
Secepat yang ia bisa Aryan berlari menyusul Alza. Menurutnya, Alza pasti akan berbuat kekacauan di acara pertunangan Argan. Dan Aryan tak mau Alza sampai dipermalukan oleh Argan dan juga tunangannya.
"Alza! Kenapa kamu begitu keras kepala? Kamu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri jika kamu sampai menemui Argan."
Aryan segera melajukan mobilnya mengikuti taksi yang ditumpangi Alza. Jalanan cukup padat di pagi hari. Membuat Aryan kesulitan menyusul taksi yang ditumpangi Alza.
Di sisi lain, taksi yang ditumpangi Alza kini sudah hampir tiba di hotel tempat acara pertunangan Argan dilangsungkan. Alza berpikir cepat untuk membatalkan pertunangan itu karena semua kebenaran sudah terbuka. Ternyata bukan Johan yang sudah menyebabkan Grup DS pernah bangkrut, melainkan karena permainan yang dimainkan oleh Agasa dan ayahnya.
Begitu mobil taksi memasuki halaman hotel, Alza bergegas turun dari taksi setelah melakukan pembayaran. Alza berlari untuk bisa menghentikan langkah Argan yang ia lihat baru saja memasuki hotel.
"Itu Bang Argan!" Alza mempercepat langkahnya agar bisa mengejar Argan.
"BANG ARGAN!" Suara teriakan Alza menggema di lobi hotel dan membuat orang-orang menoleh kearahnya tidak terkecuali Argan.
"Alza..." gumam Argan.
Argan yang melihat Alza ingin segera menghampiri wanita itu. Namun tangan Agatha mencekal lengan Argan.
"Apa yang kamu lakukan, Argan? Sebentar lagi kita akan bertunangan dan kamu akan menemui mantan kekasihmu itu?" bisik Agatha dengan penuh penekanan.
"Bang..." Alza berjalan mendekat tapi dua orang pria berpakaian hitam segera mencegahnya.
Alza menatap Oma Ratna yang sudah bisa dipastikan jika dirinya yang memerintah kedua pria itu.
"Apa Oma begitu membenciku hingga harus melakukan ini pada kami? Asal Oma tahu, jika semua tuduhan Oma terhadap Kakek Johan adalah sebauh fitnah. Kakek Johan bukanlah orang yang sudah membuat Grup DS bangkrut. Oma akan menyesali semuanya jika tetap melakukan ini!" Mata Alza berkaca-kaca sambil menatap Oma Ratna.
Oma Ratna menatap Argan yang sedang bertatapan dengan Alza.
"Argan, selesaikan urusanmu dengannya. Dan setelah itu kembalilah kemari untuk melanjutkan acara pertunanganmu."
"Oma!" Agatha tentu saja protes. Ia takut jika Argan akan kabur bersama Alza.
"Pergilah, Nak. Selesaikan hubunganmu dengan Alzarin!" tekan Oma Ratna.
Argan melepas cekalan tangan Agatha dan berjalan menghampiri Alza. Alza begitu bahagia karena Argan menghampirinya. Bahkan Argan membawa Alza pergi dari lobi hotel.
Tangan Alza bertautan dengan tangan Argan. Hati Alza menghangat karena Argan masih mau menemuinya.
Argan membawa Alza ke sebuah lorong hotel yang sepi.
"Aku tahu abang pasti mau menemuiku," ucap Alza sambil tersenyum. Air matanya masih mengalir tapi hatinya begitu bahagia.
"Bang, aku sudah mendapatkan bukti valid jika kakek Johan tidak bersalah atas apa yang terjadi dengan keluargamu. Kakek Johan dijebak, Bang. Itu artinya kita punya harapan untuk bersama. Kita harus berjuang lagi, Bang. Kita..."
"Hentikan, Alza!" Argan mencegat cepat agar Alza berhenti bicara.
"Bang?"
__ADS_1
"Maafkan aku, Alza. Meski kamu bisa membuktikan kakekmu tidak bersalah, tetap saja kita tidak bisa bersatu."
"Eh? Tapi kenapa, Bang?" Alza bingung kenapa Argan tiba-tiba berubah.
"Kita tidak berjodoh, Alza. Sebaiknya kamu lupakan saja kisah lalu kita. Aku akan bertunangan dengan Agatha. Dan kamu... Carilah pria yang baik yang mencintaimu..."
Alza menggeleng lemah. Bagaimana bisa perjuangannya dibalas dengan penolakan dari Argan?
Sebelum pergi, Argan sempat mengecup kening Alza dengan penuh perasaan. Alza memejamkan mata merasakan sentuhan bibir Argan di keningnya.
Alza membuka mata dan tak melihat sosok Argan di hadapannya.
"Bang Argan... Apa benar abang meninggalkan aku? Apa semua ini nyata jika hubungan kita harus berakhir?"
Air mata Alza kembali lolos. Alza memegangi dadanya yang terasa sesak. Mulai hari ini hubungan mereka benar-benar telah putus.
...***...
Aryan mencari sosok Alza di dalam hotel tempat acara pertunangan Argan berlangsung. Acaranya dimulai pada siang hari. Dan saat ini masih dilakukan persiapan di dalam ballroom hotel.
Aryan tak menemukan sosok Alza apalagi sosok Argan. Hanya para pekerja saja yang masih mempersiapkan acara pertunangan hari ini.
"Maaf, Mas. Boleh saya bertanya?" Aryan akhirnya menanyai salah satu pekerja.
"Iya, Pak. Ada yang bisa dibantu?"
"Acara hari ini dibagi 2 sesi, Pak. Untuk siang adalah acara untuk bersama keluarga. Dan malam harinya akan ada acara untuk kolega bisnis kedua keluarga."
Aryan manggut-manggut. "Apa Tuan Argan sudah tiba di hotel ini?"
"Sudah, Pak. Tapi sepertinya sedang ada acara keluarga inti di sebuah kamar VIP di hotel ini."
Aryan kembali mengangguk lalu berterimakasih pada pekerja itu. Aryan gegas mencari keberadaan Alza yang ia yakin juga ada di hotel itu.
"Alza, kamu dimana?" Aryan mengambil ponsel dan menghubungi nomor Alza.
Tersambung. Tapi tak dijawab oleh Alza.
"ARGH! Sial! Kemana kamu, Alza? Jangan sampai kamu berbuat nekat hanya karena patah hati."
Akhirnya Aryan memutuskan untuk bertanya pada setiap orang yang ditemuinya dengan menunjukkan foto diri Alza.
"Maaf, apa Anda pernah melihat wanita ini?"
Kebanyakan orang-orang menggelengkan kepala saat ditanya oleh Aryan. Ini aneh, pikirnya. Jelas-jelas Aryan tahu kalau Alza ada di hotel itu.
Karena tak mendapatkan apapun disana, akhirnya Aryan pergi meninggalkan hotel. Mungkin Alza sudah keluar dari hotel itu. Hanya itu saja yang ada dipikiran Aryan saat ini.
__ADS_1
...***...
Dan disinilah Alza kini. Duduk sendiri sambil meratapi nasibnya yang kurang beruntung dalam hal percintaan. Gagal dalam pernikahan dan kini setelah memantapkan hati memilih pria untuk yang terakhir kalinya, Alza juga kembali gagal meraih kebahagiaan cintanya.
"Haaaahhh!" Sejak tadi hanya terdengar helaan napas dari bibirnya. Menatap kerumunan orang yang lalu lalang melewatinya.
Tak terasa waktu bergulir dengan begitu cepat. Hari mulai senja. Langit yang terang berubah jadi gelap.
Dan Alza masih diam disini. Di sebuah taman kota yang makin gemerlap karena cahaya lampu yang berkelip. Suasana yang hiruk pikuk tak membuat hati Alza ikut bergemuruh. Hati Alza terasa hampa karena patah hati.
Di sisi berbeda, seharian Aryan mencari sosok Alza namun tak ditemukannya dimanapun. Ia tak mengenal Alza dekat. Setidaknya untuk saat ini ia memang belum mengenal dekat Alza.
Karena merasa lelah, Aryan memutuskan untuk pulang ke apartemen. Pekerjaan hari ini banyak yang terbengkalai. Beruntung Sultan memahami posisi Aryan yang sedang mencari Alza.
Di sisi Argan, suasana pesta yang cukup meriah tak membuat hatinya ikut bersenandung mengikuti alunan musik yang menggema. Wajahnya memasang senyum palsu untuk mengelabui sang nenek agar tidak bersedih. Keputusannya untuk meninggalkan Alza sangatlah berat. Tapi Argan tak memiliki pilihan lain. Oma Ratna adalah satu-satunya keluarganya saat ini. Tidak mungkin ia memilih Alza yang baru dikenalnya beberapa tahun. Mungkin begitulah logika yang bisa Argan jabarkan pada Alza secara tidak langsung.
Kembali ke sisi Alza, wanita itu memandangi jam dipergelangan tangannya. Sudah pukul tujuh malam rupanya. Sudah cukup ia merenungi semua kesedihannya. Bersama dengan orang-orang yang menyunggingkan senyum, Alza hanya menertawakan dirinya sendiri. Takdir begitu lucu, menurutnya.
Alza tersadar jika sejak tadi ia tidak mengaktifkan ponselnya. Beberapa notif masuk ke ponselnya begitu menyala. Panggilan terbanyak datang dari Aryan. Asistennya itu pasti sangat mengkhawatirkan Alza.
"Maafkan aku, Aryan..."
Alza memasukkan kembali ponselnya kemudian melangkah pergi dari taman itu.
...***...
𝙏𝙞𝙣𝙜 𝙏𝙤𝙣𝙜
𝙏𝙞𝙣𝙜 𝙏𝙤𝙣𝙜
𝙏𝙞𝙣𝙜 𝙏𝙤𝙣𝙜
Bunyi bel yang bersahutan membuat Aryan bangkit dari duduknya di sofa.
"Siapa yang datang dengan membunyikan bel begitu? Tidak punya sopan santun! Satu kali saja kan sudah cukup!" kesal Aryan.
Dengan sedikit menahan kesal, Aryan menuju pintu dan membukanya. Matanya terbelalak melihat sosok yang seharian dicarinya kini ada didepannya.
"Alza! Kemana saja kamu seha..."
Pertanyaan Aryan menggantung diudara karena Alza langsung memeluk tubuhnya.
Tangis Alza pecah dalam sandaran dada Aryan.
"Alza..." Aryan mematung merasakan dirinya bersentuhan begitu dekat dengan Alza. Setelah tersadar, Aryan mengulur tangan dan memeluk Alza.
Dekapan Aryan membuat Alza makin menangis keras. Saat ini Alza butuh seseorang untuk bersandar. Alza butuh seseorang yang bisa menerima dirinya apa adanya.
__ADS_1
...***...