
Beni mengatur napasnya yang tersengal setelah tadi bertemu dengan Ibu Astuti. Ya, pria tua yang datang ke panti asuhan adalah Beni, orang kepercayaan Johan yang dulu menitipkan bayi Alza ke panti asuhan Kasih Bunda.
"Pak, kita mau kemana?" tanya si sopir taksi.
"Antarkan aku ke jalan mawar nomor 10."
"Baik, Pak."
Beni memejamkan mata sambil bersandar pada jok mobil.
"𝘕𝘰𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭, 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢𝘥𝘰𝘱𝘴𝘪 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘭𝘢𝘪𝘯? 𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴𝘭𝘢𝘩. 𝘒𝘶𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘶 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪. 𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘴𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘮𝘶."
"Pak, sudah sampai." Ucapan pak sopir membuat Beni harus keluar dari taksi.
"Pak sopir, bisakah kau menungguku? Aku akan mengambil beberapa barangku dan pergi dengan taksimu. Tunggulah sebentar! Kau mengerti?"
"Baik, Kek. Jika butuh bantuan, bilang saja."
Beni masuk ke dalam rumah yang selama ini ia tinggali. Beni masuk ke dalam kamarnya dan mengemas beberapa barang miliknya.
Beruntung hari hampir larut, Beni akan pergi tanpa berpamitan dengan keponakan yang selama ini merawatnya. Beni membawa beberapa barang termasuk uang yang dulu pernah diberikan Johan padanya.
"𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘉 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘪 𝘕𝘺𝘰𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘳𝘯𝘪𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘭𝘵𝘢𝘯. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘱𝘶𝘵𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱."
Dengan langkah yang tertatih, Beni keluar dari rumah dan menemui si sopir taksi yang masih menunggunya.
"Sini Kakek, aku bantu!" Si sopir taksi membantu menaikkan tas milik Beni ke dalam bagasi.
"Kakek mau kemana malam-malam begini?"
"Apa kau bersedia mengantarku ke kota B?"
"Eh?!" Si sopir taksi sangat kaget mendengar permintaan Beni.
Jarak kota A ke kota B cukup jauh. Kemungkinan esok hari baru bisa tiba disana.
"Bagaimana? Kau akan kubayar dengan harga yang pantas. Kau jangan khawatir!"
Si sopir taksi menelan ludah ketika melihat uang milik Beni yang cukup banyak itu. Rupanya Beni sudah mempersiapkan semuanya. Beni sengaja mengambil semua uangnya di Bank karena ingin pergi ke kota B menemui Arnis dan Sultan.
"Ba-baik, Kek. Akan aku antarkan!" Mata si sopir langsung mendelik dan bersiap untuk melakukan perjalanan yang cukup jauh itu.
Sementara itu, Astuti kini bingung harus menghubungi Alza sekarang atau besok pagi. Pasalnya kini hari sudah mulai larut. Tak mungkin juga ia menelepon Alza di jam segini.
"Lebih baik besok saja aku menghubungi Alza. Mungkin sekarang Alza sedang istirahat." Astuti pun akhirnya ikut bersiap untuk beristirahat dan merebahkan tubuhnya yang mulai renta.
...***...
Pagi ini Alza menjalani hari dengan bersemangat. Setelah semalam melepas rindu dengan Argan, lalu ada sedikit perdebatan juga dengannya, akhirnya Argan mengalah dan membiarkan Alza tinggal di rumahnya sendiri. Memang sudah seharusnya Alza belajar untuk mandiri dan tak bergantung pada Argan.
Alza bersiap untuk berangkat ke kantor ketika ponselnya berdering. Ia pikir itu adalah Argan, nyatanya itu adalah panggilan dari Astuti.
"Ibu?" Dengan senyum merekah, Alza menjawab panggilan dari Astuti.
"Halo Ibu..." sapa Alza.
__ADS_1
".........."
Alza terpekur diam setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Astuti. Jiwanya serasa keluar dari raga dan ingin langsung menemui Astuti saat itu juga.
Tangan Alza yang gemetar mencoba menekan nomor ponsel Argan. Sepertinya hari ini Alza tidak bisa pergi ke kantor. Alza ingin menemui Astuti sekarang juga.
"Ha-halo, Bang..."
Suara gemetar Alza membuat Argan cemas. Secepat kilat pria itu menemui Alza yang sedang menangis itu.
"Alza!" pekik Argan saat tiba di rumah Alza.
"Abang..."
Argan duduk disamping Alza dan memeluknya.
"Abang... Aku harus ke kota A sekarang juga, Bang! Aku harus ketemu Bu Astuti!" ucap Alza sambil terisak.
"Iya, kamu tenang dulu ya! Aku pasti bantu kamu!" Argan mengusap punggung Alza lembut.
"Cepat, Bang! Aku harus kesana sekarang!"
Argan menghela napas. Kini Alza bak anak kecil yang merengek meminta mainan dan harus segera dituruti.
"Iya sayang. Aku akan hubungi Ammar dulu ya! Kamu tenangkan diri kamu. Oke?"
