
"Aryan, apa yang kau lakukan disini?"
Sosok yang adalah Falia langsung mendekati Aryan yang sedang kesakitan.
"Aryan! Kau baik-baik saja? Ayo ikut ke kamarku!"
Dengan hati-hati Falia membawa Aryan menuju ke kamarnya. Falia meminta Aryan untuk duduk di sofa. Tak lupa ia mengambilkan segelas air untuk Aryan.
"Minumlah dulu!"
Aryan menerima gelas dari Falia dan segera meneguknya. Setelah istirahat sejenak, Aryan pun merasa lebih baik.
Aryan menatap Falia. "Kau sudah baikan?"
Aryan mengangguk.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan disini?" Falia kembali bertanya.
Aryan menatap nanar ke arah Falia. Benarkah Falia tidak tahu kenapa dirinya ada disini? Begitulah pertanyaan Aryan saat ini.
"Kau sendiri tahu kalau aku pernah tinggal disini. Tadi di kamar itu, aku melihat foto diriku bersama dengan seorang wanita dan juga Arbi."
"Heh?!" Falia kaget karena Aryan ternyata sudah mengetahui siapa dirinya. Apakah Alza yang sudah memberitahu Aryan? Batin Falia.
"Alza sudah memberitahuku soal masa laluku di rumah ini."
Falia tetap diam dan tenang. Seakan tidak terpengaruh oleh Aryan. Seolah ia tidak tahu apapun soal ini.
"Kau sendiri sudah menolongku dari kecelakaan maut itu. Kau pasti juga... Tahu sesuatu tentang ini."
Falia memilih tetap bungkam dari pada ia salah bicara. Ia harus bertanya dulu pada Alza sebenarnya apa yang Alza katakan pada Aryan hingga pria itu tahu tentang rumah dan asal usulnya.
Karena tak mendapat respon dari Falia, Aryan memilih pergi dari kamar gadis itu tanpa sepatah kata lagi. Setidaknya kediaman Falia membuktikan jika apa yang dikatakan Alza adalah benar.
...***...
"Apa?! Aryan datang ke rumah?" Alza memekik kaget saat Falia datang ke rumah sakit dan menceritakan perihal Aryan.
"Iya. Dia bilang dia sudah tahu semuanya dari kamu. Apa itu benar?"
Alza mengangguk pelan. "Aku hanya menceritakan tentangnya dan juga Arbi. Tidak kuceritakan soal hubungan kami di masa lalu. Rasanya terlalu rumit jika dia mengetahuinya sekarang. Lalu, apa yang Aryan lakukan di rumah kita?" Alza kembali ke topik yang utama.
"Aku tidak tahu. Tapi kudengar dari salah satu ART, Kak Aryan datang untuk menemui kakek Johan."
"Heh?! Mau apa lagi dia?" Alza memijat kepalanya.
"Sudahlah, Alza. Aku yakin kak Aryan tidak akan melakukan hal yang ingin mencelakai kamu dan Arbi."
Alza terdiam. Batinnya menerka-nerka kenapa Aryan datang menemui Johan.
Mungkinkah Aryan memberikan bukti kejahatan kak Agasa pada kakek? Duh, lalu bagaimana reaksi kakek? Apa kakek menyadari tentang Aryan?
Pikiran Alza bergelut dengan ketidakpastian yang tidak ia tahu apa jawabannya.
...***...
𝙆𝙚𝙙𝙞𝙖𝙢𝙖𝙣 𝙆𝙚𝙡𝙪𝙖𝙧𝙜𝙖 𝙉𝙪𝙨𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖
Johan dan Sultan sedang memandangi isi flashdisk yang diberikan Aryan tadi kepadanya. Sebenarnya ada rasa curiga dalam diri Johan terhadap Agasa. Tapi selama ia menepis semua pikiran buruknya tentang Agasa dan Erlan karena selama ini Agasa sudah membantu membesarkan perusahaan bersama Arion.
Namun sekarang, setelah semua bukti-bukti terpampang nyata di depannya, akankah Johan tetap menutup mata untuk mengusut kejahatan Agasa dan ayahnya?
