
Argan mengetukkan jarinya ke meja sambil memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Alza. Wanita muda itu memiliki masalah yang cukup rumit.
Tak lama setelah Argan diam dalam lamunan, Ammar datang ke ruangannya.
"Bagaimana? Apa kamu sudah dapatkan informasinya?" tanya Argan tanpa basa basi.
"Sepertinya kabar yang sedang beredar saat ini memang benar, Tuan. Arion Nusantara dan Jesly Chung memiliki hubungan dekat."
Ammar menunjukkan beberapa lembar foto pada Argan.
"Hmm?" Argan mengernyit bingung. "Jadi, bagaimana dengan status Alza sebagai istri Arion?"
Ammar ragu untuk mengatakannya. "Mmm, begini Tuan. Sampai saat ini keluarga Nusantara tidak pernah mengumumkan jika Nona Alza adalah menantu di keluarga itu."
Argan cukup terkejut dengan kenyataan yang ada. Bahkan Argan tak menyadari jika selama ini Alza tidak dianggap ada oleh mereka.
"𝘽𝙧𝙚𝙣𝙜𝙨𝙚𝙠 𝙠𝙖𝙪, 𝘼𝙧𝙞𝙤𝙣. 𝙅𝙖𝙙𝙞 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙠𝙖𝙪 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙖𝙠𝙞𝙩𝙞 𝘼𝙡𝙯𝙖 𝙨𝙖𝙟𝙖. 𝘼𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙪𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙥𝙚𝙧𝙝𝙞𝙩𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣𝙢𝙪!"
Tangan Argan terkepal seiring dengan rahangnya yang ikut mengeras.
"Jika tidak ada lagi yang Tuan butuhkan, saya pamit undur diri."
Argan mengangguk. Ammar membungkuk hormat lalu mengukur langkah meninggalkan ruangan bosnya itu.
...***...
Alza menatap pantulan dirinya di depan cermin. Rasa tak enak hati mulai menjalari lubuk terdalamnya karena sudah menceritakan masalah rumah tangganya pada Argan.
"𝙎𝙚𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙜𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙡𝙪 𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙖𝙥𝙖𝙥𝙪𝙣 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝘽𝙖𝙣𝙜 𝘼𝙧𝙜𝙖𝙣. 𝙄𝙣𝙞 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙠𝙪. 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙗𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣?"
Alza membasuh wajahnya. Saat ini sudah waktunya jam pulang kantor. Namun Alza masih berada di toilet sambil merutuki kejadian beberapa jam lalu.
"𝙆𝙚𝙢𝙖𝙧𝙞𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙥𝙚𝙡𝙪𝙠𝙖𝙣, 𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙩𝙖𝙙𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖𝙣𝙮𝙖. 𝘽𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙧𝙪𝙝 𝙬𝙖𝙟𝙖𝙝𝙠𝙪 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙪 𝘽𝙖𝙣𝙜 𝘼𝙧𝙜𝙖𝙣 𝙣𝙖𝙣𝙩𝙞?"
Setelah menenangkan diri selama beberapa waktu di toilet, akhirnya Alza memutuskan untuk keluar dan pulang ke rumah.
"𝙈𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙡𝙚𝙨𝙖𝙞 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙞𝙣𝙙𝙖𝙧. 𝘼𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙙𝙖𝙥𝙞 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖. 𝙏𝙚𝙧𝙪𝙩𝙖𝙢𝙖 𝙅𝙚𝙨𝙡𝙮 𝙙𝙖𝙣 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙞𝙗𝙪𝙣𝙮𝙖."
Selama perjalanan menuju pulang, Alza terus memandangi surat perceraian yang belum ia tandatangani. Tertera namanya dan juga Arion disana.
Hatinya teriris nyeri karena harus merasakan kegagalan rumah tangga untuk kedua kalinya.
"𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣... 𝙈𝙪𝙣𝙜𝙠𝙞𝙣 𝙆𝙖𝙪 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙧𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙘𝙤𝙗𝙖𝙖𝙣 𝙞𝙣𝙞 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙠𝙪𝙖𝙩 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢𝙣𝙮𝙖. 𝙏𝙖𝙥𝙞 𝙞𝙣𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙩... 𝘽𝙚𝙧𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙗𝙪𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙣𝙙𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠𝙠𝙪, 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣..."
