Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 65


__ADS_3

Seakan mendapat angin segar dari Johan, Alza segera menghubungi Argan untuk memintanya bertemu. Namun Alza harus menelan kekecewaan karena Argan tidak menjawab panggilan darinya.


Di sisi Argan, kini ia sedang bersama dengan keluarga Agatha, dan tentu saja ada Oma Ratna bersamanya. Oma Ratna tersenyum karena berhasil membuat Argan menuruti keinginannya.


Oma Ratna mengusap lengan Argan. Dua keluarga baru saja membicarakan tentang rencana pertunangan Argan dan Agatha. Setelah pembicaraan usai, Oma Ratna pamit undur diri bersama Argan.


"Oma senang kamu sudah tidak berhubungan dengan gadis itu." Oma Ratna membuka obrolan dalam perjalanan.


"Aku melakukan semua ini demi Oma. Semoga Oma menepati janji Oma dengan tidak melibatkan Alza dalam masalah masa lalu Oma dan Kakek Johan."


"Tentu saja. Oma akan menepati janji jika kamu juga bisa menepati janjimu. Lagi pula kalian masih pacaran, apa salahnya jika putus di tengah jalan? Toh kalian tidak punya komitmen apapun kan."


Argan tak lagi menjawab. Sudah bosan rasanya terus berdebat dengan neneknya. Kondisi Oma Ratna langsung memburuk jika Argan menolak permintaannya.


...***...


Pagi harinya, Alza yang merasa kesal dengan Argan malah mendatangi langsung kantor pria itu. Alza masuk ke ruangan dimana Argan berada. Tentunya sangat hapal ruangan di kantor itu.


"Maaf, Nona. Tuan Argan sedang tidak ada di tempat." Seorang wanita yang adalah sekretaris Argan berkata pada Alza.


"Ha? Yang benar saja? Ini masih pagi kenapa Bang Argan tidak ada di tempat?" Alza tak percaya begitu saja.


"Benar, Nona. Tuan Argan ada rapat pagi di luar."


Alza memutuskan untuk menghubungi nomor ponsel Argan. Alza sendiri bingung kenapa kekasihnya tidak pernah menjawab panggilan darinya.


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, atau berada di luar servis area. Cobalah beberapa saat lagi."


Alza kembali harus menelan kecewa. Alza ingin menerobos masuk ke ruangan Argan. Tak percaya rasanya jika kekasihnya itu tidak bersedia bertemu dengannya.


Saat hendak melangkah, ponsel Alza ganti berdering. Ia pikir itu adalah Argan, tapi ternyata bukan.


"Halo."


"Alza, sekarang aku sudah ada di depan kantormu, kau dimana?"


Alza menepuk pelan jidatnya. Alza malah melupakan jika dirinya meminta Aryan untuk datang bekerja padanya.


"Ah, iya. Kamu tunggu sebentar disana. Aku sedang dalam perjalanan."


Alza berbalik badan dan meninggalkan kantor Argan. Percuma saja menunggu jika memang benar Argan tidak ada di tempat.


Sementara itu, sebenarnya Argan berada di ruangannya. Karena permintaan Oma Ratna, Argan terpaksa harus meminta sekretarisnya berbohong.


"Bagus, Nak! Lambat laun dia juga pasti akan melupakanmu. Percayalah dengan Oma!" Ratna menepuk pelan pundak cucunya itu. Sedang Argan hanya diam dan tak menanggapi. Dalam hati Argan merutuki dirinya sendiri yang tak mampu menolak perjodohannya dengan Agatha.


...***...


Alza tiba di kantor Nusantara Grup dan menemui Aryan yang menunggunya di lobi.


"Hai, maaf ya nunggu lama. Ayo kita langsung ke ruanganku saja!" Alza bicara dengan datar dan cukup tegas.


Aryan tak menjawab dan mengikuti langkah Alza menuju ke ruangannya.


"Nah, ini ruanganmu. Selama aku bekerja disini, aku belum pernah memiliki seorang asisten. Jadi, ini sebuah kehormatan untukmu."

__ADS_1


Aryan manggut-manggut sambil memperhatikan sekeliling ruangan kerjanya.


"Ayo! Aku kenalkan dengan ayahku."


"Eh?! Apakah harus sekarang?"


"Tentu saja! Kamu kan adalah asistenku, jadi kamu akan mengatur semua pekerjaanku."


Aryan kembali mengangguk patuh. Dari bingkai kacamatanya, mata Aryan mengedar. Rasanya ia tak asing dengan tempat ini.


"Alza!" panggilnya.


"Ya?"


"Kenapa aku rasanya tidak asing dengan tempat ini?"


Alza tersenyum penuh arti. Tentu saja kamu tidak asing dengan tempat ini. Kamu menghabiskan waktumu untuk membesarkan perusahaan ini dibawah bimbingan Kakek.


