Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 29


__ADS_3

Alzarin terbangun dari tidurnya di pagi harinya. Alza menatap sekelilingnya dan melihat Arnis masih tertidur di sofa bed ruangan itu.


Sejak kemarin Arion tidak kembali lagi ke rumah sakit atau pun sekedar menjenguk kondisi Alza. Wanita 22 tahun itu hanya bisa menghela napas.


"Arion pasti masih kecewa padaku. Makanya dia sama sekali tidak datang kemari."


"Sayang..." Tiba-tiba Arnis mengusap puncak kepala Alza. Ternyata tanpa Alza sadari Arnis sudah bangun.


"Mama... Maafkan aku, Ma. Aku sudah mengecewakan semua orang. Jika Arion saja sampai seperti itu, bagaimana dengan kakek?"


Arnis tersenyum. "Jangan pikirkan itu. Kamu pikirkan kesehatan kamu saja. Kalian berdua masih muda. Kalian masih punya waktu untuk melakukan program kehamilan lagi."


"Iya, Ma. Ma, aku ingin pulang saja. Aku sudah baikan kok," Pinta Alza.


"Tapi kamu masih lemah, Nak. Sehari lagi saja ya kamu istirahat disini."


Alza menggeleng. "Tidak, Ma. Aku gak mau kakek menganggapku manja karena terlalu lama di rumah sakit."


"Ya ampun, Alza. Kamu kan memang masih lemah. Mama yakin kakek Johan akan mengerti."


"Tidak, Ma. Aku istirahat di rumah saja. Aku mohon..."


Arnis menghembus napas kasar. "Baiklah. Mama akan hubungi Falia untuk mengurus administrasi rumah sakit."


"Terima kasih, Ma..."


Selang beberapa waktu, Falia datang ke rumah sakit dan menemui Alza.


"Kamu yakin mau pulang?" Tanya Falia.


"Iya, Fal. Tolong ya! Aku tidak begitu suka dengan rumah sakit. Aku ingin istirahat di rumah saja."


Falia menatap Arnis dan mendapatkan anggukan dari wanita paruh baya itu.


"Oh ya, Fal. Bagaimana kondisi Arion?" Meski Alza disalahkan oleh Arion, tapi wanita itu masih mengkhawatirkan kondisi suaminya itu.


Falia ragu untuk menjawab. Pasalnya sejak semalam Arion tidak pulang ke rumah. Dan pagi ini juga tidak ada di kantor.


"Fal, gimana kondisi kakakmu?" Kini Arnis ikut bertanya.


"Umm, maaf Alza. Sejak semalam kak Arion tidak pulang ke rumah."


"Apa?!" Arnis memekik kaget. "Kok bisa?!"


"Aku juga gak tahu, Ma. Aku hubungi ponselnya tapi gak diangkat."


"Astaga! Anak itu! Istrinya baru saja melahirkan dan masih lemah. Tapi dia malah menghilang!" Geram Arnis.

__ADS_1


"Gak apa, Ma. Aku tahu gimana kecewanya Arion sama aku. Aku akan bicarakan ini baik-baik dengannya saat dia kembali nanti. Tolong sekarang kamu urus administrasi keluar rumah sakit ya, Fal."


"Iya, aku pergi dulu ya! Kamu siap-siap dulu saja."


...***...


Sesampainya di kediaman keluarga Nusantara, Alza sedikit takut memasuki halaman rumah besar itu. Yang ia takutkan bukanlah tentang Arion, melainkan kekecewaan Johan terhadapnya.


Alza juga kepikiran soal Arion yang tidak pulang ke rumah. Tangan Alza di genggam oleh Arnis.


"Jangan takut! Jika kakek Johan bicara macam-macam denganmu, Mama akan membelamu."


Alza tersenyum. Hingga detik ini Arnis selalu berpihak padanya. Alza bersyukur untuk itu.


Dan benar saja, saat memasuki rumah tatapan tajam Johan langsung menyambut kedatangan Alza, Arnis, dan juga Falia.


"Kakek..." Alza mencoba untuk tetap bersikap sopan dengan akan mencium punggung tangan Johan, tapi ternyata pria tua itu menolaknya.


"Setelah kau melemparku dengan kotoran, kau masih berani datang kemari, hah?!"


"Kakek... Aku... Aku minta maaf, Kek..." Tangis Alza kembali pecah.


"Pah, jangan menyalahkan Alza. Ini semua adalah takdir. Lagi pula, mereka masih muda. Mereka masih bisa memiliki anak lagi di kemudian hari."


Johan mencibir. "Masih muda? Dulu kau dan Sultan juga begitu, bukan? Tapi mana buktinya? Sampai bertahun-tahun kalian tidak juga memberiku cucu! Dan sekarang, aku mempercayai gadis itu dan juga Arion, tapi kalian juga mengkhianatiku. Bagaimana aku menutupi rasa malu ini pada kolega-kolega bisnisku?"


"Jangan masukkan dalam hati ya! Berikan kakek waktu untuk bisa menerima kenyataan ini."


"Iya, Ma. Terima kasih karena Mama selalu mendukungku."


"Sesama keluarga harus saling mendukung kan?" Falia datang dan merangkul mereka berdua.


"Sekarang istirahatlah! Aku akan tanyakan pada Anand kemana Kak Arion pergi. Kamu jangan cemas!" Falia menepuk bahu Alza.


...***...


Di sebuah kamar apartemen, Arion baru terbangun dari lelapnya. Semalam ia terlalu mabuk untuk mengingat apa yang terjadi. Kepalanya juga terasa pening karena terlalu banyak minum.


"Argh! Kepalaku rasanya sakit sekali!" Arion bergumam sambil memperhatikan sekelilingnya.


"Hah?!" Arion terperangah karena saat ini dirinya sama sekali tak mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya.


"𝘼𝙨𝙩𝙖𝙜𝙖! 𝘼𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣𝙠𝙪? 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙠𝙖𝙞 𝙗𝙖𝙟𝙪?" Batin Arion bertanya-tanya.


"Eungh!" Lenguhan seorang wanita membuat Arion tersadar.


"𝙅𝙚𝙨𝙡𝙮? 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙖𝙙𝙖 𝙙𝙞𝙨𝙞𝙣𝙞? 𝘼𝙥𝙖 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣-𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙙𝙖𝙣 𝙅𝙚𝙨𝙡𝙮..."

__ADS_1


Pikiran Arion tak bisa lagi berpikir jernih. Arion menggeleng kuat.


"Jesly! Bangun, Jes!" Arion menyenggol lengan Jesly.


"Hmm, Arion... Kamu udah bangun?" Jesly menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


"Jes, ka-katakan padaku kalau kita semalam..."


"Semalam apa? Apa kamu gak ingat soal semalam?" Jesly menegakkan tubuhnya dan bersandar pada sandaran ranjang.


Arion mengusak kasar rambutnya. "Kita gak mungkin melakukan itu kan?"


Jesly hanya diam dan menunduk. "Tega sekali kamu bilang begitu, Ar. Semalam kamu yang memaksaku. Kamu..." Jesly tak dapat melanjutkan kalimatnya. Kini ia terisak sambil tertunduk.


"Jes, aku... Aku minta maaf... Aku... Khilaf..."


Jesly menatap Arion. "Khilaf katamu? Lalu kamu akan meninggalkanku dan menganggap ini hanya sebuah cinta satu malam?" Jesly menggeleng. "Aku menyerahkan mahkotaku untukmu, Arion. Kenapa kamu malah menganggap aku wanita murahan?"


"Bu-bukan begitu, Jes. Hanya saja... Kamu tahu kan kalau aku sudah menikah. Ini salah! Apa yang kulakukan ini salah."


Arion beranjak dari tempat tidur dan mengambil celana boxernya yang tercecer di lantai. Melihat kondisi tampat tidur yang berantakan, Arion mulai paham jika semalam dirinya dan Jesly melakukan hal intim antara pria dan wanita. Arion menuju ke kamar mandi dan menutup pintunya cukup keras hingga menimbulkan bunyi berdebum.


Di tempatnya, Jesly hanya tersenyum tipis melihat tingkah Arion.


"Baiklah, Arion. Kita lakukan perlahan saja. Aku tidak akan menahanmu untuk kembali pada istrimu. Tapi aku yakin, jika kamu akan kembali padaku..."


...***...


Pukul sebelas siang, Arion kembali ke rumah Nusantara. Alza yang melihat kedatangan Arion langsung menyambutnya dengan senyuman hangat.


Namun ternyata Arion hanya melewati Alza tanpa menyapanya sama sekali. Hati Alza terasa sakit karena Arion masih saja menghindarinya.


Tak ingin membuat orang lain curiga, Alza segera mengikuti langkah Arion menuju kamar.


"Syukurlah kamu sudah pulang. Apa kamu sudah makan? Aku masakkan makanan kesukaan kamu untuk makan siang ya!"


Arion menatap Alza. "Gak perlu. Aku hanya akan berganti baju dan pergi ke kantor."


Sambil terus membuntuti Arion yang sedang mengganti baju, Alza berpikir keras untuk bicara dengan Arion. Alza tak ingin hubungannya dengan Arion terus memanas.


"Kalau gitu, aku akan masakkan makan malam saja. Kamu ingin dimasakkan apa?"


Sebenarnya sejak tadi Arion sedang merasa bersalah pada Alza. Karena rasa kecewanya yang berlebihan, Arion sampai terjerat hubungan satu malam dengan Jesly. Arion merutuki dirinya sendiri, tapi ia tak bisa bercerita apapun pada Alza.


Arion berbalik dan membelai wajah Alza. "Baiklah. Buatkan aku makan malam yang spesial ya! Kalau begitu aku pergi dulu!" Arion mengecup kening Alza lembut.


Hati Alza menghangat karena Arion tak lagi marah padanya. Alza berpendapat jika tidak perlu membahas kemana Arion semalam dan menginap dimana. Hubungan mereka baru kembali membaik dan Alza harus memanfaatkan momen ini dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2