Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 76


__ADS_3

Pagi kembali menyapa, Alza menggeliat dan mulai membuka mata. Menghela napas sejenak sambil mengingat apa yang sudah ia lakukan bersama Aryan semalaman. Wajahnya memerah lalu melirik ranjang di sebelahnya.


Aku tidak menyangka aku akan jatuh dalam pelukan Aryan lagi.


Alza menatap Aryan yang masih terlelap. Pastinya semalam Aryan juga kelelahan usai permainan panas mereka.


"Pagi..." Sapaan Aryan membuat Alza tersadar dari lamunan.


"Pagi juga..."


"Tidurmu nyenyak?"


"Hmm, lumayan."


"Masih capek?"


Alza mengangguk. "Aryan... Maafkan aku... Aku tidak tahu bagaimana perasaanku padamu, tapi... Kita sudah berbuat jauh. Aku..."


"Sudah, jangan diteruskan. Kita bisa melakukannya perlahan. Aku juga tidak akan memaksakan perasaanku kepadamu."


"Terima kasih, Aryan..." Alza mengulas senyum terbaik.


Kemudian Alza mendekat dan memberikan kecupan singkat di bibir Aryan.


"Alza, kurasa sudah saatnya kamu tahu tentang sesuatu."


"Sesuatu apa?"


"Bersiaplah dulu! Aku akan membawamu ke suatu tempat."


Alza merasa penasaran dengan hal apa yang dibicarakan Aryan.


Tiga puluh menit kemudian, Aryan telah siap dengan setelan casualnya, dan Alza masih berbalut baju handuk.


"Ini!" Aryan menyerahkan sebuah paper bag.


"Apa ini?"


"Pakaian ganti."


"Jangan bilang kamu merepotkan Falia lagi."


Aryan terkekeh. "Tidak! Kali ini aku merepotkan Nyonya Arnis."


Alza menutup wajah. "Astaga! Jadi mama tahu aku ada disini?"


Aryan mengangguk. "Cepat ganti bajumu dulu. Atau kamu mau aku membukanya lagi?" Aryan mengerling pada Alza.


"Ah, stop Aryan! Kamu sudah membuatku kelelahan semalam." Alza mengerucutkan bibir.


"Hahaha, ya sudah cepat sana ganti."


...***...


Aryan mengendarai mobil menuju sebuah tempat yang tak asing.


"Tunggu! Ini kan rumah tahanan? Mau apa kita kesini?"


"Kamu akan tahu nanti. Ayo!"


Aryan membuka pintu, begitu juga dengan Alza. Alza menatap bangunan yang ia tahu sebagai tempat tinggal Agasa beberapa minggu ini.


"Jangan bilang kamu ingin mengajakku bertemu dengan Kak Aga!" Alza mulai kesal.


"Jangan marah dulu! Bukannya kamu ingin tahu siapa ayah Arbi yang sebenarnya?"


"Eh? Apa maksudmu? Apa ayah kandung Arbi ada di penjara?"


Aryan tak menjawab. Ia menunggu petugas tahanan membawa sosok yang ia maksud.


Tak lama seorang petugas datang dengan seorang pria yang membuat Alza terkejut.


"Kak Agasa?" Alza melirik Aryan. "Apa maksudnya ini? Apa mungkin..."


"Benar! Dialah ayah kandung Arbi yang sebenarnya."


Tubuh Alza melemas. Kakinya seakan tak bisa menumpu bobot tubuhnya.


"Ini... Tidak mungkin..." Alza menggeleng lemah.


"Kalian ini! Ada apa kalian datang kesini? Kupikir siapa!" Agasa kesal karena ternyata tamunya adalah Alza dan Aryan.


Setelah menguasai kondisi tubuhnya, Alza beringsut maju dan menarik kerah baju tahanan Agasa.


"Katakan! Apa benar kakak adalah ayah kandung Arbi? Jadi selama ini kakak bermain dengan kak Jesly? Apa kakak juga yang sudah membantu kak Jesly kabur?"


Teriakan Alza membuat Agasa tidak nyaman. Ia menepis kasar tangan Alza.


"Lepas! Kau tidak berhak menuduhku karena kau sendiri justru lebih hina, Alza!"


"Kurang ajar!" Alza meringsek maju, tapi Aryan menghalangi. Aryan tak ingin Alza membuat keributan di sana.


"Aryan! Lepaskan aku! Biar aku beri pelajaran pada lelaki brengsek ini!"


Alza mengulur tangannya ingin meraih tubuh Agasa, tapi Aryan tetap menghalangi.


"Sudahlah, Alza. Dia tidak akan mau mengakui perbuatannya." Aryan coba menenangkan Alza.


