Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 61


__ADS_3

Menikah...


Satu kata yang pastinya menjadi impian bagi sebagian orang. Meraih kebahagiaan bersama orang yang dicinta. Membina rumah tangga dan menghabiskan waktu bersama hingga usia senja.


Tentu saja menikah juga adalah impian Alza. Inginnya menikah cukup satu kali dan dengan orang yang mencintainya. Namun sayangnya impian Alza gagal.


Dua kali menikah dan mengalami kegagalan menimbulkan sebuah trauma tersendiri bagi Alza. Meski sekarang trauma itu perlahan hilang karena kehadiran Argan.


Pria itu mampu membuat Alza kembali merasakan dicintai dan mencinta. Alza ingin hidup bersama dengannya hingga maut memisahkan. Namun rintangan yang mereka hadapi tak semudah mereka saling memupuk cinta.


Restu kedua keluarga belum mereka kantongi. Masih ada ganjalan dalam hubungan mereka. Lalu sekarang, akankah Alza membangkang?


Di depannya kini dengan jelas Argan mengajaknya menikah. Akankah Alza bersedia?


"Alza, jangan diam saja! Kamu mau kan menikah denganku? Jika iya, maka aku akan siapkan semuanya. Kita menikah secara sederhana saja."


Ada setitik keraguan dalam benak Alza. Tak mungkin dia menikah tanpa kehadiran keluarganya? Impian Alza adalah menikah dengan disaksikan anggota keluarga kandungnya.


"Tapi, Bang... Itu artinya kita kawin lari?"


Argan mengusap wajahnya. Ia tahu jika keputusannya ini karena dasar emosi dan rasa cemburunya terhadap Agasa.


"Maaf, Alza. Aku tahu kamu pasti tidak akan setuju jika kita menikah tanpa keluarga kita." Argan terlihat frustasi.


Alza mengulur tangan lalu mengusap pelan lengan Argan.


"Bang... Aku hanya cinta sama Abang. Jadi tolong jangan pernah berpikir aku akan ninggalin Abang."


Argan menoleh menatap Alza. "Maafkan abang ya! Abang terlalu cemburu tadi. Abang sangat merindukanmu. Tapi pas abang ketemu kamu, kamu malah lagi berdua dengan pria lain. Hatiku panas melihatnya, Alza."


Alza malah tersenyum geli mendengar pengakuan Argan. Kini ia tahu jika cinta Argan sebesar itu kepadanya. Alza menarik tubuh Argan dan memeluknya.


"Lain kali jangan gunakan emosi ya, Bang. Itu tidak baik untuk kesehatan Abang."


"Maaf ya, sayang. Ya sudah, sekarang abang antar kamu pulang saja." Argan melerai pelukan dan kembali melajukan mobil.


"Kok pulang sih, Bang? Abang beneran nggak kangen sama aku?"


"Ck, jangan mulai deh! Kalau abang bawa kamu ke apartemen, nanti abang khilaf. Kamu juga yang akhirnya marah sama abang. Serba salah banget deh aku ini!"


"Hahahahaha." Alza malah tertawa keras melihat ekspresi lucu wajah Argan.


"Malah ketawa! Awas saja kamu ya!"


Alza makin mengeraskan tawanya. Malam ini Alza puas mengerjai Argan. Meski hanya bertemu sebentar, tapi Alza merasa ini adalah waktu yang penuh kehangatan bersama dengan Argan.


...***...


"Falia!" panggil Alza ketika melihat Falia baru pulang ke rumah.


"Alza? Ada apa?"


"Bisa kita bicara?"

__ADS_1


"Boleh, kita ke kamarku saja."


Alza mengikuti langkah Falia menuju kamarnya.


"Kamu bersihkan dulu saja. Biar aku tunggu disini."


Falia merasa ada yang aneh dengan sikap Alza. Falia mengangguk faham lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Dua puluh menit kemudian, Falia keluar dari kamar mandi dengan memakai setelan piyama tidurnya. Falia menghampiri Alza yang duduk di tepi ranjang.


"Kenapa, Alza?"


"Akhir-akhir ini kamu sangat sibuk. Kita tidak sempat mengobrol."


Falia menggaruk tengkuknya. "Ah iya, maaf. Aku ada urusan, Al."


Alza menatap Falia lekat. Alza ingin Falia jujur mengenai fakta tentang kematian Arion. Sudah hampir dua bulan sejak Arion dinyatakan meninggal dan Falia bersikap mencurigakan. Hanya Alza saja yang bisa menangkap gelagat aneh Falia.


"Fal, aku mohon kamu jujur sama aku. Apa benar Kak Arion masih hidup?" Tanpa berbasa basi, Alza segera bertanya tentang Arion.


"A-apa maksudmu? Jangan mengada-ada, Alza." Falia terlihat panik.


"Fal... Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dari kami semua. Saat Arbi dirawat di rumah sakit, aku melihatmu pergi bersama Mas Dennis dan seorang dokter. Aku sempat dengar kalau kamu bilang jika kondisinya memburuk. Dia siapa, Falia? Siapa yang kamu maksud itu?"


