
Malam hari di kediaman keluarga Nusantara. Arion masih sibuk dengan pekerjaan di laptopnya. Sedang Jesly baru saja keluar dari kamar mandi dan bersiap tidur dengan lingerie tipis yang membalut tubuhnya.
Jesly duduk disamping Arion lalu mengusap pelan paha Arion. Saat ini ia ingin menghabiskan malam dengan Arion.
"Sayang... Apa masih banyak pekerjaanmu?" tanya Jesly dengan suara manjanya.
"Kamu tahu kan aku tidak bisa bersantai setelah kakek pensiun?"
"Ck, tapi ini sudah malam! Berhentilah bekerja dan nikmati hidupmu! Kamu akan cepat tua kalau terus bekerja begini!"
Arion melirik tajam Jesly. "Kamu sendiri tahu kenapa aku harus bekerja keras! Keluargamu kini bergantung padaku! Terlebih mamimu dengan gaya hidup hedonnya itu. Selalu saja menuntut ini dan itu. Kamu sendiri? Pekerjaanmu sebagai aktris nyatanya masih kurang penghasilan dan selalu minta tambahan dariku. Apa kamu pikir aku ini sapi perah?"
Jesly bungkam tak berkutik. Selalu saja berakhir dengan pertengkaran saat dirinya ingin bermesraan dengan Arion.
Tak ingin memperpanjang masalah, Jesly memilih pergi dari kamar dan menuju kamar Arbian, anaknya dan Arion.
Di tatapnya bocah laki-laki yang kini berusia satu setengah tahun itu dengan kilatan kemarahan yang ditujukan pada Arion.
"Haaah! Aku pikir setelah aku melahirkanmu ke dunia, hidupku akan berubah dan kamu akan jadi pewaris di rumah ini. Tapi nyatanya ayahmu itu sama sekali tak peduli padaku. Bahkan dia tidak pernah menyentuhku setelah aku melahirkan. Hidup macam apa yang aku jalani ini?"
Jesly mondar mandir dengan bibir komat kamit mengumpati Arion. Tak ingin bersedih terlalu lama, Jesly menghubungi seseorang melalui ponselnya.
"Halo, kamu dimana?"
"........."
"Baik, aku segera kesana!"
Jesly memutus panggilan itu lalu keluar dengan menyambar kunci mobil miliknya. Jesly akan mencari kesenangan diluar jika Arion tidak bisa memberikan dirinya kepuasan.
Rupanya kehidupan pernikahan Arion dan Jesly tak semulus yang diberitakan di media. Arion yang makin bersikap dingin, dan Jesly yang selalu mencari kesenangan diluar jika mereka bertengkar. Mereka hanya memperlihatkan kemesraan di depan keluarga dan khalayak umum saja.
...***...
Tiga hari sudah berlalu sejak Argan memberikan waktu untuk Alza berpikir mengenai keputusannya. Hari ini Alza memberikan jawaban atas pernyataan yang Argan minta.
Alza nampak termenung di ruangannya. Memikirkan jawaban apa yang harus ia katakan pada Argan. Apakah hatinya yakin dengan perasaan terhadap Argan? Atau rasa itu masih belum terpupuk karena trauma tentang sebuah hubungan?
Ditambah lagi setelah bertemu dengan Zetta beberapa waktu lalu. Alza merasa jika dirinya memang tak pantas untuk bersanding dengan Argan.
Ketika lamunan Alza masih berkelana, Argan masuk ke ruangan Alza karena sudah berkali-kali mengetuk tapi tak mendapatkan jawaban.
__ADS_1
"Sayang..." Suara Argan membuyarkan lamunan Alza.
"Hah?! Bang Argan?" Mendadak Alza gugup dan salah tingkah.
"Kamu kenapa? Kamu gak lupa kan hari ini hari apa?"
Alza nampak berpikir. "Hari apa memangnya?"
"Haaaah!" Argan mendengus. "Hari ini kamu harus memberi jawaban padaku. Nanti malam kita dinner bersama. Aku jemput jam 7 malam."
Setelah mengatakan hal itu, Argan keluar ruangan tanpa mendengar jawaban dari Alza.
"Haaah! Selalu saja begini. Kenapa aku sangat lemah jika berhadapan dengan pria?" Alza merutuki dirinya sendiri.
Malam harinya, Argan tiba di apartemen Alza. Ternyata mereka kompak memakai warna pakaian yang senada. Argan dengan setelan navy-nya, lalu Alza dengan dress warna senada.
"Aku tahu kalau kita memang sehati, Alza..."
Kalimat Argan membuat Alza mencebikkan bibir. "𝘗𝘳𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘰𝘮𝘣𝘢𝘭."
Tiba di sebuah 𝘱𝘳𝘪𝘷𝘢𝘵𝘦 𝘳𝘰𝘰𝘮 sebuah resto, Argan mempersilakan Alza duduk. Kali ini Argan memilih menu cita rasa Italia untuk menu makan malamnya.