"Aku tidak tahu jika Alza memiliki seorang asisten, Sultan." Johan mengusap dagunya.
"Maaf, Pah. Aku belum sempat cerita. Tapi Alza memang datang ke tempatku dan mengenalkan pria bernama Aryan itu."
Johan manggut-manggut. "Entah kenapa aku merasa tidak asing dengannya."
"Apa papa juga merasa begitu? Aku sendiri juga merasa begitu saat pertama kali melihatnya."
Johan kembali diam dan memandangi hasil kerja keras Aryan semalaman.
"Lalu, kita akan bertindak apa pada Agasa? Dia adalah keluarga kita, Pah. Aku tidak enak hati dengan kak Erlan jika kita mengusut kejahatan Agasa."
Johan menatap putranya. "Kejahatan tetaplah kejahatan, Nak. Inilah yang membuat hubunganku dengan Dewangga memburuk. Ternyata mereka yang sudah tega memfitnahku. Hingga akhirnya harus mengorbankan perasaan Argan dan Alza."
Ada raut penyesalan di wajah Johan. Tapi kini nasi sudah menjadi bubur. Argan sudah memilih orang lain ketimbang cucunya. Mungkin ini yang terbaik untuk Alza. Begitulah pikir Johan.
Di sisi lain, Argan yang sedang fitting baju bersama Agatha, dikagetkan dengan getaran di ponselnya. Argan sedikit menjauh dari Agatha yang sedang mencoba gaun pertunangannya.
Argan membuka ponsel dan melihat satu pesan yang dikirimkan Ammar. Sebuah foto seorang wanita bersama seorang anak lelaki.
Itu adalah foto Alza dan Arbi yang sedang berada di kamar rawat rumah sakit.
__ADS_1
Alza... Kamu pasti sekarang sangat sedih karena Arbi terluka. Aku tahu kamu sangat menyayangi Arbi hingga ingin mengadopsinya. Andai saja aku bisa memeluk kalian, pasti itu akan sedikit meringankan bebanmu, Alza.
"Ehem!" Rupanya Agatha memergoki Argan yang sedang memandangi foto Alza.
"Aku tidak menyangka kamu akan sekejam ini padaku, Argan. Ragamu ada disini bersamaku, tapi hatimu masih berkeliaran di luar sana. Kamu harus ingat, Argan. Besok adalah hari pertunangan kita. Apa kamu mau membuat nenek kamu sedih karena kamu masih memikirkan wanita lain?"
Argan tertunduk pasrah. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Maaf, Agatha. Aku hanya ingin tahu kabarnya. Itu saja!"
Agatha berdecih. "Kamu terlalu lemah, Argan! Meski dia adalah cinta pertamamu, tapi dia bukan cinta terakhirmu. Kuharap kamu mulai melupakan dia dan membuka hatimu untukku. Karena aku sudah membuka hatiku untukmu." Setelahnya Agatha berlalu dari hadapan Argan.
Sementara Argan hanya bisa mengusap kasar wajahnya. Ia kembali membuka ponselnya dan menghubungi Ammar.
"Halo, Ammar."
"Iya, Tuan. Ada apa?"
"Hentikan kerja anak buahmu yang mengikuti Alza."
"Eh?!" Ammar terdengar bingung.
"Aku tidak akan mengganggu kehidupan Alza lagi."
"Hmm, baik Tuan. Apa ada lagi?"
"Tidak ada. Sebentar lagi aku kembali ke kantor. Kamu handle dulu beberapa meeting."
"Baik, Tuan."
...***...
Malam ini, Aryan menatap pekatnya langit malam dari balkon kamar apartemennya. Aryan sengaja pindah ke apartemen agar tidak dicurigai oleh banyak orang yang mengenal Arion Nusantara. Ini semua adalah ide Alza dan Falia.
Aryan memegangi kepalanya yang masih tak bisa mengingat apapun tentang masa lalunya. Hanya kalimat Alza saja yang terus terputar di otaknya.
