Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 72


__ADS_3

Pagi pertama sebagai pasangan, Falia terbangun dari tidur setelah kemarin seharian menjadi raja dan ratu bersama Dennis. Falia melirik ke sebelahnya. Ada Dennis yang masih terlelap disana.


Semalam adalah malam yang hangat untuk mereka berdua. Meski Dennis bukan pertama kali melakukan hal itu, tapi Falia merasa Dennis masih awam dengan hubungan pria dan wanita.


Masih ingin merebahkan diri di ranjang, Falia mengambil ponsel dan mengecek ada notifikasi apa saja yang masuk ke ponselnya. Pastinya banyak ucapan selamat yang ia terima dari teman-temannya yang tak bisa hadir.


"Mama?" Falia mengernyit bingung ketika berkali-kali Arnis menelepon dirinya. Bahkan mengirim pesan padanya.


Tak ingin Arnis khawatir, Falia segera menghubungi ibu angkatnya itu.


"Halo, Ma. Ada apa? Apa Alza belum kembali ke rumah?"


"Belum, Fal. Maaf ya, mama merepotkan kamu. Mama tidak tahu lagi siapa yang harus mama hubungi."


"Iya, Ma. Tidak apa. Coba nanti Fal hubungi Aryan ya? Sepertinya Alza bersama dengan Aryan lagi."


"Heh?!"


"Mama tenang saja. Aryan adalah orang yang baik. Aku yakin dia akan menjaga Alza."


"Baiklah. Terima kasih, Fal. Maaf ya mama mengganggu waktumu."


Panggilan berakhir. Falia mengirim pesan pada Aryan, bertanya apakah Alza bersama dengannya atau tidak.


"Ada apa, sayang?" Rupanya Dennis sudah bangun.


"Eh, kamu sudah bangun? Mama bertanya tentang keberadaan Alza. Kurasa Alza bersama Aryan lagi."


Dennis malah terkekeh. "Sayang, Alza dan Aryan itu sudah dewasa. Sebaiknya kita percayakan saja pada mereka."


"Jadi, kamu juga berfikir jika Alza sedang bersama Aryan? Semalaman?"


Dennis mengangguk. "Biarkan saja. Mereka sedang mengukir kisah baru setelah masa lalu mereka yang cukup rumit."


"Aku harap kakakku sudah berubah dan tidak seperti dulu lagi."


...***...


Sinar mentari pagi yang memasuki celah jendela membuat Alza terpaksa bangun dari tidur nyenyaknya. Alza merasakan sebuah kehangatan ketika melihat tangan kekar yang memeluk tubuhnya.


Alza memejamkan mata karena begitu malu. "Jadi, semalaman aku tidur sambil berpelukan dengan Aryan?"


Gerakan yang dibuat Alza membangunkan Aryan dari buaian mimpi indahnya. Karena sudah kepalang basah, Alza tak bisa menghindar. Kini mereka saling menatap dalam diam.


"Selamat pagi..." Aryan yang pertama menyapa.


"Selamat pagi..."


"Apa tidurmu nyenyak?"


Alza mengangguk pelan.


Aryan tersenyum. "Aku berterimakasih karena kamu bersedia menemani malamku."


"Maafkan aku, Aryan. Aku terlihat jahat karena sudah menjadikanmu pelarian." Alza tak berani menatap Aryan.


"Pelarian? Siapa yang berkata jika aku hanyalah pria pelarianmu?"


Alza menunduk. "Maaf..."


Aryan menangkup wajah Alza dan membuatnya menatap kearahnya.


"Aku bukanlah pelarianmu, Alza. Kamu hanya belum menerima perasaanku. Itu saja!"


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


Mentari hangat yang bersinar membuat kedua insan yang masih diatas ranjang saling memandang dengan tatapan yang hangat pula, terutama Aryan.


"Aku... Menyukaimu, Alza. Entah itu cinta atau bukan. Tapi aku merasakan sesuatu dalam hatiku. Aku tahu hatimu masih ada pada orang lain. Makanya, aku akan menunggumu."


