Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 57


__ADS_3

Agasa duduk bersama dengan ayahnya, Erlan Nusantara. Erlan masih tak percaya jika Johan tidak mempercayakan sedikitpun kepada putranya yang sudah banyak membantu mengembangkan Nusantara Grup.


Sebenarnya dulu Johan dan Jehan, ayah Erlan, diberikan kepercayaan untuk mengelola perusahaan masing-masing oleh ayah mereka, Jaelany Nusantara. Namun Jehan tidak berhasil mengelola dengan baik usaha yang diwariskan kepadanya, hingga mengalami banyak hutang dan bangkrut.


Berbeda dengan Johan yang ulet dalam bekerja dan berusaha mengembangkan perusahaan hingga sebesar ini. Jehan iri dengan keberhasilan yang diraih Johan dan berusaha menghancurkan perusahaan. Namun usahanya tidak pernah berhasil.


Jehan yang telah meninggal memberikan wasiat pada Erlan dan keturunannya untuk dapat masuk ke dalam perusahaan dan menghancurkan kesuksesan Johan. Erlan pikir jika putranya, Agasa, akan dipilih untuk menjadi pewaris selanjutnya. Namun sayang, ternyata Johan memilih untuk mengadopsi Arion yang ditunjuk sebagai tangan kanannya.


Kali ini Erlan tak akan tinggal diam lagi. Setelah cucu kandung Johan ditemukan, cara licik lain akan dilakukan Erlan untuk menghancurkan klan Johan Nusantara, yaitu melalui Alzarin.


"Kudengar Om Johan hampir saja terbunuh, apa itu benar?"


"Tidak, Pah. Rencana itu digagalkan oleh Alzarin."


"Hmm, gadis itu sungguh menarik. Aga, kau harus mendekati dia dan mengambil hatinya. Jika kau berhasil mendapatkan dia, maka harta kekayaan Johan bisa kita kuasai."


Agasa menyeringai. "Papah tenang saja. Sampai kapanpun Kakek Johan tidak akan merestui hubungan Alza dengan Argan. Itu artinya, Kakek Johan akan mencari calon suami lain untuk Alza."


Erlan tersenyum senang. "Bagus! Lanjutkan rencanamu, Nak!"


Ponsel Agasa bergetar. Sebuah nomor tak dikenal memanggil.


"Sebentar, Pah. Aku angkat telepon dulu. Siapa tahu penting!"


Agasa beranjak dari duduknya dan menjauh dari Erlan.


"Halo, siapa ini?"


"Agasa! Kamu harus membantuku!"


"Siapa kau?"


"Ini aku, Jesly!"


Agasa menghela napas. "Kau mau apa? Kau tidak berhasil membunuh kakek Johan dan kau meminta tolong padaku? Enak saja!"


"Apa katamu?! Aku jadi buronan sekarang! Ini semua karenamu dan Arion."


"Hei, jangan asal bicara. Kau sendiri yang ingin menghabisi kakek Johan, kenapa menyalahkanku?"


"Ini kan ide darimu! Jangan cuci tangan ya! Aku bisa menyeretmu juga ke penjara jika terjadi sesuatu denganku!" ancam Jesly.

__ADS_1


"Wow! Berani sekali kau! Dengar, Jesly. Sekarang kau pergilah yang jauh dari kota ini. Aku akan memberikan uang untukmu hidup. Jika polisi menemukanmu, maka habislah kita. Kau mengerti?"


"Nah begitu kan lebih baik. Awas saja jika kau lari dari tanggung jawab." Jesly menyudahi panggilan telepon.


"Sial! Perempuan ini ternyata tak bisa dianggap remeh. Apa sebaiknya aku lenyapkan saja dia? Sekarang sudah tidak ada Arion. Jika Jesly juga tidak ada... Maka aku bisa bebas dari segala tuduhan. Karena polisi akan mengira jika Jesly yang sudah membuat Arion celaka."


...***...


Masih belum ada kabar mengenai pencarian Arion. Bahkan kini Jesly juga ikut menghilang. Anak buah Argan sedang mencari keberadaan Jesly yang harus bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa Arion.


Alza yang sedang melamun di kamarnya, dikejutkan dengan suara tangis Arbi yang tak kunjung henti. Naluri seorang ibu menuntun Alza untuk menuju ke kamar Arbi.


"Arbi sayang, sudah dong jangan menangis terus. Sini gendong tante ya!" Alza mengambil alih Arbi dari gendongan Ani.


"Dari tadi Den Arbi nangis terus, Non. Apa mungkin kangen sama mama dan papanya ya!"


Ucapan Ani membuat Alza terenyuh. Ya, balita gembul ini pasti merindukan kedua orang tuanya. Meski jarang bersama, tapi Arbi pasti bisa merasakan kerinduan pada Arion dan Jesly. Ikatan batin orang tua dan anak akan tetap terjalin meski terpisah jauh.


