Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 66


__ADS_3

𝙍𝙚𝙨𝙩𝙤 𝙓𝙔𝙕


Dua orang yang berbeda jenis kelamin itu kini sedang duduk berhadapan. Masih belum terlontar satu kata pun dari bibir mereka berdua.


Alza menatap tajam ke arah Argan. Namun pria itu menatap dengan tatapan sayunya.


Alza menghela napas sebelum akhirnya dia bicara.


"Kenapa diam saja?" tanya Alza masih dengan sorot tajamnya.


"Kau sendiri juga diam," balas Argan.


"Bukankah abang yang harusnya bicara?"


"Iya, kau benar. Tidak adakah yang ingin kau tanyakan?"


"Tidak ada. Jelaskan saja!"


Argan menundukkan wajahnya. "Maafkan aku, Alza..."


Alza memejamkan matanya. Hanya kalimat itukah yang bisa Argan katakan setelah terdiam selama 30 menit?


"Kurasa kita tidak bisa melanjutkan hubungan kita..."


Alza tidak menjawab. Ia cukup sadar diri jika kalimat Argan sudah mewakili semua keingintahuannya selama ini.


Usai bertemu Argan, Alza langsung pulang ke rumah. Malam sudah menunjukkan pukul sembilan. Alza berjalan gontai menuju ke kamar Arbi. Hanya bocah kecil itu yang mampu membuat hati Alza tenang. Hanya dengan memandang wajah gembulnya.


Alza berpapasan dengan Ani yang baru keluar dari kamar Arbi.


"Eh, Non Alza."


"Apa Arbi sudah tidur, Mbak?"


"Sudah, Non. Baru saja."


"Terima kasih untuk hari ini, Mbak. Mbak Ani boleh istirahat."


"Baik, Non. Saya permisi!"


Alza masuk ke dalam kamar Arbi dan duduk di tepi ranjang. Alza membelai rambut Arbi.


"Cuma kamu yang bisa membuat mama tenang, Nak." Alza mengecup pipi gembul Arbi. Alza naik ke atas tempat tidur lalu ikut terpejam bersama Arbi.


...***...


"Selamat pagi, Nona Alza." Aryan dengan senyuman khasnya menyapa Alza.


"Pagi juga..." Alza berjalan melewati Aryan.


"Ada apa? Kenapa tidak bersemangat?"


"Tidak ada apa-apa."


Aryan berjalan mensejajari Alza. "Patah hati sih boleh-boleh saja. Tapi jangan terlalu lama. Hidup harus terus berjalan."


Alza menghentikan langkah dan mendelik kearah Aryan. "Apa kau bilang?"


Sosok Aryan sungguhlah berbeda dengan Arion. Sosok yang sekarang lebih terlihat santai tapi bisa juga serius. Namun sosok Arion dulu sangatlah kaku dan dingin.


"Apa yang kukatakan itu benar!"


"Dari mana kau tahu aku sedang patah hati?"


"Itu...!" Aryan menunjuk layar televisi yang sedang menayangkan berita tentang kabar pertunangan Argan dan Agatha.


Alza mematung sejenak menatap layar TV itu. Bagaimana bisa semua ini harus kembali dihadapi Alza? Pria yang menunggunya selama dua tahun, ternyata juga bukan jodohnya.


"Haaaaahhh!" Alza menghembuskan napas kasar.

__ADS_1


"Ayo kita ke ruang kerja! Banyak pekerjaan yang harus kukerjakan!"


Aryan tersenyum melihat Alza yang berpura-pura tegar.


...***...


Agasa sedang merasa diatas awan ketika Alza sudah mendengar kabar tentang pertunangan Argan dan Agatha. Sudah bisa dipastikan jika Alza sudah putus hubungan dengan Argan. Kini Agasa memiliki kesempatan untuk bisa mendapatkan Alza.


Dengan percaya diri Agasa mendatangi ruangan Alza. Namun sayangnya ia dihentikan oleh Aryan.


"Nona Alza sedang sibuk, dia tidak bisa diganggu!"


Agasa menyeringai. "Aku tidak butuh persetujuanmu untuk bertemu Alza. Kau harus ingat posisimu disini!"


Agasa mendorong tubuh Aryan.


"Aku ingat siapa posisiku! Dan aku yang memastikan apakah Nona Alza perlu bertemu dengan orang sepertimu atau tidak!"


"Kurang ajar! Berani sekali kau!" Agasa ingin melayangkan tinjunya, tapi secara tiba-tiba pintu ruangan Alza terbuka.


"Aryan! Kak Aga! Ada apa ini?"


Agasa langsung menurunkan tangannya. "Alza, aku ingin masuk ke ruanganmu tapi dihalangi oleh pria ini!"


"Ada masalah apa? Jika ini masalah pribadi, maka aku tidak berminat membicarakannya!"


Agasa melirik Aryan. "Kita bicara di dalam saja!" Agasa melewati tubuh Aryan dan masuk ke dalam ruangan Alza.


Tanpa diminta, Agasa langsung duduk di sofa.


"Alza, apa kau tidak merasa jika... Asistenmu itu terlalu berlebihan? Dia itu mengaturmu bahkan untuk hal sepele."


"Biarkan saja, Kak. Lagi pula dia itu kan asistenku. Sekarang katakan, ada apa kakak mencariku?"