Alza menangis meraung-raung. Ia ingat memori ketika dirinya merasakan kesakitan karena pengkhianatan yang dilakukan Arion. Bagaimana ia terluka karena Jesly hamil anak Arion. Namun semua hanyalah sandiwara yang dimainkan Jesly dan Agasa. Alza mengeluarkan semua kekesalan dalam hatinya. Ia ingin sekali membunuh Agasa.


...***...

__ADS_1


Aryan membawa Alza ke sebuah taman agar Alza bisa menenangkan diri. Tanpa ada kata yang terucap dari bibir keduanya, mereka hanya diam sambil menikmati waktu.


Setelah Alza merasa tenang, Aryan mengantar Alza kembali ke rumah. Ya, rumah keluarga Nusantara dan bukan apartemennya. Bisa gawat jika Alza menginap lagi di tempatnya. Tidak bisa dipastikan mereka tidak berbuat yang lebih kembali. Aryan memang pernah khilaf, tapi ia sangat menghargai Alza karena ingin menikahi wanita itu secara sah.


"Istirahatlah! Maaf jika hari ini aku membuatmu syok. Semoga besok kamu bisa menata kembali hidupmu. Jangan lagi menatap masa lalu, Alza."


Alza menatap sendu wajah Aryan yang masih terlihat tenang dan datar. Alza mengangguk sebagai jawaban. Lalu ia masuk ke dalam rumah.


Alza menapaki rumah besar itu dengan perasaan yang sulit digambarkan. Bagaimana kebahagiaan dan kesakitan bercampur jadi satu.


Hingga akhirnya langkah Alza terhenti ketika menatap kamar Arbi. Dilihatnya Ani keluar dari kamar itu. Alza berjalan mendekat.


"Apa Arbi sudah tidur?"


"Sudah, Non. Apa Non Alza mau masuk?"


Alza tak menjawab. Sulit rasanya menggambarkan perasaannya saat ini.


"Kamu istirahatlah!" Perintahnya pada Ani.


"Baik, Non. Saya permisi!"


Sepeninggal Ani, tangan Alza terulur menyentuh gagang pintu. Matanya terpejam merasakan gelombang nyeri di hatinya.


Namun akhirnya tangannya tetap membuka pintu kamar itu lalu kakinya melangkah masuk. Di tatapnya sosok mungil yang sedang meringkuk di tempat tidur.


Alza makin mendekat dan duduk di tepi ranjang. Ia usap lembut puncak kepala Arbi. Kebencian yang tadi ia perlihatkan pada Agasa menguap seketika. Tak ada lagi kata benci pada bocah kecil yang sudah mencuri hatinya.


"Maafkan mama jika tadi mama sempat membencimu, Nak." Alza mengecupi pipi Arbi hingga bocah itu terbangun dari tidurnya.


"Mama..." lirih Arbi saat melihat sosok Alza di depannya.


"Mama kemana aja?" tanya polos bocah kecil itu.


Alza tersenyum. "Mama nggak kemana mana kok. Mama janji nggak akan ninggalin Arbi lagi." Alza memeluk bocah kecil itu dengan erat.


"Tidurlah lagi, Nak. Mama akan menjaga kamu disini." Alza ikut merebahkan dirinya disamping Arbi.


Dengan menepuk pelan punggung Arbi, bocah itu pun kembali terlelap. Alza yang sedang lelah hati juga ikut memejamkan mata dan menuju ke alam mimpi.


...***...


Satu bulan kemudian...


"Selamat ya, Tuan dan Nyonya akan segera jadi orang tua." Ucapan dokter wanita itu membuat Argan sedikit tertegun tapi juga senang.


"Sayang, kita akan jadi mama dan papa." Agatha memekik bahagia setelah mengetahui dirinya hamil. Meski sebenarnya Agatha sudah tahu jika dirinya hamil.


"Kira-kira berapa usia kandungan istri saya?" Argan memberanikan diri untuk  bertanya.


"Sekitar tiga bulan, Tuan. Maka dari itu, tolong perhatikan asupan gizi yang dimakan ya!"


Setelah menebus vitamin untuk ibu hamil di apotek, Argan bersama Agatha pulang ke rumah untuk memberitahu kabar baik ini. Dan benar saja, Oma Ratna begitu senang mendengar kabar ini.


"Iya, Oma." Mereka menjawab dengan kompak.


Lalu setelahnya, Oma Ratna mengundang kedua orang tua Agatha untuk merayakan kehamilan wanita itu. Semua orang tertawa dengan bahagia, tapi tidak dengan Argan. Pria itu hanya sesekali ikut tertawa. Itupun karena terpaksa.


Pikiran Argan terngiang dengan apa yang dikatakan oleh dokter mengenai kehamilan Agatha.


"Tiga bulan? Bagaimana bisa Agatha sudah hamil tiga bulan sementara kami baru menikah selama dua bulan. Apa itu artinya Agatha sudah lebih dulu hamil sebelum kami menikah?" Batin Argan menatap Agatha.