"Aryan..."


Dengan lembut Aryan mengecup kening Alza kemudian ia bangkit.


"Kamu mandilah dulu. Aku akan siapkan sarapan untukmu."


Alza menatap punggung Aryan yang menghilang di balik pintu. Sosok Aryan yang sekarang sungguh berbeda dengan Aryan yang dulu. Alza mulai mengagumi itu. Hingga akhirnya Alza tersadar.


"Astaga! Apa yang sudah kulakukan?" Alza mengusap wajahnya.


Alza ambil tas miliknya dan meraih ponsel. Alza tertegun mendapati beberapa panggilan dari ibunya yang tak sempat ia angkat.


"Astaga! Mama pasti khawatir." Alza menelepon Arnis.


"Halo, Ma."


"Halo, Alza. Kamu dimana, Nak?"


"Mmm, aku... Aku di tempat Aryan, Ma." Alza tetap bicara jujur.


"Eh? Bersama Aryan?"


"Tapi mama jangan khawatir! Aku dan Aryan... Kami tidak melakukan apapun. Sumpah, Ma! Tidak terjadi apapun diantara kami." Alza gelagapan.


"Hahahahaha." Arnis malah tertawa.


"Mama kok ketawa?"


"Maaf, sayang. Mama tahu kok kalau Aryan adalah pria yang baik. Lagi pula kalian sudah dewasa. Nikmati waktumu. Mama tahu kamu perlu sedikit refreshing." Arnis mematikan sambungan telepon.


Alza terdiam beberapa saat hingga akhirnya ia masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.


Kaus ketat yang pas ditubuh kekarnya dipadukan celana olahraga panjang, sungguh pas dalam pandangan mata Alza. Langkahnya semakin dekat dengan Aryan.


Aryan mematikan kompor karena sudah selesai memasak. Belum sempat berbalik badan, Alza memeluk tubuh Aryan dari belakang.


Aryan terkejut. Ia pandang tangan mungil yang melingkar di perutnya.


"Alza..."


"Maaf ya sudah merepotkan." Alza memejamkan mata merasakan aura maskulin dari tubuh Aryan.


"Sama sekali tidak repot." Aryan melepas tangan Alza dan berbalik badan. Tangannya merangkum wajah Alza.


Aryan tatap lamat-lamat wanita yang adalah bosnya di kantor. Wanita yang ia kagumi sejak ia kembali membuka mata.


"Maukah kamu menungguku, Aryan?"


Aryan menarik sudut bibirnya. "Pasti. Aku akan selalu menunggumu."


Alza berjinjit agar bisa meraih tubuh tinggi Aryan. Ia daratkan sebuah kecupan di bibir pria itu.


Ketika Alza ingin menyudahi ciumannya, pria itu malah mendekap tubuh Alza dan tak mau melepaskannya. Mereka kembali bertukar rasa untuk beberapa saat. Hingga suara interupsi datang dari perut Alza. Mereka harus menyudahi kemesraan mereka sambil tersenyum malu.


...***...


Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Alza duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Sesekali ia tersenyum saat memainkan ponselnya.


"Kamu sedang apa?"


"Ini, mbak Ani kirim foto-foto Arbi. Dia sangat lucu. Coba kamu lihat!"

__ADS_1


Alza menunjukkan layar ponselnya dimana terdapat foto-foto Arbi disana.


"Iya, dia sangat lucu."


Alza tiba-tiba terdiam. "Jika kamu bukan ayah kandung Arbi, lalu siapa ayahnya?" Alza menatap Aryan.


"Sebenarnya dimana Jesly? Apa dia masih istriku?"


Pertanyaan Aryan membuat Alza tertegun. Alza baru sadar jika status Aryan masih menikah dengan Jesly.


"Setelah kecelakaan yang menimpamu, Kak Jesly juga menghilang. Tidak tahu dia ada dimana. Aryan, aku minta maaf. Tapi... kamu masih jadi suami kak Jesly. Kalian masih menikah meski kamu adalah Aryan."


