
Agasa menggeram kesal karena anak buahnya tak bisa menemukan bukti yang disimpan Arion. Sudah hampir empat bulan sejak pria itu dinyatakan meninggal dunia. Tapi bukti yang dibutuhkan Agasa untuk menutupi kejahatannya tak kunjung ia dapatkan.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya Erlan.
"Bukti yang disimpan Arion tentang kecurangan kita, masih belum ditemukan."
"Hmmm." Erlan mengusap dagunya. "Kenapa tidak menghubungi kantor polisi saja. Siapa tahu mereka ternyata memiliki bukti itu. Bukankah mobil Arion jadi barang bukti? Pastinya bukti-bukti itu masih tersimpan rapi disana."
"Benar juga, Pa. Kalau begitu aku akan kesana sekarang!"
Gegas Agasa pergi ke kantor polisi. Ia memiliki kenalan di kepolisian yang akan mempermudah langkahnya mendapat barang-barang yang ada di mobil Arion.
Tiba di kantor polisi, Agasa tersenyum seringai karena kenalannya berhasil menemukan sebuah flashdisk yang ia duga adalah bukti kecurangannya yang dikumpulkan Arion sebelum kecelakaan.
"Terima kasih banyak, Kawan. Bayaranmu sudah aku transfer."
Si kawan Agasa tersenyum. Saat ini ia memang sedang butuh dana untuk anaknya yang akan kuliah di luar negeri. Dan ya, ternyata Agasa menawarkan kerjasama yang cukup menggiurkan untuknya.
"Sama-sama. Lain kali jika butuh bantuanku, kau hubungi aku saja!"
Agasa pamit undur diri dan ingin segera menghancurkan bukti itu. Sambil bersiul riang, Agasa melanjukan mobilnya menuju ke sebuah tempat yang agak sepi.
Agasa menepikan mobilnya kemudian mengambil laptop untuk mengecek apakah itu bukti yang dimiliki Arion atau bukan. Menurut kawannya, tidak ada lagi barang bukti yang tersisa di mobil Arion kecuali diska itu yang memang tersimpan rapi di bagian mobil yang tidak ikut terbakar.
"Baiklah, Arion. Setelah kau dinyatakan mati, maka semua bukti yang kau miliki juga harus mati. Rasanya jalanku untuk menghancurkan keluarga Nusantara semakin mulus setelah kematianmu, Arion."
Agasa menyeringai karena isi yang ada pada diska itu memang benar adalah bukti kecurangannya selama ini.
"Hahahah, kau sangat genius, Agasa."
Namun sebelum Agasa ingin menghapus semua file di diska itu, tiba-tiba datang dua orang mengetuk kaca mobilnya. Dua orang berpakaian serba hitam serta memakai topeng.
"Brengsek! Siapa kalian?!"
𝙋𝙍𝘼𝙉𝙂!
Kaca mobil Agasa pecah dengan mudah karena dua orang itu membawa palu.
"Brengsek! Apa mau kalian?"
Satu orang menarik tubuh Agasa keluar dari mobil. Satu orang mengambil diska dan juga laptop Agasa.
Terjadi perkelahian antara Agasa dan satu orang pria. Hingga Agasa terjerembab ke tanah. Lalu kedua orang itu pergi dengan sepeda motor yang melaju kencang.
"ARGH! Brengsek! Siapa mereka?"
Dengan tertatih Agasa bangkit dan menuju mobil. Ia meraih ponsel dan menghubungi ayahnya. Wajahnya lebam karena mendapat pukulan dari pria misterius itu.
#
#
#
Aryan tiba di rumah Tami dengan tergesa. Bahkan sambutan Tami tak dihiraukannya.
"Aryan, kamu datang, Nak!"
"Hmm." Hanya dehaman yang ia ucapkan. Lalu menuju ke kamarnya.
"Ada apa, Nak? Apa terjadi sesuatu?"
Aryan tak menjawab. Ia langsung berkutat dengan laptop yang ia simpan di kamarnya.
Tak lama pintu rumah diketuk. Tami membukakan pintu.
"Maaf, cari siapa ya?" Tanya Tami yang merasa tak mengenal tamunya.
