
Alza berjalan secepat yang ia bisa untuk menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Argan yang ikut bersamanya juga ikut berjalan cepat di belakang Alza.
Ketika kakinya telah sampai di sebuah ruangan, Alza segera menemui ibu dan ayahnya yang ada di depan sebuah kamar.
"Papa! Mama!" Alza langsung memeluk Arnis. "Kakek kenapa, Ma? Kenapa kakek pingsan?"
Arnis masih belum bisa bercerita. Sedang Sultan hanya mengusap punggung Alza.
"Kita tunggu kabar dari dokter saja ya!" balas Sultan.
Semua orang diam dan menunggu kehadiran dokter yang masih memeriksa kondisi Johan. Arion menatap tajam kearah Argan yang setia menemani Alza.
Arion berjalan menghampiri mereka berdua. Namun belum sampai langkahnya, segera dihalangi Falia.
"Kakak mau apa? Jangan bikin keributan di rumah sakit," bisik Falia penuh penekanan.
"Jangan ikut campur, Fal. Kamu urus saja urusanmu sendiri!"
"Kakak jangan buat malu! Harusnya kakak menghubungi istri kakak dan menyuruhnya kesini. Dia sudah hidup enak karena kakek. Harusnya dia ada disini juga bersama yang lainnya."
Arion tak menggubris Falia. Dan akhirnya hanya diam memperhatikan Alza dan Argan.
Beberapa saat kemudian, dokter yang memeriksa Johan keluar dari ruangan.
"Dokter! Bagaimana kondisi papa saya?" Sultan bertanya dengan wajah panik.
"Tuan Sultan, bisa kita bicara?" Jawaban dokter membuat Sultan saling pandang dengan Arnis.
"Ikutlah dengan dokter, Pah."
Sultan mengangguk dan mengikuti langkah dokter menuju ke ruangannya. Sultan duduk berhadapan dengan dokter.
"Sebenarnya ada apa, Dok? Apa kondisi Papa mengkhawatirkan?"
"Benar, Tuan. Kondisi kesehatan Tuan Johan sudah semakin parah."
"Maksud Dokter?"
"Sebenarnya sudah agak lama Tuan Johan mengalami sakit jantung. Tapi beliau meminta saya untuk tidak mengatakannya pada keluarganya. Tuan Johan menyimpan semuanya sendiri."
"APA?!"
"Untuk sekarang, jangan membebankan apapun pada Tuan Johan. Tuan Sultan juga tolong jangan bicara apapun selain menghibur Tuan Johan dengan hal-hal yang membahagiakan."
Sultan terdiam. Tentu saja dia akan melakukan apapun untuk ayahnya. Meski sering berbeda pendapat, tapi Sultan menyayangi Johan yang sudah membesarkannya seorang diri.
...***...
__ADS_1
Johan meminta seluruh anggota keluarganya berkumpul di rumah sakit. Johan ingin mengumumkan sesuatu yang penting yang tak sempat ia katakan saat malam itu.
Johan mewakilkan semua pernyataannya melalui pengacara yang ditunjuknya.
"Baiklah. Sebagai pengacara yang ditunjuk oleh Tuan Johan, saya akan membacakan surat wasiat yang sudah Tuan Johan buat beberapa waktu lalu."
Semua orang menanti dengan harap-harap cemas. Hanya Jesly saja yang terlihat bersemangat karena pastinya Arbi juga akan mendapatkan bagian dari harta Johan.
"Tuan Johan akan memberikan saham kepemilikannya di Nusantara Grup sebesar 15 persen kepada Tuan Arion Nusantara. Lalu untuk sisa saham sebesar 35 persen, akan diberikan seluruhnya kepada Nona Alzarin. Karena kemarin Nona Alzarin sudah menerima saham dari Tuan Sultan dan Nyonya Arnis sebesar 50 persen, maka dengan ini Nona Alzarin adalah pemilik saham terbesar di Nusantara Grup."
Jesly terbelalak tak percaya jika putranya tidak mendapatkan apapun dari Johan.
"Kurang ajar! Berani sekali si tua bangka ini mempermainkan aku! Awas saja kalian! Sekarang kalian memang boleh tertawa. Tapi besok, kalian akan menangis darah di depanku!"
Sultan dan Arnis sangat bahagia dengan keputusan Johan. Mereka memeluk erat Alza yang akan memangku tanggung jawab besar pada perusahaan.
"Kakek... Maaf bukannya aku menolak. Tapi, aku masih baru dalam hal bisnis. Aku juga belum semampu kak Arion dan Falia. Jika kakek berkenan, aku ingin memberikan 20 persen saham perusahaan untuk seluruh karyawan. Karena tanpa mereka, kita tidak mungkin bisa mencapai titik ini."
