Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 40


__ADS_3

𝘿𝙪𝙖 𝙩𝙖𝙝𝙪𝙣 𝙠𝙚𝙢𝙪𝙙𝙞𝙖𝙣...


Alza mematut dirinya di depan cermin besar yang ada di kamarnya. Gaun hitam yang melekat pas di tubuhnya, membuat penampilan Alza semakin menawan.


𝙏𝙞𝙣𝙜 𝙩𝙤𝙣𝙜


Bunyi bel membuat Alza harus segera bergegas dan menemui sang tamu istimewa yang tidak lain dan tidak bukan adalah Argan. Pria itu berdiri tegap dengan balutan jas yang berwarna senada dengan Alza.


"Sudah siap?" tanya Argan sambil mengulas senyumnya seperti biasa.


"Sudah, Bang. Ayo berangkat!" Alza menutup pintu apartemen lalu berjalan beriringan bersama Argan. Tangan kanannya melingkar cantik di lengan Argan.


"Kamu cantik sekali malam ini," bisik Argan di telinga Alza.


Alza tersipu malu. "Makasih, Bang. Abang juga sangat tampan malam ini."


Mereka memasuki lift yang akan membawa mereka ke tempat parkir basement dimana mobil Argan berada.


Dua tahun bukanlah waktu yang singkat bagi Alza untuk memulai kehidupannya kembali. Dengan bantuan yang diberikan Argan, membuat Alza kini jadi wanita karir yang hebat di Grup DS. Alza kini menjabat sebagai direktur pemasaran di Grup DS.


Alza masih tinggal di apartemen Argan karena pria itu yang selalu mencegah Alza untuk pindah. Alza menurut. Baginya, ini seperti membalas kebaikan yang selama ini Argan berikan padanya.


Malam ini adalah malam penting bagi para pengusaha muda di kota B. Karena malam ini akan diumumkan siapakah pengusaha muda tersukses di Kota B tahun ini.


Tahun kemarin masih diraih oleh Nusantara Grup yang dipimpin oleh Arion. Namun tahun ini, masih belum bisa dipastikan siapa yang akan menjadi pemenangnya.


Gemuruh lantunan musik di ballroom hotel Z itu akan menjadi saksi untuk pemenang malam ini. Banyak orang yang menatap takjub saat pasangan Argan dan Alza mulai memasuki ruangan.


Argan menyapa ramah beberapa kolega bisnisnya.


"Saya yakin tahun ini adalah tahunnya Tuan Argan," celetuk seorang pria paruh baya kolega Argan.


Argan hanya tertawa kecil menanggapi ucapan pria itu.


"Ah, bapak bisa saja. Saya masih kalah jauh dengan bapak."


"Lho, saya ini bicara fakta kok. Tahun ini Nusantara Grup mulai mengalami goncangan. Bisnisnya tak semulus dulu lagi. Ya mungkin karena Tuan Johan sudah pensiun, dan kini digantikan oleh Tuan Arion. Tapi tangan dingin Tuan Arion tetap tidak bisa menandingi tangan dingin Tuan Johan dalam berbisnis."


Argan melirik Alza yang menanggapi obrolan dengan senyuman. Argan tahu jika hati Alza masih belum baik-baik saja. Buktinya Alza selalu menolak jika dirinya meminta Alza untuk menikah. Trauma Alza akan sebuah pernikahan, nyatanya masih terus mengikuti.


"Alza, kita duduk disana yuk! Mari Pak, saya kesana dulu!"


"Oh, silakan silakan!"


Argan menarik kursi dan mempersilakan Alza duduk. "Terima kasih banyak, Bang..."


"Sama-sama, Sayang..."


Perlakuan manis Argan tentunya jadi perhatian tersendiri untuk para wanita yang juga hadir disana. Mereka merasa iri saat melihat romantisnya sikap Argan terhadap Alza.


Begitulah Argan. Ia selalu ingin menunjukkan pada dunia jika Alza adalah miliknya. Meski yang sebenarnya tidaklah begitu.


Sayup-sayup orang berbisik makin kentara ketika sosok Arion dan Jesly memasuki ruangan. Argan lagi dan lagi melirik Alza yang duduk tenang di sampingnya.


Arion dan Jesly menjadi pasangan yang diidolakan oleh khalayak karena dinilai sangat cocok. Mereka berdua saling mendukung dalam karir masing-masing. Begitulah yang orang-orang tahu.


