupus. Zetta sengaja pergi sendiri ke bandara karena tidak ingin melihat air mata kesedihan di mata ibunya.
Zetta berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi mengingat soal masa lalu terutama Alza dan Arion. Biarlah takdir yang memberi mereka hukuman atas apa yang sudah mereka perbuat, begitulah pemikiran Zetta.
Saat sedang duduk di ruang tunggu, sayup-sayup Zetta mendengar berita di televisi yang sedang menanyangkan gosip tentang Arion Nusantara yang akan menikah. Meski tak suka dengan berita yang tersaji, tapi Zetta tetap mendengar dan melihat bagaimana Arion melakukan konferensi pers di depan awak media.
"Cih, mereka akan segera menikah? Itu berarti benar jika memang mereka telah melakukan hubungan terlarang di belakangku dan Bang Dennis. Benar-benar orang yang mengerikan. Ternyata selama ini keluargaku hanya merawat seorang parasit."
Zetta beranjak dari duduknya dan menyeret kopernya untuk check-in. Sudah tidak tahan telinganya mendengar ocehan Arion di televisi.
Di tempat berbeda, seorang pria muda juga sedang menatap berita di ponselnya yang menampilkan sosok Arion Nusantara. Tangan pria itu terkepal menatap wajah datar Arion yang ada di layar ponselnya.
"Jadi dia akan menikah? Tapi dengan siapa?" gumamnya.
Pria itu menekan tombol interkom. "Ammar, ke ruanganku sekarang!"
"Baik, Tuan."
Tak lama seorang pria muda berjas rapi datang ke ruangan atasannya.
__ADS_1
"Anda memanggil saya, Tuan?"
"Hmm, aku baru saja melihat berita tentang Arion Nusantara. Aku baru tahu kalau dia akan menikah. Apa kau tahu siapa calon istrinya?"
"Eh? Maaf, Tuan. Saya tidak tahu."
BRAK!
"Kalau begitu selidiki! Aku ingin tahu seperti apa wanita yang akan dinikahi Arion. Pria penuh obsesi itu!"
Pria bernama Ammar itu mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Apa ada lagi yang Anda butuhkan, Tuan?"
"Tidak! Kau boleh keluar!"
Ammar membungkuk hormat kemudian keluar ruangan. Getaran ponsel membuat pria itu mengalihkan perhatiannya.
"Iya, Oma."
"Argan, apa kamu lupa hari ini hari apa?"
"Tidak, Oma. Sebentar lagi aku akan pulang ke rumah."
Ya, pria itu adalah Argantara. Pria dengan tatapan hangat namun bisa berubah mengerikan ketika dihadapkan dengan musuh dunia bisnisnya.
Argan langsung mengambil kunci mobil dan meninggalkan kantornya. Ia akan menemui sang nenek yang memintanya pulang.
"Ayo kita langsung ke pemakaman," ajak Oma Ratna.
"Iya, Oma."
Mereka berdua berjalan ke sebuah pemakaman dimana anggota keluarga tercinta mereka dikebumikan.
Ada dua buket bunga yang Argan letakkan di kedua nisan itu.
"Tidak terasa orang tuamu sudah meninggalkan kita selama sepuluh tahun." Oma Ratna mengusap lembut punggung cucunya.
"Sudahlah, Oma. Tidak ada gunanya kita terus bersedih. Mereka sudah tenang disana. Tapi aku... Aku akan terus mencari tahu siapa yang sudah menyebabkan kecelakaan itu terjadi."
"Iya, Nak. Ya sudah, sekarang kita pulang ya!"
Argan mengangguk. Ia menggandeng tangan keriput sang nenek dan membawanya pulang ke rumah.
...***...
Argan terkejut karena mendapat undangan pernikahan Arion di meja kerjanya. Ia segera meminta Ammar untuk datang ke ruangannya.
"Siapa yang mengirimkan ini?"
__ADS_1
"Saya tidak tahu, Tuan."
Argan menyeringai. "Ternyata dia masih ingat denganku? Atau perusahaan ini? Ya ya, ini sangat menarik, Ammar."
"Lalu, bagaimana dengan data calon istri Arion Nusantara?"
"Tetap cari datanya dengan lengkap."
"Baik, Tuan."
"Pernikahannya minggu depan," gumam Argan. "Baiklah, aku pasti akan datang untuk memberimu selamat, Arion."
Tiba di hari pernikahan Arion dan Alza, Argan datang ke gedung penikahan mereka. Tidak sembarang orang bisa masuk. Karena hanya tamu penting saja yang diundang oleh Arion.
Argan memasuki ruangan yang sudah penuh oleh para tamu penting itu. Rata-rata semuanya adalah kolega bisnis keluarga Nusantara.
Argan mengedarkan pandang mencari sosok pengantin yang tidak terlihat di panggung utama.
"Kemana pengantinnya?" gumam Argan.
Tak lama seorang pembawa acara memanggil nama Arion dan Alzarin untuk memasuki aula. Dengan gagah dan anggun mereka berjalan melewati para tamu.
Mata Argan tak sedikitpun berkedip menatap sang pengantin wanita yang dikenalinya.
"Itu kan... Perempuan yang waktu itu? Bagaimana bisa dia adalah calon istri Arion? Bukankah saat itu dia sedang hamil?"
Argan menggeleng pelan. "Apa yang sebenarnya terjadi dengannya dan Arion? Apa mereka melakukan hubungan diluar nikah?"
Tiba-tiba saja ponsel Argan berdenting. Sebuah pesan dari Ammar. Argan segera membukanya.
Sebuah foto terpampang nyata di layar ketika Argan membuka pesannya.
"Namanya Alzarin. Dia adalah... Mantan istri Dennis Pratama?"
Tatapan Argan kembali tertuju pada Alzarin. Gadis yang pernah ditolongnya beberapa waktu lalu.
Kedua mempelai mulai memposisikan diri untuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan. Argan juga ikut mengantre untuk memberi ucapan selamat.
Ketika tiba gilirannya, ternyata Alzarin tidak ada di tempat. Ternyata Alza sedang ke kamar mandi dengan ditemani satu orang penata rias.
Alza memuntahkan isi perutnya. Rasa mual karena bertemu banyak orang membuatnya harus segera pergi ke toilet.
"Nak, kenapa di saat begini sih? Hari ini adalah pernikahan papa dan mama. Harusnya kamu mendukung kami, Nak." Alza mengusap perutnya yang mulai terlihat.
Setelah cukup tenang, Alza keluar dari kamar mandi. Ia harus kembali ke panggung karena Arion menunggunya di panggung. Langkah Alza terhenti karena ada seseorang yang menghadangnya.
"Kita bertemu lagi, Nona. Apa kabar?"
__ADS_1