
Argan menerima panggilan dari Agatha. Meski malas meladeni wanita itu, Argan tetap menjawab telepon dari calon istrinya itu.
Rupanya Agatha mengajak bertemu karena ingin membahas sesuatu dengannya. Dan Argan setuju.
Argan menemui Agatha di sebuah private room resto yang sudah dipesan oleh Agatha sebelumnya. Saat Argan datang, Agatha sudah ada di dalam ruangan itu.
"Argan! Akhirnya datang juga!" Agatha menyambut kedatangan Argan dengan suka cita.
"Ayo duduk! Aku sudah pesankan makanan kesukaan kamu."
Argan melirik meja yang sudah tertata beberapa menu diatasnya.
"Dari mana kamu tahu makanan kesukaanku?"
"Dari Oma Ratna. Maaf ya aku lancang bertanya padanya. Aku hanya ingin mengenal lebih jauh calon suamiku ini."
Argan hanya mengangguk. Mereka memulai makan malam dalam hening. Masih belum terjadi keanehan apapun disana.
"Katakan ada masalah apa?" Argan menyudahi makan malam dan meminum segelas air yang tersedia disana.
"Ah, tidak ada sih. Aku hanya ingin memastikan saja jika kamu tidak akan kabur dari pernikahan ini."
"Cih, kenapa berpikir begitu?"
"Entahlah, tapi aku merasa kamu sangat sulit melupakan Alzarin. Meski pada kenyataannya Alzarin sudah melupakanmu."
"Apa maksudmu?"
"Kemarin aku melihat Alza dengan seorang pria. Entah siapa dia." Agatha menunjukkan ponselnya dan memperlihatkan foto-foto Alza yang ia tangkap secara sembunyi.
Mata Argan berkunang menatap foto Alza dengan orang yang dinilainya tak asing itu.
"Aku... seperti mengenalnya. Tapi dimana? Dan siapa?"
"Siapa? Memangnya kamu mengenal pria ini?" Agatha memancing Argan untuk bicara dan berpikir untuk memastikan obat yang ia masukkan ke dalam minuman Argan bekerja dengan baik atau tidak.
"Entahlah, aku tidak... Mengingatnya..."
Tubuh Argan akhirnya ambruk. Agatha memastikan lagi dengan menggoyang tubuh pria itu.
"Argan! Kamu kenapa? Argan!" Panggil Agatha yang tak direspon oleh Argan.
Agatha segera menghubungi Ferdi lalu membawa tubuh Argan keluar dari resto menuju ke apartemen milik Agatha.
...***...
Keesokan paginya, Argan terbangun dari tidur dan merasakan kepala berdenyut.
"Apa yang terjadi denganku?" Argan memegangi kepalanya. Argan masih tak sadar jika saat ini ia tidak memakai baju alias bertelanjang dada.
Setelah beberapa saat barulah ia sadar dan melihat jika ia bukan berada di kamarnya. Ia melirik ke samping dan melihat Agatha masih terlelap.
Argan memperhatikan penampilan dirinya dan Agatha. Mereka sama-sama tak memakai baju.
"Astaga! Apa yang sudah kulakukan?" Argan memeriksa tubuhnya. Entah apa yang terjadi semalam dengannya dan Agatha. Ia sama sekali tidak ingat.
Argan bangun dari ranjang dan menuju ke kamar mandi. Argan membersihkan diri dan memakai kembali kemejanya semalam.
"Agatha! Bangun! Agatha!"
Argan menepuk pipi Agatha pelan.
"Hmmm, apa sih?" Agatha menggeliat. Tubuh bagian atasnya hampir saja terekspos jika saja Argan tidak membenarkan selimut.
"Bangun!" Kata Argan agak keras.
Agatha terbangun sempurna. Ia menatap Argan dengan malu-malu.
"Argan..." Agatha menundukkan wajah.
"Apa yang terjadi semalam? Kenapa kita...?"
Agatha menatap Argan kecewa. "Kamu tidak ingat soal semalam?"
Argan menggeleng.
"Kamu yakin tidak ingat?"
Argan menelan ludah. Sudah bisa dipastikan apa yang terjadi diantara pria dan wanita yang ada dalam satu kamar dan berbagi ranjang.
"Tidak mungkin kan kita..." Argan tak ingin berspekulasi lebih jauh. Bisa saja kan mereka hanya tidur.
"Argan! Tega sekali kamu!" Agatha mulai histeris. Ia tak terima Argan tidak mengingat malam panas mereka. Begitulah yang ingin Agatha jejalkan di otak Argan.
...***...
