Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 64


__ADS_3

Hari ini adalah hari libur. Rencananya Alza ingin membawa Arbi untuk bertemu dengan Aryan, ayahnya. Entah Aryan ingat atau tidak dengan putranya itu, tapi setidaknya, Alza ingin mengenalkan Arbi padanya.


"Arbi sayang sudah siap?"


"Ciyap, Mama!" sahut Arbi bersemangat. Sudah lama Arbi tidak pergi jalan-jalan. Apalagi Alza juga cukup sibuk dengan pekerjaannya.


Saat hendak memasuki mobil, tiba-tiba ada mobil lain yang datang. Sosok Agasa turun dari mobil dan menghampiri Alza juga Arbi.


"Lho, kalian mau pergi?"


"Iya, Kak. Ada apa?"


"Wah sayang sekali. Sebenarnya... Aku ingin mengajak kalian jalan-jalan." Agasa menggaruk tengkuknya.


Meski sebenarnya Alza tak enak hati dengan Agasa, tapi apa boleh buat. Alza sudah janji dengan Tami akan membawa Arbi berkunjung ke rumahnya.


"Hmm, bagaimana ya Kak? Aku dan Arbi sudah punya agenda sendiri. Mungkin lain kali." Alza menolak dengan halus.


"Ah, begitu ya! Apa kalian tidak butuh teman lain?"


Alza melirik Arbi yang tak faham dengan pembicaraan orang dewasa. "Kurasa tidak, Kak. Aku ingin berdua saja dengan Arbi. Maaf sekali ya, Kak."


"Iya, tidak apa. Aku yang salah karena tidak menghubungimu lebih dulu. Baiklah, kalau begitu aku pergi lagi saja."


"Tunggu, Kak! Apa kakak tidak ingin mampir? Untuk menemui kakek mungkin." Alza berusaha baik karena merasa tak enak hati.


"Ah baiklah. Kalian hati-hati ya!"


Alza mengangguk. Ia membuka pintu dan mendudukkan Arbi di kursi depan. Tak lupa Alza memasangkan sabuk pengaman untuk Arbi.


"Aku pergi dulu ya, Kak. Permisi!" Alza menunduk sebentar lalu masuk ke dalam mobil dan melajukannya.


Agasa melambaikan tangan melepas kepergian Alza dan Arbi.


"Hmm, masih begitu sulit untuk mendekatimu Alza. Aku harus bagaimana lagi?" batin Agasa frustrasi.


Karena tak ingin dianggap tak sopan, Agasa terpaksa masuk ke dalam rumah dan menemui Johan lalu berbincang hal ringan dengannya. Mungkin saja Agasa bisa meminta bantuan Johan untuk bisa menaklukan hati Alza.


...***...


Tiba di rumah Tami, wanita itu langsung menyambut kedatangan Alza dan Arbi. Tami terlihat sangat senang setelah mendengar cerita jika Arbi adalah anak Aryan dan Jesly. Tami memeluk dan menciumi Arbi dengan gemas.


"Arbi, ini Oma Tami. Ayo beri salam padanya!" pinta Alza.


"Halo, Oma. Aku Albi."


Tami tersenyum melihat tingkah lucu Arbi. "Ayo masuk! Oma punya banyak mainan untuk Arbi."


Rupanya Tami masih menyimpan mainan milik Aryan dan Falia saat masih kecil dulu. Rasa bersalah membuatnya ingin selalu mengenang kedua anaknya.


"Ibu..." Alza memutar otak untuk mengatakan rencana pernikahan Falia.


"Ada apa, Nak?"


"Maaf jika Falia tidak mengatakannya sendiri pada Ibu. Dia... Dia akan menikah dengan Mas Dennis. Mungkin sekitar satu bulan lagi."


Ada raut kesedihan di wajah Tami. Namun wanita paruh baya itu tetap mengembangkan senyumnya.


"Ibu tahu Falia masih marah pada Ibu. Ibu maklum jika dia tidak memberitahu ibu secara langsung."

__ADS_1


Alza menggenggam tangan Tami. "Ibu harus tetap datang dihari pernikahan Falia nanti."


"Iya, Nak. Tentu ibu akan datang."


"Oh ya, Bu. Dimana kak Aryan? Kenapa tidak kelihatan?"


"Oh, dia sedang di teras belakang. sudah satu minggu dia sibuk dengan komputernya. Dia meminta Falia untuk dibelikan laptop. Ibu tidak tahu apa yang dia kerjakan."


"Aku akan menemuinya. Ibu tolong temani Arbi ya!"


Tami mengangguk. Tentu saja dia senang karena menghabiskan waktu bersama cucunya.


Alza berjalan menyusuri halaman belakang rumah. Sebenarnya rumah Tami tidaklah besar, tapi bisa dikatakan asri karena banyak pepohonan di depan rumah dan belakang rumah. Tami membangun sebuah gazebo di belakang rumah untuk dijadikan tempat bersantai.


Alza melihat sosok Aryan yang sedang sibuk dengan laptopnya.


"Apa yang dia kerjakan? Sepertinya serius sekali." Alza mendekat dan duduk dengan tiba-tiba di samping Aryan.


"Hah?! Kau bermain saham?" Alza menatap layar 14 inch di depannya.