Saat usiamu 15 tahun, keluarga Nusantara mengadopsi dirimu. Kakek menginginkan anak laki-laki untuk meneruskan bisnisnya, meski kakek sudah memiliki aku. Karena kamu tidak bisa berpisah dengan adikmu, maka papa dan mama juga mengadopsi Falia. Setelah dewasa kamu menikah dengan kawan lamamu saat kuliah di luar negeri dulu. Namanya Jesly. Dia adalah ibu kandung Arbi. Tapi, aku minta maaf karena belum bisa menemukan keberadaan kak Jesly. Aku sendiri tidak yakin apakah kak Jesly ada hubungannya dengan kecelakaan yang menimpamu atau tidak. Namun sekarang kenyataan yang harus kamu hadapi adalah... Arbi ternyata bukanlah darah dagingmu.
Aryan mengusap wajahnya. Ia masuk ke dalam kamar lalu merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Benarkah semua yang dikatakan Alza?" gumamnya.
"Tapi, jika dipikir-pikir aku memang mengenal rumah itu. Rumah yang pastinya menjadi tempat tinggalku selama ini."
"Jadi, aku dan Alza dibesarkan sebagai kakak adik? Lalu kenapa aku merasa ada yang aneh dengan hatiku saat bersama Alza? Apakah ini hanya perasaan kakak terhadap adiknya atau... Perasaan seorang pria terhadap wanita?"
Aryan bergulang-guling diatas ranjang.
"Haaah! Ternyata masalah hati memang lebih rumit dari pada meretas kejahatan si Agasa. Omong-omong... Apa Tuan Johan sudah membuka file dariku atau belum?"
...***...
𝙍𝙪𝙢𝙖𝙝 𝙎𝙖𝙠𝙞𝙩
Kondisi Arbi sudah mulai membaik. Kini Alza ditemani Ani karena hari ini Alza akan mulai kembali bekerja. Tidak enak juga membiarkan Aryan untuk menghandle semua pekerjaannya. Mengingat Aryan adalah karyawan baru.
Dan yang terpenting, Alza ingin tahu apa yang sebenarnya direncanakan Aryan dengan datang menemui Kakek Johan.
"Mbak, aku titip Arbi ya!" ucapnya pada Ani.
"Iya, Non. Beres! Saya juga kangen berat dengan Den Arbi. Kemarin kamar Den Arbi sudah dibersihkan. Semoga saja Den Arbi cepat sembuh dan kembali ke rumah."
"Iya, Mbak. Terima kasih ya. Sayang, mama pergi kerja dulu ya! Arbi yang nurut sama Mbak Ani. Jangan bikin repot!" Alza mengecup puncak kepala Arbi lalu mengusapnya pelan.
Alza berjalan keluar kamar. Dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati sosok Aryan ada disana.
"Aryan? Kamu disini?" tanya Alza bingung.
"Yup! Begitu kamu bilang kalau kamu akan ke kantor, aku langsung bersemangat untuk jemput kamu."
"Hahaha, ada-ada saja! Ayo berangkat!"
Alza dan Aryan berjalan beriringan sambil mengobrol santai mengenai pekerjaan yang harus dikerjakan Alza hari ini.
Di perjalanan menuju kantor, sesekali Alza melirik Aryan yang dengan tenang mengendarai mobil yang tentunya diberikan Alza untuknya. Ibarat kata, mobil operasional kantor.
"Ada apa? Apa wajahku sangat tampan hingga kamu harus curi-curi pandang begitu?" goda Aryan yang memergoki aksi Alza.
"Dih, apaan sih? Aku hanya... Ingin bertanya..."
"Soal kedatanganku ke rumahmu?"
Alza mengangguk.
__ADS_1
"Tentu saja ingin membantumu."
Alza mengerutkan kening. "Membantu yang bagaimana maksudmu?"
"Mengusut tuntas kejahatan Agasa."
"Lalu apa yang dikatakan kakek?"
"Dari mana kamu tahu aku menemui kakekmu?"
"Falia. Dia hanya menebak saja."
Aryan manggut-manggut. "Ya, aku memang menemui kakekmu. Tapi, aku tidak mendapat respon darinya."