Mata Alza terpejam. Sekelebat bayangan Argan muncul di pikirannya.
"𝙏𝙞𝙙𝙖𝙠! 𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙗𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝘽𝙖𝙣𝙜 𝘼𝙧𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙝𝙖𝙡 𝙞𝙣𝙞! 𝘼𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙡𝙚𝙨𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞!"
Tiba di kediaman Nusantara, kaki Alza terasa berat untuk melangkah. Selaksa ada batu besar yang menindih dan memintanya untuk putar arah.
Alza menggerakkan kepalanya dengan cepat ke samping kanan dan kiri. Alza tidak boleh lari. Ya, meski dirinya ingin. Melarikan diri seperti yang dulu pernah ia lakukan. Walau harus ditemukan lagi oleh Arion.
Alza membuka pintu dan merasakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Langkah Alza pelan dan tanpa irama.
"Non Alza!"
__ADS_1
Sebuah suara membuat Alza menoleh dengan kaget. "Mbok Sum?"
"Non Alza kenapa ada disini?"
Alza mengerutkan keningnya. "Memangnya kenapa?"
"Mmm, anu Non."
"Ada apa, Mbok? Kok rumah terlihat sepi?"
"Iya, Non. Semua orang sedang pergi." Mbok Sum terlihat ragu.
"Pergi kemana?"
"Apa Non Alza tidak tahu?"
Alza menggeleng. Alza sudah menebak jika ada sesuatu yang terjadi dengan perginya orang-orang di rumah.
"𝘼𝙥𝙖 𝙢𝙪𝙣𝙜𝙠𝙞𝙣...?"
Ketakutan Alza akankah benar terjadi?
"Semua orang pergi ke villa Tuan Besar di daerah pegunungan. Hari ini akan digelar pernikahan Tuan Arion dan Nona Jesly disana." Tiba-tiba Pak Teguh datang dan mengatakan semuanya dengan gamblang.
"Apa?!" Alza masih dalam mode bengong dan syok. Meski sudah menduga akan hal itu. Tapi Alza tak mengira jika hal itu akan benar terjadi.
"Bapak! Kenapa ngomong begitu sih?" Mbok Sum terlihat kesal pada suaminya itu.
"Sudahlah, Bu. Untuk apa menutupinya? Nona Alza berhak tahu yang sebenarnya."
Satu tahun tinggal di rumah besar itu dan sama sekali ia belum diterima oleh Johan. Hanya Arnis saja yang baik padanya.
Alza sudah bertekad jika tidak bisa menerima pernikahan kedua Arion. Alza akan memilih mengalah jika Arion tetap menikahi Jesly.
Dan sekarang adalah waktunya...
...***...
Alza menyeret kopernya keluar dari rumah besar Nusantara.
"Non! Non Alza! Non mau kemana?"
Dengan tergopoh-gopoh, Mbok Sum mengejar langkah Alza yang sudah hampir mencapai gerbang.
"Aku harus pergi, Mbok. Tidak ada gunanya aku terus bertahan disini. Tolong jangan katakan apapun pada Mas Arya. Aku akan membiarkan dia bahagia dengan Jesly dan bayi mereka. Kehadiranku hanya akan membuat mereka tidak nyaman. Aku pergi ya, Mbok. Maaf jika selama ini aku ada salah sama Mbok. Dan terima kasih karena Mbok sudah baik padaku."
"Non Alza... Bagaimana kalau Nyonya Arnis tanya? Beliau kan sangat menyayangi Non Alza..."
"Aku sudah tulis surat untuk Mama. Tolong jaga Mama ya, Mbok. Aku pergi..."
Kini langkah kaki Alza bergerak makin jauh dari rumah Nusantara. Alza memantapkan hatinya untuk keluar dari rumah yang sudah memberikan warna berbeda dalam hidupnya. Alza tak boleh lemah sekarang. Setidaknya ia harus menghidupi dirinya sendiri mulai sekarang.
