Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 58


__ADS_3

"Non Alza!"


Panggilan Ani membuat Alza menghentikan langkahnya untuk mengejar Falia dan Dennis.


"Mbak Ani, gimana Mbak?"


"Dokter sudah selesai memeriksa Den Arbi. Dokter ingin bicara sama Non Alza."


Alza mengangguk paham. "Ayo, Mbak!" Sebelum pergi Alza menoleh lagi dan mencari sosok Falia dan Dennis, tapi ternyata mereka sudah menghilang.


"Dokter, bagaimana kondisi putra saya?" tanya Alza yang mengakui Arbi sebagai putranya. Sejak lahir, baik Jesly maupun Arion tidak pernah mempublikasikan sosok Arbi. Makanya tidak banyak yang tahu jika Arbi adalah anak Arion dan Jesly.


"Begini, Bu. Anak ibu mengalami gejala thypus. Sebaiknya dirawat disini selama beberapa hari."


Alza menatap Ani. "Baiklah, Dok. Lakukan yang terbaik untuk anak saya."


"Sekarang sebaiknya ibu mendaftar dulu di bagian administrasi dan mencari kamar."


"Iya, Dok. Terima kasih."


Alza berpamitan dengan Ani lalu berjalan menuju bagian administrasi.


Alza memesan kamar VVIP untuk kamar rawat Arbi. Tentu saja Alza ingin yang terbaik untuk Arbi. Bagi Alza, Arbi adalah sosok pengganti bayinya yang meninggal beberapa tahun lalu. Mungkin ini adalah jawaban dari Tuhan untuk Alza.


"Non, sebaiknya Non istirahat di rumah saja. Biar saya yang jaga Den Arbi." Ani merasa kasihan pada Alza.


Wajahnya terlihat pucat. Sejak pulang kantor tadi, Alza langsung mengurus Arbi dan lupa mengurus dirinya sendiri.


"Mbak Ani saja yang pulang. Saya akan menginap disini. Lagi pula sebentar lagi bang Argan akan datang."


"Tapi, Non..."


"Sudah, Mbak. Mbak Ani pulang saja. Besok baru kesini lagi."


"Baik, Non. Kalau begitu saya permisi dulu."


Sepeninggal Ani, Alza duduk disamping brankar Arbi. Alza usap lembut puncak kepala Arbi dengan lembut. Alza tak ingin membangunkan tidur lelap Arbi.


"Kasihan sekali nasibmu, Nak. Ibumu sama sekali tak peduli denganmu. Dia hanya menjadikanmu alat untuk menggapai tujuannya. Mulai sekarang, kamu adalah putraku. Arbian Nusantara." Alza mengecup kening Arbi dengan pelan dan dalam.


Ketukan di pintu membuat Alza harus beranjak dari memeluk Arbi dan membuka pintu.


"Bang Argan?" Senyum merekah Alza sunggingkan ketika melihat sosok sang kekasih hati dihadapannya.

__ADS_1


Argan masuk lalu memeluk Alza sejenak. "Aku yakin kamu pasti belum makan. Ini aku bawain bakmi jowo kesukaan kamu."


Alza tersenyum. "Terima kasih banyak, Bang. Kita makan bareng ya!"


Alza dan Argan duduk bersama di sofa kamar itu. Argan melirik Arbi yang sedang terlelap.


"Bagaimana kondisinya?"


"Dokter bilang Arbi terkena gejala thypus. Aku nggak tahu kenapa bisa begitu. Padahal aku dan Mbak Ani selalu memastikan makanan yang dimakan Arbi dalam keadaan fresh dan segar juga sehat."


Argan mengusap punggung Alza. "Yang namanya penyakit mana bisa kita prediksi kapan datangnya. Kamu harus sabar. Mungkin juga Arbi sakit karena merindukan orang tuanya."


Wajah Alza menjadi sendu. "Kamu benar, Bang. Arbi pasti merindukan ayah dan ibunya. Bagaimana menjelaskan padanya tentang kematian ayahnya?"


Argan menggenggam tangan Alza. "Jangan pikirkan itu dulu. Untuk saat ini, kehadiran kamu dan orang di sekitarnya adalah yang terpenting."


"Bang... Apa kamu nggak keberatan kalau aku... Mengadopsi Arbi?"


Argan tersenyum. "Aku tahu kamu pasti berniat begitu. Melihat rasa cintamu pada Arbi, aku sudah bisa menebaknya. Tentu saja aku tidak keberatan. Apalagi Arbi belum mengerti apapun. Kita pasti akan jadi orang tua yang baik untuk Arbi."


"Abang..." Alza memeluk Argan. "Terima kasih karena selalu ada untukku, Bang."


"Sama-sama, sayang. Ya sudah, sekarang kamu makan dulu saja. Nanti keburu dingin."


