
Alza kembali ke ruangannya usai bicara dengan Aryan hingga menyebabkan pria itu mengalami sakit kepala hebat tapi sembuh beberapa menit setelahnya. Alza merasa ada yang aneh dengan Aryan.
Lalu tentang Agasa... Alza rasa ia harus menyelidiki juga tentang kakak sepupunya itu.
"Apa kak Agasa punya dendam terhadap kakek?" Alza menggeleng. "Lalu kenapa Aryan bilang jika dia pernah melihat laporan itu sebelumnya?"
Alza mondar mandir memikirkan semua kemungkinan yang ada.
"Mungkinkah..." Alza mengurut semua kejadian satu persatu di otaknya.
"Mungkinkah kecelakaan Aryan memang disengaja? Ada yang ingin mencelakai dia karena dia tahu sesuatu?"
Alza merinding jika benar apa yang dipikirkannya itu jadi kenyataan.
Sementara itu di ruangannya, Agasa juga sedang memikirkan sebuah cara agar bisa menaklukkan Alza.
"Sudah cukup aku bersabar, Alza. Sekarang aku akan gunakan cara kasar untuk membuatmu menjadi milikku!" ucap Agasa dengan tatapan tajam yang mengerikan.
...***...
Pulang ke rumah, Alza dikejutkan dengan kehadiran Agasa disana. Sudah bisa ditebak apa yang diinginkan oleh pria itu. Apalagi ada Johan yang juga sedang bersama dengannya.
"Alza, kemarilah Nak!"
"Iya, Kek. Ada apa?" Alza melirik sekilas sosok Agasa yang terlihat sangat percaya diri.
"Kakek hanya ingin memastikan sekali lagi keputusanmu. Apa kau yakin ingin mengadopsi Arbi?"
Alza mengangguk. "Iya, Kek."
"Kakek setuju saja. Kau masih ingat kan dengan apa yang kakek katakan waktu itu? Kau tidak bisa menjadi ibu tunggal untuk Arbi. Kau harus menikah, Nak."
Alza terdiam. Pasti akan sangat sulit mendapat persetujuan dari kakeknya sebagai ibu tunggal.
"Menikahlah dengan Agasa."
"Eh? Apa?!" Alza sangat terkejut.
"Karena saat ini kita sedang sibuk untuk mengurus pernikahan Falia, maka pernikahanmu diadakan setelah pernikahan Falia."
"Tapi, Kek..."
"Apa lagi? Sekarang tidak ada yang perlu kau pertimbangkan lagi. Pria itu sudah memilih wanita lain sebagai pendamping hidupnya. Jadi kau juga harus bisa mendapatkan penggantinya."
Alza tak mampu menjawab. Mau alasan apa lagi di depan Johan rasanya sudah tak bisa. Alza tak mengiyakan, tapi juga tak menolak.
Keesokan harinya, Alza menemui Falia dan Dennis. Tentunya Alza tidak bisa bergerak sendiri untuk mengungkap kejahatan Agasa.
"Aryan bilang dia pernah melihat file ini, tapi dia tidak ingat kapan tepatnya," jelas Alza sambil menunjukkan bukti dari Aryan.
Falia dan Dennis saling pandang. Benak mereka mengatakan satu hal dengan kemungkinan yang sama.
"Jika benar Aryan pernah melihat berkas itu, ada kemungkinan jika kecelakaan Aryan juga didalangi oleh orang yang sama," terka Dennis.
"Kakakku sengaja dicelakai karena mengetahui fakta tentang Agasa. Begitukah menurutmu?" sahut Falia.
Dennis mengangguk. "Benar."
"Baiklah. Kalau begitu apa kalian bisa membantuku?" tanya Alza menatap kedua pasangan yang akan menikah itu.
Falia dan Dennis kembali saling pandang.
"Eh, Maaf. Aku lupa jika kalian sedang sibuk untuk acara pernikahan."
"Tidak apa, Za. Aku bisa mengurusnya," balas Dennis.
"Ah, tidak tidak. Biar aku saja yang mengumpulkan buktinya. Kalian kan sedang sibuk untuk acara pernikahan nanti. Aku akan memecahkan ini dengan Aryan saja, hehe. Kalau begitu, aku permisi." Alza beranjak dari duduknya dan meninggalkan private room sebuah resto.
