Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 32


__ADS_3

"Ada apa ini?"


Sosok Arion yang sudah rapi dengan setelan jasnya mendatangi Alza dan Jesly. Menyadari kehadiran Arion, Jesly langsung bergelayut manja pada pria itu.


"Arion, lihat dia! Dia gak mau buatkan aku steak untuk makan siang. Apa dia sebodoh itu gak tahu yang namanya steak ya?"


Alza mengepalkan kedua tangannya tapi tak bisa menyanggah apapun. Percuma saja melawan. Hanya buang-buang tenaga saja.


"Kenapa malah menyuruh Alza? Kamu kan bisa beli di resto. Suruh saja asistenmu yang melakukannya!" Timpal Arion.


"Arion! Tega banget sih ngomong begitu? Jadi, kamu sengaja pengen seluruh dunia tahu kalau aku lagi hamil anak kamu? Begitu?" Jesly malah sengaja memanfaatkan celah untuk menekan Arion. Apalagi kini Jesly tahu jika Johan tidak pernah menganggap Alza sebagai cucu menantunya. Jesly akan manfaatkan hal itu dengan baik.


Arion mendelik. Sepertinya ia sudah salah bicara. "𝘼𝙧𝙜𝙝! 𝙎𝙞𝙖𝙡𝙖𝙣! 𝙅𝙚𝙨𝙡𝙮 𝙨𝙚𝙣𝙜𝙖𝙟𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙞𝙠𝙖𝙥 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙣𝙞 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙠𝙖𝙣𝙠𝙪 𝙙𝙖𝙣 𝘼𝙡𝙯𝙖."


"Kayaknya tadi kamu sedih banget karena tahu hamil di luar nikah. Tapi kok sekarang kamu happy tinggal disini?" Tiba-tiba Falia datang dan bicara sarkas pada Jesly. "Jangan-jangan air mata yang tadi itu palsu ya? Kamu hanya ingin menarik simpati kakakku saja dan juga keluargaku? Tapi itu gak mempan buatku! Ayo Alza!" Falia menarik tangan Alza agar segera pergi dari situasi membingungkan itu.


Falia mengajak Alza ke dalam kamarnya.


"Kamu itu kenapa malah diam aja dihina sama si ular itu, ha?"


Alza menghela napas. "Percuma saja aku membela diri. Semua orang akan tetap menuduhku ingin mencelakai Jesly atau apapun."


"Lalu gimana hubungan kamu dan kak Arion?"


Alza menggeleng. "Aku tidak tahu hubungan apa yang sedang kujalani ini. Tapi tadi... Mas Arya memintaku untuk menerima keadaan ini. Mas Arya ingin memastikan apakah Jesly benar-benar hamil atau tidak. Dan kurasa untuk yang satu ini aku harus percaya pada kakakmu."


"Alza, Alza. Sebenarnya terbuat dari apa hatimu itu?"


Alza malah tersenyum. "Hatiku sudah kebal, Falia. Rasanya sudah mati rasa."


Falia memeluk Alza. "Kalau kamu pengen nangis, menangislah! Jangan ditahan! Manusia itu juga butuh menangis!"


"Air mataku sudah habis, Falia. Aku sudah tak ingin menangis lagi meski sebenarnya ingin. Untuk apa menangisi dua orang manusia yang sudah meluluhlantakkan kepeecayaanku. Mereka berdua manusia brengsek, Fal. Aku tidak akan menangis untuk mereka."


...***...


Seminggu sudah Jesly tinggal di kediaman keluarga Nusantara. Meski Alza tak nyaman dengan kehadiran Jesly, tapi Alza tak bisa berbuat apapun. Apalagi penguasa rumah itu juga menyetujui ide Arion yang akan menunggu hingga jenis kelamin bayi yang dikandung Jesly diketahui secara pasti.


Alza menghampiri Arion yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Mas... Bisa kita bicara sebentar?"


Arion menoleh. "Ada apa? Apa Jesly buat masalah lagi? Alza, aku mohon kamu bersabar menghadapi Jesly. Kita tunggu sampai jenis kelamin bayinya diketahui."


Alza tercubit mendengar ucapan Arion. "Dan jika anak itu perempuan, kamu minta kembali lagi padaku? Begitukah Mas?"


"Alza..."


"Kamu pikir aku ini apa, Mas? Apa pernah kamu mikirin perasaan aku saat kamu meminta Jesly tinggal disini? Kamu bahkan sudah mengkhianati pernikahan ini, Mas. Tapi aku masih bertahan karena aku tidak mau gagal lagi dalam pernikahan. Aku ingin mencoba bertahan meski hatiku sangat sakit."


Arion bungkam. Mungkin selama ini ia hanya memikirkan dirinya sendiri dan juga pewaris untuk Johan. Tapi dia tidak memikirkan hancurnya hati Alza yang sudah dikhianati.


"Aku cuma minta satu hal darimu!"

__ADS_1


"Apa itu?"


"Aku ingin kembali bekerja."


Arion menghela napas. "Baik, aku akan carikan posisi untukmu di perusahaan."


Alza menolak. "Tidak, Mas. Aku tidak mau bekerja di perusahaanmu. Aku akan mencari pekerjaan sendiri."


"Alza!"


"Biarkan aku menjalani rutinitasku yang dulu. Aku terbiasa bekerja dan aku akan tetap melaksanakan tugasku sebagai istri."