Meski sempat ingin menanyakan perihal ini saat mereka baru keluar dari pemeriksaan dokter, tapi Argan urungkan. Karena pada kenyataannya Argan dan Agatha juga sering melakukan hubungan suami istri. Argan pastinya tidak bisa menampik jika ada benihnya juga yang tertanam di rahim Agatha. Hal ini membuat Argan stres sendiri memikirkan hubungannya dengan Agatha. Setidaknya Argan akan berusaha menerima anak yang ada dikandungan Agatha, meski kenyataan nantinya tak seindah bayangannya.


...***...


"Jadi, bagaimana kelanjutan hubungan kalian? Apa kalian tidak memikirkan soal pernikahan?"


Pertanyaan Johan membuat Alza dan Aryan saling menatap. Hubungan mereka bisa dikatakan serius, karena tentu mereka sudah sama-sama dewasa. Namun komitmen panjang tentang pernikahan belumlah mereka pikirkan.


"Kami belum pikirkan itu, Kek." Alza menjawab sesuai dengan faktanya.


"Tapi Arbi butuh status yang pasti dari kalian. Arbi juga butuh orang tua yang lengkap," Lanjut Johan.


Aryan masih belum berkata apapun karena memang Alza yang meminta. Alza masih mengalami trauma tentang pernikahan. Apalagi jika dihadapkan untuk menikah dengan orang yang sama sekali lagi. Meski kepribadian Aryan dan Arion sangat berbeda, tapi Alza tak menampik jika Aryan tetaplah Arion yang dulu dinikahinya.


"Arbi akan tetap memiliki kami sebagai orang tuanya, Kek. Aku akan pastikan itu!" tegas Alza.


Johan tak bisa lagi bicara jika Alza sudah berkata demikian. Ia menghormati keputusan cucunya. Mungkin benar jika Alza masih trauma dengan pernikahan.


Di sisi lain, seorang wanita tengah kebingungan karena tak bisa lagi menghubungi pria yang selama ini menunjang kehidupannya. Dialah Jesly. Yang saat ini sedang berada jauh di luar negeri karena harus bersembunyi atas perbuatannya yang sudah membuat Aryan kecelakaan.


"Ck, kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi, Agasa?! Awas saja kau, hah?!"


Kekesalan Jesly sudah di ubun-ubun karena dirinya butuh uang saat ini juga. Sudah hampir tiga bulan Agasa tidak mengirimkan uang lagi padanya seperti janjinya dulu.


"Sialan!" Jesly membanting ponselnya.


Dari pada suntuk memikirkan soal Agasa, Jesly memilih untuk menonton televisi saja. Dan akhirnya Jelsy mendapat jawaban atas pertanyaannya selama ini.


Di layar TV saat ini sedang menayangkan berita tentang Agasa yang kini hidup di balik jeruji besi.


"Apa ini? Jadi Agasa ditangkap polisi? Bagaimana bisa?" Jesly mulai ketar ketir.


Jika Agasa ada di penjara, itu berarti kehidupannya tak bisa lagi di biayai oleh ayah dari anaknya.


"Argh! Benar-benar menyebalkan!"


Karena kesal, Jesly memilih keluar dari apartemen kecilnya menuju ke sebuah bar di dekat tempat tinggalnya. Jesly langsung meminta segelas wine untuk membuat dirinya rileks.


Sekali teguk langsung tandas melewati kerongkongan Jesly yang terasa kering.

__ADS_1


"Agasa bodoh! Bagaimana bisa semua kejahatannya terbongkar oleh Alzarin? Wanita itu rupanya cukup pintar juga!" Batinnya.


Jesly meminta segelas lagi dan langsung meneguknya. Dari kejauhan sepasang mata milik seorang pria sedang memperhatikannya.


"Dia menarik juga! Madam! Aku mau wanita yang itu!" Pria itu berkata pada seorang wanita paruh baya yang sedang menghisap cerutunya.


"Hmm?" Wanita itu mengernyit. "Dia bukan pekerjaku! Carilah yang lain saja!"


"Tidak! Aku mau yang itu!" Pria itu tetap menunjuk Jesly.


"Ck, ya ya aku akan bicara dulu dengannya."


Wanita yang dipanggil Madam itu menghampiri Jesly.


"Nona! Bisa mengganggu sebentar?"


Jesly menoleh. Ia kembali meneguk minuman yang ada di tangannya.


"Kau siapa? Aku tidak mengenalmu!"


"Aku adalah penguasa bar ini. Apa kau mau uang?"


Mendengar kata uang mata Jesly langsung terbelalak. "Uang? Iya, aku sedang membutuhkan uang."