Falia memalingkan wajahnya. Falia tidak mungkin berbohong lagi pada Alza. Semakin dia berbohong, dia akan memupuk cerita kebohongan dalam hidupnya.


Falia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Baiklah. Aku akan katakan semuanya padamu. Tapi... kamu harus merahasiakannya."


"Aku mau melihat keadaannya!" ucap Alza ketika cerita Falia berakhir.


"Apa?! Untuk apa, Alza?"


"Aku hanya ingin melihatnya saja, Fal. Bagaimanapun juga, Kak Arion adalah ayah kandung Arbi. Setidaknya izinkan aku melihatnya sebentar saja."


Falia mengalah. "Baiklah. Besok pagi setelah pulang kerja, kamu bersiaplah. Tapi ingat, jangan sampai ada yang tahu mengenai hal ini."


Alza mengangguk paham.


"Termasuk kekasihmu, Argantara." Falia memperingatkan Alza dengan keras.


...***...


Keesokan harinya, Falia benar membawa Alza untuk menemui Arion. Di sebuah rumah sederhana, ternyata Arion ada disana.


Tubuh Arion terbaring lemah dengan beberapa alat terpasang di tubuhnya.


"Fal, ini rumah siapa?"


"Ini rumah orang tua kandungku dan Arion."


"Heh?! Maksudmu? Orang tua kandung kalian?"

__ADS_1


Falia tersenyum. "Kamu pasti kaget mendengarnya. Aku dan Kak Arion ... kami saudara kandung."


"Apa?! Bagaimana bisa?"


Falia tersenyum. "Setelah kamu terbukti adalah anak dari Papa Sultan dan Mama Arnis, Kak Arion juga mencari keluarga kandungnya. Aku tidak menyangka jika keluargaku adalah keluarga kak Arion juga. Kak Arion dibuang saat usianya baru 5 tahun, dan aku juga dibuang saat usiaku 10 tahun. Sungguh miris nasib kami. Entah orang tua seperti apa yang kami miliki hingga tega membuang anak mereka ke panti asuhan."


Alza merasa sedih dengan kisah Falia dan Arion. Alza segera memeluk Falia.


"Lalu rumah ini...?" Alza masih penasaran kenapa Falia membawa Arion ke rumah orang tua kandung mereka.


"Ibu kami masih hidup. Dia menyesal dan ingin memperbaiki kesalahan yang pernah diperbuatnya di masa lalu. Dan ya, aku dan Kak Arion menerima permintaan maafnya. Bagi kami, menghapus ikatan darah itu tidak akan pernah bisa. Bagaimanapun juga, dia tetaplah ibu kami."


Tak lama setelahnya, munculah sosok seorang wanita paruh baya yang ikut bergabung dengan mereka.


"Alza, kenalkan. Ini Ibu Tami. Dia adalah ibuku." Falia memperkenalkan.


"Salam kenal, Ibu. Aku Alza. Kami tinggal bersama sebagai saudara angkat."


"Iya, ibu ingat. Arya pernah beberapa kali cerita tentangmu."


"Ah, begitu ya!" Alza merasa canggung.


"Apa kamu ingin menjenguk Arya?"


Alza mengangguk.


"Silakan masuk saja, Nak." Tami mempersilakan Alza masuk ke dalan sebuah kamar.


Disana Alza melihat sosok Arion yang dikabarkan telah meninggal dunia. Alza menutup mulutnya tak percaya.


"Kak Arion..." Air matanya tertahan. Bukan karena Alza masih memiliki perasaan terhadapnya. Ini semata hanya perasaan sesama manusia yang bersimpati dengan orang lain yang terkena musibah.


"Segeralah bangun, Kak! Arbi sangat merindukan kakak!" lirih Alza.


Air mata Alza akhirnya menetes. Ia tak kuasa menahan kesedihan melihat tubuh Arion yang tergolek lemah.


Beberapa detik setelahnya, terlihat gerakan jari-jari Arion yang menunjukkan adanya suatu respon.


"Kak Arion!" seru Alza yang melihat pergerakan jari Arion. "Falia, Mas Dennis! Cepat kemari!" seru Falia memanggil Falia dan Dennis.


"Ada apa, Alza?"


"Fal, aku tadi lihat jari Kak Arion bergerak. Itu artinya dia akan segera sadar kan?" Alza sangat bersemangat.


"Tunggu sebentar! Aku panggil dokter dulu!" Dennis segera keluar kamar dan menemui dokter.


Tak lama dokter datang dan memeriksa kondisi Arion.


"Al...za..." Lirih suara Arion memanggil nama Alza.


Dokter ikut terperangah karena yang pertama Arion ingat adalah mantan istrinya, Alzarin.


Alza mendekat dan menampakkan wajahnya di depan Arion.

__ADS_1


"Alza..."


...***...


__ADS_2