Entah kebetulan atau tidak, meja yang akan ditempati Arion dan Jesly bersebelahan dengan meja milik Argan dan Alza. Jesly melirik sekilas sosok mantan istri Arion yang malam ini tampil sangat mempesona.


Ya, Alza sudah banyak berubah. Kehidupan mewah yang disupport oleh Argan membuatnya kini jadi wanita kelas atas juga. Sama seperti dulu saat masih bersama keluarga Pratama.


Arion juga sempat melirik Alza. Sungguh ia merasa lega karena kini Alza hidup bahagia bersama Argan.


"Sayang, kamu mau minum?" Dengan gaya manjanya Jesly sengaja mengeraskan suaranya agar Alza mendengar.

__ADS_1


Alza tak peduli. Alza menulikan pendengaran. Baginya dua pengkhianat di samping mejanya tak ayal bagai makhluk kasat mata yang terlihat oleh netranya.


Alza tersentak ketika tangan Argan tiba-tiba menggenggamnya. "Aku sangat gugup. Apa aku bisa berhasil tahun ini?"


Alza mengulas senyum mendengar pertanyaan Argan. Alza melepas genggaman tangan Argan lalu tangannya mengusap pelan lengan Argan.


"Aku yakin Abang pasti berhasil. Abang sudah bekerja keras selama ini..."


Meski hanya kalimat sederhana, tapi entah kenapa mendengar Alza yang mengatakannya, membuat Argan bersemangat.


"Iya, sayang. Ini semua berkat kamu!"


Dan terdengarlah suara si pembawa acara yang akan membacakan nominasi para pengusaha muda sukses tahun ini.


"𝘗𝘦𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩... 𝘈𝘺𝘰 𝘵𝘦𝘣𝘢𝘬 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘉𝘶𝘴𝘴𝘪𝘯𝘦𝘴𝘴𝘮𝘢𝘯 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘠𝘦𝘢𝘳 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘪?"


Para tamu yang hadir berbisik-bisik menyuarakan nama yang akan menang malam ini. Ada yang menyebut Arion, ada juga yang menyebut Argan.


"𝘈𝘳𝘨𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘋𝘦𝘸𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢!"


Nama itu menggema di tiap sudut ruangan hotel. Argan nampak tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh si pembawa acara.


"𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘨𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘋𝘦𝘸𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢, 𝘴𝘪𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘫𝘶 𝘬𝘦 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯!"


Alza menatap Argan yang malah diam mematung. "Abang! Abang menang, Bang!"


Alza menyadarkan lamunan Argan.


"Eh? Benarkah itu?"


Alza mengangguk. "Sana maju!"


Argan tersenyum sumringah. Lalu mengecup kening Alza sekilas sebelum akhirnya maju ke depan podium untuk menerima penghargaan.


Tentu saja perlakuan Argan pada Alza tak luput dari jepretan kamera para pemburu berita yang pastinya menunggu momen yang bisa saja jadi viral. Sementara di meja sebelah, Arion tampak mengepalkan tangannya karena kali ini kalah dari Argan.


"Tidak apa. Kamu masih punya kesempatan tahun depan. Oke?"


Arion tak menjawab. Ia malah sibuk memperhatikan raut wajah sumringah Alza yang bertepuk tangan saat Argan memberikan sedikit pidato di podium.


"𝘼𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙗𝙖𝙝𝙖𝙜𝙞𝙖, 𝘼𝙡𝙯𝙖. 𝙎𝙚𝙢𝙤𝙜𝙖 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝘼𝙧𝙜𝙖𝙣 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙟𝙤𝙙𝙤𝙝 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠𝙢𝙪..."


...***...


Pesta malam ini telah usai. Kini Argan dalam perjalanan menuju ke apartemen Argan yang ditempati Alza. Sepanjang perjalanan, Argan terus mengucap syukur dan terima kasih pada Alza karena sudah mendampinginya selama dua tahun ini. Atau mungkin Alza yang sebenarnya bersyukur karena bisa hidup dengan baik berkat Argan.


"Abang mau mampir?" Pertanyaan Alza tentu saja disambut baik oleh Argan.


Pria itu masih ingin menghabiskan malam bersama Alza. Mungkin akan melamarnya, lagi. Argan bahkan tak kapok meski selalu ditolak.


"Abang mau minum teh?"


