Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 55 - Wasiat Johan


__ADS_3

Tiba di rumah, Argan masih belum mengatakan apapun pada Oma Ratna. Namun dalam hati banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada neneknya itu.


"Duduklah! Oma akan berikan alasan kenapa Oma tidak merestui hubunganmu dan Alza."


Tentu saja Argan kaget bukan kepalang. Argan pikir neneknya tidak bisa diajak bicara malam ini juga. Tapi nyatanya, Oma Ratna sendiri yang ingin membuka alasannya.


Argan duduk dengan tenang di sofa ruang keluarga. "Jika Oma belum bisa mengatakannya, maka aku tak keberatan untuk menundanya."


Oma Ratna menggeleng. "Lebih cepat kamu tahu, akan lebih baik."


Argan menyiapkan hati untuk mendengar penjelasan Oma Ratna.


"Apa kamu tahu apa penyebab kakekmu meninggal?"


Argan diam dan tak ingin menjawab. Menjawab pertanyaan Oma Ratna sama saja membuka luka lama untuk perempuan renta itu.


"Johan Nusantara! Dialah penyebab kakekmu meninggal. Dan apa kamu tahu perjuangan ayahmu untuk memperbaiki semuanya? Ayahmu berjuang untuk menghidupkan kembali Grup DS. Lalu apa yang dia dapatkan? Justru kematian bersama ibumu setelah kesuksesan diraihnya. Dan itu semua karena siapa? Itu semua karena Johan Nusantara! Dia sudah menghancurkan keluarga kita, Argan! Johan dan putranya sama saja. Mereka bermain curang untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Sayang sekali gadis yang kau sukai adalah bagian dari keluarga itu. Jika kamu masih nekat ingin bersama dengan Alza, maka langkahi dulu mayatku!"


Oma Ratna beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamar. Malam ini rasanya sudah cukup Argan mendengar alasan darinya. Oma Ratna berharap Argan mau mendengarkan apa yang dirinya katakan malam ini.


Sementara itu, Alza gusar dan tak bisa memejamkan matanya. Alza ingin tahu bagaimana kabar Argan setelah semua insiden penolakan ini terjadi.


"Gimana nih? Apa sebaiknya aku hubungi Bang Argan duluan?" Alza menimang-nimang.


"Baiklah. Lebih baik aku dulu yang menghubungi dia."


Alza mengambil ponsel dan mencari nama Argan di kontaknya. Alza segera menekan tombol hijau di layar ponselnya.


Telepon tersambung,


"Halo, Bang..."


"Halo, sayang. Kamu belum tidur?


"Gimana bisa tidur coba? Oma gimana, Bang?"


"Oma baik-baik saja. Dia hanya syok saja bertemu dengan kakek Johan." Argan terpaksa berbohong.


"Apa mereka sudah saling kenal sebelum ini?"


"Sepertinya begitu."


"Lalu kita gimana, Bang?"


"Gimana apanya?"


"Hubungan kita..."


Argan tersenyum samar. "Kita akan tetap bersama. Kamu jangan khawatir."


"Abang yakin?"


"Yakin! Abang tidak akan meninggalkan kamu hanya karena masalah ini. Kita akan berjuang sama-sama agar mereka mau merestui kita."


Alza mengulas senyumnya. "Berjanjilah abang gak akan ninggalin aku!"

__ADS_1


"Iya, sayang. Abang janji!"


...***...


Dua hari setelah kedatangan Argan dan Oma Ratna, kondisi di kediaman Nusantara kembali normal. Baik Alza maupun Johan tidak membahas soal Argan dan neneknya.


"Alza, kakek rasa sudah saatnya kamu memegang perusahaan," ucap Johan ketika Alza dan Arion menghadap ke ruangan kantor Johan.


"Eh? Maksud kakek?"


"Secepatnya akan aku umumkan siapa kau sebenarnya. Kau adalah cucuku dan juga pewarisku."


Alza melirik Arion yang hanya diam tanpa bisa membantah.


"Tapi, Kek... Aku masih harus belajar banyak tentang perusahaan."


"Tentu saja. Kamu bisa belajar dengan ayahmu dan juga kakakmu, Arion. Agasa juga akan membantumu."


Untuk saat ini Alza sebaiknya tidak menolak. Demi mendapatkan hati Johan agar mau merestui hubungannya dengan Argan.


"Baiklah, Kek. Aku setuju," jawab Alza akhirnya.


Malam ini, Johan mengadakan sebuah pesta yang cukup meriah dan mengundang beberapa kolega bisnisnya. Rencananya malam ini Johan akan mengumumkan siapa pewaris yang menggantikan dirinya memimpin perusahaan.


Tentu hal ini disambut baik oleh Sultan. Ia tahu jika putrinya adalah pemilik saham terbesar di Nusantara Grup. Alza juga memiliki kemampuan yang tak kalah dari para pria.


Johan sedang bersiap untuk pergi ke pesta. Balutan jas berwarna hitam melekat sempurna di tubuh tinggi besarnya. Meski tak lagi muda, Johan tetap menjaga penampilannya agar tetap bugar.


Namun tiba-tiba Johan memegangi dada sebelah kirinya.


"ARGH! Tolong jangan sekarang! Malam ini adalah malam yang penting untukku!"


