
Satu bulan sudah Alza tinggal di kediaman Nusantara. Alza memilih berdamai dengan semuanya. Termasuk dengan mantan suaminya yang kini jadi kakak angkatnya.
Alza resmi jadi pemegang saham tertinggi di Nusantara Grup. Perusahaan masih tetap dipegang Sultan dan Arion, Alza hanya sebagai direktur di salah satu bagian.
Malam ini Alza baru saja pulang bekerja. Ia bertemu dengan Arbi, anak Arion dan Jesly yang sedang bermain di ruang keluarga.
"Hei, Arbian. Lagi main apa?" Salah satu hal yang membuat Alza betah tinggal di rumah ini adalah karena Arbi. Bocah yang akan berusia 2 tahun itu menguarkan penat Alza setelah bekerja seharian.
Kedua orang tua yang sibuk bekerja membuat Alza sering menggantikan peran Jesly sebagai ibu. Alza menyayangi Arbi seperti putranya sendiri.
"Sudah malam. Arbi gak bobo? Yuk, Arbi bobo yuk!" Alza menggendong tubuh mungil nan gembul Arbi dan membawanya ke kamar bocah itu.
"Mbak Ani bisa istirahat. Biar Arbi sama saya aja ya!" ucap Alza pada pengasuh Arbi.
"Eh? Tapi, Non..."
"Udah, nggak apa-apa. Lagian Arbi juga udah mau tidur kok. Mbak Ani istirahat aja."
"Baik, Non. Kalau gitu saya permisi dulu."
Kini tinggalah Alza bersama dengan Arbi di kamar bocah itu. Alza membacakan dongeng dan meninabobokan bocah itu. Hingga tak terasa Alza pun ikut terlelap di ranjang milik Arbi sambil memeluk bocah itu.
Pukul sepuluh malam Jesly pulang dari bekerja lalu masuk ke kamar Arbi. Betapa terkejutnya Jesly saat melihat Alza sedang memeluk putranya.
"Apa-apaan kamu! Cepat bangun!" Suara teriakan Jesly membuat Alza terbangun.
"Kak Jesly? Kakak sudah pulang?"
"Apa yang kamu lakukan di kamar putraku?"
"Mmm itu tadi aku..."
"Kamu pasti sengaja kan ingin menarik perhatian Arion dengan mendekati Arbi. Ngaku aja deh!"
Alza menggeleng. "Tidak, Kak. Sama sekali aku..."
"Halah! Mana ada maling yang mau ngaku! Dasar perempuan gatal! Cepat keluar dari sini!" Jesly mendorong tubuh Alza hingga keluar dari kamar Arbi.
"Ada apa ini? Jesly, Alza! Apa kalian tidak lihat kalau Arbi sedang tidur?" Arion datang dan langsung memarahi keduanya.
"Arion... Sayang, kamu udah pulang?" Jesly langsung bertingkah manja di depan Arion.
Tanpa berpamitan Alza melengos pergi menuju kamarnya. Ia bahkan tak menatap Arion sedikitpun.
...***...
Tok tok tok
Ketukan di pintu kamar Alza membuat Alza harus bangkit dari tempat tidur. Sosok Falia berdiri di depan pintu begitu Alza membukanya.
"Boleh aku masuk, Alza?"
"Silakan, Fal. Ayo masuk!"
Falia dan Alza duduk di tepi tempat tidur.
"Apa aku mengganggu?"
"Tidak, Fal. Aku belum mau tidur kok. Ada apa?"
"Za, aku tahu ini aneh karena mengatakan hal ini padamu. Tapi... cuma kamu yang mau dengarkan aku disini."
__ADS_1
Alza bersiap mendengarkan curahan hati Falia.
"Dennis berencana ingin melamarku. Menurutmu bagaimana?"
Alza berbinar senang. "Itu bagus, Fal. Mas Dennis adalah pria yang baik."
"Serius, Za? Aku masih agak ragu untuk melangkah. Aku takut keluarga ini tidak setuju dengan hubunganku dan Dennis."
"Apa papa dan mama sudah tahu soal hubungan kalian?"
Falia mengangguk. "Sudah. Mama dan Papa mendukungku. Tapi... Itu sebelum mereka tahu jika kamu adalah putri mereka."
Alza tersenyum. "Aku yakin mereka mengerti. Lagi pula aku tidak masalah dengan itu. Aku dan Mas Dennis hanya masa lalu. Sekarang aku bersama Bang Argan."
Falia tersenyum lega.
"Tapi, Fal... Apa kamu tahu soal ... Kondisi Mas Dennis?"
"Tahu. Justru karena itulah aku bersedia menerimanya."
"Eh? Maksudmu?"
"Kamu tahu, aku trauma bersama dengan pria pengumbar janji seperti kakakku. Menebar benih di mana saja. Menjijikkan!"
Alza tersenyum kecut. Rupanya Falia takut jika pasangan hidupnya kelak bisa memberi keturunan. Falia berencana tidak ingin memiliki anak, meski nanti menikah.