Alza mengangguk. Alza memperhatikan Argan yang tengah menghubungi Ammar dan meminta disiapkan private jet untuk menuju ke kota A.
"Sayang, kita ke kantor sekarang! Ammar sudah siapkan heli untuk kita ke kota A."
"Eh?!"
...***...
Argan meraih tangan Alza dan menggenggamnya.
"Sayang, jika apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan, kamu jangan sedih ya!"
"Tapi, Bang... Aku yakin kalau orang itu... Tahu sesuatu tentang masa laluku. Dia pasti tahu siapa keluargaku!" Alza tetap teguh dengan pemikirannya.
"Baiklah. Kita dengar dulu cerita Ibu Astuti. Ya?"
Tiba di kota A, Argan sudah menyiapkan kendaraan untuk menuju ke panti asuhan. Rupanya Argan memang sering berkunjung ke kota A karena memiliki cabang perusahaan disini.
Ternyata, Astuti sudah menunggu kedatangan Alza. Apalagi Alza sudah memberitahu jika dirinya akan datang hari ini juga.
"Alza..."
"Ibu..." Alza memeluk Astuti. "Ibu, katakan padaku siapa pria tua itu, Bu?"
Alza memang sangat tidak sabaran. Ia bertanya tanpa berbasa basi lebih dulu.
"Ibu tidak tahu, Nak. Ibu juga tidak mengenalnya."
Alza dan Argan saling pandang.
__ADS_1
"Apa di depan gerbang ada kamera pengawas, Bu?" Argan bertanya.
"Ada. Kenapa memangnya?"
"Kita bisa tahu seperti apa orang yang semalam datang kemari."
Argan benar. Alza langsung meminta Astuti untuk memperlihatkan rekaman kamera pengawas semalam.
"Apa kamu mengenalnya?" tanya Argan saat rekaman memperlihatkan sosok Beni di layar.
Alza menggeleng. "Aku tidak mengenalnya. Dan aku juga tidak pernah bertemu dengan kakek tua itu."
Argan mengusap dagunya. "Jika kamu tidak mengenalnya, kemungkinan dia yang mengenalmu. Nyatanya dia tahu namamu."
Alza dan Astuti saling pandang.
"Oh ya, Ibu ingat jika dia naik taksi yang ibu tumpangi juga. Mungkin saja... Kalian bisa mencari tahu dari situ."
Argan segera menghubungi Ammar dan meminta asistennya itu untuk mencari rute taksi yang ditumpangi Beni. Beruntung rekaman kamera pengawas sempat memperlihatkan nomor mobil taksi semalam yang digunakan Astuti.
#
#
#
Argan dan Alza kini sudah berada di depan sebuah rumah yang disinyalir adalah tempat tinggal si kakek tua yang menanyakan tentang Alza.
Dengan langkah terburu, Alza mengetuk pintu rumah sederhana itu. Tak lama muncullah seorang wanita berusia 30 tahunan dari dalam rumah.
Perempuan itu terlihat bingung melihat Alza dan Argan.
"Maaf, cari siapa ya?" tanyanya.
Alza menatap Argan. Argan segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan gambar si kakek tua yang tertangkap kamera pengawas panti.
"Apa kakek ini tinggal disini?" Argan menyerahkan ponselnya.
"Eh?! Ini... Adalah paman saya. Ada apa kalian mencari paman saya?"
Alza kembali menatap Argan. Rasanya lidahnya kelu dan hanya mengandalkan Argan untuk bicara.
"Kami perlu bicara dengan paman Anda. Kami ingin menanyakan kenapa paman Anda datang ke panti asuhan Kasih Bunda dan menanyakan soal bayi bernama Alzarin."
Wanita itu terlihat bingung. "Mmm, tapi maaf. Sejak semalam, paman Beni belum kembali, Tuan, Nona. Paman juga membawa semua barang-barangnya. Saya juga khawatir karena paman sedang tidak sehat."
"Apa?!" Alza sangat terkejut. Tubuhnya seakan lemas tak bertenaga. Haruskah ia kehilangan jejak Beni sekarang?
Melihat raut wajah Alza yang bersedih, wanita itu tidak tega dan mengatakan sesuatu.
"Saya tidak tahu jika dulu Paman Beni pernah membawa bayi atau tidak. Saat itu usia saya masih terlalu kecil. Tapi... Jika kalian ingin informasi yang lebih jelas, kalian bisa menemui ibu saya. Ibu pasti tahu sesuatu tentang Paman Beni."
...***...
-𝚃𝚎𝚔𝚊 𝚝𝚎𝚔𝚒 𝚝𝚎𝚗𝚝𝚊𝚗𝚐 𝚒𝚍𝚎𝚗𝚝𝚒𝚝𝚊𝚜 𝙰𝚕𝚣𝚊 𝚜𝚎𝚖𝚊𝚔𝚒𝚗 𝚝𝚎𝚛𝚋𝚞𝚔𝚊 𝚢𝚊 𝚐𝚊𝚎𝚜𝚜. 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗𝚗𝚢𝚊 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚕𝚞 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝙰𝚕𝚣𝚊𝚛𝚒𝚗 🫰🫰🫰
__ADS_1