Johan tersenyum bangga pada cucunya. Cucu yang dulu pernah ia buang, nyatanya adalah sebuah berlian yang berkilau diantara batu kerikil.
"Tentu. Kakek setuju dengan kebaikan hati yang kau miliki."
Alza memeluk Johan yang masih terbaring lemah. "Terima kasih banyak karena kakek percaya padaku. Aku akan melakukan yang terbaik untuk perusahaan."
...***...
Karena kesal dengan keputusan Johan, kini Jesly mengendap-endap menuju ruang perawatan Johan.
"Lihat saja kau kakek tua! Kau akan segera menemui ajalmu. Kau pikir aku akan diam saja setelah anakku tak mendapatkan apapun? Kau pantas mati!"
Jesly masuk ke dalam kamar yang ternyata sepi itu. Dilihatnya Johan sedang tertidur dengan tenang.
Jesly celingukan untuk memastikan tidak ada siapapun yang datang. Jesly memperhatikan alat-alat yang terpasang di tubuh Johan.
"Jika satu saja aku cabut alatnya, aku yakin kau pasti akan kesakitan lalu..." Jesly tersenyum penuh kemenangan.
Tangan Jesly terulur untuk menarik satu alat yang terpasang. Namun tiba-tiba pintu kamar terbuka dan muncullah sosok Alza disana.
"Apa yang kamu lakukan?"
Jesly yang ketahuan langsung beringsut pergi dan mendorong tubuh Alza.
"Tunggu! Kak Jesly, jangan lari!" seru Alza.
Alza bangkit dan mengejar Jesly. Tak Jesly sangka jika Arion juga datang kesana.
"Kak Arion, hentikan Kak Jesly! Dia ingin mencelakai kakek!"
__ADS_1
Arion segera berbalik dan mengejar Jesly. Sementara Alza kembali ke kamar dan memastikan jika Johan baik-baik saja.
Arion mengikuti langkah Jesly dan berhenti di tempat parkir.
"Jesly! Apa yang kamu lakukan? Apa benar kamu ingin mencelakai kakek Johan?"
Jesly mengelak dan tetap menuju ke mobilnya.
"Jesly!" Arion mencekal lengan Jesly.
"Kalau iya kenapa? Si tua bangka itu sudah mengingkari janjinya. Dia bilang akan memberikan harta untuk anak kita. Tapi apa nyatanya? Dia malah memberikan semua hartanya pada wanita murahan itu!"
"Jaga bicaramu, Jesly! Sekarang ikut denganku untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu!"
"Enggak!" Jesly melepas cekalan tangan Arion lalu masuk ke dalam mobil.
Tak ingin Jesly kabur, Arion segera mengejar mobil Jesly. Terjadi kejar-kejaran dijalanan malam itu.
Arion membunyikan klakson dan meminta Jesly berhenti. Namun wanita itu tidak akan berhenti dan menyerah begitu saja. Ia akan menghancurkan keluarga Nusantara dengan tangannya.
Nahas bagi Arion, ketika Jesly berbelok di tikungan, Arion tak bisa mengikuti mobil Jesly dan malah menabrak sebuah truk yang datang dari arah berlawanan.
"Aaaaarrggghhhh!"
Jesly mendengar suara dentuman keras dari arah belakang. Jesly berputar arah dan melihat ada kecelakaan yang terjadi.
"Tidak! Arion!" Jesly keluar dari mobil dan melihat mobil Arion yang terjatuh ke dalam jurang. Jesly sengaja berkemudi jauh dari kota agar tidak bisa diikuti Arion. Tapi nyatanya Arion tetap mengejarnya.
"Sial! Kau ini bodoh, Arion. Tapi... Ini lebih baik dari pada aku harus mendekam dipenjara karena akan mencelakai si tua Johan. Sebaiknya aku pergi dari kota ini dan bersembunyi!"
...***...
Kondisi Johan dipastikan baik-baik saja. Alza meminta tolong Argan untuk melacak keberadaan Arion yang tak kunjung ada kabarnya.
"Bagaimana, Bang? Apa ada kabar dari kak Arion?"
Bahkan Agasa juga ikut membantu. Falia juga tak kalah panik untuk menemukan kakaknya.
Hingga akhirnya seorang petugas polisi mendatangi kediaman Nusantara dan bertemu dengan Alza, Arnis dan Sultan.
"Kami menemukan mobil Tuan Arion masuk ke dalam jurang jauh di pinggiran kota. Kami mohon maaf karena kami tidak menemukan jasad siapapun disana."
"Apa?!" Tubuh Alza melemas setelah mendengar kabar mengenai Arion.
...***...
*Genks, mampir di karya baru emak yg berjudul, Selebgram Cantik dan Guru Killer. Itu mengikuti lomba di NT.
__ADS_1