Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 71


__ADS_3

Setelah puas menangis, Alza tertidur di kamar Aryan. Pria itu mengalah dan memberikan tempat tidurnya untuk tempat Alza beristirahat.


Aryan menatap wajah letih Alza. Tekanan batin yang dihadapinya cukup besar. Aryan tahu itu.


Aryan duduk di tepi ranjang dan merapikan rambut yang menutupi wajah Alza. Diusapnya lembut puncak kepala wanita itu.


Setelah lama memandangi wajah damai Alza yang terpejam, Aryan pun keluar kamar lalu merebahkan tubuhnya di sofa. Ia meraih ponselnya dan mengetikkan pesan untuk seseorang.


Alza ada bersamaku, kalian jangan khawatir.


Satu pesan dari Aryan membuat Falia menghela napas lega.


"Pah, Alza ada di tempat Aryan. Dia sudah tidur." Falia memberitahu Sultan dan juga Johan.


"Syukurlah." Arnis menghela napas lega.


Sultan dan Johan saling pandang. Setelahnya Johan mengundang Sultan untuk datang ke kamarnya.


"Ada apa, Pah?" tanya Sultan.


"Menurutmu bagaimana pria bernama Aryan itu?"


"Aku tidak mengenalnya dekat. Tapi melihat kinerjanya, sepertinya dia pria yang baik."


Johan manggut-manggut. "Yah, aku juga merasa begitu. Dia seperti tidak asing bagi kita."


"Semoga saja dia bisa mengobati luka hati Alza karena Argan."


...***...


Keesokan harinya, Alza terbangun setelah tertidur semalaman. Aroma khas maskulin tercium oleh hidungnya meski matanya belum sepenuhnya terbuka.


"Hmmm, rasanya sangat nyaman," gumamnya.


Saat matanya terbuka sempurna, Alza baru sadar jika ia tidak tidur di kamarnya.


"Heh?! Pantas saja wanginya berbeda..."


Alza merunut kejadian kemarin dimana dirinya patah hati karena Argan bertunangan dengan Agatha. Hingga ia berakhir di apartemen Aryan.


"Astaga! Aku sangat ceroboh! Memalukan sekali aku!"


Alza bangkit dari tempat tidur. Kain yang melekat di tubuhnya adalah pakaian kerja yang kemarin dipakainya. Tubuhnya terasa lengket karena kemarin tak sempat membersihkan diri. Alza masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri lebih dulu sebelum keluar kamar.


Setelah mandi, Alza merasa lebih segar. Ia keluar kamar dan menemui Aryan yang ternyata sedang memasak.


"Selamat pagi," sapa Alza.


"Pa...gi..." Aryan tercengang melihat penampilan Alza. Ia memakai kemeja miliknya yang nampak kebesaran di tubuh Alza.


*Ah, maaf. Badanku lengket. Jadi, aku mandi. Tapi, aku tidak punya baju. Maaf ya aku lancang pinjam kemejamu." Alza menunduk malu.


Aryan malah tersenyum. Rasanya lucu melihat Alza malu-malu begitu. Aryan mendekat dan menarik lembut tangan Alza.


"Ayo duduk! Kita sarapan dulu!"


Tanpa bantahan Alza menurut. Ia menatap nasi goreng dengan telor ceplok yang terhidang di meja.


"Semalam kamu tidur dimana?" tanya Alza yang merasa tak enak hati.


"Di sofa."


"Maaf ya."

__ADS_1


"Sudah, Alza. Jangan minta maaf terus. Cepat habiskan sarapanmu!"


Alza mengangguk. Ia mulai menyendok makanan ke mulutnya. Rasanya sangat enak.


"Kenapa? Apa tidak enak?" tanya Aryan yang melihat ekspresi wajah Alza yang berubah.


Alza menggeleng. "Ini sangat enak!"


Alza terharu karena bisa merasakan kembali masakan Arion. Ya, Arion yang dulu di kenalnya. Atau yang ia kenal sebagai Arya.


"Kalau begitu habiskan!"


Alza mengangguk lagi. Dengan cepat ia habiskan makanan hingga tandas. Lalu meneguk segelas air putih yang tersedia.


"Ahhh, terima kasih, Aryan. Rasanya aku sedikit lupa jika kemarin aku baru saja patah hati..." Alza mengulas senyumnya.


Tangan Aryan terulur lalu mengelap bekas makanan di bibir Alza.


"Kamu itu selalu saja ceroboh!" ucapnya.


Setelah sarapan, Alza menuju ke balkon apartemen. Di sana ia lihat hiruk pikuk kota di akhir pekan. Beruntung hari ini adalah hari libur. Alza masih bisa bersantai di hari ini.


"Aku sudah meminta Falia untuk membawakan pakaian ganti untukmu. Setelah ini kamu bisa pulang dan istirahat. Bukannya aku mengusirmu, tapi... Keluargamu pasti sangat khawatir. Maaf jika semalam aku memberitahu Falia kamu ada disini."


Alza menoleh dan menatap pria yang berdiri di sampingnya.


"Aku yang harusnya minta maaf. Aku sudah sebesar ini tapi masih cengeng seperti anak ABG yang putus cinta. Terima kasih karena sudah menerima kedatanganku semalam."


Aryan meletakkan jari telunjuknya di bibir Alza. "Jangan bicara begitu. Aku senang kamu datang kemari dan tidak ke tempat lain. Lain kali katakan apa yang menjadi kegelisahanmu padamu. Aku akan selalu ada untuk membantumu."


