
Dengan tangan terkepal sempurna, Alza mendatangi ruangan yang kini sedang di isi oleh Zetta dan satu orang anggota polisi. Sebenarnya, Alza sama sekali tak berniat menemui Zetta. Baginya, cukup hukum saja yang akan bicara dengan Zetta.
Namun ketika mendengar namanya disebut dan dijelekkan oleh Zetta, Alza tak kuasa menahan diri lagi. Dibukanya pintu ruangan itu hingga terdengar suara Alza menggelegar menyerukan nama Zetta.
Dua orang di dalam ruangan sontak menoleh. Zetta memutar bola matanya malas. Sudah bisa ia tebak jika Alza akan bermain drama disini.
"Cabut semua pernyataan kamu itu, Zetta! Apa yang kamu tuduhkan itu semuanya tidak benar!" ucap Alza dengan mata menyorot tajam pada Zetta.
"Apa yang tidak benar? Kamu memang sudah menikah sebanyak dua kali kan? Dan kamu juga kehilangan bayimu. Jangan bermain peran, Alza! Aku tahu seperti apa dirimu! Tampangmu saja yang polos, tapi hatimu itu busuk!"
"Sudah cukup!" Argan akhirnya ikut masuk ke dalam ruangan. Sebenarnya sejak tadi Argan memang mendampingi Alza. Tapi ia tak langsung ikut campur karena menunggu reaksi dari Alza.
"Bawa perempuan ini masuk ke dalam sel, Pak." Perintah Argan membuat Zetta terbelalak.
"Apa katamu?! Enak saja! Aku tidak bersalah!" teriak Zetta.
Satu orang petugas polisi datang lalu memborgol tangan Zetta.
"Lepaskan aku! Aku tidak bersalah!" ronta Zetta yang tidak bisa kabur lagi.
"Anak buahmu sudah menjelaskan semua pada kami. Jadi, bersiaplah menerima hukuman, Nona." Argan menyeringai. Sudah cukup orang-orang menyakiti hati Alza.
Argan mendekati Alza dan memegangi bahunya. "Kamu baik-baik saja?"
Alza mengangguk. "Kita pulang aja, Bang. Aku lelah."
Dengan merangkul bahu Alza, Argan membawa kekasihnya keluar dari kantor polisi.
...***...
Berkat desakan Arnis, Sultan akhirnya mengalah dan menemui orang yang mengirim surat kepada mereka. Sultan memarkirkan mobilnya di depan sebuah gudang tua yang ia kenali.
"Ini kan gudang lama milik Nusantara Grup? Dari mana orang itu tahu tentang tempat ini?"
Sultan mulai khawatir dengan orang yang akan ditemuinya ini.
"Sebaiknya kita masuk dulu saja, Mas." Arnis sangat tidak sabar untuk tahu siapa pelaku yang mengirim surat kaleng untuknya.
Sultan dan Arnis berjalan beriringan memasuki area gudang yang sudah terbengkalai itu. Mereka berdua dikejutkan dengan sosok yang ada di dalam gudang.
"Siapa kau? Kenapa mengirim surat kaleng untuk kami?" Tanya Sultan.
Sosok yang membelakangi mereka akhirnya berbalik badan. Sultan dan Arnis saling pandang. Mereka seperti mengenal sosok yang renta yang berdiri di depan mereka.
"Kau! Kau adalah..." Sultan menunjuk dengan kening yang berkerut.
"Tuan Sultan, Nyonya Arnis..." Suara pria tua itu akhirnya terdengar.
"Pak Beni?" Arnis berseru.
Ya, sosok yang adalah Beni itu menghampiri Arnis dan Sultan.
__ADS_1
"Kenapa Bapak melakukan ini pada kami?" Sultan masih tak habis pikir dengan Beni yang adalah mantan orang kepercayaan ayahnya.
"Bapak pergi tanpa pamit pada kami. Dan sekarang tiba-tiba datang dengan mengirim surat kaleng pada istriku. Apa maumu?!" Sultan mulai terbawa emosi.
"Mas, jangan marah pada Pak Beni. Kita dengarkan dulu penjelasannya." Arnis menengahi.
Beni mengatupkan kedua tangannya. Dengan mata berkaca-kaca Beni meminta maaf pada Sultan dan Arnis.
"Tolong maafkan saya, Tuan, Nyonya. Saya bersalah pada kalian..."
"Jangan bertele-tele! Cepat katakan apa maksudmu mengatakan jika anak kami masih hidup!"
"Baiklah, saya akan ceritakan semuanya."
Arnis menyiapkan hati untuk mendengar cerita Beni.
"Anak kalian memang masih hidup. Saya yang dulu membawa bayi kalian pergi."
Bagai tersambar petir, Sultan dan Arnis tersentak kaget mendengar pengakuan Beni.
"Saya sudah tidak bisa menyembunyikan rahasia ini lagi. Saya ingin sebelum saya mati, saya mengakui kesalahan saya pada kalian. Tolong maafkan saya..."