"Anand! Silakan masuk!" Dari arah belakang Tami, Aryan muncul dan mempersilakan Anand masuk ke dalam rumah.
Lagi, Aryan tak menggubris Tami yang merasa bingung dengan yang terjadi.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa Aryan bersikap dingin padaku?" Batin Tami sambil memegangi dadanya.
Di dalam kamar, Anand mengeluarkan diska yang tadi didapatnya dari anak buahnya.
__ADS_1
Aryan tersenyum. "Kerja bagus, Anand!" Aryan menepuk pundak Anand.
"Terima kasih, Tuan. Dan ini..." Anand mengeluarkan plastik bening yang berisi beberapa helai rambut.
"Ini adalah sampel rambut Tuan Agasa."
Aryan kembali menyeringai. "Terima kasih lagi, Anand. Sekarang kau boleh pergi."
Anand membungkuk hormat. Lalu keluar dari kamar Aryan.
Saat melewati Tami, Anand juga membungkuk hormat.
"Tunggu sebentar!"
Anand menghentikan langkah. "Ada apa, Nyonya?"
"Sebenarnya siapa kamu? Kenapa mengenal putraku?"
Anand tersenyum. "Saya adalah asisten Tuan Arion. Kalau begitu saya permisi!"
Sepeninggal Anand, Aryan keluar dari kamar dan hendak pergi.
"Nak, sebenarnya ada apa?" Tami bertanya dengan suara lembutnya.
"Apa terjadi sesuatu? Apa ada yang mengenalimu di masa lalu?"
"Jangan ikut campur urusanku! Dan sebaiknya kau tutup mulut!"
Aryan berlalu pergi tanpa mengindahkan sosok Tami. Tami hanya menghela napas.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan putraku. Kenapa dia seperti Aryan yang dulu yang membenciku? Apa jangan-jangan... Dia sudah ingat masa lalunya?" Batin Tami menerka-nerka.
#
#
#
Hari senin kembali menyapa. Alza sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Setelah sarapan bersama, Alza pergi ke kamar untuk mengambil tas kantornya.
Alza menemui Arbi yang sedang makan disuapi oleh Ani.
Alza berjalan melewati ruang tamu dan terkejut karena melihat Aryan ada disana.
"Aryan? Kamu menjemputku?"
Aryan mengangguk. "Iya, aku sengaja datang karena ada yang ingin aku katakan padamu."
Alza mengernyit bingung. "Ada apa?"
Aryan menghampiri Alza. "Bisakah aku... Meminta sampel rambut Arbi?"
"Eh? Sampel rambut Arbi?" Alza terdiam sejenak. Ia masih bingung karena Aryan begitu to the point mengatakan maksudnya.
"Tapi untuk apa?" Tanya Alza.
"Ada sesuatu yang harus kupastikan."
Alza dan Aryan saling pandang. Alza tahu pria ini tidak berbohong.
"Apa kamu akan melakukan tes DNA dengan Arbi?"
"Bukan aku. Tapi orang lain."
"Siapa?"
Aryan terdiam sebentar. "Aku tidak bisa memberitahumu sekarang. Aku hanya minta tolong padamu. Jika hasilnya sudah keluar, aku akan mengatakannya padamu. Aku janji!"
Tanpa menjawab Alza segera pergi menemui Arbi yang masih bersama Ani di kamarnya. Alza menatap Arbi yang sedang bermain di karpet kamar.
Aku sangat menyayangi Arbi meski dia bukanlah anakku.
Lalu pandangan mata Alza beralih pada foto keluarga yang ada diatas nakas. Alza mendekat dan mengambil foto itu.
Jika aku ingin menjadi ibu Arbi seutuhnya, maka aku harus menghapus memori tentang kak Jesly dari hati Arbi. Aku akan membuang semua barang-barang kak Jesly. Meski terdengar kejam, tapi ini demi kebaikan Arbi. Kak Jesly bahkan sama sekali tak peduli pada Arbi.
__ADS_1
Alza menuju kamar mandi Arbi dan menatap dirinya di cermin.
Mulai sekarang aku adalah ibunya Arbi. Ya, aku adalah ibunya Arbi.