Sebotol 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘨𝘯𝘦 menemani malam mereka dengan iringan musik romantis yang menggema di ruangan itu.
"Sayang, malam ini adalah malam istimewa untukku. Dan kamu adalah bagian dari hidupku yang istimewa itu."
Argan menggenggam kedua tangan Alza. "Mungkin kamu berpikir jika aku terlalu memaksamu. Tapi... Sejak awal aku selalu menunjukkan perasaanku padamu, Za. Aku tidak pernah berbohong soal perasaanku. Hingga dua tahun berlalu, perasaanku masih sama terhadapmu. Aku akan sangat bahagia jika kamu bisa menerima perasaanku."
Alza diam dan menunduk. Sungguh kalimat Zetta kini mengiang di benak Alza.
𝘈𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮𝘱𝘪𝘯𝘨 𝘉𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘳𝘨𝘢𝘯? 𝘈𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢?
"Kamu berhak untuk bahagia, Alza. Dan aku janji akan memberikan kebahagiaan untuk kamu. Tolong percayalah!"
"Mmm, bagaimana dengan Oma? Apa Oma Ratna bisa menerima aku jadi cucu menantunya?"
Argan mengulas senyum. "Kita akan temui Oma sama-sama. Ya?"
Alza akhirnya bisa mengulas senyum juga. "Iya, Bang. Aku... Aku bersedia..."
"Kamu serius?"
__ADS_1
Alza mengangguk. Meski masih ragu. "Tapi... Kita pelan-pelan saja ya. Aku gak mau buru-buru untuk menikah. Abang mengerti kan?"
"Iya, sayang. Aku mengerti. Kita lakukan perlahan saja."
Malam ini terasa amat membahagiakan untuk Argan dan juga Alza. Mereka makan malam dengan saling menatap mesra dan saling melempar senyuman.
...***...
Hari ini Oma Ratna meminta Argan untuk mengantarnya pergi ke arisan bersama teman-temannya. Sudah lama Oma Ratna tidak menghabiskan waktu bersama teman sesama sosialitanya.
"Jadi, Oma mulai aktif arisan lagi nih?" tanya Argan sambil menatap penampilan Omanya yang cukup memukau di usia senjanya.
"Iya, dong. Oma kangen kumpul sama mereka."
"Tapi awas jangan kebablasan, Oma. Oma jangan bergosip yang tidak perlu. Apalagi tentang cucu Oma yang tampan ini."
"Hmm, kamu itu bisa saja. Ayo kita berangkat. Nanti Oma telat."
Argan mengantarkan sang Oma sebelum berangkat ke kantor. Argan berpamitan usai Oma bertemu dengan teman-temannya.
"Ya ampun, Jeng Ratna. Kemana aja gak pernah kelihatan?" sapa seorang wanita berusia senja teman Ratna.
"Biasalah, Jeng. Sibuk di rumah sama perusahaan. Aku ini kan masih memegang penuh atas kuasa perusahaan."
"Wah hebat ya, Jeng. Kemarin kan cucu Jeng berhasil menjadi pengusaha nomor satu di kota ini. Selamat ya, Jeng..."
Oma Ratna merasa bangga pada Argan karena teman-temannya memujinya.
"Tapi, sebaiknya carikan jodoh yang pas untuknya, Jeng."
"Iya, Jeng. Apa Jeng sudah melihay beritanya?"
"Berita? Berita apa?" Oma Ratna terlihat bingung dengan ucapan teman-temannya.
"Ini lho, Jeng!" Seorang wanita bernama Asri menunjukkan ponselnya pada Oma Ratna.
Ternyata semalam ada yang mengikuti Argan dan Alza saat sedang makan malam. Meski tidak bisa meliput hingga masuk ke dalam resto, tapi foto-foto saat Argan menjemput Alza di apartemen dan di luar resto, kini tersebar di dunia maya. Bahkan beberapa media online merilis berita jika Alza adalah kekasih Argan. Masa lalu Alza yang pernah menikah dua kali juga terpampang disana.
"Jadi, benar ya Jeng. Kalau cucu Jeng Ratna ini akan menikah dengan wanita bernama Alzarin itu? Sayang lho Jeng. Cucu Jeng itu kan pengusaha nomor satu, masa iya dapat jodoh bekas orang. Dua kali pula!"
"Harusnya jodoh cucu Jeng Ratna itu gadis yang masih segel dan juga dari keluarga terpandang dengan pendidikan yang bagus juga. Jangan perempuan yatim piatu anak panti asuhan begitu."
__ADS_1
Telinga Oma Ratna terasa panas mendengar semua cerita teman-temannya. Ternyata semua orang sudah mengetahui tentang masa lalu Alza. Oma Ratna merasa harus mengambil tindakan mengenai hal ini.
𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘨𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘶𝘩𝘪 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶. 𝘈𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘳𝘶𝘩 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘶𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘈𝘭𝘻𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘯𝘪?