
Alza membuka mata di pagi hari lalu mengedarkan pandangan mencari sosok Argan. Rupanya sosok yang dicarinya tengah meringkuk di atas sofa sambil memeluk diri sendiri.
"Kasihan sekali kamu, Bang." Alza mendekat dan menyelimuti tubuh Argan.
Alza memeriksa kondisi Arbi yang juga masih terlelap. Pintu ruangan diketuk, dan munculah seorang perawat yang ingin memeriksa perkembangan kondisi Arbi.
"Selamat pagi, Bu."
"Pagi, Suster."
Alza memperhatikan si perawat yang melakukan pengecekan suhu tubuh, juga memeriksa cairan infus yang terpasang di tangan Arbi.
"Demamnya sudah agak turun. Nanti kita lihat apa Dek Arbi sudah mau makan atau belum."
"Iya, suster. Terima kasih."
"Mari, Bu."
Alza menatap Arbi sekilas lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Semalam, Alza meminta Ani untuk membawakan pakaian ganti untuknya. Alza harus tetap bekerja meski Arbi dalam kondisi sakit.
Keluar dari kamar mandi, Alza melihat Argan sudah terbangun.
"Lho? Abang sudah bangun?"
"Hmm, aku harus segera pulang, Al. Ada rapat penting hari ini."
"Ck, kalau tahu abang ada meeting penting, kenapa maksain nginap disini coba? Aku kan jadi nggak enak." Alza mengerucutkan bibirnya.
"Hei, tidak apa. Lagian aku senang bisa menjagamu dan Arbi. Kita beli sarapan dulu setelah itu aku akan pulang."
#
#
#
Setelah sarapan bersama di kamar, Argan pamit undur diri. Sebenarnya Argan masih ingin bersama dengan Alza dan Arbi. Bersama mereka Argan merasa menjadi sebuah keluarga kecil yang bahagia. Para perawat disana pasti juga berpikir begitu.
"Sayang, aku pamit dulu ya! Nanti malam aku kesini lagi."
"Jangan dipaksakan kalau Abang lagi sibuk."
"Tidak, aku pasti sediain waktu untuk kalian." Argan mengecup kening Alza lama dan dalam.
"I love you..." ucapnya sebelum pergi.
Tak lama setelah kepergian Argan, Ani datang bersama dengan Arnis. Alza cukup terkejut karena ibunya bersedia datang ke rumah sakit.
"Mama? Kok mama ikut kesini?"
"Ini mama bawakan makanan buat kamu sarapan. Mama tadi masak pagi-pagi di temani Ani."
Alza merasa tak enak hati. "Maaf, Ma. Tapi Alza sudah makan barusan sama bang Argan."
"Eh? Jadi Argan datang kemari?"
Alza mengangguk. "Iya, Ma. Bang Argan juga menginap disini menemaniku."
Arnis tersenyum. "Mama harap kakek kamu dan Omanya Argan segera membuka mata, kalau kalian itu saling mencintai."
"Semoga saja ya, Ma..."
Terdengar suara Arbi mulai bangun dan menangis.
"Mama...!" Arbi menangis histeris memanggil mamanya.
Ani maju untuk menenangkan Arbi. Namun sayang ternyata Ani gagal. Arbi masih tetap menangis dan meronta memanggil mamanya.
Hingga akhirnya...
"Mama mama mama!" Arbi menunjuk Alza dan meminta Alza untuk menggendongnya.
"Eh?!" Sontak saja Alza terkejut. Alza merasa terharu saat mendengar Arbi memanggilnya dengan sebutan mama.
Alza segera mendekat dan mendekap erat bocah kecil itu. "Sayang! Mama disini!" Alza menenangkan Arbi dalam gendongannya. Seketika naluri keibuan Alza muncul dan melakukan apa yang hatinya katakan. Alza menyayangi Arbi.
#
#
__ADS_1
#
"Kamu jangan terlalu dekat dengan Arbi, Alza."
Kalimat Arnis yang tenang namun cukup sarkas membuat Alza terhenyak. Setelah drama menangis tadi, kini Arbi kembali tidur dalam dekapan Alza.
"Memangnya kenapa, Ma?"
"Arbi itu anak Arion dan Jesly. Meski sekarang Jesly buron, tapi bisa saja kan suatu saat wanita itu kembali untuk mengambil putranya."
