
Langkah gegas seorang Argantara Dewangga membelah lorong-lorong dalam gedung kantor warisan dari orang tuanya. Setelah Ammar memberitahu jika Arion datang mencari Alza, secepat kilat Argan juga menyusul untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan suami istri itu.
𝘊𝘦𝘳𝘢𝘪. Satu kata yang kini menghantui pikiran Argan. Benarkah Alza akan berpisah dengan Arion karena rumor yang beredar mengenai pernikahan Arion dan Jesly? Argan harus memastikannya sendiri.
Tangannya terkepal saat melihat Arion memperlakukan Alza dengan kasar.
"Lepaskan Alza!" serunya.
Kedua insan berbeda jenis kelamin itu menoleh bersamaan.
"Bang Argan?"
Lirihan suara Alza masih bisa terdengar oleh Arion.
"𝘼𝙗𝙖𝙣𝙜? 𝙎𝙚𝙙𝙚𝙠𝙖𝙩 𝙞𝙩𝙪𝙠𝙖𝙝 𝙝𝙪𝙗𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖?"
Arion menghadapkan tubuhnya di depan Argan. "Jadi kau yang sudah membuat Alza pergi dari rumah? Apa kau yang membantunya?"
Argan yang merasa tertodong malah menatap Alza. "Pergi dari rumah?"
Arion menunjukkan arogansinya. Ia menarik kerah jas Argan. "Dengar! Jangan pernah pengaruhi Alza untuk pergi dariku!"
Argan menepis tangan Arion. "Aku tidak pernah mempengaruhi Alza. Kau sendiri yang sudah membuat Alza menjauh!"
"Mas Arya, hentikan! Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Bang Argan!" Alza menengahi perdebatan kedua pria tampan itu.
"Kau membelanya? Tinggal dimana kamu sekarang? Kamu harus ikut balik ke rumah!"
Alza menggeleng. "Tidak, Mas. Aku tidak bisa. Kamu sudah mengkhianati hubungan ini. Aku tidak bisa lagi, Mas." Mata Alza berkaca-kaca.
"Kau harus ikut denganku!" Arion akan menarik tangan Alza, tapi ada satu orang yang datang dan menghalangi.
"Kakak! Jangan buat keributan disini!" Falia datang dan menarik lengan Arion.
"Falia, apa yang kamu lakukan? Aku harus membawa Alza pulang. Berada disini membuatnya dipengaruhi oleh pria ini!" Arion menunjuk Argan.
"Kita bicarakan ini nanti, Kak! Malu dilihat orang!" Falia sekuat tenaga membawa Arion pergi. "Ayo, Kak! Kita pergi dari sini!" Falia berhasil membawa Arion pergi dari gedung Grup DS.
Sementara Alza masih mematung lalu mengusap air matanya yang akan jatuh.
"Kita harus bicara, Alza!" ucap Argan.
Alza mengangguk. Ia tahu ia harus menjelaskan semua yang terjadi pada Argan. Apa lagi semua keributan terjadi di kantor milik Argan.
Argan meminta Alza untuk ke ruangannya. Disana Alza masih bungkam dan enggan bicara.
"Alza... Apa benar apa yang dikatakan Arion? Kamu ... Pergi dari rumah?"
Suara Argan terdengar lembut dan menenangkan. Argan duduk disamping Alza.
"Iya..."
__ADS_1
Jawaban lirih Alza membuat Argan menghela napas. "Kamu kabur dari rumah? Lalu sekarang kamu tinggal dimana?"
Alza menggeleng. Alza tak ingin Argan kembali terlibat perdebatan dengan Arion.
"Katakan padaku, Za."
"Aku akan mengurus masalahku sendiri..."
"Oh ya? Dengan cara kabur begini?" Argan malah tersenyum samar. Ia tahu jika Alza masih labil dalam menyelesaikan masalah meski Alza sudah menikah sebanyak dua kali.
"Aku akan menemanimu untuk menemui keluarga Arion."
"Eh?" Alza menoleh dan bersitatap dengan netra hitam pekat milik Argan.
Entah sejak kapan tangannya telah digenggam oleh Argan. Alza ragu. Alza rapuh. Saat ini ia hanya pasrah mengikuti apa yang dikatakan Argan. Alza mengangguk. Kali ini Alza harus menghadapi keluarga Nusantara. Sekarang atau tidak sama sekali.
...***...
Sore hari usai pulang kantor, Alza ditemani Argan datang ke rumah Nusantara. Alza disambut oleh Arnis yang memeluknya erat.
"Alza, kamu pergi kemana? Mama khawatir mikirin kamu." Arnis membingkai wajah Alza dengan kedua tangannya. "Ayo masuk, Nak!"
Alza ragu untuk melangkah masuk. Rumah ini sudah ia tinggalkan semalam. Tak mungkin juga ia masuki lagi.
"Tunggu! Aku tidak mengizinkan wanita itu masuk ke dalam rumahku lagi!" Itu adalah suara Johan yang ikut keluar bersama dengan yang lain. Termasuk Jesly dan ibunya.
Arion juga ikut menemui Alza. "Alza! Kamu kembali!" Arion justru berseru senang. Namun raut wajahnya berubah murka ketika melihat sosok Argan yang berjalan mendekat.
"Kau! Kau kesini dengannya, Alza? Apa kau sengaja?"