Mata Alza kembali menghangat. Sosok Aryan sekarang sungguhlah berbeda dengan yang dulu. Apakah ini sebuah awal yang baru untuk mereka? Dulu Alza begitu membencinya. Dulu Alza begitu menderita karena apa yang dilakukan Aryan di masa lalu. Menyakiti tak hanya fisik tapi juga batinnya. Apakah semesta memberi mereka kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya?


Alza memeluk Aryan. Tangisnya kembali pecah. Dulu ia sangat butuh sosok Aryan yang begini, tapi ia tak menemukan sosok ini padanya.


...***...


Hari pernikahan Falia dan Dennis akhirnya tiba. Sebuah pesta yang cukup besar di gelar di sebuah ballroom hotel mewah.


Alunan musik beat mengalun dan membuat para tamu undangan berdansa dengan kaki yang menghentak. Alza duduk di sebuah meja bersama dengan keluarganya. Namun satu persatu mereka menemui rekan bisnis yang datang.


"Alza! Mau berdansa denganku?" Sebuah tangan terulur. Membuat Alza mendongak melihat siapa pemilik tangan kokoh itu.


"Aryan? Kamu bercanda? Aku tidak bisa berdansa!" tolak Alza yang kembali meneguk minuman di meja.


"Ayolah! Musiknya asyik! Kita bergerak sesuka hati saja!" Aryan mengerlingkan matanya.


"Haaah! Baiklah." Alza bangkit dan mengikuti langkah Aryan.


"Ayo bergerak! Sesukamu saja!"


Karena musiknya juga sedikit cepat, akhirnya Alza mau menggoyang tubuhnya ke kanan dan kiri. Tidak tahu gerakan apa yang dibuatnya. Sedikit absurd tapi bisa membuatnya melepas penat.


Alza tertawa riang bersama Aryan. "Nah, lihat kan! Mudah kan?"


Alza mengangguk. Tubuhnya terus bergerak bersama Aryan. Canda tawa juga menghiasi wajah mereka.


"Alza!"


Sebuah panggilan membuat Alza menoleh malas. Itu adalah Agasa.


AlzA membisikkan sesuatu ke telinga Aryan. Aryan mengangguk paham. Dengan saling menautkan tangan mereka berjalan membelah tubuh orang-orang yang masih asyik berdansa.


"Alza!" Agasa geram karena Alza malah menjauhinya.

__ADS_1


Alza berlari kecil bersama Aryan karena Agasa terus saja mengejarnya.


"Bawa aku pergi dari sini, Aryan!" ucap Alza di sela deru napas yang terengah karena berlari.


Aryan membawa Alza masuk ke sebuah ruangan yang sepertinya sebuah pantry. Agasa kehilangan jejak mereka.


Di dalam ruangan, Alza dan Aryan mengatur napasnya.


"Kenapa dia terus mengejar kita sih?" kesal Alza.


"Hahaha, dia itu tidak kenal menyerah."


Setelah napas mereka teratur. Mereka malah tertawa bersama.


"Aryan, bawa aku pergi!"


"Kemana?"


Alza mengedikkan bahunya. "Entahlah. Kemana saja yang tidak ada Agasa disana."


"Kamu yakin ingin pergi denganku? Pestanya belum usai."


"Iya, aku yakin!" Alza mendekat. Hingga tubuhnya tak berjarak dengan Aryan.


"Alza, jangan memancingku!"


"Kenapa?" Alza menatap manik tegas dan tajam yang dulu dimiliki Aryan. Sekarang tatapan mata itu berubah jadi hangat. Dan Alza suka.


"Karena..." Aryan menggantung kalimatnya. Tangannya terulur menyentuh tengkuk Alza. Wajahnya maju dan bibirnya tepat mengarah di telinga Alza.


"Karena aku tidak akan melepaskanmu malam ini, Alza..."


Entah siapa yang lebih dulu memulai, kini bibir mereka telah saling beradu dan menyecap rasa satu sama lain. Alza yang rapuh, dan Aryan yang menerimanya.


Suara decapan yang nyaring terdengar merdu di ruangan sempit tempat mereka bersembunyi. Tangan Alza melingkar erat di leher Aryan, dan sesekali jemarinya meremat rambut Aryan lembut. Alza merasakan sebuah letupan dari sentuhan Aryan.


Aryan sendiri tidak tahu harus bagaimana menggambarkan perasaannya terhadap Alza. Ia hanya ingin melindungi wanita ini. Wanita yang ia lihat rapuh perasaannya karena seorang pria. Aryan memeluk tubuh Alza erat seakan tak ingin melepasnya.


Hingga mereka terpaksa mengakhiri pertautan bibir karena harus mengisi oksigen lebih dulu. Napas yang memburu membuat mereka saling pandang.


"Aryan..." Alza menarik diri.


"Maafkan aku, Alza."


"Jangan meminta maaf. Aku juga salah." Alza menundukkan wajahnya.


Aryan menangkup wajah Alza dan mengusap bibir Alza yang tadi diraihnya dengan penuh damba.


"Kita kembali ke pesta saja ya!"


Alza menggeleng. "Tidak mau! Aku tidak mau bertemu dengan Agasa."


"Baiklah! Kita pulang ke apartemenku saja."


Sebuah senyum terbit di bibir Alza. Sekali lagi Aryan mengecup singkat bibir Alza.


"Maaf..." Lagi, Aryan melakukannya.


"Maaf..."


"Kenapa minta maaf?" Alza bingung.


Aryan tak menjawab dan kembali meraih bibir mungil yang seakan memiliki magnet itu. Masih terkejut dengan perlakuan Aryan, tapi akhirnya Alza membalas sapuan bibir Aryan di bibirnya. Selama beberapa saat, mereka menikmati rasa satu sama lain meski belum ada kata yang terungkap...

__ADS_1


...***...


__ADS_2