Sejak memutuskan menerima pinangan Dennis, Falia kini sudah tidak bekerja lagi di Nusantara Grup. Rencananya Falia ingin mengurus rumah tangganya bersama Dennis.
__ADS_1
Kini pasangan Dennis-Falia hanya menatap kepergian Alza dengan berbagai tanya di benaknya.
"Menurutku sebenarnya Alza dan Aryan itu berjodoh. Hanya saja jalan yang mereka lalui begitu berliku untuk bersatu."
Ucapan Dennis membuat Falia menatapnya. "Semoga saja dengan bekerja bersama mereka bisa kembali dekat dan melupakan masa lalu mereka yang buruk."
...***...
Alza menatap layar datar di depannya dengan penuh tanda tanya di otaknya.
Tidak mungkin kakek tidak curiga dengan kecurangan sebesar ini. Jika mengingat sifat Aryan yang dulu, harusnya dia bisa tahu jika ada kecurangan seperti ini. Apa mungkin...
𝘽𝙍𝘼𝙆!
Alza langsung mematikan layar komputer begitu tahu yang memasuki ruangannya adalah Agasa.
"Kalau mau masuk ketuk pintu dulu, Kak! Itu sangat tidak sopan!" kesal Alza.
Agasa tak peduli dengan kemarahan Alza. Pria itu makin mendekat hingga bisa menyentuh dagu Alza.
"Dengar! Apa salahnya jika aku masuk ke ruangan calon istriku sendiri? Toh sebentar lagi kau akan jadi istriku!" tekan Agasa pada Alza.
"Lepas!" Alza menepis tangan Agasa. "Apa mau kakak?" Alza sangat malas meladeni Agasa. Apa lagi setelah tahu kebusukan kakak sepupunya ini. Ternyata semua ini palsu! Agasa hanya ingin menguasai perusahaan dan juga harta Johan saja.
"Aku hanya ingin mengajakmu makan malam bersama papa. Papaku ingin mengenal lebih dekat sosok calon menantunya."
Alza mengernyit bingung. Selama ini Alza belum pernah bertemu dengan sosok Erlan yang adalah ayah Agasa.
"Tidak ada penolakan, Alza! Aku akan menjemputmu pukul tujuh malam nanti!"
Setelah mengatakan maksudnya, Agasa keluar dari ruangan Alza. Tubuh Alza merosot ke lantai. Sungguh kini Agasa memperlihatkan sosok asli dalam dirinya. Alza takut jika ia menolak, akan terjadi sesuatu dengan keluarganya.
Sementara di ruangannya, Aryan mendengar semua percakapan antara Alza dan Agasa. Rupanya Aryan sengaja memasang alat penyadap di ruangan Alza untuk berjaga-jaga saja.
Aryan memejamkan matanya. Entah kenapa rasanya tidak rela jika nonanya menikah dengan Agasa. Aryan tahu Agasa bukan pria baik. Agasa hanya ingin memanfaatkan Alza untuk mencapai tujuannya.
Karena sedang melamun, Aryan tak sadar jika Alza masuk ke dalam ruangannya.
Aryan tersentak mendengar suara Alza.
"Alza, a-ada apa?" Aryan mendadak gugup bertemu dengan Alza.
"Kau harus membantuku!"
Aryan berdiri dan menatap Alza. "Bantu apa? Aku akan lakukan apapun untuk membantumu."
"Tolong ingat masa lalumu!"
"Eh?!"
"Kau bilang pernah melihat berkas yang kau temukan ini. Kau melihatnya dimana? Dan kapan?"
Permintaan Alza membuat Aryan bingung. Ia sendiri juga tidak faham kapan tepatnya. Yang jelas tiba-tiba saja ada sekelebat bayangan di otaknya yang memperlihatkan berkas-berkas itu.
"Alza, tenanglah! Aku tidak bisa mengingat sebanyak itu. Tapi, jika kau ingin aku mengumpulkan bukti. Maka aku bisa melakukannya."
Alza terdiam.
"Kau bisa gunakan bukti itu untuk menjatuhkan Agasa."
Alza menatap Aryan. Ternyata setelah bangun dari koma, banyak hal yang berubah dari sosok Arion menjadi Aryan.
