
Mata Arion terbuka sempurna setelah hampir 2 bulan mengalami koma. Kondisinya yang belum stabil membuat dokter harus memeriksanya lebih intens.
"Tuan Arion, apa Anda bisa mendengar saya?" tanya dokter yang masih belum mendapat respon apapun dari Arion yang sudah membuka matanya.
Tatapan Arion beralih pada dokter yang masih memeriksa kondisinya.
"Ini dimana?" Pertanyaan itu muncul dari bibir Arion setelah beberapa saat tersadar dari koma.
"Ini di rumah orang tua Tuan."
Arion hanya mengangguk lemah. Semua orang yang menyaksikan kembalinya Arion tak sabar ingin langsung berkomunikasi dengannya.
"Kakak! Syukurlah kakak sudah sadar!" Falia mendekat sambil mengulas senyumnya.
"Kau siapa?" Dahi Arion berkerut melihat Falia.
"Siapa? Apa maksud kakak? Aku Falia, adikmu."
Arion menggeleng. Lalu memegangi kepalanya.
"Nona menyingkirlah sebentar. Saya akan periksa sekali lagi." Dokter mendekat dan memeriksa kondisi Arion. Demi ketenangan Arion, dokter meminta semua orang untuk keluar dari kamar.
...***...
Satu minggu setelah bangun dari koma, Arion mencoba beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggalnya. Ternyata apa yang dikhawatirkan oleh dokter benar adanya. Arion mengalami amnesia. Bahkan ia tidak ingat siapa dirinya sendiri. Mungkin karena benturan saat kecelakaan maut malam itu, mengakibatkan Arion harus mengalami lupa ingatan.
"Kak!" sapa Falia menghampiri Arion yang duduk di teras rumah.
"Sudah malam, sebaiknya kakak masuk!" Meski Arion belum mengingatnya, Falia tetap merawat Arion dengan telaten.
"Hmm, terima kasih."
Arion lebih banyak melamun setelah terbangun dari tidur panjangnya.
"Kakak jangan banyak melamun. Fokus saja pada kesembuhan kakak."
Arion mengangguk. "Oh ya, apa gadis itu tidak datang lagi kemari?"
"Gadis itu? Siapa? Maksud kakak... Alza?"
Arion mengangguk. Entahlah. Falia bingung sendiri. Padahal jelas-jelas saat membuka mata, Arion menggumamkan nama Alza. Tapi setelah sadar sepenuhnya, Arion malah tak tahu apapun dan tidak mengenali siapapun.
"Kakak benar-benar tidak ingat siapa dia? Kakak bahkan memanggil namanya saat baru bangun dari koma."
Arion menggeleng. "Benarkah aku memanggil namanya? Itu berarti dia adalah orang yang penting bagiku?"
Falia mengangguk. "Itu dulu! Kakak bahkan melakukan hal gila untuk mendapatkannya. Tapi, semudah itu kakak melepasnya juga!"
"Falia!" Tami menegur putrinya yang menurutnya terlalu menekan Arion.
"Kenapa, Bu? Apa yang kukatakan memang benar kok!" Falia melengos pergi.
Tami mendekati Arion dan membantunya berjalan masuk ke rumah.
"Ayo masuk! Sudah hampir malam. Tidak baik masih berada di luar rumah."
Arion menurut. "Iya, Bu."
Bagi Tami, hilangnya ingatan Arion adalah sebuah berkah untuknya. Terakhir bertemu, Arion sangat marah padanya karena sudah membuang kedua anaknya di panti asuhan. Arion meluapkan segala kekesalannya di depan Tami. Jika mengingat hal itu, Tami merasa menyesal.
Kini, ingatan Arion terhapus dan berganti dengan memori yang baru. Tami akan mengisinya dengan hal baru untuk menebus kesalahan yang dulu diperbuatnya.
__ADS_1
"Istirahatlah dulu disini! Ibu akan siapkan makan malam untukmu."
"Iya, Bu. Terima kasih."
Tami mengusap puncak kepala putranya yang kini telah tumbuh dewasa. Banyak momen ia lewatkan karena keegoisan dirinya sendiri.
...***...
Usai makan malam, Tami menghampiri Falia yang sibuk mengotak atik tablet pintarnya. Falia menghabiskan banyak waktu di rumah ibu kandungnya, meski hubungannya terbilang belum terjalin baik dengan Tami. Falia masih saja membenci Tami yang dianggapnya sudah membuang anak-anaknya.
"Falia... Kamu tidak makan, Nak?"
Falia melirik sekilas, lalu menjawab. "Aku tidak lapar. Kakak bagaimana? Dia sudah makan?"
"Sudah. Dia juga sudah tidur." Tami bingung harus bagaimana lagi mengajak Falia bicara.
"Hmm, kapan kamu akan ajak lagi gadis itu berkunjung kemari? Sepertinya kakakmu senang jika dia ada disini."
"Dia itu mantan menantumu, Bu. Kakak sudah membuangnya dan memilih perempuan lain untuk dia nikahi. Kakakku itu memang bodoh!"
Tami bingung harus menanggapi dengan bagaimana. Benarkah putranya sekejam itu? Tami masih tak percaya.
Getaran di ponsel Falia membuatnya harus mengalihkan perhatian.
"Halo, Ma..." Rupanya Arnis yang menelepon.
"......"
"Iya, Ma. Nanti aku pulang ke rumah kok."
"........"
"Aku juga merindukan Mama."