Persiapan pernikahan Argan dan Agatha sudah dimulai. Agatha sengaja tidak membahas masalah malam itu dengan Argan, karena bagaimanapun mereka akan menikah.
Agatha terlihat bersemangat untuk menyiapkan pesta pernikahannya dengan Argan.
"Dengar, Nak. Kamu harus berhasil membuat Argan menandatangani perjanjian kerjasama dengan perusahaan ayahmu," Ucap mama Agatha.
"Iya, ma. Mama tenang saja. Lagi pula, Argan tidak akan pergi kemana-mana kok. Dia sudah kuikat dengan tali yang kencang." Agatha mengerling.
"Benarkah? Akhirnya perusahaan papa kamu akan mendapat suntikan dana."
Agatha bertos ria dengan mamanya.
...***...
Satu hari menjelang hari pernikahan, diadakan makan malam keluarga antara keluarga Argan dan Agatha. Kehangatan tercipta diantara oma Ratna dan orang tua Agatha, tapi tidak dengan Argan.
Argan masih murung dengan semua hal yang akan terjadi besok. Benarkah dirinya akan menikah dengan Agatha? Rasanya masih tak bisa dipercaya.
__ADS_1
"Sayang... Kamu kenapa?" Agatha memegang tangan Argan.
"Tidak apa-apa."
"Dia pasti gugup karena besok akan menikah, hahaha." Oma Ratna berusaha mencairkan suasana, tapi Argan hanya bergeming. Mulai besok Argan harus bisa melupakan Alzarin.
Hari ini berbalut setelan jas berwarna putih, Argan memasuki altar untuk menikah dengan Agatha. Semua hadirin yang datang bertepuk tangan melihat kedua pengantin yang memasuki ruangan.
Usai sudah pencarian Argan tentang cinta. Ternyata labuhan jodohnya ada pada Agatha. Dan Argan harus menerima itu.
"Selamat! Kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri!"
Argan dan Agatha saling pandang lalu berciuman bibir singkat. Perasaan Argan masih tertuju pada Alza. Dan Agatha tahu itu.
Di tempat berbeda, hari ini Alza mendatangi apartemen Aryan. Setelah kasus Agasa selesai, kini Alza mulai terbuka dengan hubungannya dan Aryan. Ya, meski mereka masih belum tahu hubungan seperti apa yang mereka jalani sekarang. Belum ada komitmen yang terucap dari bibir keduanya.
Namun setiap hari Aryan memberikan perhatian Alza lewat sebuah tindakan. Tidak perlu lagi kebanyakan teori seperti yang diajarkan beberapa situs online yang Aryan baca. Aryan memilih untuk memakai kata hatinya dalam menjalani hubungan dengan Alza.
"Taraaaa!" Alza mengejutkan Aryan dengan datang tiba-tiba.
"Alza! Bukannya kamu bilang mau pergi dengan Arbi? Kenapa malah kesini?"
"Aku bohong! Aku sengaja mengerjaimu!"
"Astaga!" Aryan menepuk jidat. "Kamu sudah pandai mengerjaiku, ha?!" Aryan mencoel hidung Alza.
"Aduh, sakit tauk!" Alza merajuk lalu duduk di sofa.
"Kamu bawa apa?" Tanya Aryan yang melihat Alza membawa totebag.
"Sini duduk!" Alza menepuk sofa di sebelahnya.
Setelah Aryan duduk, Alza malah berdiri lalu duduk di pangkuan Aryan.
"Alza! Kamu ngapain?!" Aryab panik karena Alza memulai hal yang intim.
"Ish! Jangan bergerak! Aku bawa ini!" Alza membuka totebag yang dibawanya. Ternyata ia membawa alat cukur.
"Kemarin aku lihat di kantor penampilanmu kurang bagus. Jambangmu sudah tumbuh panjang lagi. Aku harus mencukurnya!"
"No, Alza! Aku bisa mencukurnya sendiri nanti."
"Ssttt! Jangan berisik! Hari ini biarkan aku bekerja!"
"Dengan posisi seperti ini?" Aryan merasa risih sekaligus senang dengan posisi yang tak berjarak ini. Meski begitu, ia tak ingin kehilangan akal jika Alza terus memancingnya.
"Memangnya kenapa? Ini supaya aku lebih mudah mencukur brewokmu!"
Alza mulai beraksi. Dengan cekatan tangannya mulai bergerak dan membersihkan rambut-rambut halus disekitar area rahang Aryan.
Dress selutut yang dipakai Alza terangkat keatas karena posisi Alza yang duduk di paha Aryan. Dengan terus meneguk saliva, Aryan menahan hasratnya.