Alza terdiam. Pastinya Alza tak punya hak apapun untuk memiliki Arbi. Arbi tetaplah anak Jesly, jika benar Arion memang telah meninggal.
"Kakekmu juga pasti tidak akan setuju jika kamu dekat dengan Arbi. Apalagi, ibu kandung Arbi adalah orang yang mencelakai kakekmu."
Sekali lagi Alza tak mampu menjawab Arnis. Namun hati kecilnya telah bertekad, jika ia akan mengadopsi Arbi.
"Maaf jika Alza harus bicara begini. Tapi... Alza menyayangi Arbi. Dan aku sudah memutuskan akan mengadopsi Arbi menjadi anakku."
"Apa?! Jangan bertindak bodoh, Alza! Dia itu anak seorang penjahat!"
"Tapi kita bisa didik Arbi menjadi pribadi yang berbeda. Kita akan mengajarkan padanya untuk bertutur kata sopan dan berperilaku baik. Aku yakin aku bisa!"
Arnis memalingkan wajahnya. Sulit sekali bicara dengan putrinya ini. Arnis tak ingin berdebat. Apalagi melihat Alza yang begitu perhatian pada Arbi.
#
#
#
Sore hari itu, Alza sedang berjalan di taman rumah sakit bersama Arbi dan Ani. Rupanya Arbi mulai bosan dengan suasana rumah sakit.
Anak sekecil itu memang tidak suka terkurung terus dalam kamar. Arbi anak yang cukup aktif.
"Mama, ke cana!" tunjuk Arbi yang ada dalam gendongan Ani.
Akhirnya hari ini Alza meminta cuti tak masuk kantor. Arbi tak mau ditinggal dan hanya mau bersama Alza saja.
"Iya, sayang. Ayo kita kesana!"
Alza duduk di bangku panjang taman rumah sakit sambil mengedarkan pandangan. Alza menatap Arbi yang asyik bermain dengan Ani.
"Ternyata kalian disini!"
Suara bariton seseorang membuat Alza menoleh.
"Kak Agasa?"
"Ah, maaf aku tidak mengabarimu dulu jika akan kemari. Aku dengar kamu tidak masuk kantor karena Arbi sakit, tadi aku bertanya pada Om Sultan dimana Arbi dirawat. Kupikir aku langsung saja datang kemari." Agasa menggaruk tengkuknya.
"Iya, Kak. Nggak apa-apa. Arbi sayang, sini Nak. Ada Om Aga nih! Ayo salim dulu!"
Arbi menuruti perintah Alza.
"Nah, ini ada mainan untuk Arbi. Arbi cepat sembuh ya! Jangan bikin mama Alza khawatir sama Arbi."
Arbi bersorak senang menerima hadiah dari Agasa.
"Kenapa repot-repot, Kak?"
"Tidak repot kok, Alza. Aku hanya bingung harus membawa apa untuk Arbi. Kata Om Sultan, belikan saja mainan. Ternyata Arbi sangat suka."
Alza tersenyum. "Terima kasih banyak, Kak. Oh ya, kita ke kamae saja ya, Kak. Arbi, ayo kita balik ke kamar. Arbi kan masih sakit. Arbi harus istirahat biar cepat sembuh."
Agasa berjalan beriringan bersama Alza. "Kamu terlihat lelah, Alza."
"Eh? Masa sih, Kak? Mungkin aku kurang tidur saja. Tapi aku baik kok."
"Tunggulah di kamar, nanti aku kembali lagi."
Alza bingung kemana Agasa akan pergi. Ia juga tak mungkin melarang.
Hanya lima belas menit Agasa kembali. Agasa menghampiri Alza yang sedang duduk di sofa.
"Ini minumlah! Ini vitamin. Kamu juga harus jaga kesehatan jika kamu ingin menjaga Arbi."
"Terima kasih banyak, Kak."
"Malam ini aku ingin menemani kamu disini. Boleh kan?"
__ADS_1
"Eh? A-apa?!" Alza bingung harus menjawab apa. "Aku tidak mau merepotkan kakak."
"Apa karena Argan juga ada disini?"
"Apa maksud kakak?" Alza memalingkan wajahnya.
"Aku akan tetap disini meski kamu melarangku. Kita kan keluarga, apa salahnya jika aku ikut menjaga Arbi?"
"Haaah! Benar juga ya! Aku tidak bisa mengusir kak Agasa begitu saja. Dia kan juga anggota keluarga Nusantara."
