Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 60


__ADS_3

Satu minggu sudah Arbi dirawat di rumah sakit. Hari ini Arbi sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.


Dengan telaten Alza merapikan keperluan Arbi untuk dibawa pulang. Beberapa mainan juga harus dikemasnya. Ini karena Agasa selalu saja membawakan mainan untuk Arbi ketika datang menjenguk.


Notifikasi pesan masuk di ponsel Alza membuatnya segera membuka dan membacanya. Alza mendesah pelan karena Argan lagi lagi tak bisa datang menjemputnya.


"Apa Oma Ratna sengaja ingin menjauhkan aku dan Bang Argan? Sampai selalu memberinya pekerjaan di luar kota." Alza merasa kesal sendiri.


Ketukan di pintu kamar membuat Alza menoleh.


"Apa sudah siap?"


"Kak Aga?" Malah orang yang tak Alza harapkan datang menjemputnya.


Sebenarnya ini adalah ide Johan yang meminta Agasa menjemput Alza dan Arbi dari rumah sakit. Hanya saja, Alza tetap meminta Argan untuk menjemputnya. Siapa tahu Argan datang lebih cepat ketimbang Agasa. Namun nyatanya, Alza harus menelan kecewa karena Argan tak bisa menemuinya.


"Biar aku bantu!" Dengan sigap Agasa membawa tas besar milik Alza dan Arbi.


"Terima kasih, Kak."


"Arbi mana?" tanya Agasa sambil celingukan mencari bocah kecil itu.


"Dia lagi main sama Mbak Ani di taman." Jawaban malas Alza membuat Agasa mendekat.


"Kamu kenapa? Sakit?" Agasa menempelkan punggung tangannya di kening Alza.


"Apaan sih, Kak? Aku nggak apa-apa!" Alza menepis kasar tangan Agasa.


"Maaf... Aku hanya... Ingin memeriksa saja. Abisnya kamu..."


"Sudah kubilang aku baik-baik saja!" Suara Alza bertambah keras. Rasa kesalnya terhadap Argan malah ia lampiaskan pada Agasa.


"Sekali lagi maaf, Alza." Agasa mengalah. Ia memilih membawa barang-barang Alza keluar kamar dan menatanya di mobil.


"Haaaah! Kenapa aku jadi marah-marah ke Kak Aga sih? Dia kan nggak salah apa-apa."


...***...


Tiba di rumah keluarga Nusantara, Agasa mampir sebentar dan berbincang dengan Johan. Kondisi Johan sudah tidak memungkinkan untuk kembali bekerja. Alhasil kini perusahaan dipegang oleh Sultan dan Alza dibantu dengan Agasa.


"Kakek harap kamu jangan bosan untuk mengajari Alza. Dia itu masih muda dan terlalu meledak-ledak. Kadang terlalu bersemangat, kadang juga lemah tak berdaya."


"Iya, Kek. Kakek tenang saja. Kalau begitu aku permisi dulu! Aku harus kembali ke kantor."


Johan mengangukkan kepala. Ia menatap kepergian Agasa dengan sebuah senyuman.


Tiba di halaman rumah, Agasa dikejutkan dengan kehadiran Alza.


"Kak, aku... Aku minta maaf ya. Tadi aku sudah bicara kasar sama kakak." Alza menundukkan wajahnya.


Agasa tersenyum. "Tidak apa. Kamu sedang lelah, makanya kamu begitu. Sebaiknya kamu istirahat saja. Kamu sudah kekurangan jam tidur selama menjaga Arbi."


"Sekali lagi terima kasih ya, Kak."


"Terima kasih saja tidak cukup, Alza."


"Heh?! Maksud kakak?" Alza mengerutkan keningnya.


"Bagaimana kalau minum kopi?"


Alza tersenyum. "Boleh. Kakak mau kapan?"


Tak ada yang aneh dari ajakan Agasa. Alza hanya menganggap Agasa sebagai saudara.

__ADS_1


"Mungkin besok. Hari ini kamu istirahat saja!"


"Oke! Besok pagi." Alza melambaikan tangan ketika mobil Agasa mulai menjauh dari pandangan.


"Cobalah buka hatimu untuk orang lain, Nak!" Ucapan Johan membuat Alza bingung. Rupanya sejak tadi Johan memperhatikan interaksi antara Alza dan Agasa.


"Maksud kakek?"


"Agasa adalah pria yang baik."


Alza rasa ia tahu kemana arah pembicaraan kakeknya. Ia mendapat cerita dari Arnis jika kakeknya berniat menjodohkan Alza dengan Agasa.


"Aku tahu, Kek. Dia juga kakak yang baik. Alza suka punya kakak seperti kak Agasa." Alza melengos pergi setelah mengecup singkat pipi Johan.


Johan hanya bisa menghela napas. Rupanya sangat sulit menghapus nama Argan dari hati Alza.


Di dalam kamarnya, Alza merebahkan diri dan berusaha untuk tidur. Benar kata Agasa. Jam tidurnya berkurang karena menjaga Arbi di rumah sakit.


Alza mengambil ponsel dan melihat ada notif apa saja disana. Kosong. Tidak ada pesan apapun dari Argan.


"Bang Argan... Aku rindu... Apa abang sesibuk itu tidak menghubungi aku sama sekali." Mata Alza berkaca-kaca.


"Apakah kita harus menyerah dengan cinta kita, Bang?"


Alza memeluk guling dengan erat seakan dia memeluk Argan. Alza berusaha memejamkan matanya hingga akhirnya ia terbuai dalam alam mimpi.


...***...


Alza terbangun dari tidur saat merasakan ada usapan lembut di kepalanya. Mata Alza masih terasa berat tapi ia paksa untuk bangun.