"Terima kasih banyak, Aryan." Alza mengulas senyumnya.
...***...
"Non, dua hari lagi Den Arbi ulang tahun."
Kabar yang diberitahukan Ani membuat Alza menepuk jidatnya.
__ADS_1
"Saking sibuknya aku sampai lupa dengan Arbi, Mbak."
Ani hanya mengulas senyum.
"Hmm, begini saja. Aku akan hubungi EO untuk mengatur acara ulang tahun Arbi."
"Untuk apa membuat pesta ulang tahun untuk anak itu, Alza?"
"Kakek?"
Rupanya Johan kurang setuju dengan ide Alza.
"Kakek! Arbi sudah tidak memiliki siapapun selain kita. Bisakah kakek berbaik hati padanya? Dia hanya anak kecil yang tak tahu apapun, Kek."
Johan menghela napas. Cucunya ini memang sangat keras kepala. Alza bukan orang yang mudah menyerah.
"Baiklah, terserah kau saja." Johan berlalu.
Alza tersenyum senang bersama Ani.
...***...
Pesta ulang tahun Arbi yang ke 2 tahun dirayakan di sebuah resto cepat saji yang ada di sebuah pusat perbelanjaan. Alza tidak mengundang banyak orang. Hanya keluarga dan teman dekat saja yang hadir.
Meski belum resmi menjadi orang tua Arbi, tapi Alza akan melakukan yang terbaik untuk putranya.
Acara berlangsung dengan penuh kegembiraan, hingga akhirnya sebuah tragedi terjadi.
Sebuah mobil pick up tiba-tiba melaju dengan sangat kencang kearah resto dan menabrak resto tersebut. Sebuah dentuman keras terdengar dan membuat jeritan para tamu undangan yang hadir.
"ARBI!" Pekikan Alza menggema ketika ia melihat putranya terluka.
"Tolong panggilkan ambulans!"
Semua orang panik dan melarikan diri dari tempat kejadian. Dennis yang juga ikut hadir membopong tubuh mungil Arbi, sedang Falia memapah Alza.
"Kita ke rumah sakit sekarang!"
Tiba di rumah sakit beberapa perawat segera mengambil tindakan. Karena bukan hanya Arbi saja yang terluka. Namun teman-teman sebaya Arbi juga ada yang terluka.
"Tolong selamatkan putraku!" pekik Alza dengan air mata yang mengakir deras.
"Alza, tenanglah!" Falia menenangkan Alza.
Alza merasa amat menyesal karena tidak mendengarkan nasihat kakek dan ibunya. Mereka menyarankan untuk merayakan di rumah saja, tapi Alza bersikukuh ingin merayakan ulang tahun Arbi di luar rumah.
"Maafkan mama, Nak..." Alza tampak terpukul.
"Permisi, pasien atas nama Arbi membutuhkan donor darah. Adakah dari keluarga yang bergolongan darah sama dengannya?"
Alza yang sedari tadi menangis kini menatap Falia dan Dennis bergantian. Satu hal yang terlintas di pikirannya.
"Aryan! Cepat hubungi Aryan!" seru Alza.
Falia menghubungi Aryan. Beruntung Aryan sedang tidak sibuk dan bersedia datang.
"Ada apa ini?" tanya Aryan ketika tiba di rumah sakit.
"Tolong putraku, Aryan! Tolong dia! Hanya kau yang bisa membantunya!" Alza bersimpuh di depan Aryan.
Tak tega melihat Alza yang meraung-raung, Aryan setuju untuk membantu meski ia masih bingung kenapa dirinya uang dimintai tolong.
...***...
Setelah menunggu beberapa saat, Aryan kembali menemui Alza dan Falia. Wajahnya terlihat bingung.
Lalu seorang perawat juga datang dan memberitahu.
"Maaf, golongan darah Pak Aryan tidak cocok dengan pasien Arbi. Kami akan mencoba mencarikannya di bagian pendonoran darah."
__ADS_1
Falia dan Dennis sangat terkejut dengan ucapan si perawat. Terlebih Alza. Tubuhnya terhuyung ke belakang.
Kenyataan apa lagi ini? Apakah Arbi bukan anak Aryan? Lalu Arbi anak siapa?