Dalam gendongan Alza, tangis Arbi mulai reda. Mungkin sudah terlalu lelah. Alza dengan telaten mengurus Arbi hingga bocah itu terlelap.


Diusapnya pelan puncak kepala Arbi. Alza berharap jika Arion baik-baik saja meski itu mustahil. Kecelakaan yang dialaminya cukup parah. Tapi selama jasadnya belum ditemukan, Alza percaya jika Arion masih hidup.


"Malang sekali nasibmu, Nak. Semoga saja papamu baik-baik saja. Selama belum ada jasadnya, aku tidak akan percaya jika kak Arion sudah meninggal."


...***...


Alza yang tak terima meminta Agasa untuk datang ke rumah dan menjelaskan semuanya.


"Apa maksud kak Aga melakukan prosesi pemakaman kak Arion? Jasadnya saja belum ditemukan, kenapa melakukan pemakaman? Lalu apa yang kak Aga kuburkan? Peti kosong?"


Agasa masih terlihat tenang meski Alza sudah meledak-ledak.


"Alza, aku melakukan ini atas perintah kakek Johan. Sudah dua minggu Arion menghilang dan tak ditemukan dimanapun. Mobilnya tercebur ke jurang, Alza. Apa kau pikir dia bisa selamat? Dari pada bersedih dengan apa yang tidak pasti, lebih baik kita menghormati arwah Arion dan mendoakannya."


Alza diam. Ia tak mungkin membalas jika Arion masih hidup. Karena buktinya memang tak bisa ditemukan jasad apapun di jurang itu.


"Alza, papa rasa apa yang dikatakan Agasa ada benarnya juga. Publik akan terus bertanya tentang status Arion. Lebih baik memberitakannya telah meninggal dunia, dari pada diberitakan hilang tanpa kabar." Sultan mengusap punggung Alza.


Alza melirik Falia yang juga diam saja. Jika Alza mengiyakan pernyataan Agasa, itu sama saja Alza juga setuju jika Arion telah meninggal. Alza tak ingin Falia bertambah sedih.


...***...

__ADS_1


Satu bulan telah berlalu. Johan telah kembali pulang ke rumah. Meski masih sedih dengan kematian Arion, tapi Johan berusaha menutupinya.


Bagi Johan, Arion adalah sosok yang mirip dirinya ketika muda dulu. Penuh ambisi dan kerja keras untuk mencapai tujuannya. Johan kehilangan Arion. Namun hidup harus terus berjalan.


Kehidupan Arbi juga mulai berubah. Alza memilih untuk mengasuh Arbi meski awalnya Johan menolak. Arbi tak ada hubungan darah sama sekali dengan keluarga Nusantara. Ditambah jika mengingat apa yang dilakukan Jesly pada Johan dan Arion. Rasanya Johan amat marah jika mengingat hal itu.


Malam itu, Alza baru saja pulang dari kantor. Ani menghampiri Alza dengan wajah panik.


"Non Alza! Den Arbi, Non..."


"Arbi kenapa, Mbak?" Alza ikut panik melihat wajah cemas Ani.


"Den Arbi badannya panas. Sepertinya dia demam."


"Ya Tuhan! Kenapa kamu nggak telepon saya, Mbak?"


Alza berjalan cepat menuju kamar Arbi.


"Maaf, Non. Saya takut ganggu kerjaan Non Alza."


Alza memeriksa kondisi Arbi. "Mbak, ikut saya! Kita harus bawa Arbi ke rumah sakit sekarang!"


Alza menemui Arnis dan meminta izin padanya. Alza harus menolong Arbi meski Arbi bukanlah darah dagingnya.


"Ya sudah, kamu hati-hati ya! Kamu kabari juga Argan biar dia bisa bantu kamu."


Alza mengangguk. Hanya Arnis saja yang tahu jika Alza masih berhubungan dengan Argan.


Alza menyetir secepat yang ia bisa menuju ke rumah sakit terdekat. Alza tak ingin terjadi sesuatu pada Arbi.


Tiba di rumah sakit, Alza meminta dokter untuk menangani Arbi. Dengan sigap dokter dan perawat memeriksa kondisi Arbi.


Setelah memastikan Arbi ditangani dengan baik, Alza dan Ani duduk di ruang tunggu. Alza mengetikkan sesuatu di layar ponselnya. Pastinya ia menghubungi Argan.


Saat sedang mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling area rumah sakit, tak sengaja Alza menangkap siluet sosok Falia dan Dennis yang berjalan tergesa-gesa bersama seorang dokter.


"Falia dan Mas Dennis? Apa yang mereka lakukan disini?"


Alza beranjak dari duduknya dan mengikuti Falia dan Dennis. Alza ingin menyapa mereka, tapi langkahnya terhenti ketika mendengar kalimat Falia.


"Cepat, Dok! Kondisinya memburuk! Dokter harus segera memeriksanya!"

__ADS_1


Dia? Dia siapa yang Falia maksud? Apakah mungkin...?


__ADS_2