Bola mata Alza membola saat melihat sosok yang kini duduk di tepi ranjangnya.


"Kak Aga?!"


Alza segera terbangun dan duduk bersandar.


"Bagaimana kakak bisa ada di kamarku?" tanya Alza merasa risih dengan kehadiran Agasa.


Agasa malah tersenyum. "Karena kamu melupakan janji kamu untuk minum kopi bersamaku."


"Hah?! Itu kan masih besok, kenapa kakak datang hari ini?"


"Besok? Apa kamu masih belum sadar juga?" Agasa menunjukkan layar ponselnya.


"Heh?! Ini sudah besok? Maksudku... Tanggalnya sudah berubah ya? Kok bisa? Apa aku... Tidur selama itu?"


Agasa mengangguk. "Tante Arnis bilang tidak ada yang berani membangunkanmu. Makanya mereka membiarkan kamu tidur sampai seharian penuh bahkan lebih."


"Astagaa!" Alza menutup mulutnya. Ia tak percaya jika dirinya sampai selelah itu. Ia begini juga karena merindukan Argan.


"Kalau kamu masih lelah, kamu istirahat saja lagi. Kita minum kopi kapan-kapan saja."


"Eh?! Jangan, Kak. Aku jadi tidak enak hati. Kakak keluarlah dulu, aku akan membersihkan diri."


Agasa kembali tersenyum. "Baiklah. Aku akan menemui kakek Johan dulu."


Agasa beranjak dari ranjang lalu keluar kamar Alza. Agasa mengulas senyum tipis setelah menutup pintu kamar Alza.


"Baru bangun tidur saja dia sudah terlihat manis..." gumamnya.


...***...


Akhirnya Alza dan Agasa pergi ke sebuah kafe untuk minum kopi bersama. Sebelumnya Alza memesan makanan karena ia merasa sangat lapar setelah seharian libur. Beruntung hari ini akhir pekan. Agasa juga tidak memiliki jadwal khusus di hari ini selain agenda minum kopi bersama Alza.

__ADS_1


Sesekali mereka berdua terlibat pembicaraan yang cukup seru hingga membuat Alza tertawa renyah tanpa beban.


"Aku pikir kakak itu orangnya kaku, dingin dan datar. Ternyata kak Aga anaknya seru juga."


"Jangan menilai orang dari tampilan luarnya saja, Alza. Jangan juga berpendapat buruk sebelum kamu mengenalnya lebih jauh."


"Iya iya iya, aku faham, Kak."


"Alza!" Sebuah panggilan dari arah belakang membuat Alza terkejut. Alza mengenali suara itu.


"Bang Argan?" Alza langsung bangkit dari duduknya dan menatap Argan.


"A-abang ada disini?" Alza mendadak gagap. Sedangkan Agasa masih santai menatap kedua orang yang ada di depannya.


Argan menatap tajam Agasa. "Apa yang kalian lakukan disini?"


"A-aku..." Alza kembali gagap. Entahlah. Ia merasa terciduk sudah pergi dengan pria lain.


"Kami hanya minum kopi." Agasa menimpali.


"Oh, begitu ya?" Argan kini menatap Alza. "Apa sudah selesai minum kopinya?"


"Itu..."


"Belum!" Agasa kembali menyahut. "Alza, duduklah kembali!" perintahnya .


Alza merasa serba salah. "A-aku..."


"Alza akan ikut denganku! Sesi minum kopinya sudah berakhir." Argan memegangi lengan Alza dan akan membawanya pergi.


Namun ternyata Agasa juga tak kalah cepat. Ia juga mencekal lengan Alza yang satunya.


"Sudah kubilang minum kopinya belum selesai!" tekan Agasa.


Argan melirik cangkir kopi Alza yang masih sisa separuh. Dengan cepat ia meneguknya hingga tandas.


"Sekarang sudah selesai. Alza, ikut denganku!"


"Tidak bisa! Dia pergi denganku! Jadi pulang juga harus bersamaku!" Agasa tak mau kalah.


"Siapa kau berani sekali mengatur Alza?"


"Kau sendiri juga siapa? Suami bukan! Saudara juga bukan!"


"Apa katamu?!" Argan mulai terpancing emosi.


"Berhenti! Apa-apaan sih kalian ini? Ribut kayak anak kecil saja! Oke! Aku akan ikut dengan Bang Argan. Kak Aga, tolong lepaskan!"


"Tapi, Alza..."


"Tidak apa, Kak. Biar aku yang akan jelaskan pada Kakek nanti."


Agasa mengalah. Ia lepas cekalan tangannya di lengan Alza. Ia juga harus ingat jika kini mereka ada di tempat umum. Apa jadinya jika ada yang mengabadikan momen bertengkar mereka tadi. Bisa kacau reputasi kedua perusahaan karena masalah sepele.


Alza akhirnya ikut dengan Argan. Selama menyetir, Argan sama sekali tak menoleh pada Alza. Jalan yang mereka lewati juga tak menuju kemanapun.


"Kita mau kemana, Bang?" tanya Alza bingung. Ia pikir Argan akan membawanya ke apartemen miliknya yang dulu ditempati Alza.


Argan bergeming. Ia hanya fokus menatap ke depan.


"Bang! Kita mau kemana? Apa tidak bisa kita bicara baik-baik? Sudah lama kita tidak bertemu dan sekali bertemu malah bersitegang begini. Apa abang tidak merindukan aku? Aku dan Kak Agasa hanya minum kopi saja. Aku berterimakasih padanya karena sudah membantuku. Itu saja!"


Tiba-tiba saja Argan menghentikan laju mobilnya. Lalu ia menatap Alza dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

__ADS_1


"Mari kita menikah, Alza!"


"Eh?! A-apa?!"


__ADS_2