"Aku tidak mau punya anak, Alza. Jika kami butuh seorang anak, maka aku akan mengadopsinya saja. Begitu lebih baik."
"Aku doakan semoga kamu bahagia dengan Mas Dennis."
Setelah berbincang dengan Alza, Falia pamit undur diri. Kini Alza bersiap untuk menuju alam mimpi. Namun tiba-tiba bayangan Argan hadir di pikirannya. Sudah beberapa hari ini mereka sibuk bekerja dan jarang bertemu.
"Apa Abang sudah tidur?"
"Belum."
"Besok abang ada waktu?"
"Tentu saja ada. Buat kamu apa sih yang enggak."
Alza tersipu malu. "Baiklah. Kita ketemu jam makan siang ya?"
"Oke sayang. Sudah malam, ayo tidur."
"Iya, Bang. Abang juga ya!"
"Iya. Love you..."
"Love you too."
Percakapan berakhir. Alza memejamkan mata sambil tersenyum senang.
...***...
Keesokan harinya,
Jam makan siang pun tiba. Alza bersiap keluar kantor untuk bertemu dengan Argan. Alza berjalan keluar ruangan sambil terus mengembangkan senyum. Kerinduan yang terpendam akan segera terobati.
"Alza!"
Seseorang memanggil Alza.
__ADS_1
"Kak Agasa? Ada apa?"
"Kamu mau kemana?"
"Aku mau pergi, Kak. Ada janji dengan seseorang."
"Ah begitu ya? Sayang sekali. Padahal aku ingin mengajakmu makan siang."
Alza merasa tak enak hati. Agasa adalah putra dari saudara sepupu jauh Sultan, ayah Alza. Agasa banyak membantu Alza untuk mengurus perusahaan.
"Maaf sekali ya, Kak. Mungkin lain kali."
"Oke, baiklah. Kalau begitu silakan!"
Alza membungkuk sedikit lalu pergi meninggalkan Agasa.
"Hmm bersabarlah, Agasa. Perlahan saja. Kamu pasti bisa mendapatkan Alza."
Agasa berbalik badan dan bertemu pandang dengan Arion.
"Aku tahu kau sengaja ingin mendekati Alza. Benar kan?" sarkas Arion.
Agasa tertawa kecil. "Jika iya, apa urusannya denganmu? Apa sekarang kau menyesal karena sudah menceraikan Alza? Kau ingin meraih hatinya lagi setelah tahu jika Alza adalah anak kandung Om Sultan? Kau memang licik, Arion!"
"Apa katamu?!" Arion mengepalkan tangan.
"Jangan berpura-pura bodoh, Arion. Aku tahu kau terobsesi untuk menjadi pewaris kakek Johan. Makanya kau berjuang untuk bisa mendapatkan anak laki-laki. Sekarang, apa bedanya kau denganku? Kita di kubu yang sama, Arion. Tapi sayangnya, kau tidak bisa mengejar cinta Alza karena kau sudah menikah. Sedangkan aku, aku masih punya kesempatan untuk bisa mempersunting Alza."
Agasa menepuk pundak Arion kemudian pergi meninggalkannya. Arion sangat murka dengan sikap Agasa.
"Brengsek kau! Tidak akan kubiarkan kau mendekati Alza."
...***...
Argan sudah menunggu kedatangan Alza sejak lima belas menit lalu. Masih belum nampak pujaan hatinya datang ke resto langganan mereka.
"Abang!" sapaan hangat suara Alza membuat Argan menyunggingkan senyum.
"Sayang, akhirnya kamu datang juga. Aku pikir kamu lupa sama janji kita."
"Enggak lah, Bang. Tadi itu ada kak Agasa ngajakin ngobrol. Makanya aku telat."
"Agasa? Kenapa dengannya?"
Alza mengedikkan bahunya. "Gak tahu. Udah ah gak usah dibahas. Aku lapar. Abang udah pesen belum?"
"Belum, sayang. Aku nunggu kamu."
Argan tersenyum samar melihat Alza yang sedang mencatat pesanan mereka.
"Sepertinya ada sesuatu dengan Agasa. Mau apa dia sebenarnya?" batin Argan.
"Bang..." Alza memegang tangan Argan.
"Kenapa sayang?"
"Apa abang gak ada rencana untuk datang ke rumah? Maksudku..." Alza bingung bagaimana cara mengutarakannya.
Setelah semalam bicara dengan Falia, Alza juga ingin hubungannya dengan Argan selangkah lebih maju, jangan hanya jalan ditempat.
"Aku tahu apa maksudmu, Alza. Aku juga sedang memikirkannya. Aku akan ceritakan semua pada Oma kalau kamu bukanlah anak yatim piatu seperti yang selama ini orang-orang pikir. Kamu adalah putri dari keluarga Nusantara. Keluarga terhormat dan terpandang. Oma pasti bisa menerima hubungan kita."
__ADS_1
Alza tersenyum. "Semoga saja ya, Bang."