#
#
#
Malam mulai tiba, Alza membaca pesan di ponselnya. Sebuah pesan dari Argan.
📩 𝘼𝙗𝙖𝙣𝙜 𝘼𝙧𝙜𝙖𝙣: Sayang, maaf banget ya. Malam ini abang nggak bisa nemenin kamu di rumah sakit. Ada pekerjaan yang harus abang selesaikan. Malam ini abang harus pergi ke luar kota. Kamu jaga kesehatan dan jangan lupa istirahat yang cukup. Love You...
Alza mendesah pelan.
"Ada apa? Apa Argan tidak bisa datang?" Agasa tiba-tiba muncul di belakang Alza.
"Ah, bukan kok." Alza menghindari pertanyaan Agasa.
"Ini aku bawakan makan malam untukmu. Kamu makanlah dulu. Mumpung Arbi sudah tidur."
"Terima kasih, Kak."
Jam baru menunjukkan pukul delapan malam, tapi sejak tadi Alza sudah menguap beberapa kali. Rasa kantuk dan lelah melebur jadi satu.
Rupanya beginilah jadi seorang ibu jika anak sedang sakit. Alza tak bisa beristirahat karena Arbi selalu merengek padanya. Bahkan bersama pengasuhnya, Arbi pun tak mau dan hanya mau dengan Alza saja.
"Kamu tidurlah! Aku akan berjaga disini jika Arbi terbangun aku akan langsung membangunkanmu."
Alza melirik Arbi sekilas. "Baiklah." Alza merebahkan tubuhnya di sofa bed yang sudah dirapikan oleh Agasa. Matanya langsung terpejam begitu menempel dengan bantal.
Agasa memperhatikan Alza yang terlelap. "Aku harus sabar jika ingin mendapatkan hati Alza. Rupanya diam-diam dia masih menjalin hubungan dengan Argan. Jika kakek Johan tahu, pasti dia akan marah."
Ketukan di pintu membuat Agasa beralih ke arah sana. Rupanya ada Johan bersama Sultan dan Arnis yang datang.
"Agasa?" Johan cukup terkejut karena Agasa ada disana.
"Alza baru saja tidur, Kakek. Sebaiknya jangan membangunkan dia."
"Iya, kami hanya ingin melihat keadaan Arbi. Apa kata dokter?" sahut Arnis.
"Tadi dokter bilang Arbi sudah membaik. Tapi dia masih rewel dan hanya mau dengan Alza saja."
Johan manggut-manggut. "Apa ada perkembangan dari pencarian ibunya?"
"Belum, Kek. Mungkin Jesly sudah pergi ke luar kota."
"Temukan dia dimanapun dia berada, Aga! Aku akan buat perhitungan dengannya."
Agasa menelan saliva. Bagaimana reaksi Johan jika dirinya juga terlibat dalam kaburnya Jesly?
#
#
#
Johan tersenyum sepanjang perjalanan menuju pulang. Johan melihat perhatian yang diberikan Agasa pada Alza. Bahkan Agasa rela tidur di rumah sakit demi menemani Alza. Hal itu membuat Johan mempunyai ide lain untuk mereka.
"Sultan, menurutmu bagaimana jika Alza kita jodohkan saja dengan Agasa? Aku lihat Agasa sangat perhatian pada Alza. Aku juga bisa lihat jika dia menyukai Alza."
Sultan dan Arnis saling pandang. Arnis sangat kaget dengan usulan ayah mertuanya itu. Arnis sangat tahu jika Alza masih berhubungan dengan Argan. Tak mungkin juga Alza menikah dengan orang lain.
"Sebagai orang tua kalian juga harus memikirkan masa depan Alza. Kulihat dia sangat menyayangi Arbi. Aku tidak keberatan jika Alza ingin mengadopsi Arbi. Mengingat anak itu sudah tidak memiliki keluarga lagi. Keluarga ibunya juga pasti tidak akan mau menerima Arbi."
Arnis masih diam dan tak menimpali.
"Tapi aku ingin Alza menikah lebih dulu sebelum dia mengadopsi Arbi. Setidaknya Alza harus punya status menikah sebelum menjadi ibu. Benar kan?"
Arnis dan Sultan masih tak menimpali.
"Kenapa kalian diam saja? Apa ada yang kalian sembunyikan dariku? Atau jangan-jangan Alza masih berhubungan dengan cucunya Dewangga?"
__ADS_1
...***...