
Dengan santainya Alza keluar dari mobil diikuti Aryan. Bisa Alza lihat bagaimana ekspresi wajah Agasa yang merah padam menahan amarah.
"Beginikah wajah aslimu, Alza? Wanita murahan yang dengan mudahnya jatuh ke pelukan laki-laki setelah kau dicampakkan oleh Argan?"
Tangan Alza mengepal. Ia menatap tajam Agasa. "Wanita murahan?" Alza bergumam.
Alza memejamkan mata sejenak. Aryan yang merasa tak terima ingin sekali memukul wajah Agasa yang sudah lebam itu. Namun Alza menahan tangan Aryan.
"Jika kakak pikir aku adalah wanita murahan, maka cepat batalkan pertunangan kita di depan kakek. Bukankah kakak akan malu jika kakak menikah dengan wanita mu-ra-han?" Ucap Alza dengan kata penekanan di akhir.
"Wow wow! Jadi kau sedang mengujiku, Alza? Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu. Dan asal kau tahu, aku juga bisa memberikan kehangatan seperti yang pria ini berikan padamu!"
Alza tak menjawab. Ia malah mengomentari wajah lebam Agasa.
"Wajah kakak kenapa? Apa ada seseorang yang dendam pada kakak hingga memukuli kakak? Ckckck, makanya jangan suka cari masalah dengan orang lain."
Alza melangkah pergi meninggalkan Agasa bersama dengan Aryan. Ketika pintu lift akhirnya tertutup, Alza menyandarkan tubuhnya ke dinding lift. Air matanya hampir saja jatuh. Semua kata-kata Agasa sangat menyakiti hatinya tapi ia tak bisa membalas.
Wanita murahan? Apakah aku seperti itu di mata orang lain?
"Alza? Kamu baik-baik saja?"
Alza tersadar lalu mengangguk.
"Harusnya kamu biarkan aku untuk memukuli wajah Agasa yang menyebalkan itu!"
Ucapan Aryan membuat Alza tertawa. "Terima kasih. Tapi kamu tidak perlu melakukannya. Oh ya, ini!"
Alza membuka tas dan memberikan sampel sikat gigi milik Arbi pada Aryan.
"Lakukanlah tes DNA itu dan temukan kebenarannya." Alza mengulas senyum.
Aryan menerima sampel milik Arbi untuk diuji di laboratorium. "Terima kasih, Alza."
Alza hanya mengulas senyum. Entah apa yang ia pikirkan soal Aryan saat ini. Rasanya banyak hal terputar di otaknya hari ini.
#
#
#
Tiba di ruangannya, Agasa menggeram kesal dengan sikap Alza padanya.
"Dasar wanita murahan! Berani sekali dia mengancamku! Kau harus diberi pelajaran, Alza. Kakek Johan harus tahu kelakuanmu dan asisten gilamu itu."
Agasa menghubungi seseorang melalui telepon kantor.
__ADS_1
"Kirimkan rekaman video kamera pengawas di parkiran basement pagi ini sekarang juga padaku!" Perintahnya dengan tegas.
Kekesalan Agasa tak bisa dibendung lagi. Ia harus segera menuntaskan semua dendam ini secepatnya.
Tak lama kemudian, Agasa mendapat notifikasi di layar komputernya. Agasa menyeringai. Ia menatap layar yang berisi rekaman video kamera pengawas di tempat parkir.
Agasa memperhatikan dengan seksama bagaimana Alza berpindah tempat ke pangkuan Aryan lalu mereka bercumbu di dalam mobil.
"Dasar manusia menjijikkan! Awas saja kalian!"
Di tempat berbeda, Agatha sedang kebingungan dan tak kunjung keluar dari kamar mandi. Ia mondar mandir sambil memegangi kepalanya.
"Bagaimana ini? Bagaimana bisa aku kecolongan? Bukankah biasanya Ferdi selalu memakai pengaman? Yang kemarin juga iya kan? Lalu kenapa..."
Agatha melirik kembali benda pipih bergaris dua yang ada di atas wastafel.
"ARGH! Aku memang bodoh! Harusnya aku jangan menemui Ferdi sebelum aku menikah dengan Argan. Kalau begini... Bisa kacau jadinya..."
Agatha terduduk lesu diatas closet. Tangannya meraih ponsel dan menghubungi seseorang.
"Kita harus ketemu sekarang juga!"
#
#
#
"Jadi... Kamu beneran hamil? Dan itu anak aku?"