Agasa menyerahkan sebuah berkas pada Alza. "Aku merencanakan sebuah produk baru untuk perusahaan kita. Coba kau lihat dulu!"


Alza duduk disamping Agasa. Ia mengambil map yang ada di meja dan membacanya.


Alza menunjuk pada angka jumlah anggaran yang diminta Agasa.


"Kenapa dengan itu?" tanya Agasa bingung.


"Ini terlalu besar, Kak. Aku akan hitung dulu bersama Aryan."


"Aryan? Apa kau sudah tidak waras? Dia itu hanya asistenmu!"


Alza merasa geram dengan sikap angkuh Agasa. "Dia memang asistenku, tapi otaknya lebih brilian dari pada otak kakak! Sekarang kakak keluar!" usir Alza.


"Apa?! Kau mengusirku?"


"Benar! Aku mengusir kakak! Aku mohon kakak keluar!" Alza sudah jengah berdebat dengan Agasa.


Dengan tangan terkepal, akhirnya Agasa mengalah dan memilih keluar dari ruangan Alza. Di luar, Agasa kembali bertemu dengan Aryan.


Aryan menahan tawa ketika Agasa berjalan melewatinya.


"Bukankah sudah kubilang, jika Alza sedang sibuk dan tidak bisa diganggu. Sekarang kau malah diusir olehnya." Aryan menggeleng pelan lalu masuk ke ruangan Alza.


Agasa sangat kesal saat ini. Untuk bekerja rasanya otaknya tak mampu fokus.


"Brengsek mereka berdua!" umpatnya.


"Tapi, kenapa aku merasa seperti tidak asing dengan sosok Aryan? Seperti pernah mengenalnya..." Agasa mengusap dagunya sambil berpikir.


...***...


Setelah insiden dengan Agasa beberapa waktu lalu, kini Aryan mulai menyelidiki tentang sosok Agasa yang dinilainya ingin berbuat jahat pada Alza dan keluarganya. Rupanya kemampuan Aryan tak hanya bermain saham saja, ia juga menguasai teknik hack komputer yang entah dari mana didapatnya. Setelah kecelakaan hari itu, Aryan seakan mendapat sosok baru dalam tubuhnya.


"Apa yang ingin kau tunjukkan padaku?"

__ADS_1


Aryan meminta Alza datang ke ruangannya. Sangat aneh ketika seorang asisten meminta bosnya untuk datang, tapi Alza menurut saja.


"Kau harus mengetahui ini." Aryan mengarahkan layar kepada Alza.


"Apa ini?"


"Maafkan aku, Alza. Aku sengaja meretas komputer milik Agasa. Dan ya, aku menemukan ini."


Alza menutup mulutnya. Sungguh ia tak mengira jika selama ini Agasa banyak melakukan kecurangan di perusahaan.


"Bagaimana mungkin?" Alza menatap Aryan.


"Dia memegang kendali penuh di keuangan sebelum kau ada disini. Tentu saja dia bisa melakukan itu."


Alza tertegun mendapati kenyataan ini.


"Tapi kenapa kakek tidak mengendus kecurangan yang dilakukan kak Aga? Kakekku adalah orang yang sangat teliti, Aryan. Kau bahkan tahu itu."


"Aku?!" Aryan menunjuk dirinya.


Alza menganggukkan kepala. Tiba-tiba saja kepala Aryan terasa berdengung.


"Akh!"


"Aryan! Kau kenapa?" Alza panik melihat Aryan yang kesakitan.


"Tidak tahu, Alza. Kepalaku mendadak sakit."


"Ayo rebahkan dirimu dulu!" Alza membantu Aryan. Tak lupa juga Alza mengambilkan air untuk Aryan.


"Minumlah dulu! Kau bekerja terlalu keras, makanya kau begini."


"Terima kasih, Alza. Aku sudah agak baikan." Aryan mengatur napasnya.


"Kau yakin kau baik-baik saja? Apa kita perlu ke dokter?"


Aryan menggeleng. "Tidak, tidak perlu. Aku hanya perlu istirahat sebentar."


Aryan memejamkan mata sejenak.


"Ya sudah, kau istirahat saja dulu. Aku akan keluar!"


"Tunggu, Alza!"


Alza menoleh. "Apa kau butuh sesuatu?"


"Aku... Merasa pernah melihat laporan itu sebelumnya. Laporan milik Agasa." Aryan bicara sambil tetap memejamkan matanya.


"Aku yakin aku pernah melihatnya."


Alza melotot tak percaya. "Apa ini? Apa Aryan mulai mengingat tentang masa lalunya?"


Aryan lalu membuka mata dan memposisikan dirinya duduk. "Kemarilah, Alza..."


Alza menurut dan duduk disamping Aryan. "Kau sudah baikan?"


Aryan mengangguk. "Berkat kau, aku baikan."


Alza tersenyum. "Jangan bekerja terlalu keras. Aku juga tidak memintamu untuk menyelidiki kak Agasa. Jadi, jangan melakukan hal itu lagi."


Tiba-tiba tangan Aryan terulur dan mengusap pipi Alza. Tentu saja Alza kaget.


"Aryan, apa yang..."


"Aku mengenali wajah ini di masa laluku. Benar kan?"


Eh? Apa yang dia bicarakan? Kenapa dia mendadak aneh begini?


"Alzarin Nusantara... Aku mengenalimu..."

__ADS_1


Apa?! Apa dia mulai ingat memori masa lalunya?


__ADS_2