Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 26


__ADS_3

Perasaan Alza sedang kurang baik. Ditambah dengan sikap Arion yang selalu menganggap uang adalah segalanya. Apalagi kini Alza menduga jika Arion hanya ingin memanfaatkan bayi yang dikandungnya untuk mendapatkan warisan dari sang kakek.


"Kemana Arya yang dulu? Kenapa kamu berubah, Arya? Apa uang bisa mengubah sifat seseorang?"


Alza menangis dalam hati. Alza tak bisa menunjukkan emosinya di depan semua orang. Meski begitu, Arnis bisa mengetahui kegelisahan yang dirasakan Alzarin.


"Nak, apa kamu baik-baik saja?"


"Eh? Mama... Iya, aku baik-baik saja, Ma. Aku hanya... Sedikit bosan saja."


Arnis mengusap pelan rambut Alza. "Apa kita perlu berjalan-jalan?"


Tawaran Arnis membuat Alza bersemangat. "Apakah boleh?"


"Tentu saja. Ibu hamil harus selalu rileks agar bayimu juga ikut senang. Kasihan dia jika ibunya merasa tertekan."


Alza hanya tersenyum. "Terima kasih atas tawaran Mama. Tapi... Aku ingin pergi sendiri, Ma. Aku tidak ingin merepotkan Mama..." Alza menunduk. Ia takut Arnis marah karena menolak ajakannya.


"Ya sudah, kalau kamu ingin jalan-jalan sendiri. Mungkin kamu memang butuh waktu untuk sendiri." Arnis bisa memahami perasaan Alza. Perasaan tertekan yang dulu pernah dialaminya karena harus mengandung pewaris keluarga.


Kini impian Johan memang akan menjadi kenyataan. Memiliki keturunan laki-laki sebagai penerusnya kelak. Namun Arnis tak yakin semua akan berhasil jika Alza tidak merasa nyaman. Sudah tiga bulan Alza tinggal di rumah besar ini. Arnis belum melihat senyum tulus yang Alza sunggingkan di bibirnya.


"Pergilah, Nak! Apa kamu ingin supir mengantarmu?"


"Ti-tidak perlu, Ma. Aku bisa pergi sendiri."


"Baiklah. Hati-hati ya!"


Alza mengangguk. Ia mencium punggung tangan Arnis sebelum pergi. Bertemu dengan Arnis, seperti bertemu dengan ibu kandungnya sendiri. Arnis selalu ramah dan bersikap hangat padanya.


"𝘈𝘯𝘥𝘢𝘪 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘣𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘔𝘢𝘮𝘢 𝘈𝘳𝘯𝘪𝘴. 𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢."


...***...


"Berhenti disini, Pak!" seru Alza ketika taksi yang ditumpanginya telah tiba di tujuan.


Alza segera turun dan menatap bangunan yang dulu pernah ditinggalinya itu. Sorot matanya menatap papan yang terpasang di depan halaman rumah.


"Dijual? Apa Mas Dennis berniat menjual rumah ini?" gumam Alza sambil memandangi rumah yang dulu di tempatinya bersama Dennis.


Saat sedang melamunkan banyak hal, Alza tak sadar jika ada seseorang yang menghampirinya.


"Alza?"


Suara yang tak asing membuat Alza menoleh.


"Mas Dennis?"


Dennis memperhatikan penampilan Alza yang sedikit berbeda. Perut rata Alza kini berubah membuncit dan tubuhnya juga makin berisi.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Dennis yang merasa heran dengan kehadiran Alza.


"Apa benar rumah ini akan dijual, Mas?" Alza malah balik bertanya.


"Iya, benar. Aku akan menjual rumah ini."


"Tapi kenapa?" Alza merasa sedih rumah kenangannya bersama Dennis harus dijual.


"Zetta sekarang tinggal di luar negeri. Jadi, sekarang aku tinggal bersama mama dan papa agar mereka tidak kesepian. Kamu sendiri? Kenapa bisa ada disini?"


"Eh? Aku..."


"Permisi!" Sepasang suami istri datang menemui Dennis. "Dengan Pak Dennis?"


"Iya, benar. Ini dengan Pak Burhan?" Dennis menebak.


"Benar, Pak. Apa saya dan istri bisa melihat kondisi rumahnya lebih dulu?"


"Oh, silakan Pak." Dennis membukakan pintu rumah. Ia mempersilakan dua orang tamunya untuk melihat-lihat kondisi seisi rumah.


"Ya sudah, Mas. Kalau begitu aku pergi dulu ya! Maaf sudah menganggu waktu Mas Dennis." Alza segera berbalik badan.


Namun tiba-tiba Dennis menghentikannya.


"Tunggu, Alza!"


"Kenapa, Mas?"


Alza menimang permintaan Dennis. Hingga akhirnya ia setuju untuk bicara dengan Dennis.


"Baik. Aku akan tunggu di taman sana!" Alza kembali melangkah.


Alza duduk di salah satu bangku taman. Suasana siang menjelang sore yang hangat membuat Alza terbuai.


