Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 44


__ADS_3

𝙏𝙤𝙠 𝙩𝙤𝙠 𝙩𝙤𝙠


Pintu ruangan Zetta di ketuk. Muncullah Dennis dengan wajah masam menatap Zetta. Baru dua hari Zetta kini ikut bergabung dengan perusahaan keluarga, tapi sudah membuat Dennis marah karena ulah yang dilakukannya.


"Abang, ada apa?"


"Kamu pikir Abang gak tahu apa yang kamu lakukan? Kamu kan yang sudah menyebar berita tentang Alzarin?" cecar Dennis.


Zetta melengos. Malas sekali berdebat dengan sang kakak hanya karena perempuan itu, begitu pikirnya.


"Zetta! Jawab Abang!"


Zetta balik menatap tajam Dennis. "Hanya karena wanita murahan itu Abang sampai marah begini? Abang masih cinta ya sama dia?"


Dennis mengusap kasar wajahnya. "Ini bukan tentang cinta! Ini tentang nama baik keluarga. Apa jadinya kalau papa dan mama tahu apa yang kamu lakukan? Mereka pasti bakal malu. Dan asal kamu tahu, sebelum bertindak harusnya kamu fikir matang-matang kamu berhadapan dengan siapa."


Entah kenapa mendengar penjelasan Dennis membuat Zetta sedikit takut.


"Maksud Abang apa sih?"


Dennis menggeleng. "Masih gak faham juga kamu? Kamu berhadapan dengan Arion Nusantara dan Argantara. Apa kamu tahu siapa mereka? Bisa saja sekarang mereka sedang mencarimu!"


"Hah?!" Zetta tertegun. Ia baru sadar jika apa yang dilakukannya terhadap Alza telah membangunkan singa yang tertidur.


"Abang jangan menakut-nakutiku!"


"Aku gak melakukannya. Aku hanya mengingatkanmu. Dan aku gak bisa bantu kamu kalau sampai mereka menemukanmu. Kamu urus saja akibat perbuatanmu itu!"


Dennis keluar ruangan usai berkata yang cukup ekstrem terdengar oleh Zetta.


"𝘚𝘪𝘢𝘭! 𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘉𝘢𝘯𝘨 𝘋𝘦𝘯𝘯𝘪𝘴 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘫𝘶𝘨𝘢. 𝘏𝘢𝘥𝘶𝘩! 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘨𝘢𝘬 𝘮𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘴𝘪𝘵𝘶? 𝘈𝘳𝘪𝘰𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘨𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢! 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘥𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯."


Zetta mendadak panik dan ketakutan. Ia meraih ponsel dan menghubungi orang suruhannya.


"𝘕𝘰𝘮𝘰𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘵𝘶𝘫𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘵𝘪𝘧. 𝘈𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘳𝘷𝘪𝘴 𝘢𝘳𝘦𝘢. 𝘊𝘰𝘣𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘭𝘢𝘨𝘪."


Zetta kesal lalu membanting ponselnya.


"ARGH! Bagaimana ini? Jangan-jangan dia udah ketahuan."


Zetta mondar mandir di dalam ruangannya. Membayangkan bagaimana mengerikannya Arion, membuat Zetta menelan ludah. Masih jelas dalam ingatan bagaimana Arion dengan liciknya memisahkan Alza dan Dennis.


"Sepertinya aku salah memilih lawan! Alza... Aku harus bagaimana?"


Zetta terus bergumam sendiri dengan membayangkan nasib dirinya selanjutnya di tangan Arion dan Argan.


...***...


Di ruangannya, Alza tampak melamun. Memikirkan apa yang terjadi semalam dengannya dan Argan membuat Alza menghela napas.

__ADS_1


Beruntung Alza berhasil menghentikan Argan agar tak berbuat lebih terhadapnya. Meski semalam keduanya sama-sama dikuasai gairah untuk saling memiliki.


𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘢𝘳, 𝘈𝘳𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩 𝘈𝘭𝘻𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳. 𝘒𝘦𝘥𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘫𝘦𝘯𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘈𝘳𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘶𝘮𝘣𝘶 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢.


𝘈𝘭𝘻𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘦𝘯𝘢, 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘉𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘯𝘤𝘪𝘯𝘨 𝘱𝘪𝘺𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢. 𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘱𝘪𝘺𝘢𝘮𝘢 𝘈𝘭𝘻𝘢. 𝘎𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘮. 𝘐𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘴𝘳𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘨𝘢𝘯. 𝘐𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪.


𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘯𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘭𝘻𝘢 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩. 𝘚𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢 𝘈𝘭𝘻𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘰𝘳𝘰𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩 𝘈𝘳𝘨𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨.


"𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬, 𝘉𝘢𝘯𝘨. 𝘐𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩!" 𝘈𝘭𝘻𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘪𝘬 𝘴𝘦𝘭𝘪𝘮𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱𝘪 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘰𝘭𝘰𝘴.


𝘈𝘳𝘨𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳. 𝘐𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘴𝘢𝘱 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘢𝘳.


"𝘖𝘮𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘯𝘤𝘪𝘬𝘶 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪!" 𝘈𝘭𝘻𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘴𝘢𝘬.


𝘈𝘭𝘻𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳. 𝘈𝘳𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘐𝘢 𝘵𝘢𝘵𝘢𝘱 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘯𝘨𝘬𝘶𝘴 𝘴𝘦𝘭𝘪𝘮𝘶𝘵 𝘪𝘵𝘶 𝘭𝘦𝘬𝘢𝘵.


"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳. 𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶, 𝘈𝘭𝘻𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩!" 𝘈𝘳𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘭𝘶𝘬 𝘈𝘭𝘻𝘢 𝘦𝘳𝘢𝘵.


"𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶... 𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘦𝘴𝘵𝘶 𝘖𝘮𝘢. 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘯?"


𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘨𝘢𝘯, 𝘈𝘭𝘻𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘬. "𝘐𝘺𝘢, 𝘉𝘢𝘯𝘨. 𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢."


Alza memejamkan mata mengingat kejadian semalam. Cinta memang memabukkan. Cinta memang membutakan. Tapi sang pelaku cinta harus tetap menjaga kewarasannya.


𝘿𝙧𝙧𝙩 𝙙𝙧𝙧𝙧𝙩 𝙙𝙧𝙧𝙧𝙧𝙩


Ponsel Alza bergetar. Sebuah pesan masuk dari Argan. Alza membukanya.


Alza menghela napas pelan. Ia mengulas senyum dan membalas pesan Argan.


"𝙄𝙮𝙖 𝘽𝙖𝙣𝙜. 𝘼𝙗𝙖𝙣𝙜 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙝𝙖𝙩𝙞-𝙝𝙖𝙩𝙞 𝙙𝙞𝙨𝙖𝙣𝙖. 𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙪𝙥𝙖 𝙟𝙖𝙜𝙖 𝙠𝙚𝙨𝙚𝙝𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙗𝙖𝙣𝙜. 𝘼𝙠𝙪 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝘼𝙗𝙖𝙣𝙜..."


Pesan terkirim. Tak lama setelahnya, ponsel Alza kembali bergetar. Sebuah panggilan masuk terpampang di layar ponselnya.


"Oma Ratna?" Alza mengernyit. Dengan memantapkan hati, Alza menjawab panggilan dari nenek Argan.


"Halo, Oma..."


"𝘈𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶?"


"Ada, Oma."


"𝘉𝘢𝘪𝘬𝘭𝘢𝘩. 𝘛𝘦𝘮𝘶𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘳𝘦𝘴𝘵𝘰 𝘟𝘠𝘡 𝘴𝘪𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪."


Oma Ratna langsung mematikan sambungan telepon tanpa mendengar jawaban Alza. Alza kembali mengatur napasnya.


Akhir-akhir ini banyak hal yang terjadi dalam hidupnya.


"Oma pasti ingin membicarakan hubunganku dengan Bang Argan. Semoga saja aku bisa meyakinkan Oma tentang perasaanku pada Bang Argan..."

__ADS_1


...***...


Waktu jam makan siang tiba, Alza bergegas menuju ke resto yang disepakati bersama Oma Ratna. Hari ini Alza menyetir mobilnya sendiri. Akan lebih praktis jika memakai mobilnya sendiri.


Setelah berkendara beberapa lama, Alza tiba di resto XYZ. Alza turun sambil menetralkan degup jantungnya. Langkah kakinya terasa berat begitu memasuki pintu resto.


"Nona Alzarin?" Seorang pelayan menghanpiri Alza.


"Iya, saya sendiri."


"Nona sudah ditunggu oleh Nyonya Ratna. Silakan ikut saya!"


Alza mengangguk. Ia mengikuti langkah si pelayan wanita menuju ke sebuah ruangan yang tertutup.


"Silakan masuk, Nona. Nyonya Ratna ada di dalam."


Alza kembali mengangguk. Ia bahkan tak bisa berkata apapun hingga ia masuk ke dalam ruangan itu dan melihat sosok Oma Ratna yang duduk tenang membelakanginya.


Alza mengatur napasnya. "Oma!" sapa Alza dengan senyuman ramah mengembang.


Oma Ratna hanya tersenyum tipis. "Duduklah!"


Oma Ratna meminta Alza duduk berhadapan dengannya. Alza menurut.


"Bagaimana kabar Oma? Maaf ya aku jarang datang mengunjungi Oma."


Oma Ratna manggut-manggut. "Tidak apa. Kamu kan sekarang sibuk. Kamu memegang jabatan direktur sekarang."


Alza menunduk. Tentunya semua yang Alza dapatkan adalah berkat Argan dan Oma Ratna.


"Aku senang Oma sehat-sehat saja." Alza berbasa basi.


"Kita makan dulu lalu bicara."


Alza setuju. Mereka berdua makan dalam diam. Pikiran Alza dipenuhi banyak spekulasi mengenai hal apa yang akan Oma Ratna bicarakan dengannya.


"Kamu tahu kan Argan adalah satu-satunya cucuku. Dan hanya dia saja yang aku andalkan untuk mengurus perusahaan peninggalan suamiku dan ayahnya."


Alza terdiam dan menunduk. Rasanya ia mulai faham kemana arah pembicaraan Oma Ratna.


"Oma menginginkan yang terbaik untuk Argan. Saat ini namanya sedang naik daun. Karirnya sedang berada di atas. Sedikit saja dia terjerat skandal receh, karirnya bisa hancur. Kamu mengerti kan?"


Alza masih bungkam.


"Jika kamu memang mencintai Argan, menyayangi Argan. Maka... Jauhi dia. Tinggalkan dia. Aku yakin jika kamu menjauh, lambat laun Argan akan melupakanmu..."


Mata Alza berkaca-kaca. Ia menatap Oma Ratna dengan bibir bergetar.


"Oma, aku..."

__ADS_1


...***...


*𝙰𝚙𝚊 𝙰𝚕𝚣𝚊 𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚗𝚞𝚛𝚞𝚝𝚒 𝚔𝚎𝚒𝚗𝚐𝚒𝚗𝚊𝚗 𝙾𝚖𝚊 𝚁𝚊𝚝𝚗𝚊? 𝚊𝚝𝚊𝚞 𝚋𝚎𝚛𝚝𝚊𝚑𝚊𝚗 𝚍𝚎𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚌𝚒𝚗𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊?


__ADS_2