Madam menyeringai. "Bagus! Kau bisa mendapatkan banyak uang jika kau menuruti perintahku."


"Apa saja! Apa saja akan kulakukan asal aku mendapatkan uang." Jesly sudah terlampau putus asa.


"Baiklah. Mulai malam ini, kau bekerja disini. Kau akan mendapat banyak uang jika servismu memuaskan," Bisik Madam ditelinga Jesly.


"Ayo ikut denganku!" Madam membawa tubuh Jesly yang sedikit sempoyongan menuju ke sebuah kamar.


"Hmm, dilihat dari penampilanmu, kau bukan berasal dari kota ini. Apa kau merantau?"


Jesly mengangguk. "Aku kabur dari semuanya!"


"Ya sudah. Kau tenang saja! Kau aman disini! Sekarang tunggu sebentar. Pelangganmu akan segera datang."


Jesly mengangguk patuh. Ia duduk di tepi ranjang dengan mata yang berkunang-kunang. Tak lama setelahnya, pintu kamar terbuka.


Sosok pria yang sejak tadi menatapnya lapar kini mendekat.


"Siapa kau?" Tanya Jesly yang matanya sudah agak buram.


"Aku adalah pelanggan pertamamu, Nona. Kuharap servismu sesuai dengan harapanku."


"Servis? Servis apa?"


Tanpa babibu lagi pria itu segera membuat Jesly terlentang di ranjang. Tubuhnya mendominasi tubuh Jesly. Tak lupa ia juga mengunci rapat bibir Jesly agar tak kebanyakan bicara.


Jesly mulai bersuara. Sudah lama ia tak mendapat sentuhan lelaki. Tentu saja ia merindukan itu.


"Arion..." Jesly malah menyebut nama Arion.


"Baby, namaku Mike bukan Arion," Bisik pria itu.


"Hmm? Ya, Mike. Hai Mike. Aku Jesly. Aku butuh u... Aaahhh!" Jesly mengejang ketika Mike memainkan perannya di pusat tubuh Jesly.


Jesly tak bisa berpikir lagi. Entah itu Arion atau bukan yang menyentuhnya, yang jelas Jesly menyukainya.


"Kau perkasa, Mike!" Jesly meracau dan terus memanggil menyebut nama pria yang sedang bergerak diatas tubuhnya.


"Yeah! Kau juga sangat nikmat, Jesly."


Satu jam bergulat dengan Mike, akhirnya Jesly tumbang. Sedang Mike yang sudah puas, hanya meninggalkannya seorang diri di atas ranjang.


"Ini tips untukmu!" Mike melempar beberapa lembar uang ke tubuh Jesly. "Besok aku akan datang lagi!"


Samar-samar Jesly melihat Mike keluar. Ia tersenyum karena akhirnya ia mendapat uang juga.


Tak lama setelah Mike pergi, seorang pria kembali masuk ke kamar Jesly.


"Kau siapa?" Jesly yang masih terkapar di tempat tidur bertanya dengan suara lirih.


"Jangan banyak tanya! Berikan yang terbaik untukku, lalu aku akan membayarmu dengan harga mahal."


Jesly tersenyum. "Yeah! Aku akan kaya mulai sekarang!" Jesly tertawa sumbang.


"Dasar jàláng! Kita buktikan dulu kau senikmat apa, baru kau bisa dapat uangku!"


Pria itu segera mencúmbu Jesly tanpa ampun. Rupanya pria ini lebih perkasa dibanding Mike. Jesly kewalahan menghadapi pelanggan keduanya ini.


"Aaah! Pelan-pelan! Aku sudah sangat lelah!" rintih Jesly.


"Tidak peduli kau lelah atau tidak. Kita akan bersenang-senang semalaman, Baby." Pria itu terus menghentak tubuh Jesly.


Di tempat berbeda, Arbi yang sedang tertidur tiba-tiba terbangun lalu menangis kencang. Tentu saja tangisan Arbi mengejutkan semua orang di rumah termasuk Alza.


"Sayang! Kamu kenapa?" Alza menggendong tubuh Arbi dan menenangkannya.


"Mama mamaa mama!" racau Arbi yang menyebut mamanya.


"Iya, ini mama, sayang!" Alza kira Arbi mencari dirinya.


"Mama mama mama!" Arbi menunjuk pintu dan meminta keluar kamar.


Ani yang mendengar tangisan Arbi juga segera datang.


"Mama mama mama!" Arbi meronta dalam gendongan Alza.


"Mungkin Den Arbi kangen dengan mama kandungnya, Non."

__ADS_1


Kalimat Ani cukup membuat Alza tersentak.


"Kak Jesly? Arbi merindukan Kak Jesly?" Alza memberikan Arbi pada Ani. Biarlah Ani yang menenangkan Arbi.


__ADS_2