Tangannya yang tadinya diam kini mulai mengelus paha mulus Alza.
"Kamu yang mulai lebih dulu!"
"Ck, Aryan!"
"Kamu menggodaku, Alza!"
"Big No! Aku hanya merapikan jambangmu, Aryan!"
Setelah berkutat beberapa saat, Alza menyudahi aksinya.
"Selesai. Begini kan lebih bagus!" Alza mengambil cermin dan mengarahkannya ke wajah Aryan.
"Ya, thank you!"
"Sekarang kamu harus memberiku hadiah!" Tuntut Alza.
"Hadiah? Apa?"
"Apa saja!"
"Apa boleh ini?" Aryan mengusap bibir Alza dengan jarinya.
"Hmm, boleh." Alza melingkarkan tangannya ke leher Aryan.
Tanpa menjeda lagi, Aryan segera menyambar bibir Alza yang sejak tadi memanggilnya mendekat. Mereka sedang dimabuk gelora. Saling membelit dan saling mendecap satu sama lain.
Tangan Aryan mulai naik dan menyingkap dress yang dipakai Alza. Tangannya masuk dan mengusap punggung Alza dengan lembut. Memeluk erat wanita yang sedang berada dipangkuannya.
"Haaah!" Deru napas mulai tak beraturan. Mereka menjeda sejenak.
"Apa kamu tahu jika hari ini Argan..."
"Stop! Jangan sebut nama dia lagi! Aku dan dia sudah berakhir, Aryan. Jangan membahasnya lagi."
"Baiklah, Tuan Putri."
Alza terkekeh. "Lalu bagaimana dengan hasil DNA nya? Apa sudah keluar?"
Aryan tiba-tiba diam. Sungguh ia tak ingin membahas soal ini.
"Aryan..." Alza mengelus rahang Aryan. "Siapa ayah kandung Arbi?"
Aryan masih bungkam.
"Aryan! Kamu bilang kamu akan katakan semua padaku jika waktunya sudah tepat. Apa sekarang belum tepat?"
Aryan menarik tengkuk Alza mendekat lalu kembali mencium bibir Alza yang terus bicara. Aryan tak ingin membahas soal ini. Belum saatnya, begitu pikirnya.
๐๐ช๐ฌ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ข๐ฑ๐ฎ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ด๐ข๐ณ, ๐๐ญ๐ป๐ข. ๐๐ช๐ข๐ณ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ธ๐ข๐ฌ๐ต๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ธ๐ข๐ฌ๐ต๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ...
__ADS_1
Sekali lagi mereka menjeda karena harus menghirup oksigen lebih dulu.
"Aryan..." Mata Alza berkabut karena terpancing gairah. Apalagi Aryan terus membelai punggungnya bahkan mulai melepas kaitan brรก yang dipakainya.
"Marry me, Alza..."
"Eh?!" Alza menunduk. Alza menyukai kebersamaan mereka yang dulu tidak pernah tercipta. Alza menikmati sentuhan yang diberikan Aryan padanya.
"Bisakah kita tidak membicarakan soal pernikahan? Kamu tahu kan aku... Aku gagal menikah dua kali."
"Aku tahu... Maaf..."
"Aku yang minta maaf, Aryan... Kita tidak perlu berkomitmen dulu. Aku ingin kita menikmati waktu kita bersama."
"Baiklah. Lalu apakah aku boleh..."
"Boleh! Kamu boleh melakukan apapun! Mungkin kamu berpikir aku ini murahan. Tapi, kita sudah sama-sama dewasa. Aku akan tanggung konsekuensinya."
"Baiklah!"
Aryan mengangkat tubuh Alza menuju kamar. Kaki Alza melingkar di pinggang Aryan agar tidak terjatuh. Tanganya juga terus berpegangan pada leher Aryan. Sementara tangan Aryan memegangi bongkahan padat Alza yang sudah menggodanya sejak tadi.
Aryan merebahkan tubuh Alza perlahan di ranjang.
"Kamu yakin tidak akan menyesal?"
Alza menggeleng. "Lakukanlah! Aku tahu kamu sudah menahannya sejak tadi."
Aryan menatap Alza yang berada di bawahnya. Ia daratkan sebuah kecupan manis di bibir Alza. Tangannya bergerilya menyingkap dress Alza naik ke atas.
Semua bagian tubuh Alza tak ada yang terlewat. Aryan memanjakan Alza dengan sentuhan, tangan, lidah dan bibirnya.
"Aryan!"
Alza meremat sprei ketika gelombang itu datang. Alza terkulai lemas, padahal Aryan baru memulai pemanasan saja.