Alza mengambil sikat gigi yang biasa dipakai Arbi. Ia memasukkan sikat itu ke plastik bening yang diberikan Aryan tadi.
Setelahnya Alza keluar dan kembali menemui Aryan, tapi Alza tak menemukan sosok Aryan di ruang tamu.
"Kemana Aryan? Apa dia menunggu di mobil?"
Alza keluar rumah dan melihat mobil Aryan yang juga kosong.
"Kemana sih dia?" Alza kembali masuk ke dalam rumah.
Alza bertemu dengan salah satu ART dan bertanya.
"Apa bibi melihat Aryan?"
"Eh? Maksud nona pria muda yang tadi menemui Nona?"
Alza mengangguk.
"Bibi lihat dia masuk ke kamar Tuan Besar, Nona."
"Kamar Kakek? Apa yang Aryan lakukan di kamar Kakek?" Batin Alza.
Alza melangkah menuju ke kamar Johan. Ternyata pintu kamar Johan tidak tertutup rapat. Alza menajamkan pendengaran untuk menguping apa yang Aryan bicarakan dengan kakeknya.
"Semua buktinya sudah kudapatkan. Jadi, kakek bisa dengan segera menindaklanjuti tindakan mereka." Itu adalah suara Aryan.
"Baiklah. Terima kasih atas kerja kerasmu. Kau memang bisa kuandalkan!"
Alza membulatkan matanya. "Sejak kapan kakek dekat dengan Aryan? Kenapa mereka bicara santai begitu seolah sudah saling mengenal lama?"
Karena terdiam terlalu lama di depan kamar Johan, Alza tidak menyadari jika Aryan sudah keluar dari kamar Johan.
"Alza? Apa yang kamu lakukan disini?"
"Eh?!" Alza terperanjat. "Harusnya aku yang bertanya, apa yang kamu lakukan di kamar Kakekku?"
Aryan mengulas senyumnya. "Sudah siang, ayo kita berangkat!" Aryan menjawab santai seolah tidak ada yang terjadi. Suaranya juga terdengar lembut di telinga Alza.
Tanpa bisa menolak, akhirnya Alza menurut dan pergi ke kantor bersama Aryan.
#
#
#
Tiba di gedung Nusantara Grup, mobil Alza datang bersamaan dengan mobil Agasa. Sungguh malas Alza bertemu dengan Agasa.
"Kamu tidak turun, Alza?" Tanya Aryan yang akan bersiap turun.
"Aku malas bertemu dengannya!" Alza menunjuk Agasa dengan dagunya.
"Hahaha, lalu kamu mau berdiam diri di mobil terus?" Aryan menggeleng pelan.
Tanpa diduga, Alza bangkit dari kursinya dan berpindah tempat ke pangkuan Aryan.
"Alza! Apa yang kamu lakukan?" Aryan mulai tak nyaman karena tubuh Alza menempel dekat padanya.
"Diamlah! Kita sedang berakting!" Alza melingkarkan tangannya ke leher Aryan.
Aryan menelan saliva dengan susah payah. Tangannya yang sedari tadi diam akhirnya mengulur dan memeluk tubuh Alza.
"Kalau begitu kita lakukan yang terbaik, Alza!" Bisik Aryan sensual.
Wajahnya kini tak berjarak dengan wajah Alza. Kemudian saling memiringkan kepala lalu menautkan bibir mereka.
Ini masih pagi namun mereka memberikan pemandangan panas di depan Agasa. Kaca mobil yang masih terlihat dari luar membuat Agasa melihat dengan jelas apa yang diperbuat Alza dan Aryan.
"Kalian berdua! Kurang ajar!" Agasa mengepalkan tangannya. Setelah kemarian ia mengalami apes dengan dirampok dan dipukuli orang tak dikenal, hari ini Agasa harus melihat calon istrinya malah bercumbu dengan pria di dalam mobil.
Agasa yang geram menghampiri mobil Aryan.
__ADS_1
𝘿𝙪𝙜 𝙙𝙪𝙜 𝙙𝙪𝙜
"Keluar kalian! Atau aku akan melaporkan kalian berdua atas perzinahan!" Teriak Agasa yang tak digubris oleh Alza dan Aryan yang masih sibuk bertukar saliva.