"Hah?! Maksudnya? Kakek tidak percaya denganmu?" Alza takut jika Johan berbuat hal buruk pada Aryan.
Aryan malah tertawa terbahak.
"Aryan! Aku serius!"
"Aku juga serius, Alza!" Aryan menghentikan tawanya.
"Jadi bagaimana? Apa kakek percaya? Atau tidak percaya?" Alza mulai kesal dengan teka teki yang dimainkan Aryan.
"Aku tidak tahu dia membuka flashdisk yang kukasih padanya atau tidak. Jika dia membukanya... Kemungkinan dia akan mengambil tindakan. Menurutmu bagaimana? Dia kan kakekmu. Kamu pasti lebih faham tentangnya dari pada aku yang hanya cucu angkat."
Alza terdiam. Kamu salah, Aryan. Justru kamulah yang paling tahu bagaimana kakek. Karena sifat kalian hampir mirip. Jika firasatku tidak meleset, kuharap kakek akan menghukum kak Agasa dan juga Om Erlan atas perbuatan curang mereka.
Mobil telah tiba di parkiran khusus para direktur. Begitu turun dari mobil, kebetulan sekali Alza bersitatap dengan Agasa yang juga baru turun dari mobilnya.
"Alza! Kebetulan sekali ya! Bagaimana kondisi Arbi? Maaf ya aku belum sempat menjenguknya. Kondisi kesehatan papa juga sedikit memburuk, makanya aku harus mengawasinya."
Entah benar atau tidak dengan pengakuan Agasa, Alza tidak peduli.
"Aryan, ayo masuk!" Alza malah mengajak Aryan untuk masuk ke gedung bertingkat itu. Tanpa balasan Aryan hanya mengangguk dan mengikuti langkah Alza.
Tak mau ketinggalan, Agasa juga ikut menyusul Alza yang sudah masuk ke dalam lift lebih dulu.
"Alza! Kamu ini kejam sekali! Aku ini calon suami kamu. Harusnya kamu tunggu aku, bukan malah berjalan bersama asistenmu ini!"
Alza memutar bola mata malas. Bahkan Alza malas untuk berdebat dengan Agasa karena ini masih pagi.
"Alza, apa kamu punya rencana untuk menjenguk papa? Aku yakin papa akan senang jika kamu menjenguknya."
Astaga! Apa-apaan dia? Sepertinya dia memang harus diberi pelajaran.
Beruntung pintu lift terbuka tepat pada waktunya. Alza segera berjalan keluar tanpa mempedulikan Agasa.
"Oh ya, Alza. Apa kamu tahu hari ini hari apa?" Rupanya Agasa pantang menyerah juga.
"Hari apa memangnya?" balas Alza dengan menyilangkan tangan.
"Lihat saja sendiri!"
Pertunangan termewah tahun ini, pertunangan antara Agatha Kristie dan Argantara Dewangga.
Tas jinjing yang ada di tangan Alza terlepas dan jatuh ke lantai. Tubuhnya melemas ketika melihat berita tentang pertunangan Argan dan Agatha di layar televisi.
Hari ini? Ya! Hari ini!
Alza menggeleng pelan. Tidak! Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi!
"ALZA!"
Alza tak menggubris teriakan Aryan yang sedari tadi mengejarnya. Alza kini sudah memasuki sebuah taksi. Alza ingin menemui Argan meski untuk yang terakhir kalinya.
...***...
𝘽𝙤𝙣𝙪𝙨 𝙑𝙞𝙨𝙪𝙖𝙡 𝙖𝙡𝙖-𝙖𝙡𝙖 𝙀𝙢𝙖𝙠😆
𝘼𝙡𝙯𝙖𝙧𝙞𝙣 𝙉𝙪𝙨𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖
𝘼𝙧𝙞𝙤𝙣 𝙉𝙪𝙨𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖
𝘼𝙧𝙮𝙖𝙣 𝘼𝙨𝙬𝙖𝙩𝙖𝙢𝙖
𝘼𝙧𝙜𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝘿𝙚𝙬𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖
__ADS_1