"Haaah! Baiklah. Kamu boleh melakukan apa yang kamu mau."


...***...


Alza menemui Falia untuk meminta saran darinya. Falia bersikap objektif dalam hal pekerjaannya.


"Jadi, kamu mau melamar pekerjaan?" Tanya Falia kaget.


"Iya, Fal. Aku udah minta izin sama Mas Arya. Dia setuju kok."


Falia manggut-manggut. "Kamu ingin bekerja dimana?"


"Mungkin perusahaan yang bergerak di bidang sama dengan Pratama Grup. Tapi... Aku tidak mungkin bekerja disana lagi kan?"


Falia mengulas senyumnya. "Oke! Akan kucarikan!"


"Yang sekarang sedang naik daun, adalah Pratama Grup, Nusantara Grup, dan Grup DS. Kalau kamu gak bisa melamar di dua perusahaan, itu berarti kamu bisa melamar di Grup DS. Itu juga perusahaan besar. Sebaiknya kamu melamar disana."


Alza mengangguk paham. "Iya, Fal. Terima kasih ya!"


*


*


*


Keesokan harinya, Alza membawa sebuah map yang berisi surat lamaran pekerjaan dan juga surat pengalaman kerjanya. Alza menghela napas sebelum memasuki gedung besar itu. Alza menuju ke bagian resepsionis dan bertanya disana.


Dari arah pintu lobi, sosok tegap dan berkarisma memasuki gedung itu. Beberapa orang menyalaminya dengan hormat.


"Selamat pagi, Tuan Argan!"


"Pagi, Pak."


Sosok yang adalah Argan itu menangkap sebuah siluet yang ia kenali.


"Alza? Kok dia ada disini?" Argan menghampiri Alza.


"Lho? Tuan Argan?"


Argan melihat map yang ada di tangan Alza.

__ADS_1


"Itu apa?"


"Ah, ini... Saya mau melamar pekerjaan disini, Tuan"


"Melamar kerja?" Argan terperangah mendengar jawaban Alza.


"𝙄𝙨𝙩𝙧𝙞 𝘼𝙧𝙞𝙤𝙣 𝙉𝙪𝙨𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙢𝙖𝙪 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙧 𝙠𝙚𝙧𝙟𝙖? 𝘼𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙧?"


"Iya, Tuan."


"Kalau begitu mari ikut saya!" Ajak Argan.


"Eh?"


"Alza, ini adalah perusahaan saya. Saya akan lakukan wawancara langsung dengan kamu. Ayo!"


Alza yang masih bingung dengan situasi ini, tetap melangkahkan kakinya mengikuti arah kemana perginya Argan. Hingga tiba di sebuah ruangan besar yang tentunya milik Argan.


"Silakan duduk, Alza."


"Terima kasih. Maaf, Tuan. Saya tidak tahu kalau ini perusahaan milik Tuan."


Alza yang terlihat lugu membuat Argan tertawa kecil. "Tidak apa. Sekarang kemarikan CV kamu. Biar saya baca dan saya akan tempatkan kamu sesuai dengan bidangmu."


"Eh?!" Lagi-lagi Alza terkejut.


Argan membaca dengan seksama berkas milik Alza. "Hmm, jadi kamu pernah menjadi manajer juga di Pratama Grup?"


Argan menutup berkas itu. "Baiklah. Saya akan tempatkan kamu di bagian marketing saja. Mulai besok kamu bisa mulai bekerja disini."


"Eh? I-ini serius?"


"Tentu saja serius. Kebetulan kami membutuhkan staf marketing yang kemarin mengundurkan diri. Bagaimana? Kamu bersedia?"


Alza mengangguk mantap. "Bersedia, Tuan."


Argan mengulurkan tangannya. "Kalau begitu selamat bergabung dengan Grup DS."


Alza menerima uluran tangan Argan. "Terima kasih banyak, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu."


Alza membungkuk hormat lalu keluar dari ruangan Argan dengan wajah penuh kegembiraan.


"𝙏𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝, 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣. 𝘿𝙞𝙗𝙖𝙡𝙞𝙠 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙘𝙤𝙗𝙖𝙖𝙣 𝙞𝙣𝙞, 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙢𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙏𝙪𝙖𝙣 𝘼𝙧𝙜𝙖𝙣. 𝘼𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙜𝙞𝙖𝙩 𝙗𝙚𝙠𝙚𝙧𝙟𝙖 𝙙𝙞𝙨𝙞𝙣𝙞 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙪𝙣𝙟𝙪𝙠𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙠𝙚𝙡𝙪𝙖𝙧𝙜𝙖 𝙉𝙪𝙨𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙖𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖. 𝙎𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩, 𝘼𝙡𝙯𝙖𝙧𝙞𝙣!"


Argan menatap kepergian Alza dengan hati yang bertanya-tanya. Meski begitu, ia senang karena bisa bertemu lagi dengan wanita itu.


"𝙎𝙚𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙙𝙖 𝙖𝙥𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝘼𝙧𝙞𝙤𝙣? 𝘼𝙥𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙣𝙜𝙠𝙖𝙧? 𝙃𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖 𝘼𝙡𝙯𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙚𝙠𝙚𝙧𝙟𝙖 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞?"


Argan menekan tombol interkom dan memanggil Ammar, Asistennya.


"Ammar, ke ruangan saya sekarang!"


"𝘉𝘢𝘪𝘬, 𝘛𝘶𝘢𝘯!"

__ADS_1


__ADS_2