"Wow! Jadi benar rumor yang beredar mengenai kalian berdua? Kalian ini bukan hanya atasan dan bawahan saja! Tapi hubungan kalian lebih dari itu. Benar kan? Aku sangat yakin jika Alza kini tinggal di rumah Tuan Argantara." Jesly menyulut api diantara bara panas yang sedang berkobar.
"Apa itu benar, Alza? Kamu pergi dari rumah ini dan tinggal di rumahnya?" tanya Arion dengan menatap Alza lekat.
Falia dan Arnis ikut saling pandang. Benarkah pernyataan Jesly?
"Jawab, Alza!" desak Arion.
Mata Alza sudah berkaca-kaca. Benar! Dalam perang ini, Alza sudah kalah. Jadi, untuk apa terus membela diri.
"Jika aku bilang tidak, apa kamu akan percaya padaku, Mas? Tidak kan? Jadi, biarkanlah semua sesuai prasangkamu saja."
"Kau selalu menggunakan egomu dalam bertindak. Kau sama sekali tidak mementingkan perasaan Alza." Kali ini Argan yang bicara.
Johan makin geram dengan pasangan muda yang tak bisa mengambil keputusan itu. Johan akhirnya kembali bicara.
"Karena kau sudah keluar dari rumahku, maka tidak akan ada tempat lagi bagimu untuk kembali. Arion, putuskan hubunganmu dengannya. Dia tak pantas menjadi bagian dari keluarga Nusantara!"
Arion bingung. Satu sisi ia tak ingin melepas Alza. Tapi keadaan juga memaksanya untuk menikahi Jesly. Kedua wanita ini memiliki arti yang berbeda bagi Arion.
Alza adalah wanita yang ia cintai. Sedang Jesly adalah wanita yang bisa membawanya pada puncak kejayaan di Nusantara Grup.
__ADS_1
"Jangan khawatir, Tuan Johan. Alza memang akan berpisah dari Arion."
Argan merogo tas slempang Alza dan mengambil lembaran kertas perceraian yang sudah Alza siapkan.
"Ini, silakan tanda tangani!" Argan menyerahkan kertas itu pada Arion.
"Apa?" Arion kaget. Ia tak menyangka jika Alza akan menyiapkan semua ini.
"Jadi kamu memang ingin berpisah dariku, Alza?" tanya Arion dengan tatapan sendunya.
Alza memalingkan wajah. Meski rasa dihatinya telah mati untuk Arion, tapi yang namanya perceraian, pasti meninggalkan sebuah luka yang cukup dalam bagi keduanya.
"Wah, aku tak menyangka ternyata kamu memang ingin bercerai. Sayang, cepat tanda tangani dan serahkan padanya!" sahut Jesly. Ia bahkan menyodorkan sebuah bolpoin pada Arion.
"Ayo tanda tangani! Dia sendiri kan yang minta cerai darimu. Dia bahkan sudah punya penggantimu. Dasar perempuan tidak tahu diri!" cibir Jesly.
"Jaga bicaramu, Nona Jesly!" geram Argan menunjuk Jesly.
"Yang kukatakan itu memang benar. Kita semua sudah tertipu dengan sifat lugu dan polosnya. Ternyata dia memang pemain ulung. Dulu Dennis Pratama, lalu Arion, dan sekarang ... Argantara Dewangga. Luar biasa!" Jesly bertepuk tangan diatas kesedihan yang kini melanda Alzarin.
Provokasi yang dilakukan Jesly membuat Arion gelap mata dan merebut bolpoin di tangan Jesly lalu menandatangani berkas perpisahannya dengan Alza. Dengan cepat Arion membubuhkan tanda tangannya lalu menyerahkan kertas itu kembali ke Alza.
"Aku sudah menandatangani ini. Mulai hari ini, kau bukan lagi istriku. Terserah kau mau melakukan apa." Arion berbalik badan dan meninggalkan kerumunan orang-orang disana.
Jesly tersenyum penuh kemenangan lalu pergi menyusul Arion. Satu persatu orang di keluarga Nusantara ikut masuk dan meninggalkan Alza.
Alza masih terpaku di tempat sambil memegangi kertas perpisahannya dengan Arion. Untuk kedua kalinya, Alza gagal dalam pernikahan.
Air mata yang sedari tadi ditahannya, kini telah luruh. Isak tangis mulai terdengar dari bibirnya.
"Alza, ayo kita pergi dari sini!"
Argan meraih bahu Alza dan merangkulnya lembut. Dituntunnya Alza hingga sampai di depan mobil miliknya.
Argan melajukan mobilnya perlahan. Argan melirik ke samping dan melihat Alza yang masih tak mengeluarkan suara.
"Alza, kamu tinggal dimana?" Argan ingin menyadarkan lamunan Alza, tapi malah membuat Alza makin terpuruk dalam kesedihannya.
Argan menghentikan laju mobilnya. Dan ternyata itu berhasil membuat Alza kembali ke alam nyata.
"Kenapa berhenti, Bang?"
Argan mendesah pelan. "Aku tidak tahu harus mengantarmu kemana."
Alza menunduk. "Maaf aku sudah merepotkanmu, Bang. Turunkan aku di halte sana saja!"
"Tidak mau! Aku harus mengantarmu ke tempat tinggalmu!"
"Tapi..."
"Tidak ada tapi! Cepat katakan dimana kamu tinggal!" Argan memaksa sambil menaikturunkan alisnya.
__ADS_1
"Haaaah! Baiklah! Aku tinggal di hotel X."
"Anak pintar!" Argan mengacak rambut Alza pelan lalu melajukan mobilnya kembali.