"Ayo masuk!" Alza membuka pintu ruangan ayahnya setelah sekretarisnya memberitahu kedatangan Alza.


"Papa!" Alza menyapa Sultan.


"Sayang? Tumben kamu datang sepagi ini." Sultan berdiri dari kursi kebesarannya untuk menghampiri Alza.


"Pah, kenalkan! Ini Aryan Aswatama. Mulai hari ini dia akan menjadi asisten pribadiku di kantor."


Aryan mengulurkan tangan di depan Sultan. Pria paruh baya itu mengerutkan keningnya tapi tetap menyambut uluran tangan Aryan.


"Selamat pagi, Tuan. Saya Aryan. Saya akan bekerja dengan baik sebagai asisten Nona Alza."


"Tolong jaga putriku!" ucap Sultan.


"Papa! Aku bukan anak kecil yang perlu dijaga." Alza merengut.


Aryan melirik sekilas dan tersenyum samar melihat tingkah Alza yang merajuk pada ayahnya.


"Siap, Tuan. Saya akan menjaga Nona Alza dengan segenap hati saya!"


Sultan menepuk pundak Aryan. "Selamat bergabung dengan Nusantara Grup."


...***...


Keluar dari ruangan Sultan, Alza dan Aryan kembali berjalan menuju ruangan Alza. Di perjalanan, mereka berpapasan dengan Agasa.


"Alza, siapa dia?" Agasa menunjuk dengan dagunya.


"Ah, dia adalah asisten pribadiku. Namanya Aryan. Aryan, ini kak Agasa. Dia menjabat sebagai direktur pengembangan produk. Dia juga kakak sepupuku."


"Hai, Tuan Agasa. Saya Aryan!" Aryan mengulurkan tangannya, tapi Agasa tak ada niat untuk membalas.


"Ini cukup mengejutkan, Alza. Kenapa tiba-tiba kau memiliki asisten?" Agasa menatap Alza dan mengabaikan sosok Aryan.


"Tidak apa. Aku hanya ingin saja. Aryan ini memiliki kemampuan luar biasa. Kurasa aku bisa memanfaatkan otak briliannya untuk membantuku. Jika tidak ada lagi yang ingin kakak katakan, maka..."


"Mengenai perjodohan kita..."

__ADS_1


Alza mendelik mendengar ucapan Agasa.


"Aku menerimanya, Alza. Jadi, kuharap kau juga menerimanya."


"A-apa?!" Alza mengepalkan tangannya.


"Dan kurasa kau belum mendengar kabar mengenai kekasihmu itu."


"A-apa maksud kakak?"


"Aku tidak bisa mengatakannya padamu. Tapi, cepat atau lambat kau akan mengetahuinya." Agasa berlalu pergi setelah mengatakan kalimat itu di depan Alza.


"Siapa sih dia? Menyebalkan sekali!" gerutu Aryan. "Ayo, Alza. Kita kembali ke ruanganmu saja. Aku sudah mengatur jadwalmu hari ini."


Aryan mendahului langkah Alza. Tak ingin terus memikirkan ocehan Agasa, Alza juga memilih untuk menuju ke ruangannya.


...***...


Seorang kurir mengirimkan sebuah paket untuk Alza. Merasa tak memesan apapun, Alza ingin menolaknya. Tapi nama penerima jelas-jelas adalah nama Alza.


Alza membuka sebuah kotak yang ternyata berisi undangan.


"Undangan siapa ini?"


Mata Alza melotot begitu membaca nama yang tertera di undangan itu.


"Agatha Kristie dan Argantara Dewangga? Apa ini? Me-mereka akan bertunangan?"


Undangan itu terlepas dari tangan Alza. Merasa ada yang aneh dengan putrinya, Arnis segera menghampiri putrinya.


"Sayang, ada apa? Undangan siapa ini?" Arnis memungut undangan yang tergeletak di lantai.


Arnis juga ikut terkejut seperti Alza. "Sayang..." Arnis mengusap lengan Alza.


"Apa ini, Ma? Ke...na...pa Bang Ar...gan a...kan ber...tu...na...ngan...?"


Suara Alza bergetar. Ternyata inilah jawaban dari gamangnya perasaan Alza beberapa hari ini. Argan yang tak bisa menemuinya. Argan yang tidak menjawab panggilan teleponnya. Argan yang menghindar ketika dirinya datang ke kantor.


Alza segera berlari menuju kamar dan mengambil ponsel.


"Aku mohon angkat, Bang! Untuk yang terakhir kalinya, kamu harus jelaskan semuanya padaku."


Hingga akhirnya...


"Halo, Alza..."


"Kita harus bicara, Bang."


"Baiklah. Kau ingin bertemu dimana?"


"Besok di resto XYZ."


"Baiklah. Sampai bertemu besok."


...***...

__ADS_1


__ADS_2