Arnis memejamkan matanya. Gemuruh di hatinya tak bisa ia hentikan. Luka yang sudah sembuh kini harus kembali tersayat. Arnis sudah mencoba mengikhlaskan semuanya meski ia sangat sedih kehilangan bayinya.
Sultan maju dan menarik baju Beni. "Jangan mengarang cerita! Apa buktinya jika kau membawa putri kami? Lalu kenapa kau harus membawanya?"
Arnis yang melihat suaminya naik pitam, langsung ikut melerai.
"Mas, lepaskan Pak Beni. Kita dengarkan dulu cerita lengkap darinya!" Meski Arnis sudah berlinang air mata, ia tetap harus menjaga kewarasan dirinya. Ia tak boleh ikut kalap seperti yang dilakukan suaminya.
Sultan dan Arnis akhirnya bungkam. Mereka mencoba mencerna semua bukti yang dibawa oleh Beni.
"Papa... Kenapa papa tega sekali melakukan ini padaku?" Sultan mengacak rambutnya frustrasi.
"Mas..." Arnis mengusap punggung suaminya yang nampak bergetar.
"Dan ini satu lagi..." Beni memberikan satu surat lagi yang berisikan identitas bayi Sultan dan Arnis.
"Sebelum saya menitipkan bayi kalian ke panti asuhan, saya sempat memberikan nama untuknya."
"Katakan siapa namanya!" Desak Arnis.
"Alzarin... Saya memberinya nama Alzarin..."
"A-apa? A-alzarin...?" Suara Arnis tercekat. Tubuhnya limbung ke belakang. Arnis tak bisa menahan kesedihan dalam hatinya.
"Sayang!" Pekik Sultan ketika tubuh Arnis telah roboh dan tak sadarkan diri.
...***...
Argan menemani Alza di rumah karena melihat kondisi Alza yang kurang sehat.
__ADS_1
"Besok kamu tidak perlu masuk kerja dulu. Kamu terlalu banyak pikiran, Alza."
"Aku baik-baik saja, Bang. Aku hanya kelelahan saja."
Argan mendesah pelan karena Alza keras kepala. "Ya sudah. Tapi sekarang kamu lebih baik istirahat saja. Aku akan menjagamu disini."
"Terima kasih, Bang..."
Argan mengusap lembut puncak kepala Alza hingga ia terlelap. Argan tahu jika akhir-akhir ini banyak hal mengejutkan yang terjadi dalam hidup Alza.
"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘈𝘭𝘻𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘮𝘶. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘩𝘢𝘸𝘢𝘵𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯..."
Di lain tempat, Sultan membawa Arnis ke rumah sakit setelah istrinya itu tak sadarkan diri. Sultan mencari keberadaan Beni, tapi pria tua itu sudah tidak ada lagi bersamanya.
Seingatnya, tadi Beni ikut dengannya ke rumah sakit untuk mengantar Arnis.
"Kenapa pria tua itu?" Sultan menggerutu dan ingin mencari Beni. Namun suara Arnis menghentikan langkah Sultan.
"Mas..."
"Sayang, kau sudah bangun?"
Sultan segera menghampiri brankar Arnis.
"Mas, kita harus cari tahu soal Alza. Mungkinkah dia memang putri kita?"
"Sayang, jangan terpancing dengan omongan Beni. Bisa saja dia mengarang cerita."
Arnis menggeleng. "Tidak, Mas. Aku tahu Pak Beni itu jujur. Dia mengatakan yang sebenarnya."
Sultan menghela napas. "Baiklah. Katakan jika Beni mengatakan yang sebenarnya. Belum tentu Alzarin yang ia maksud sama dengan Alzarin yang kita kenal."
"Aku tahu, Mas. Makanya kita harus menyelidiki itu. Bukankah Pak Beni bilang jika dia menitipkan bayi kita di panti asuhan Kasih Bunda? Itu kan oanti asuhan yang sama dengan tempat tinggal Alza dan Arion. Mas, tolong cari tahu dimana Alza tinggal. Aku ingin bertemu dengannya."
Sultan tak tega melihat istrinya yang berharap banyak dengan cerita Beni.
"Iya, aku akan cari tahu. Tapi tolong kau istirahat dulu. Dan jangan memikirkan apapun. Oke?"
Arnis mengangguk. "Iya, Mas. Aku mengerti."
Setelah kondisi Arnis membaik, Sultan membawa Arnis pulang ke rumah. Sultan iba menatap Arnis yang sangat berharap jika Alzarin adalah putrinya.
Tiba di kediaman Nusantara, Sultan memapah Arnis yang masih lemah.
"Dari mana saja kalian?"
Pertanyaan itu sudah pasti digaungkan oleh Johan Nusantara. Arnis hanya diam dan menatap ayah mertuanya dengan tatapan penuh kebencian.
"Ada apa denganmu, Arnis? Kenapa menatapku begitu?"
Sultan merasa akan ada pertengkaran lagi di rumah ini.
__ADS_1
"Maaf, Pa. Arnis sedang tidak enak badan. Aku akan membawanya ke kamar."
Tak ingin ada perdebatan, Sultan segera menghindari Johan.