
Seorang gadis cantik tinggi semampai turun dari pesawat yang membawanya ke tanah air. Kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya ia lepas sambil mengedarkan pandangan.
𝘈𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘪𝘯𝘪.
Gadis cantik yang adalah Arzetta merogoh saku cardigannya dan mengambil ponsel. Ia aktifkan ponsel yang sedari tadi ia matikan itu.
"Mama?" Matanya berbinar saat melihat nama sang mama yang tertera di layar ponselnya.
Zetta segera menghubungi Lia agar wanita itu tidak khawatir.
"Halo, Ma..."
"𝘡𝘦𝘵𝘵𝘢, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪?"
"Sudah, Ma. Tapi, ada yang harus kulakukan lebih dulu. Aku akan pulang sebelum makan malam."
Terdengar helaan napas Lia di seberang telepon.
"𝘉𝘢𝘪𝘬𝘭𝘢𝘩. 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘵𝘪-𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘺𝘢!"
Panggilan berakhir. Zetta menemui seseorang yang menjemputnya di bandara.
Pria itu membungkuk hormat di depan Zetta.
"Selamat datang, Nona."
"Hmm. Bagaimana? Kamu udah tahu posisi dia dimana?"
"Saat ini Nona Alza masih ada di kantornya. Mungkin sebentar lagi keluar kantor untuk makan siang."
Zetta manggut-manggut. "Bagus! Aku ingin langsung menemuinya. Kita ikuti kemana dia akan pergi."
Zetta masuk ke dalam mobil. Dan si pria berpakaian serba hitam itu langsung melajukan mobilnya menuju ke tempat dimana Alza berada.
𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘬𝘶𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘥𝘪 𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘪𝘮𝘶, 𝘈𝘭𝘻𝘢𝘳𝘪𝘯...
...***...
Kantor Grup DS
Argan melangkah menuju ke ruangan Alza. Sudah ia duga jika Alza akan melewatkan makan siang jika dirinya tidak mengingatkan wanita itu.
𝙏𝙤𝙠 𝙩𝙤𝙠
Argan mengetuk pelan pintu ruangan Alza.
"Masuk!" Terdengar suara Alza menyahut dari dalam.
Argan menyembul masuk dan membuat Alza sedikit terkejut. "Bang Argan? Ada apa, Bang?"
Argan menunjukkan jam tangan di tangannya. "Kamu lupa? Ini sudah waktunya makan siang." Argan mengingatkan.
Alza menepuk jidatnya sendiri. Ia juga melirik jam tangannya. "Maaf, Bang. Aku suka lupa waktu kalau udah ngurusin soal kerjaan."
"Ya udah, ayo kita pergi makan siang!" Argan menarik lembut tangan Alza.
"Bang!"
"Kenapa?" Argan bingung.
"Itu..." Alza melirik pada tautan tangannya dan tangan Argan.
"Emang kenapa? Bukannya dua hari lagi kamu bakal jadi calon istri aku?"
Alza mengerut bingung. "Dua hari? Kan semalam kesepakatannya tiga hari, Bang!"
"Salah, Alza. Dua hari! Karena yang satu hari udah habis semalam. Jadi sisa dua hari saja."
__ADS_1
"Kok begitu sih, Bang? Itu curang namanya!" Alza mengerucutkan bibirnya.
"Biarin!" Argan melenggang pergi lebih dulu karena Alza menolak untuk berjalan bersama.
Sebenarnya Alza bukan menolak. Hanya saja ia tak enak hati dengan pandangan orang-orang di kantor mengenai dirinya.
Argan membawa Alza makan siang di sebuah resto seafood langganannya. Alza begitu bersemangat menyantap semua hidangan di depannya itu. Argan sengaja memesan makanan kesukaan Alza.
"Makanlah! Kamu harus makan yang banyak, karena pekerjaan kamu kan juga banyak."
"Iya, Bang. Abang juga ayo makan!" Alza segera mengambil beberapa makanan lalu menaruhnya di piring milik Argan.
"Sayang, aku ke toilet dulu ya!" pamit Argan dengan suara lembutnya.
"Iya, Bang."
"Kamu makan aja dulu!"
Argan beranjak dari kursinya dan menuju ke toilet pria. Dari kejauhan, sepasang mata memperhatikan Alza dengan sorot mata tidak suka.
𝘛𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘦𝘯𝘢𝘬, 𝘩𝘢? 𝘋𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘶𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯! 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘶𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯. 𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢.
Argan keluar dari toilet dan akan menuju ke meja dimana Alza berada. Namun secara tak terduga ada seorang wanita yang menghentikan langkah Argan.
"Argantara! Kamu Argantara Dewangga kan?"
"Eh? Iya benar. Siapa ya?" Argan tampak tak mengenali wanita yang menyapanya.
"Aku Novita. Teman kuliah dulu."
Argan nampak mengingat-ingat. "Oh iya iya, aku ingat."
"Kamu apa kabar?" Wanita bernama Novita menepuk pelan lengan Argan.
"Baik, kamu sendiri gimana? Masih sering ketemu sama teman-teman yang lain?"
Tawa renyah yang menggema membuat Alza menoleh dan melihat pemandangan dimana Argan sedang bercanda ria bersama seorang wanita. Bahkan wanita itu meminta Argan untuk berfoto bersama.
𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘶 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘉𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘳𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘪𝘯? 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘯𝘺𝘢? 𝘈𝘱𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘤𝘦𝘮𝘣𝘶𝘳𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘉𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘳𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯? 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳-𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳, 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘉𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘳𝘨𝘢𝘯 𝘨𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘢𝘱𝘶𝘯. 𝘗𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘔𝘣𝘢𝘬 𝘙𝘰𝘴𝘮𝘢. 𝘋𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘶𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢.