Pertanyaan bodoh Ferdi membuat Agatha mendelik kesal.
"Dasar bodoh! Kamu pikir selama ini aku tidur dengan banyak pria? Cuma kamu yang menyentuhku, Ferdi! Jangan coba-coba lari dari tanggung jawab!" Agatha tak bisa menahan kekesalannya lagi.
"Iya, tapi... Bukannya kemarin kamu memintaku untuk menjauh karena kamu akan menikah, lalu kenapa sekarang..."
"Oke oke! Aku tahu aku salah! Aku minta maaf. Tapi sekarang aku hamil, Fer. Anak ini harus punya ayah! Aku tidak mau membuat keluargaku malu."
Ferdi berfikir sejenak. "Kenapa bukan tunanganmu saja yang bertanggung jawab? Bukankah kalian akan segera menikah?"
"Apa! Kau sudah gila? Aku dan Argan bahkan tidak pernah bersentuhan. Bagaimana bisa dia menghamiliku?"
"Itu gampang! Kamu jebak saja dia!" Ferdi menaikturunkan alisnya.
"Bagaimana caranya? Argan sangat sulit didekati. Meski dia setuju untuk menikah denganku, tapi... Hatinya masih ada pada janda itu."
Ferdi menyeringai. "Soal itu... Serahkan saja padaku!"
__ADS_1
#
#
#
Agasa menemui Johan di rumah saat jam makan siang tiba. Agasa tidak bisa menahan diri untuk tidak memberitahukan kelakuan mesum Alza dan Aryan bahkan di lingkungan kantor.
Saat ini Agasa sedang memutarkan rekaman video yang ia dapatkan pagi tadi. Johan nampak santai dan diam saat melihatnya.
"Apa kakek akan diam saja melihat kelakuan menjijikkan mereka? Mereka sudah mengotori lingkungan kantor kita, Kek! Kakek harus segera bertindak. Pecat saja pria itu. Dan nikahkan aku dengan Alza segera."
Johan menatap Agasa dengan tatapan datar dan sulit diartikan. "Kau bilang mereka berdua menjijikkan. Lalu kenapa kau ingin menikahi cucuku yang menjijikkan itu?"
"Heh?!" Pertanyaan Johan membuat Agasa gelagapan. "Itu... Itu karena... Karena aku tidak ingin Alza terjerumus lebih jauh dengan rayuan pria itu. Alza baru saja patah hati. Hatinya sedang rapuh. Dan pria itu... Pria itu pasti mempengaruhi dia."
Johan tersenyum tipis. "Pandai sekali teorimu itu, Nak. Tapi, aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu untuk menikahi Alza."
"Hah?! Maksud kakek? Bukankah kakek setuju untuk menjodohkan aku dengan Alza?"
Johan menghela nafas. "Aku bisa saja mengabulkannya. Tapi... Akui dulu semua perbuatanmu di depan pihak berwajib. Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu dan juga ayahmu."
"A-apa?!"
Tak lama terdengar suara ketukan di pintu kamar. Dua orang pria berpakaian serba hitam memasuki kamar. Mereka membungkuk hormat kepada Johan.
"Agasa... Sudahi permainanmu, Nak. Dan aku... Mungkin bisa memaafkanmu."
Agasa kaget. Syok. Penuh tanya dalam benaknya. Ketika langkah kakinya di seret untuk keluar dari kamar Johan, Agasa hanya pasrah. Agasa tak bisa berkutik.
Saat tiba di halaman rumah, Agasa dikejutkan dengan kedatangan Aryan.
"Kau! Ini pasti ulahmu kan?!" Tuduh Agasa dengan tangan terkepal.
"Aku tidak melakukan apapun. Kau sendirilah yang menggali kuburmu sendiri. Bawa dia pergi!"
Dua orang pria itu mengangguk patuh lalu membawa Agasa masuk ke dalam mobil. Setelahnya, Aryan masuk ke dalam rumah dan menemui Johan.
"Kakek!" Aryan membungkuk memberi salam.
Johan mengangguk. "Kerja bagus, Nak! Terima kasih atas kerja kerasmu selama ini. Sekarang lakukan yang harus kau lakukan. Dan tepati janjimu untuk memperbaiki hubunganmu dengan Alza."
"Baik, Kek. Kali ini aku tidak akan mengecewakan kakek."
...***...
Ada apa dengan Aryan dan Johan?🤔🤔
__ADS_1