"Hmm, hanya iseng saja. Kapan kamu datang?"


"Barusan saja. Aku bersama Arbi."


"Oooh." Hanya itu yang keluar dari mulut Aryan.


"Wah, kau sangat pandai memainkan ladang saham." Alza menyenggol lengan Aryan. Alza tahu seperti apa kemampuan Aryan dalam berbisnis. Rupanya meski dia lupa ingatan, ternyata kepintarannya tidaklah berkurang.


Alza memperhatikan Aryan yang sedang serius bermain saham. "Aryan! Bagaimana jika kau bekerja di perusahaanku?"


Tiba-tiba saja terlintas sebuah ide di otak Alza.


Alza mengangguk. "Apa kau bersedia?"


Raut wajah Alza yang terlihat sangat antusias membuat Aryan akhirnya mengangguk.


"Boleh juga. Aku juga sudah bosan tinggal di rumah terus menerus."


Alza menatap penampilan Aryan dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Ada apa? Apa ada yang salah denganku?"


"Kau sangat tidak rapi. Aku harus merapikanmu dulu."


Sejak sadar dari koma, Aryan memang tidak memperhatikan penampilannya. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan memanjang. Bahkan kumis dan jambangnya tidak ia cukur.


"Ayo ikut denganku!" Alza menarik tangan Aryan.


"Eh, kita mau kemana?"


"Sudah, ayo ikut saja!"


...***...


Dua jam berada di salon, akhirnya Alza telah selesai mendandani Aryan menjadi sosok yang baru. Rambut rapi, dan wajah yang sudah bersih dari rambut-rambut yang menutupi.


"Ah, sempurna! Mulai sekarang, kau adalah Aryan Aswatama!" Alza menambahkan satu aksesoris untuk Aryan, yaitu sebuah kacamata yang membingkai wajahnya.


"Nah, ini tambah sempurna, Aryan!"

__ADS_1


Aryan menatap penampilan barunya di cermin.


"Apakah ini benar diriku?" Aryan menyentuh wajah tampannya yang bersih.


"Iya. Ini adalah kau, Aryan. Jika kau siap, besok kau bisa mulai bekerja denganku. Kau akan jadi asisten pribadiku!"


Alza menatap Aryan. Entahlah rencana apa yang sedang di susun oleh Alza. Tapi yang jelas, Alza tahu jika Aryan bisa membantunya mengurus perusahaan.


...***...


"Apa kamu yakin, Alza? Kamu akan menjadikan Kak Aryan sebagai asistenmu?"


Falia melongo tak percaya dengan rencana Alza.


"Iya, Fal. Kamu tahu, kemampuan kakakmu itu sungguh luar biasa. Aku tidak mungkin menyiakan kemampuan brilian seperti itu. Ini adalah bisnis, Falia. Kita harus bergerak cepat dan cerdas."


Falia hanya bisa menyetujui apapun rencana Alza. Alza adalah bosnya. Dan Falia hanya bisa mendukung.


Usai berbincang dengan Falia, Alza menuju ke kamar Arbi untuk melihat kondisi putranya. Arbi sudah terlelap karena seharian ini bermain dengan Tami dan juga Aryan.


Alza mengecup kening Arbi lalu keluar dari kamar bocah lelaki itu. Alza bertemu dengan Arnis yang memang berniat menemuinya.


"Sayang, kakek ingin bicara denganmu."


Alza mengerutkan kening. Memang belum terlalu malam untuk mengunjungi kakeknya di kamar. Seharian ini Alza juga sibuk dengan Arbi dan belum menyapa Johan.


Arnis mengantar Alza menuju kamar Johan. Ternyata di dalam kamar sudah ada Sultan disana.


"Kakek, kupikir kakek sudah tidur." Alza duduk di tepi ranjang. Johan sudah duduk bersandar di ranjangnya.


"Nak, ada yang ingin kami bicarakan denganmu." Sultan membuka obrolan.


Alza menatap Johan dan Sultan bergantian. "Ada apa, Kek?"


"Apa kamu yakin ingin mengadopsi Arbi?" tanya Johan.


"Iya, Kek. Aku menyayangi Arbi meski aku tidak melahirkannya."


"Kalau begitu kakek setuju saja. Tapi..."


"Tapi apa, Kek?"


"Jika kau sendiri yang menjadi orang tua tunggal, kakek tidak setuju."


Alza menatap Arnis meminta bantuan.


"Kakekmu benar, Nak. Kurang baik untuk Arbi jika dia hanya memiliki ibu saja, dia juga harus punya ayah. Artinya dia memiliki keluarga lengkap."


Alza kembali menatap Johan. "Kamu harus menikah lagi, Nak."


Alza diam. Saat ini hubungannya dan Argan sedang renggang. Sudah lama mereka tidak bertemu dan menghabiskan waktu bersama.


"Kami berancana menjodohkanmu dengan Agasa," tambah Johan.


"A-apa?! Kak Agasa? Kenapa dia?" protes Alza.


"Dia pria yang baik. Dia juga bisa membantumu mengurus perusahaan."


Alza tak bisa menjawab.

__ADS_1


"Jika kau masih berat dengan kekasihmu itu, maka suruh dia datang kemari dan menghadap kakek. Kakek akan merestui kalian jika dia datang kemari."


__ADS_2