Alza menunduk. Rasa bersalah mulai menghinggapi. Bagaimana bisa ia bermain api dengan suami orang?


Aryan juga terdiam setelah tahu statusnya yang masih menikah. Meski ia menikah dengan identitas sebagai Arion, tapi tetap saja mereka adalah orang yang sama.


"Kalau begitu sebaiknya aku pulang. Rasanya tak pantas jika aku tetap disini."


Alza bangkit dari duduknya. Ia masuk ke kamar dan berganti pakaian dengan gaun malam yang semalam dipakainya. Ia meminjam jaket Aryan untuk menutupi bagian tubuh atasnya yang terekspos.


Alza melewati ruang tamu dimana Aryan masih duduk disana. Pria itu bergeming meski Alza berpamitan dengannya. Mungkin saja ia juga merasa bersalah sama seperti yang Alza rasakan.


Setelah Alza menghilang di balik pintu, barulah Aryan tersadar dan segera mengejarnya.


"Alza, tunggu!"


...***...


Di lobi apartemen, seorang wanita datang menemui seorang pria yang sedang duduk santai.


"Sudah kukatakan jangan pernah menghubungiku lagi, Ferdi! Aku sudah bertunangan! Dan sebentar lagi aku akan menikah!"


Pria yang dipanggil Ferdi itu nampak santai.


"Ada apa, Agatha? Bukankah setiap akhir pekan kita selalu menghabiskan waktu bersama. Apa harus mengancammu dulu baru kamu mau datang menemuiku?"


"Diam, Ferdi! Aku akan menikah dengan Argan. Jadi tolong jangan ganggu aku sampai aku berhasil menikahinya!"


Ferdi bertepuk tangan. "Luar biasa sekali kekasihku ini. Bersedia menikahi pria kaya itu, tapi juga tak mau melepaskan aku. Sekarang ayo kita ke kamarku. Ranjangku butuh kehangatan darimu."


"Hentikan! Aku tidak bisa melakukan ini lagi, Ferdi! Aku mulai menyukai Argan. Ya, meskipun dia masih mencintai si janda itu. Tapi aku yakin aku bisa mendapatkan hatinya."


Ferdi berbisik di telinga Agatha. "Jangan lupa, aku masih punya semua video syur hubungan kita. Jika tunanganmu itu tahu, maka..."


"Apa katamu?! Kamu mengancamku?" Agatha mulai ketakutan.


"Ya, bisa dibilang begitu. Kamu tidak akan bisa putus dariku, Agatha."


"Aku akan berikan uang yang banyak untukmu. Tapi tolong lepaskan aku!" Agatha memohon.


"Tidak bisa! Jangan harap kamu bisa lepas dariku. Sekarang ikut denganku!" Ferdi menarik lengan Agatha.


Mereka berjalan bersama meski dengan sedikit paksaan.


Tanpa sengaja mata Agatha menangkap siluet yang dikenalnya.


"Tunggu sebentar!" Agatha berhenti melangkah.


"Itu kan... Si janda Alzarin!" gumam Agatha. Sebuah seringai terbit di bibirnya.


"Apa yang dia lakukan disini?" Agatha melihat seorang pria mengejar Alza. Lalu mereka pergi bersama. Agatha segera mengabadikan kebersamaan Alza dan Aryan di ponselnya.


"Siapa mereka?" tanya Ferdi.


"Itu adalah wanita yang masih dicintai Argan. Dialah si janda. Apa kamu tahu siapa pria yang bersamanya?"

__ADS_1


Ferdi mengedikkan bahu. "Ada ratusan orang yang tinggal di apartemen ini. Mana mungkin aku kenal semuanya. Sudahlah ayo! Kamu sengaja memperlambat perjalanan kita huh!"


Agatha mendengus. Ia kembali melangkah bersama Ferdi. Setidaknya ia tahu jika Alza kini telah memiliki pria lain pengganti Argan. Akan ia gunakan kesempatan ini untuk menghapus Alza dari hati Argan.


__ADS_2