Argan mengangguk. Secangkir teh hangat lalu mengobrol bersama Alza adalah kebiasaan Argan selama dua tahun ini.


Alza menyiapkan teh di dapur sementara Argan duduk di sofa dan menonton berita di televisi. Rupanya ada stasiun TV lokal yang melakukan live report acara tadi.


Argan tersenyum senang ketika melihat adegan namanya dipanggil dalam acara tadi. Dalam hati Argan bersorak kencang, 𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙡𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝘼𝙧𝙞𝙤𝙣 𝙉𝙪𝙨𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙟𝙪𝙜𝙖.


"Ini tehnya, Bang..."


Alza meletakkan secangkir teh di depan Argan.


"Makasih, sayang. Duduk sini!" Argan meneouk sofa disebelahnya. Alza menurut dan duduk.

__ADS_1


"Malam ini aku sangat bahagia." Argan duduk menyamping dan menatap Alza lekat.


"Selamat ya, Bang. Akhirnya kerja keras Abang terbayar juga."


"Ini semua berkat kamu, Alza. Kamu adalah semangat untukku."


Argan menggenggam kedua tangan Alza dan merematnya lembut.


"Menikahlah denganku, Alza... Kehidupanku akan lebih sempurna jika aku bisa memiliki kamu."


Alza tertegun. Sudah berapa kali Alza menolak pernyataan cinta Argan. Dan malam ini akan jadi kesekian kalinya.


"Apa dua tahun masih belum cukup untuk mengobati luka dihati kamu? Apa aku belum pantas untuk bersanding dengan kamu?"


Alza menggeleng. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴, 𝘉𝘢𝘯𝘨. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘢𝘨𝘢𝘭 𝘥𝘶𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩𝘢𝘯.


"Aku sayang sama Abang. Seperti aku menyayangi kakakku sendiri." Alza berucap lirih.


"Tapi aku tidak pernah menganggap kamu sebagai adikku, Za. Perasaan aku adalah perasaan seorang pria terhadap wanita. Kapan kamu mau buka hati kamu?"


𝘌𝘯𝘵𝘢𝘩𝘭𝘢𝘩, 𝘉𝘢𝘯𝘨. 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪.


Bungkamnya Alza membuat Argan beranjak dari sofa dan menuju balkon. Alza terhenyak lalu mengikuti langkah Argan.


Alza tahu Argan kecewa padanya. Argan pasti kesal karena selalu ditolak oleh Alza. Mungkin bagi sebagian orang, Alza tipe wanita yang sok jual mahal. Karena berani menolak pesona seorang Argantara Dewangga.


"Bang..." Lirih Alza memanggil Argan.


Argan tak menyahut. Ia sibuk menatap langit malam dari atas gedung apartemen.


"Beri aku waktu untuk menjawab..."


Argan lalu menoleh. "Berapa lama?" Suara Argan terdengar dingin. Apa ini disebut pemaksaan? Argan merasa tidak. Ia hanya bertanya, begitu menurutnya.


Alza terdiam sejenak. Lalu menjawab, "Satu minggu..."


Argan mengernyit. "Tiga hari!"


"Eh?!"


"Aku memberimu waktu tiga hari. Jika kamu masih tidak bisa menjawabnya, maka..."


Argan sengaja menjeda kalimatnya.


"Maka apa, Bang?" Alza harap-harap cemas mendengar lanjutan kalimat Argan.


𝘿𝙧𝙧𝙧𝙩 𝘿𝙧𝙧𝙧𝙩𝙩𝙩 𝘿𝙧𝙧𝙧𝙩𝙩𝙩𝙩


Getaran ponsel Argan mengharuskan pria itu untuk menjawabnya lebih dulu.


"Halo, Oma..."


"........."


"Iya, Oma. Aku akan pulang sekarang!"


Argan mematikan sambungan telepon. Ia menatap Alza yang nampak cemas karena gantungan kalimatnya tadi.


"Maka aku... Akan tetap menunggumu..."


Argan menarik tubuh Alza mendekat lalu mendaratkan sebuah kecupan manis di kening Alza.


"Selamat malam, Alza..."

__ADS_1


Alza menatap kepergian Argan dari apartemennya.


𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘉𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘳𝘨𝘢𝘯? 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘱𝘰𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢. 𝘉𝘢𝘪𝘬𝘭𝘢𝘩, 𝘉𝘢𝘯𝘨. 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪...


__ADS_2