"𝘈𝘯𝘥𝘢𝘪 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘔𝘢𝘴 𝘋𝘦𝘯𝘯𝘪𝘴 𝘮𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘫𝘶𝘫𝘶𝘳 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘰𝘯𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘈𝘯𝘥𝘢𝘪 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮 𝘰𝘣𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘨𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘩𝘢𝘮𝘪𝘭𝘢𝘯, 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯... 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳..."


"Alza..."


Panggilan Dennis membuyarkan andai-andai yang ada dalam pikiran Alza.


"Mas Dennis? Apakah orang itu yang akan membeli rumah kita?"


Dennis mengangguk. "Mereka suka dengan rumah itu. Aku akan mengurus balik namanya di notaris."


Alza merasa sedih mendengar keputusan Dennis menjual rumah yang mereka tinggali dulu.


"Bagaimana kabarmu? Apa kamu baik-baik saja? Lalu, bagaimana kandunganmu?" Rentetan pertanyaan Dennis hanya di angguki pelan oleh Alza.


"Apa keluarga Arion memperlakukanmu dengan baik?"

__ADS_1


Alza kembali mengangguk. Memang benar Mama Arnis baik padanya. Meski Kakek Johan terlihat tidak menyukainya. Setidaknya ada orang yang menyayangi Alza.


"Syukurlah. Lalu... Kenapa kamu bisa ada disini?"


Alza menoleh. "Entahlah. Aku hanya menuruti keinginan hatiku saja..."


Dennis tersenyum karena Alza masih mengingat tentang dirinya. "Hari mulai gelap, bagaimana kalau aku antar kamu pulang?"


"Tidak, Mas. Terima kasih. Aku pulang naik taksi saja. Oh ya, bagaimana kabar mama dan papa? Dan Mas Dennis sendiri?"


Dennis mengulas senyumnya. "Aku baik. Papa dan Mama juga baik."


"Mas..."


Waktu seakan terhenti ketika Dennis menatap Alza dengan tatapan yang masih sama dengan dulu.


"Kenapa?"


"Kenapa Mas tidak menceritakan kondisi Mas yang sebenarnya padaku? Kenapa Mas tidak jujur dari awal? Jika saja Mas jujur dari awal, mungkin... Mungkin aku tidak harus mengalami hal seperti. Aku tidak akan mengandung anak Arion dengan cara seperti ini..." Tangis Alza akhirnya pecah.


"Alza..." Dennis bingung harus bagaimana menenangkan Alza yang menangis. Ia takut jika orang-orang yang melihat mengira jika Dennis melakukan sesuatu pada Alza.


"Kenapa aku harus mengalami semua ini, Mas?" Tangis Alza makin terdengar pilu. Sikap Arion yang mulai tak bersahabat membuat Alza menyesali semuanya. Kini Alza berpikir, jika Arion benar mencintainya, Arion tidak akan melakukan hal serendah ini untuk memiliki Alza. Bukankah seorang pemenang adalah orang yang mengakui kekalahan dan berusaha yang terbaik untuk tidak menjadi pecundang?


Apa yang dilakukan Arion tak lebih seperti sikap seorang pengecut yang menusuk lawan dari belakang.


"Alza, sudah jangan menangis! Ayo aku antar pulang!" Dennis memapah tubuh Alza untuk memasuki mobilnya.


Sepanjang perjalanan Alza benar-benar menumpahkan kesedihannya di depan Dennis.


"𝘋𝘶𝘩, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘪? 𝘛𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴?"


Dennis bingung apa yang harus ia katakan lagi pada Alza. Dennis memilih bungkam saja.


Hingga mobil Dennis tiba di pelataran rumah keluarga Nusantara. Alza yang sudah berhenti menangis kini terdiam tanpa berkata sepatah katapun.


"Alza... Sudah sampai."


Alza menatap keluar kaca mobil. Rumah megah dan mewah itu adalah tempat tinggalnya sekarang. Tapi sama sekali tak ada kebahagiaan yang ia rasakan di dalam sana.


Andai saja kabur dari sana pun, Arion akan dengan mudah menemukan Alza.


"Alza... Ayo turun! Aku akan menemanimu."


Kalimat Dennis membuat Alza sedikit berani menghadapi orang-orang di dalam sana. Setidaknya Dennis akan jadi pembelanya jika terjadi sesuatu dengannya.


Alza turun dari mobil bersama Dennis. Mereka berjalan menyusuri halaman rumah hingga memasuki pintu ruang tamu.


Saat Alza dan Dennis mulai menapaki ruang tengah... Beberapa pasang mata menatap tajam kearah mereka berdua.

__ADS_1


"Alza? Jadi kamu pergi selama berjam-jam hanya untuk menemui mantan suamimu? Apa kalian kembali berhubungan secara diam-diam di belakangku?" Tuduhan Arion membuat Alza tak bisa berkutik. Sorot mata tajamnya seakan menusuk jantung Alza hingga ia tak bisa bernapas.


__ADS_2