Argan yang sudah selesai dengan urusannya, kembali ke meja dimana Alza berada.
"Lho? Kok belum dimakan? Apa mau aku suapin?"
Alza menggeleng. "Tidak, Bang. Ini aku mau makan. Aku nunggu kamu, Bang."
Lalu keduanya menyantap makan siang mereka dengan lahap. Semua makanan habis tak bersisa. Entahlah. Hati Alza terasa panas melihat adegan Argan dan wanita tadi. Alza melampiaskannya dengan makanan.
"Bang, aku mau ke toilet dulu!" Alza bangkit dari duduknya. Ia menuju ke kamar mandi wanita untuk menetralkan degup jantungnya yang tak terkontrol.
Alza menatap wajahnya di cermin. Ia mengatur napasnya yang terasa memburu.
Tiba-tiba dari luar toilet masuk seorang wanita yang menyapa Alza.
"Apa kabar, Alzarin? Lama tidak berjumpa..."
Alza mendongak dan mendelik menatap sosok yang dikenalinya itu.
"Ze-zetta?" Alza sangat terkejut.
Zetta bersedekap sambil menelisik penampilan Alza yang sudah sangat berbeda dari sebelumnya.
"Kamu banyak berubah, Alza. Apa karena kamu sudah mendapat mangsa baru?"
"Mangsa? Apa maksud kamu?"
"Haha, jangan sok suci, Alza. Sekarang kamu tahu kan, seperti apa rasanya saat orang yang kita sayangi direbut oleh orang lain? Dulu kamu merebut Kak Arion dariku, lalu Jesly merebut Kak Arion darimu. Itu seperti hukum karma, Alza. Dan sekarang kamu bersama dengan pria lain. Sekali murahan tetaplah murahan! Menjijikkan!"
__ADS_1
Zetta melenggang pergi usai menghujati Alza. Sementara Alza hanya diam membeku tanpa bisa membalas kalimat Zetta.
𝙏𝙤𝙠 𝙩𝙤𝙠
"Alza! Kamu masih di dalam?"
Ketukan di pintu toilet membuat Alza tersadar. Ia menyeka air mata yang hampir saja terjatuh, lalu keluar dari toilet.
"Alza, kamu tidak apa-apa?"
"Tidak, Bang."
"Syukurlah. Kamu lama sekali di toilet. Makanya aku pikir terjadi sesuatu denganmu. Kita kembali ke kantor sekarang?"
Alza mengangguk. "Iya, Bang. Lagi pula jam istirahat sudah selesai."
...***...
Zetta kembali ke rumah sebelum makan malam seperti janjinya. Zetta melepas rindu dengan Lia sebentar lalu memutuskan untuk beristirahat di kamarnya.
Saat jam makan malam tiba, nampak Lia menata makanan di atas meja makan. Zetta mengernyit bingung karena makanan yang disiapkan Lia sangat banyak.
"Lho? Kenapa banyak banget makanannya, Ma? Emang mau ada acara apa?"
"Ini lho, abang kamu mau undang tamu katanya."
"Oh ya? Tamu? Tamu siapa, Ma?"
"Kita tunggu saja abangmu. Dia bilang dia lagi jemput tamunya itu."
"Hmm?" Zetta merasa bingung tapi tak bertanya lagi. Biarlah nanti ia juga tahu siapa tamu istimewa malam ini.
Beberapa saat kemudian, Dennis datang dengan membawa seseorang bersamanya.
"Selamat malam semuanya!" sapa Dennis.
"Selamat malam, Nak! Ayo masuk!"
"Zetta? Kamu udah kembali?"
"Abang!" Zetta berseru lalu memeluk sang kakak.
Setelah pelukan berakhir, Zetta menatap wanita yang dibawa oleh Dennis.
"Kamu? Kamu Falia kan?" tanya Zetta.
"Iya, aku Falia. Apa kabar, Zetta?" Falia mengulurkan tangannya, namun Zetta menolaknya.
"𝘚𝘪𝘢𝘭! 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘈𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘍𝘢𝘭𝘪𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘪𝘯𝘪? 𝘈𝘥𝘢 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘈𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘍𝘢𝘭𝘪𝘢?"
Makan malam berlangsung dengan khidmat. Tak banyak perbincangan yang terjadi selama makan malam berlangsung. Hanya saja wajah Zetta tak pernah menunjukkan senyum di depan Falia. Zetta malah mengumumkan tatapan perang pada Falia.
"Aku tidak menyangka jika kita akan bertemu lagi dengan cara seperti ini." Falia sengaja mengambil waktu untuk bicara dengan Zetta.
"Omong kosong macam apa ini? Kau punya hubungan apa dengan kakakku? Sudah berapa lama kalian saling kenal?"
Falia tersenyum. "Kami sudah hampir dua tahun berhubungan. Dan kami rasa, sudah saatnya kami mengumumkan hubungan kami di depan keluarga masing-masing."
Zetta mencebik. "Apa? Apa kau pikir mama dan papa akan menerimamu di keluarga ini? Dulu keluarga kami pernah menerima menantu dari kalangan tak jelas, tapi tidak untuk sekarang! Kami tidak akan lagi mengulang kesalahan yang sama!"
Falia tetap tenang di tempatnya. Ia sudah tahu jika Zetta pasti akan menentang hubungannya dengan Dennis.
"Terserah apa katamu! Tapi yang jelas, takdir kini berubah. Dulu... Kamu akan jadi kakak iparku. Tapi sekarang, akulah yang akan jadi kakak iparmu..."
Zetta menghentak kesal karena kalimat Falia yang percaya diri itu.
"Argh! Dasar brengsek!" umpatnya setelah Falia pergi.
__ADS_1