
Di sebuah resto yang bisa dibilang mewah, Falia duduk tak tenang menunggu kliennya datang. Hari ini Arion izin tak masuk kantor. Alhasil, Falia harus menggantikan posisi Arion untuk bertemu dengan klien penting.
"Ck, menyebalkan! Ini semua gara-gara wanita ular itu! Bisa-bisanya dia menahan kak Arion di rumah dengan dalih keinginan si jabang bayi. Jika aku tidak takut dosa, akan kuracuni wanita itu dengan sianida."
Getaran diponsel Falia membuat gadis itu berhenti merutuk sendiri. "Anand! Akhirnya dia menghubungiku juga."
Falia dengan kesalnya menjawab panggilan Anand.
"Halo, Anand. Kamu dimana? Bagaimana dengan kliennya? Kenapa sudah satu jam aku menunggu dia belum datang juga?"
Suara Falia yang dingin membuat nyali Anand menciut. Jika saja pria itu ada disana, sudah pasti Falia akan mencincangnya hingga habis.
"𝘔𝘢-𝘮𝘢𝘢𝘧, 𝘕𝘰𝘯𝘢. 𝘔𝘮𝘮, 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪 𝘕𝘰𝘯𝘢..."
"Cepat katakan! Jangan berbelit-belit!"
"𝘔𝘢𝘢𝘧, 𝘕𝘰𝘯𝘢. 𝘒𝘭𝘪𝘦𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘪𝘰𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢."
𝘽𝙍𝘼𝙆!
Falia menggebrak meja. "Dasar kurang ajar! Harusnya sejak tadi kau menghubungiku! Dasar payah!"
Falia mematikan sambungan telepon secara sepihak. Di sisi Anand, ia hanya bisa mendesah kasar penuh penyesalan.
"Sudah kuduga Nona Falia pasti akan marah. Matilah aku!" Anand menepuk jidatnya sendiri.
Falia yang sudah terlanjur kesal, akhirnya keluar dari resto dengan langkah yang terburu-buru. Waktunya sudah terbuang hanya karena menunggu klien kakaknya.
Karena kurang hati-hati dan tak memperhatikan jalan, Falia bertabrakan dengan seseorang hingga ia terjatuh.
"Aduh!"
"Eh? Maaf, Nona. Kamu tidak apa-apa?"
Seorang pria mengulurkan tangannya bermaksud membantu Falia.
"Ck, hati-hati dong kalau jalan!" gerutu Falia.
"Sekali lagi saya minta maaf. Apa ada yang terluka?"
Falia mendongak dan bertemu muka dengan orang yang menabraknya.
"Dennis Pratama?" gumam Falia.
"Lho? Nona Falia Nusantara?"
Entah kenapa atmosfer disekitar berubah ketika mata mereka saling beradu pandang.
"Sa-saya minta maaf, Nona Falia."
Falia tersenyum canggung. "Ah, tidak apa. Aku tidak apa-apa kok!" Falia terkekeh pelan.
Situasi canggung masih berlanjut.
"Aku duluan ya! Permisi!" Falia memilih untuk pergi lebih dulu.
Sedangkan Dennis hanya menatap kepergian Falia dengan senyuman samar.
"𝙈𝙖𝙣𝙞𝙨 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙖𝙙𝙞𝙠 𝙨𝙞 𝘼𝙧𝙞𝙤𝙣 𝙞𝙩𝙪," batin Dennis.
...***...
Saat jam istirahat siang, Alza memilih makan di kantin bersama dengan teman-teman yang lain. Beberapa orang bergosip ria tentang berita yang sedang viral saat ini.
__ADS_1
"Eh eh, lihat. Bukannya ini model terkenal Jesly Chung itu ya?"
"Coba mana lihat!"
"Wah iya benar. Dia bersama siapa?"
"Heh?! Bukannya ini Arion Nusantara?"
Ketiga wanita itu saling bertukar ponsel untuk memastikan berita yang sedang mereka baca di situs media online itu.
"Iya benar. Ini Arion Nusantara."
"Wah, jadi beritanya benar ya, kalau Arion Nusantara menikah dengan Jesly Chung?"
"Lihat! Mereka ketangkap kamera lagi mengunjungi toko perlengkapan bayi."
"Wah, jangan-jangan beritanya benar. Arion menikahi Jesly. Dan sekarang Jesly sedang hamil."
Alza memejamkan mata mendengar suara orang-orang disekitarnya. Alza memilih pergi ke toilet dan mengurung diri disana selama beberapa waktu.
Ternyata benar jika selama ini dirinya memang tidak diakui sebagai bagian dari keluarga Nusantara. Dirinya tak lebih hanya seorang boneka yang diminta untuk melahirkan seorang pewaris. Namun kini semua harapannya pupus karena bayinya telah meninggal.
Alza menangis seorang diri. Untuk saat ini ia hanya bisa meluapkan semuanya dengan air mata.
Alza bertekad setelah menangis ia harus lebih kuat dari sebelumnya. Hatinya harus sekuat baja dan besi yang terus bertahan meski ditempa api.
...***...
Malam harinya, Alza melihat semua orang berkumpul di ruang keluarga. Alza tak akan lari lagi. Menyakitkan memang. Tapi Alza harus menghadapi ini.
"Oh, Alza. Akhirnya kau datang juga." Jenny yang masih berada disana berpura menyapa Alza ramah.
"Alza, duduklah!" perintah Johan.
"Jangan iri! Ini adalah keinginan bayiku!" ucap Jesly.
Alza sama sekali tak peduli. Hatinya mulai sebeku es di kutub selatan karena sebuah kekecewaan bertubi terhadap Arion.
"Berita tentang Arion dan Jesly sudah menyebar. Kalian harus segera meluruskan ini!" Johan membuka percakapan.