Di tempat berbeda, Falia merasa harap-harap cemas dengan kondisi seseorang yang kini terbaring lemah di sebuah klinik. Kondisinya memburuk sejak Falia menemukannya hampir saja kehilangan nyawa.


Ya, dialah Arion. Arion masih hidup dan kini berada dalam pengawasan Falia dan Dennis. Mereka sengaja menyembunyikan sosok Arion sampai pelaku yang sudah membuatnya celaka ditangkap.


"Dokter, bagaimana kondisi kakak saya?" tanya Falia panik.


"Kondisinya masih beluk stabil, Nona. Sebaiknya Nona membawa pasien ini ke rumah sakit besar yang alat-alat medisnya lengkap."


Falia saling tatap dengan Dennis. "Tidak! Aku tidak bisa membawanya ke rumah sakit. Akan berbahaya baginya, Dok."


"Dokter, saya akan usahakan untuk membawa perlatan medis lengkap kesini. Jadi, tolong bantu kami!" sahut Dennis.


Dokter itu dilema. "Baiklah. Tolong bawa alat-alat itu secepatnya kemari. Jika tidak pasien bisa saja kembali memburuk."


"Baik, Dok. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya."


"Abang mau menginap disini?" tanya Alza usai makan malam mereka berakhir.


"Iya, aku akan menginap disini menemanimu."

__ADS_1


Alza mengulas senyum. "Tapi, bagaimana dengan Oma?"


Argan terlihat menghela napasnya. "Aku sudah memutuskan... Aku akan mulai memberontak kali ini. Aku tidak akan tinggal diam meski Oma terus memaksaku meninggalkanmu."


"Kamu serius, Bang? Oma pasti akan makin membenciku jika begini."


Argan memegangi kedua lengan Alza. "Apa boleh buat? Kita tidak bisa begini terus. Aku juga tidak bisa terus menunggu. Aku yakin banyak pria yang menginginkan dirimu sekarang. Makin banyak sainganku jika aku tidak bertindak cepat."


Alza malah tertawa. "Saingan apa? Tidak ada, Bang!"


"Kamu pikir aku tidak tahu? Agasa! Dari tatapan matanya aku bisa lihat dia itu menyukaimu. Lalu, Arion. Meski dia sudah menikah, aku tahu dia masih menyimpan cinta untukmu..."


Alza mendadak sedih jika mengingat soal Arion. Meski Alza pernah kecewa padanya, tapi tetap saja Alza sedih karena Arion harus pergi dengan cara seperti ini.


"Alza... Kamu sedih karena Arion?"


Alza tidak bisa menyembunyikan perasaannya. "Maaf ya, Bang. Ini bukan apa-apa kok. Aku hanya... Sedih saja karena harus melihat dia pergi dengan cara seperti ini."


Argan terdiam. Jika terus membahas Arion, maka Alza akan terbawa suasana dan berakhir dengan menangis.


"Oh ya, Bang. Tadi aku melihat Mas Dennis dan Falia ada di rumah sakit ini. Mereka pergi dengan seorang dokter."


Argan mengerutkan keningnya. "Lalu?"


"Aku pikir mereka sedang menyembunyikan sesuatu. Falia bilang jika kondisinya memburuk. Siapa yang dimaksud dengan 'dia'? Apa mungkin Kak Arion masih hidup, Bang?"


Argan tak habis pikir dengan pemikiran Alza yang terlalu jauh. "Alza, kamu terlalu terbawa suasana. Kamu tertular Arbi."


Alza menggeleng. "Tidak, Bang. Aku yakin ada yang aneh dengan sikap Falia. Dia bahkan tidak terlalu sedih saat pemakaman kak Arion dilakukan. Mungkin saja Falia menyembunyikan kak Arion kan?"


Argan terdiam. Ia memikirkan banyak hal tentang yang dikatakan Alza. Jasad Arion memang belum ditemukan, dan bisa saja apa yang Alza katakan memang benar.


"Sayang, kamu terlalu lelah. Sebaiknya kamu tidur dan istirahat."


Argan menyiapkan sofa bed untuk Alza tidur. Mungkin kekasihnya ini kelelahan. Makanya Alza sampai berpikir yang bukan-bukan mengenai Falia.


"Tidurlah! Aku akan disini menjaga kalian."


Alza menurut. Mungkin apa yang dikatakan Argan benar. Alza terlalu lelah hingga pikirannya tidak sinkron.


Tak lama Alza sudah terlelap menuju ke alam mimpi. Sedangkan Argan masih terjaga dengan menatap wajah damai Alza yang terpejam.


"Kenapa kamu mengira jika Arion masih hidup? Apa kamu masih memiliki perasaan padanya? Aku rasa aku harus menyelidiki ini. Bisa saja kan Arion memang masih hidup."

__ADS_1


...***...


__ADS_2