Alza duduk di bangku halte sambil memikirkan kemana kakinya akan menapak tanah kota ini. Matanya mengedar sambil berpikir.
"𝙄𝙣𝙞 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙢. 𝘼𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙧𝙜𝙞 𝙠𝙚𝙢𝙖𝙣𝙖?"
__ADS_1
Belum terlintas apapun di benaknya ketika dirinya menghentikan sebuah taksi dan naik ke dalamnya.
"Mau kemana, Nona?"
"Jalan saja dulu, Pak!"
Supir taksi mengangguk. Alza menatap layar ponselnya yang kini terarah pada nama Argan.
Sekali lagi Alza menggeleng. "𝙏𝙞𝙙𝙖𝙠! 𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙤𝙡𝙚𝙝 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙗𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝘽𝙖𝙣𝙜 𝘼𝙧𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙠𝙪. 𝙏𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙤𝙡𝙚𝙝!"
"Pak, kita ke hotel X saja!" titahnya pada supir taksi.
"Baik, Non."
"𝙐𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙨𝙚𝙢𝙚𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙞𝙣𝙖𝙥 𝙙𝙞 𝙝𝙤𝙩𝙚𝙡 𝙙𝙪𝙡𝙪. 𝘽𝙚𝙨𝙤𝙠 𝙖𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙩𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩 𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙆𝙖𝙠 𝙍𝙤𝙨𝙢𝙖."
...***...
Terjadi kehebohan di rumah Nusantara karena menghilangnya Alza hanya dengan sebuah surat yang ditinggalkan untuk Arion. Arion murka, tentu saja.
Namun ada yang lebih murka, yaitu Johan.
"Anak kurang ajar! Berani sekali dia bermain-main denganku! Arion, putuskan hubunganmu dengannya! Lagi pula kau sudah menikah dengan Jesly. Jadi, tak ada alasan lagi untuk mempertahankan anak kurang ajar itu!"
Gelegar suara Johan menggema dan membuat semua orang bungkam. Tubh Arnis melemas mendengar Alza telah pergi dari rumah itu tanpa pamit. Falia memegangi tubuh Arnis yang hampir limbung.
"Mama istirahat saja ya!" Falia mengantar Arnis menuju kamarnya.
Tiba di kamar, Arnis menemukan sebuah surat yang ditujukan untuknya.
"Dari Alza!" seru Arnis. Falia meminta Arnis untuk membacanya.
Air mata Arnis luruh setelah membaca surat dari Alza. "Putriku..." Arnis memeluk surat itu. Falia ikut dalam tangis yang diciptakan Arnis. Mereka berdua menyayangi Alza.
...***...
Langkah gegap seorang pria memasuki gedung Grup DS. Ia langsung menuju ke resepsionis dan mengatakan maksudnya.
"Panggilkan karyawan yang bernama Alzarin!" titahnya.
"Baik, Tuan."
Ya, pria itu adalah Arion. Wajah tampan yang sedang murka itu terlihat menakutkan. Sudah bisa ditebak apa yang akan ia lakukan disana. Menemui Alza, dan memintanya pulang.
Tak lama menunggu, Alza datang menghampiri Arion yang duduk di sofa lobi.
"Mas Arya..."
Arion bangkit dari duduknya dan langsung mencengkram kedua lengan Alza.
"Berani sekali kau pergi dari rumah!" Suara Arion memang lirih, tapi penuh penekanan.
"Kenapa? Tidak ada gunanya aku ada di rumah itu. Kamu sudah menikah dengan Jesly. Untuk apa masih mengharapkan aku? Sudah kubilang kan, aku tidak bersedia dimadu. Aku memilih untuk mundur." Alza berkata dengan sangat tenang dan datar. Bahkan terkesan dingin.
"ALZA!" Kini Arion berteriak cukup lantang. Hingga menimbulkan bisik-bisik disekitar area lobi.
__ADS_1
"Lepaskan Alza!"