"Tentu saja, Tuan Johan. Ini akan berakibat buruk pada nama baik keluarga dan juga perusahaan. Kita harus segera menikahkan Arion dan Jesly."
Alza mendelik mendengar pernyataan Jenny. Meski sebelumnya ia sudah mendengar soal hal ini. Namun mendengarnya lagi membuat hati Alza mati rasa.
Sekejam inikah keluarga yang meminang dirinya? Alza melirik Arion. Pria itu hanya diam.
Ya, kini Alza mengerti jika dirinya hanyalah sebuah obsesi bagi Arion. Hanya obsesi dan bukan cinta.
Arion diajarkan untuk tak menerima kekalahan. Begitulah yang selama bertahun-tahun terpatri dihatinya dan semuanya berkat Johan. Tangan dingin Johan membentuk karakter Arion yang dingin dan berkuasa. Melakukan segala cara agar keinginan mereka tercapai termasuk mengalahkan musuh-musuh mereka.
"Katakan sesuatu, Nak!" Suara lembut Arnis meminta Arion agar ikut bersuara.
Namun tatapan Johan membuat Arion tunduk. Johan tahu apa yang terbaik untuk Arion.
"Arion akan mengikuti keputusanku!" tegas Johan.
"Papa!" Sultan menyanggah. "Ini rumah tangga Arion dan Alza. Kita tidak berhak ikut campur."
"Tanyakan sendiri saja pada Arion apa keputusannya."
Kini semua orang menatap Arion.
"Ar, ayo katakan sesuatu." Jesly dengan manjanya membujuk Arion.
__ADS_1
Alza memalingkan wajah melihat kemesraan yang sengaja dipertontonkan oleh Jesly.
"Berhenti mendekati kakakku dengan cara menjijikkan seperti itu!" Falia meradang dengan sikap Jesly yang dibuat-buat.
"Ck, bilang saja kau iri! Sampai sekarang kau masih sendiri dan tidak punya kekasih. Malang sekali nasibmu!" balas Jesly.
"Kau!" Falia ingin maju dan menarik tangan Jesly agar tak terus menempel pada Arion. Namun Arnis menghentikan langkah Falia. Arnis menggeleng dan meminta Falia untuk tetap tenang di tempatnya.
"Maaf semuanya! Aku akan tetap mempertahankan pernikahanku dengan Alza." Dengan suara yang tenang dan datar, Arion berucap dengan sungguh-sungguh.
Satu tangannya meraih tangan Alza dan menggenggamnya. "Ini keputusanku! Aku tidak akan melepaskan Alza."
Jenny dan Jesly saling pandang tak suka mendengar keputusan Arion. Disisi Johan, ia hanya menghela napas mendengar pernyataan Arion.
"Baiklah, jika itu memang keinginanmu." Johan beranjak dari kursinya dan meninggalkan ruang keluarga.
Alza melepas genggaman tangan Arion. Sungguh ia tak paham kenapa Arion masih ingin menahan dirinya di sisi pria itu.
...***...
Setelah hari itu, persiapan pernikahan Arion dan Jesly pun di mulai. Alza yang mati rasa tak ingin dirinya terus terpuruk dan ditindas oleh keluarga Nusantara.
Alza sudah membuat sebuah keputusan untuk hidupnya. Alza membaca lembar demi lembar yang diterimanya dari seorang wanita yang bekerja di kantor pengacara.
"Jika Nona sudah paham dengan semua pasal-pasalnya, maka Nona bisa menandatanganinya dan kami akan memprosesnya."
Mata Alza berkaca-kaca. Inikah akhir dari kisahnya bersama Arion?
"Terima kasih. Saya akan mempelajarinya lebih dulu."
"Kalau begitu saya permisi dulu." Wanita itu berpamitan.
Alza kembali ke kantor setelah bertemu dengan staf pengacara yang disewanya. Sepanjang jalan Alza terus memikirkan bagaimana nasib hidupnya setelah ini.
"𝘼𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙠𝙚𝙡𝙪𝙖𝙧 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙧𝙪𝙢𝙖𝙝 𝙉𝙪𝙨𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙩𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩 𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡. 𝙈𝙪𝙣𝙜𝙠𝙞𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙬𝙖 𝙧𝙪𝙢𝙖𝙝 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙖𝙥𝙖𝙧𝙩𝙚𝙢𝙚𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙨𝙪𝙖𝙞 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙗𝙪𝙙𝙜𝙚𝙩𝙠𝙪."
Karena tak fokus saat berjalan, Alza malah bertabrakan dengan seseorang hingga membuat berkas yang ada di tangannya terjatuh di lantai.
"Ah, maaf..." Alza meminta maaf dan membungkuk memunguti berkas miliknya.
Satu berkas akan ia ambil namun telah lebih dulu diambil oleh orang yang bertabrakan dengannya.
"Bang Argan?" gumam Alza.
Argan membaca berkas yang terjatuh itu.
"Surat perceraian?"
Alza langsung merebut kertas yang akan dibaca Argan. "Ma-maaf, Bang..."
Alza gegas berjalan menghindari Argan. Ia tak ingin ada yang tahu perihal masalah rumah tangganya.
"Alza!" Argan berhasil mencekal lengan Alza dan membawanya ke sebuah lorong kantor yang sepi.
"Alza, katakan padaku! Apa kamu akan bercerai?"
Alza enggan menjawab dan malah memalingkan wajahnya.
"Alza!" Argan memegangi kedua lengan Alza. "Kamu bisa bercerita padaku!"
Mata Alza mendadak panas. Tentunya ia tak ingin lemah sekarang. Keputusan sudah ia buat. Dan harusnya Alza kuat untuk menghadapi ini.
"Iya, aku akan bercerai."
__ADS_1