Johan berjalan menuju pintu dan melihat sosok Arion disana.


"Maafkan aku, Arion. Meski kau sudah banyak msmbantuku, tapi tetap saja kau bukanlah cucuku. Andai saja kau tidak melakukan bersama Jesly, mungkin aku akan menikahkanmu dengan Alzarin, cucuku."


Arion berjalan bersama Johan dan menemui yang lainnya.


"Sudah siap?" Arion bertanya pada Alza.


Malam ini Alza terlihat sangat sempurna. Sejak kecil Alza memang sudah terlihat cantik. Dan setelah dewasa Alza bertambah cantik.


Jantung Arion berdegup tak beraturan saat mereka bertemu. Meski Alza selalu menghindarinya, tapi Arion tidak akan menyerah begitu saja. Ditambah lagi, Johan yang tidak merestui hubungan Alza dan Argan. Arion akan mencoba masuk kembali ke hati Alza. Lalu bagaimana dengan Jesly? Arion mungkin akan bercerai dengannya. Tentu ia akan lebih memilih Alza ketimbang Jesly. Bukan hanya karena harta dan perusahaan, tapi juga cintanya pada Alza ternyata tak pernah padam.


Arion memberikan lengannya pada Alza ketika mereka tiba di lobi sebuah hotel tempat diadakannya pesta itu.


"Apaan sih?" Alza berdecak sebal dengan tingkah Arion yang mencari perhatian Alza.


"Tidak apa, Alza. Lingkarkan saja tangannya di lengan Arion." Johan malah menimpali. Membuat Arion tersenyum penuh kemenangan.


Mau tak mau Alza menurut. Kebetulan sekali Jesly sedang ada di luar kota karena urusan pekerjaan. Malam ini Jesly tak bisa hadir, dan Arion akan dengan leluasa mendekati Alza.


Alza berjalan dibelakang Sultan dan Arnis. Alza mengulas senyum saat bertemu tatap dengan para tamu undangan yang hadir.


"Kita ini sangat serasi ya, Al," bisik Arion.

__ADS_1


Alza tak menanggapi ocehan receh Arion. Rasanya ia sudah muak dengan suami Jesly ini.


"Aku akan pergi kesana. Kakak carilah tempat sendiri!" Alza melenggang pergi melepaskan tangannya yang tertaut di lengan Arion.


Arion hanya tersenyum. "Mungkin sekarang kamu menolakku. Tapi suatu saat nanti, kita pasti bisa bersama lagi."


"Jangan mimpi, Kak!" Falia tiba-tiba datang bersama Dennis.


"Kalian!" Arion kesal. "Kalian masih bersama?"


"Tentu saja. Dennis sebentar lagi akan melamarku secara resmi. Dan kami juga akan menikah." Falia dengan santainya berucap di depan Arion.


"Aku mencintai Falia. Apa yang salah dengan itu?" sahut Dennis.


"ARGH!" Arion memilih pergi dan mencari keberadaan Alza.


Mata Arion mengedar mencari sosok yang tadi bersama dengannya. "Sial! Kemana Alza? Gara-gara Falia aku jadi kehilangan Alza deh!"


Tanpa diketahui siapapun, rupanya Alza menemui Argan yang juga hadir di pesta itu. Alza kini melepas rindu bersama Argan.


"Aku kangen Abang..." Alza memeluk Argan yang membawanya ke sebuah kamar hotel.


"Aku juga merindukanmu, sayang."


"Abang diundang juga? Aku pikir kakek nggak akan undang abang ke pesta ini."


Argan mengangguk. "Aku dengar kakekmu akan mengumumkan hal yang penting."


Alza mengedikkan bahu. "Entahlah. Aku juga nggak tahu."


Argan merangkum wajah Alza. Ia rekam setiap pahatan wajah Alza di memorinya.


"Abang kenapa sih?"


Argan masih tidak percaya dengan cerita neneknya. Tidak mungkin penderitaan yang selama ini ia alami adalah karena ulah kakek Alza. Argan memilih untuk tidak percaya itu dan akan mencari kebenarannya agar mereka bisa bersatu.


"Abang!" panggil Alza sedikit keras.


"Aku hanya sedang menikmati wajah kekasihku yang cantik sekali malam ini."


"Dih, gombaaall!"


"Aku serius!" Argan makin mengikis jarak diantara mereka.


Alza sudah memejamkan mata jauh sebelum Argan bertindak lebih jauh. Hingga akhirnya dua benda kenyal itu bertemu dan saling mengungkap rasa rindu. Alza melingkarkan tangannya di leher Argan. Dan pria itu memeluk Alza dengan erat. Cinta mereka begitu kuat dan dalam. Namun cobaan masih harus menerpa hubungan mereka.


Dering ponsel di tas Alza membuat keintiman mereka harus berakhir. Alza menarik diri dan mengambil ponselnya di dalam tas.


"Halo, Ma..." Rupanya Arnis lah yang menelepon.


"....."


"Apa?! Kakek pingsan?" Alza menatap Argan sekilas lalu berkata.


"Iya, Ma. Aku akan segera kesana!"

__ADS_1


"Sayang, ada apa?"


"Bang, kakek pingsan. Kita ke rumah sakit sekarang!"


__ADS_2