"Aku harus pulang, Bu. Mama nanti curiga jika aku terus menginap disini."
Ada kesedihan di wajah Tami ketika putrinya lebih memilih ibu angkatnya ketimbang dirinya.
"Ibu tidak perlu bersedih. Aku menghabiskan separuh hidupku bersama Mama Arnis. Tentu saja kami cukup dekat. Sekarang aku pulang dulu. Kabari aku jika terjadi sesuatu dengan kak Arion!"
...***...
"Kak Aga! Bisa bicara sebentar?"
Agasa menatap Alza bingung. "Ada apa?"
"Bagaimana perkembangan kasus kecelakaan kak Arion? Apa sudah ada titik terang keberadaan kak Jesly?"
Agasa menatap Alza menyelidik. "Ada apa ini? Kenapa Alza ingin tahu soal kasus kecelakaan Arion? Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Kenapa Alza? Kenapa kamu ingin tahu soal kecelakaan Arion?"
"Ah, itu..." Alza menggaruk tengkuknya. Bingung juga harus mengatakan alasan apa pada Agasa.
"Apa karena Arion adalah ayah Arbi?"
"Iya, begitu Kak. Aku kasihan pada Arbi."
"Cepat atau lambat Arbi akan tahu kebenarannya."
"Aku hanya ingin kak Jesly menerima balasan atas perbuatannya. Kumohon kakak bisa menyelesaikan kasus ini."
__ADS_1
Agasa mengedikkan bahunya. "Orang yang sudah meninggal, memang mau diapakan lagi? Meski Jesly ditangkap, tidak akan bisa mengembalikan nyawa Arion kan?"
Alza tak paham dengan pemikiran Agasa. "Sebaiknya aku minta tolong pada yang lain saja. Kak Agasa tidak serius ingin menemukan kak Jesly."
"Baiklah, Kak. Kalau begitu aku permisi dulu!"
Alza segera berlalu dari hadapan Agasa. Pria itu memicing menatap kepergian Alza.
"Sepertinya ada hal yang kamu sembunyikan, Alza. Aku akan cari tahu apa itu."
...***...
Alza memutuskan untuk meminta tolong pada Argan untuk mencari tahu keberadaan Jesly. Meski Jesly adalah ibu kandung Arbi, tapi Alza merasa jika keadilan harus tetap ditegakkan.
"Aku sudah menyuruh orang-orang terbaikku untuk mencari Jesly. Kurasa dia tidak ada di kota ini, Alza."
"Eh? Begitukah, Bang? Lalu bagaimana? Tolong temukan kak Jesly. Dia harus bertanggung jawab atas kecelakaan kak Arion. Kasihan Arbi jika ayahnya tidak mendapat keadilan."
Alza terdengar menggebu-gebu untuk menemukan Jesly.
"Iya sayang. Aku akan tetap mencarinya, kamu jangan khawatir."
"Terima kasih, Bang," ucap Alza sambil tersenyum.
"Apa kamu... Masih peduli dengan Arion?"
"Abang! Tolong jangan salah paham. Aku hanya melakukan ini untuk keadilan saja. Orang yang bersalah pantas untuk dihukum."
Argan mengangguk. "Baiklah. Aku harus kembali ke kantor. Maaf ya tidak bisa lama mengobrol denganmu."
"Iya, Bang. Tidak apa. Pergilah!"
Argan meninggalkan Alza yang masih menikmati makan siangnya. Sebelum pergi, Argan mengecup singkat puncak kepala Alza.
Langkah tegap Argan terhenti saat menatap sosok yang ia kenali. Tubuhnya menegang seketika dengan pikiran yang melayang jauh.
"I-itu kan... Arion...?"
Argan berjalan mendekat menghampiri sosok yang ia duga adalah Arion, orang yang sudah dinyatakan meninggal oleh pihak berwajib. Namun kerumunan orang-orang yang akan masuk ke resto menghalangi pandangan Argan.
"Akh! Orang-orang ini!" Argan kesal karena pandangan matanya terhalangi. "Kemana dia?" Argan mencari-cari keberadaan Arion yang diyakininya ada didekatnya tadi.
Argan yang hendak kembali mencari sosok Arion tapi ponselnya bergetar. Sebuah panggilan dari Ammar.
"Baiklah, aku akan segera kembali ke kantor." Argan memutuskan pergi tanpa mencari tahu lebih lanjut tentang sosok yang dilihatnya.
Sementara itu...
Alza membekap mulut Arion yang tadi sempat berkeliaran di depan resto dan membuat Argan curiga.
"Kakak sedang apa disini? Kenapa keluar dari rumah?" Alza melepas tangannya dari mulut Arion.
"Aku bosan di rumah. Memang kenapa kalau aku keluar rumah?" Pertanyaan polos Arion membuat Alza menepuk jidat.
"Kakak belum sembuh total. Ayo kita kembali ke rumah. Aku akan minta Ibu Tami untuk lebih mengawasi kakak."
Alza menarik tangan Arion menuju mobilnya. Beruntung tadi Alza juga keluar ketika Argan melihat sosok Arion. Dengan cepat Alza meraih tubuh Arion dan membawanya bersembunyi.
Arion yang merasa aneh dengan sikap Alza segera menghentikan langkah Alza.
"Tunggu!" Ganti Arion yang menarik tangan Alza hingga tubuh Alza terhutung lalu menabrak dada bidangnya.
__ADS_1
"Akh! Kakak!" Alza memekik karena kini tubuhnya dipeluk oleh Arion.