Aryan menatap Alza yang terengah. Meminta persetujuan lebih dulu untuk berbuat lebih. Ketika melihat Alza mengangguk, Aryan memulai hidangan utama pada siang hari ini. Ya, hari masih siang dan panas. Namun mereka membuat suasana panas sendiri di kamar itu.
...***...
Pesta resepsi pernikahan Argan-Agatha telah berakhir. Tamu undangan mulai meninggalkan tempat acara.
Agatha yang kelelahan meminta izin pada Argan untuk segera ke kamar. Mungkin karena sedang hamil muda, Agatha jadi mulai cepat lelah.
Malam pun menjelang. Argan baru memasuki kamar dan melihat Agatha duduk di tepi ranjang.
"Kamu bilang lelah, kenapa tidak tidur?" Argan salah tingkah karena melihat Agatha yang memakai pakaian tipis.
"Aku sudah istirahat sejak tadi. Kamu mandilah, aku sudah siapkan air hangat untukmu."
Argan mengangguk lalu segera memasuki kamar mandi. Agatha tersenyum gemas melihat tingkah Argan yang malu-malu.
"Astaga! Jangan bilang Argan tidak pernah melakukan itu. Bahkan dengan si janda itu?" Agatha menutup mulutnya.
"Ini berarti keberuntungan untukku." Agatha terkekeh geli menantikan malam pertamanya dengan Argan.
Lima belas menit kemudian, Argan keluar dari kamar mandi. Argan hanya memakai handuk yang melilit di pinggang karena Agatha belum menyiapkan baju ganti untuknya.
"Dimana piyamaku?"
"Ah, aku lupa. Lagi pula, untuk apa kamu pakai piyama? Bukankah kita akan melepasnya lagi?"
Agatha berjalan mendekati Argan. Refleks Argan memundurkan tubuh karena Agatha terus melangkah maju.
"Agatha, kamu..."
"Kenapa? Kita suami istri sekarang. Kita bisa melakukan apapun yang kita mau."
"Maksudmu?"
"Astaga, Argan! Apa kau sepolos itu?"
Agatha makin merapat dan Argan terpentok dinding. Kali ini Agatha harus bertindak agresif. Tak ada kata penolakan malam ini. Argan harus menidurinya agar alibinya bisa terbukti dan anak yang dikandungnya akan lahir sebagai anak Argan.
"Kita sudah pernah melakukannya, Argan. Apa salahnya kita mengulanginya?"
Agatha tak ingin mendengar apapun lagi dari Argan. Ia segera membungkam bibir Argan dengan bibirnya. Ia lepas handuk yang melilit di pinggang Argan lalu menunduk dan berjongkok. Kali ini Agatha harus berhasil.
"Ouch!" Argan melenguh.
Agatha sengaja memainkan ritmenya agar Argan terpengaruh dengan sentuhan bibirnya.
"Agatha! Stop!"
Agatha tak mau berhenti. Ia harus mendapatkan Argan malam ini juga. Sebuah senyum terbit tipis di bibir Agatha ketika pertahanan Argan akhirnya luruh dan mereka berakhir diatas ranjang kamar pengantin mereka.
...***...
Aryan terbangun di tengah malam dan menatap Alza yang terlelap di atas ranjangnya. Pasti Alza sangat lelah karena Aryan tak mau berhenti hingga dirinya puas. Sudah lama Aryan tak melakukannya, begitu juga dengan Alza. Mereka sama-sama haus buaian dan juga pelepasan.
Aryan mengecup kening Alza sebelum turun dari ranjang. Ia memakai celana boxernya lalu menuju balkon kamar.
"Halo," Sapa Aryan yang mendapat panggilan telepon.
"Alza ada bersamaku. Kalian tenang saja!"
"Baiklah."
Telepon berakhir. Aryan menatap pekatnya langit malam bersama kerlipan para bintang. Dalam lubuk hati yang paling dalam, Aryan merasa bersalah.
Banyak hal yang ia sembunyikan dari Alza termasuk tentang amnesianya. Aryan tidaklah lupa. Aryan masih ingat semuanya. Hanya saja ia ingin memperbaiki vas bunga retak miliknya dan Alza. Aryan ingin membahagiakan Alza dengan sisi dirinya yang lain yang membuat Alza nyaman. Dan ya, Alza merasa nyaman dengannya hingga mereka harus berakhir dalam balutan gairah tanpa cela.
"Maafkan aku, Alza. Kuharap kamu bisa bahagia dengan sosok Arion yang baru."
__ADS_1