Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 24


__ADS_3

Suasana makan malam di rumah Oma Ratna terasa sunyi karena hanya dirinya sendiri yang menyantap hidangan ditemani Bik Simah, si asisten rumah tangga.


Oma Ratna menghela napas saat mengingat cerita Argan beberapa bulan lalu.


"Harusnya Argan sudah pantas untuk menikah, Bik. Tapi ternyata... Gadis yang aku harapkan bisa menjadi pemdamping Argan, malah sudah menikah dengan orang lain."


"Eh? Maksud Nyonya gadis yang pernah ditolong oleh Den Argan?"


"Iya, Bik. Kamu tahu sendiri kan, selama ini Argan membatasi pergaulannya dengan yang namanya wanita. Aku sangat yakin jika Argan pasti tertarik pada gadis itu."


"Tapi, Nyonya... Bukankah gadis itu sedang berbadan dua, Nyah. Bahkan dia belum menikah, tapi dia sudah..." Bik Simah tidak melanjutkan kalimatnya karena diniliai terlalu kasar bagi dirinya sendiri.


"Iya, aku tahu gadis itu sedang hamil. Tapi kita tidak bisa menyimpulkan hanya dari satu sudut pandang saja. Apa yang terjadi dengan gadis itu kita kan tidak tahu."


"Kalian lagi ngobrolin apaan sih? Kayaknya seru banget!" Tiba-tiba Argan datang dan memeluk sang nenek dari belakang.


"Argan? Kamu sudah pulang, Nak? Oma pikir kamu pulang larut malam lagi."


"Enggak, Oma. Aku ingin makan malam sama Oma. Makanya aku pulang cepat. Makan malamnya belum berakhir kan?"


Oma Ratna tertawa. "Tentu saja belum. Oma gak selera makan kalau gak ada kamu."


Argan segera memposisikan diri duduk berhadapan dengan sang nenek.


"Bik, bisa tolong putarkan lagu romantis untuk kami berdua?" pinta Argan.


"Bisa, Den. Tentu saja bisa!" Bik Simah segera beranjak dan menuju ke meja piringan hitam milik mendiang kakek Argan. Bik Simah memilih lagu romantis tahun 80'an yang menemani makan malam majikannya.


"Gimana, Den? Sudah cocok belum lagu dan suasananya?"


Argan mengacungkan jempolnya. "Sip, Bik! Setelah ini aku akan mengajak Oma berdansa. Oke gak, Bik?"


"Oke banget, Den!" Bik Simah ikut mengacungkan kedua jempolnya.


Sementara Oma Ratna hanya tertawa melihat tingkah cucu dan ART nya itu.


"Kalian ini ada-ada saja!"


...***...


Makan malam di keluarga Nusantara juga sedang digelar. Suasana hangat tercipta antara Arnis dan Alza karena Arnis selalu memberi perhatian pada Alza.


"Makanlah ini! Ini baik untuk ibu hamil!"


"Terima kasih, Mah."


"Ehem!" Seperti biasa, Johan menginterupsi. Sepertinya ada hal yang ingin ia bicarakan.


"Arion, kapan istrimu memeriksakan kehamilannya?" tanya Johan.

__ADS_1


"Rencananya besok, Kek. Ada apa?"


"Apa kau sudah memastikan jenis kelaminnya?"


DEG!


Seketika wajah Alza menegang. Begitu pula dengan Arnis. Wanita paruh baya itu masih mengingat bagaimana sang ayah mertua memintanya untuk melahirkan anak laki-laki sebagai penerus perusahaan keluarga.


Tangan Arnis mulai berkeringat dingin. Arnis tidak ingin Alza mengalami apa yang dulu ia alami. Harus membohongi ayah mertuanya hingga ia kehilangan putri yang baru dilahirkannya.


"Kami belum tahu jenis kelaminnya, Kek. Mungkin besok saat pemeriksaan sudah bisa diketahui apa jenis kelamin bayi kami. Karena perut Alza kan sudah mulai besar."


Johan nampak manggut-manggut. "Bagus! Kalian harus pastikan jika anak kalian adalah laki-laki."


"Eh? Maksud kakek?" Arion masih tak paham dengan inti pembicaraan ini.


"Dengar Arion! Untuk bisa meneruskan bisnis keluarga, kakek membutuhkan bayi laki-laki yang sehat di keluarga ini! Tapi, kakek tidak mau ada kebohongan lagi di keluarga ini!" Johan melirik tajam Sultan dan Arnis.


"Kau harus pastikan jika anak yang dikandung istrimu, adalah seorang anak laki-laki. Jika kau tidak bisa memberiku keturunan laki-laki, maka..."


"Cukup, Pah!" Arnis mencegat cepat.


"Apa tidak cukup Papah menekan kami untuk melahirkan pewaris untuk Papah? Apa anak-anak kami juga harus merasakan penderitaan seperti yang kami rasakan?"


"Ma!" Sultan memegangi tangan istrinya memintanya berhenti.


"Jika memang Alza melahirkan anak perempuan, apa salahnya dengan itu? Perempuan juga bisa memimpin! Perempuan juga bisa maju seperti laki-laki. Jangan meremehkan perempuan!" Kali ini emosi Arnis tak bisa lagi di tahan.


"Ma, sudahlah! Jangan berdebat di depan anak-anak!"


"Maaf, Pah kalau aku keterlaluan. Aku hanya tidak ingin anakku merasakan apa yang aku rasakan. Itu saja! Permisi, aku ke kamar dulu!" Arnis pamit undur diri dari ruang makan lalu di susul Sultan yang juga meninggalkan meja makan.


Tak lama setelahnya Johan juga ikut beranjak dari duduknya. Kini tinggal Alza, Arion dan Falia saja disana.


"Ar, sebaiknya bawa Alza ke kamar. Dia juga butuh istirahat," usul Falia.


"Hmm, iya. Ayo sayang, kita ke kamar ya! Kamu harus istirahat yang cukup supaya besok bisa fit saat diperiksa."


"Iya. Maaf ya, aku merasa situasi jadi kurang menyenangkan karena aku." Alza menatap Falia.


"Santai saja! Keluarga ini sudah biasa berdebat. Apalagi suamimu ini!" Falia menunjuk Arion dengan dagunya.


"Dia adalah orang yang paling sering mengajak Kakek untuk berdebat."


"Ck, sialan kamu! Adik macam apa kamu yang menjelekkan kakaknya sendiri!"


Alza tersenyum melihat keakraban yang terjadi diantara Arion dan Falia. Mereka memang suka berdebat, tapi menurut Alza, itulah yang merekatkan hubungan mereka berdua di rumah ini.


...***...

__ADS_1


Pagi ini, Arion mengantar Alza untuk memeriksakan kandungannya. Dengan gugup Alza memasuki ruang periksa dokter Wirda.


"Hai, Wir," sapa Arion.


"Hai, Ar. Halo, Alza. Apa kabar?" sapa Wirda ramah.


"Baik, Dokter." Alza menjawab singkat.


"Jangan tegang gitu. Rileks saja! Apa Arion membuatmu tegang?" goda Wirda.


"Eh?!" Alza bingung dan menatap Arion.


Wirda tersenyum melihat tingkah polos Alzarin. "Ya sudah, sekarang berbaring dulu ya! Aku akan memeriksa bayimu dulu!"


Alza mengangguk. Rasa dingin gel mulai menggelayari perut Alza.


"Wirda, periksa juga jenis kelaminny!" celetuk Arion yang membuat Alza mulai panik.


Alza takut jika apa yang diharapkan Johan tidak menjadi kenyataan.


"Ya Tuhan, semoga saja aku dan Arion bisa mewujudkan impian kakek Johan." Alza memejamkan mata ketika Dokter Wirda sedang mencari titik yang pas untuk mengetahui jenis kelamin bayi Alza.


"Bagaimana, Wir?"


"Nah ini dia! Ketemu. Jenis kelaminnya adalah..."


Alza memejamkan matanya. Rasanya ia tak ingin mendengar apapun dari mulut Dokter Wirda dan Arion. Alza seakan menulikan pendengaran agar tidak merasa kecewa dengan hasilnya.


"Sayang..."


Mata Alza terbuka. Kini mereka sudah sampai di halaman depan rumah keluarga Nusantara.


"Sudah sampai ya?" tanya Alza. Rupanya sejak tadi Alza tertidur.


"Iya, sudah sampai. Apa mau kugendong saja sampai kamar?"


"Heh?! Ja-jangan! Tidak perlu!" Alza segera turun dari mobil diikuti Arion.


"Sayang! Pelan-pelan saja jalannya! Kita harus menjaga bayi kita dengan super proteksi."


Memasuki pintu ruang tamu kediaman itu, sosok Johan sudah berdiri disana sambil menunggu kedatangan Arion dan Alza.


"Bagaimana hasilnya? Apa kata dokter mengenai jenis kelamin anak kalian?"


Alza dan Arion saling pandang sejenak. Alza sudah ketakutan karena tatapan tajam Johan.


Sementara Arion hanya tersenyum puas menanggapi pertanyaan Johan.


"Selamat ya, Kek! Kakek akan menjadi kakek buyut dari seorang bayi laki-laki."

__ADS_1


Kalimat Arion membuat Johan bertepuk tangan dengan gembira.


"Baiklah! Kita adakan pesta untuk menyambut kelahiran penerus laki-lakiku!" seru Johan.


__ADS_2